I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Penyesalan


__ADS_3

Kobaran kebencian terpancar dari sorot mata Markus yang kini tertuju kepadanya. Tidak sanggup melihat tatapan kebencian dari suaminya lebih lama, Amy membuang wajahnya.


Kedua tangannya bergetar hebat di samping tubuhnya. Lidahnya terasa kelu. Tidak ada satu pun yang kini mampu keluar dari tenggorokkannya. Ia benar-benar ketakutan.


Markus yang ada di hadapannya saat ini sangatlah asing dan menakutkan baginya.


"Kau mendengarnya?" tanya Amy lirih perihal pembicaraannya di ruang rias bersama Samuel.


"Maksudmu pembicaraanmu dengan sahabat kecilmu itu?" ledek Markus, tersenyum sinis."Tentu saja, aku mendengarkannya. Kau pikir hanya kau saja yang bisa bersandiwara, aku juga bisa jika aku menginginkannya."


"Tapi… tapi kenapa?" Amy menoleh menghadap suaminya, mulai kebingungan. "Kalau kau mengetahui kebohonganku seharusnya kau langsung mengatakannya saja kepadaku di sana, lalu—"


"Lalu apa? Lalu kau akan bebas begitu saja setelah berhasil membodohiku seperti ini?" Markus tertawa pahit. "Tidak semudah itu, Amy sayang, kau harus membayar perbuatanmu kepadaku."


Sebesar itulah rasa benci Markus kepada Amy hingga rela tetap menikah dengannya demi bisa membalas dendam.


"M-Maafkan a-aku, Mark," isak Amy dengan bibir bergetar. "Aku seharusnya tidak melakukan kebohongan kejam ini kepadamu."


Hanya itu yang mampu dikatakannya. Kepala Amy menunduk sedih.


Tiba-tiba tangan Markus menangkup dagunya dan memaksanya mendongak menatap matanya.


"Apa aku terlihat seperti menginginkan permintaan maaf darimu, Amy sayang?" Markus melotot marah kepadanya. "Atau hanya itu saja yang mampu kau katakan setelah kau menipuku habis-habisan?"


Amy menggeleng. "Maafkan aku, Mark, aku memang salah, tapi… tapi saat itu…."


Amy berhenti di tengah kalimatnya, merasa tak ada gunanya menjelaskan alasan dirinya membohongi Markus. Apa pun alasannya, seharusnya ia tidak melakukan ini kepada Markus yang telah sangat baik kepadanya selama ini.


Jadi percuma saja mencari pembenaran atas kebohongan kejamnya ini. Ia tidak pantas meminta pengertian dari Markus.


"Hentikan tangisanmu itu!" geram Markus, melepaskan tangannya dengan kasar dari dagunya. "Jangan memperlihatkan raut wajah seolah-olah yang tersakiti di sini adalah kau. Kau tahu, Amy, kau wanita paling licik yang pernah kukenal dalam hidupku. Dan lebih lucunya lagi aku malah menikahi wanita licik itu. Betapa bodohnya diriku."


Ragu-ragu Amy menyentuhkan jemarinya ke pergelangan tangan Markus, yang kini bernapas berat membelakanginya.


"Jangan berani-beraninya kau menyentuhku!" bentak Markus, menyipit marah memandangnya.


Sakit hati oleh penolakan keras itu, Amy berupaya keras agar tidak berlari keluar dari kamar itu, dan mencari persembunyian dari tatapan kebencian yang dilemparkan Markus kepadanya.


Meski takut, Amy memberanikan dirinya berbicara kembali kepada suaminya.

__ADS_1


"Jika kau sebenci itu kepadaku, seharusnya kau tidak menikahiku, Mark, kau hanya memperburuk segalanya."


Ucapannya itu malah memancing kemarahan Markus lebih parah lagi.


"Kenapa? Apa kau berharap aku membatalkan pernikahan kita, lalu membiarkanmu lari dalam pelukan kekasih sialanmu itu setelah kalian berhasil menipuku?" cerca Markus, meremas kuat kedua lengannya. "Aku tidak sebodoh itu!"


"Bukan itu maksudku, Mark." Amy mencoba menjelaskan, tapi Markus tidak memberikannya kesempatan melanjutkan perkataannya.


"Jangan coba-coba membohongiku lagi, Amy, aku tahu kau masih mencintainya."


"Aku sudah—"


"Cukup! Jangan katakan apa-apa lagi." Markus mendorongnya menjauh. "Sekarang kau istriku dan tugasmu adalah mematuhiku. Aku tidak akan mentoleransi pertemuan diam-diammu lagi dengan sahabat kecilmu itu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Amy, sebab itu harga yang harus kau bayar karena sudah membohongiku."


Dengan kalimat terakhir itu, Markus meninggalkan Amy seorang diri di dalam kamar sunyi itu.


Terduduk lemas di lantai dingin kamar asing itu, Amy membekap mulutnya menahan suara tangisan terisak-isak yang hendak keluar dari mulutnya.


Ternyata yang dikiranya semua sudah berakhir, nyatanya ini adalah sebuah awal. Awal dari penderitaannya.


##


Wajahnya mengerut sedih ketika menunduk melihat betapa pucatnya wajah Sophie. Sepertinya dia sudah melalui hari yang sangat berat selama Samuel tidak ada di sampingnya.


Selama penerbangannya kembali ke Cambry, Samuel berniat menyalahkan semua penderitaannya kepada Sophie dan mengakui kebohongannya juga, tapi kemarahannya itu tidak bertahan lama, karena ia tahu Sophie juga merupakan korban di sini.


Yang harus disalahkan tentang semua ini adalah dirinya sendiri. Andai saja ia bisa bersikap lebih tegas kepada Amy saat mantan kekasihnya itu menyarankan agar ia mau berpura-pura mencintai Sophie, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Amy juga tidak akan melakukan keputusan gegabah dengan menikahi bosnya hari ini.


Walaupun tadi ia sempat menuding tuduhan-tuduhan keji kepada wanita yang sangat dicintainya itu, sebenarnya ia tahu kalau tuduhannya itu tak berdasar setelah ia renungkan baik-baik.


Meskipun ada perasaan mengganjal dalam hatinya saat ia menuduh Amy telah mengandung anak bosnya.


Reaksi Amy sangatlah aneh. Dia terlihat bersalah sekaligus penuh antisipasi. Apa tuduhannya mengenai kehamilannya itu benar? Tapi mengingat sifat Amy rasanya tidak mungkin dia sudah tidur dengan seseorang yang tidak dicintainya sama sekali.


Bukankah tadi Amy mengatakan dengan mulutnya sendiri kalau dia masih mencintainya. Jadi tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu.


Tapi itu mungkin saja, mengingat belakangan ini Amy bersikap tidak seperti dirinya yang biasa setelah Sophie mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Bisa saja demi bisa memdapatkan semua berjalan seperti yang dia inginkan, Amy bertindak di luar batas. Apalagi jika keinginannya itu menyangkut kebahagiaan keluarganya.


Sejak ayahnya meninggal saat Amy masih remaja, Amy telah menaruh beban berat di pundaknya untuk menghidupi keluarganya yang telah ditinggal banyak hutang akibat ulah ayahnya yang penjudi dan pemabuk berat.


Sebagai anak sulung Amy selalu beranggapan sudah menjadi tugasnya membahagiakan ibu dan adiknya. Karena mereka berdua adalah segalanya baginya.


Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarganya lagi setelah penderitaan yang mereka alami akibat sifat ringan tangan ayahnya dulu.


Makanya sepeninggal ayahnya, Amy bertekad akan selalu memberikan senyuman di wajah ibu dan adiknya.


"Samuel?" panggil Sophie lemah.


Bayangan masa lalu itu seketika buyar dari kepala Samuel saat ia tersenyum lembut memandang Sophie yang telah terbangun dari tidurnya.


"Maafkan aku sudah membangunkanmu, Sayang. Padahal aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Hari ini pastilah sangat berat bagimu karena sudah melaluinya seorang diri," kata Samuel menyesal.


"Dari mana saja kau? Kau tidak tahu betapa terkejutnya aku saat Ibuku mengatakan kepadaku kalau kau tidak datang ke pernikahan Amy hari ini."


Mana mungkin ia sanggup menghadiri pernikahan wanita yang dicintainya. Tujuannya ke sana hanyalah ingin membawa lari Amy sejauh mungkin.


Namun rencananya tidak berjalan seperti yang diinginkannya. Jadi setelah Amy meninggalkannya di ruang rias pengantin seorang diri, ia langsung pergi ke bandara.


"Aku ketinggalan pesawat, dan saat aku memesan tiket pesawat lagi aku malah ketiduran karena terlalu lelah." Samuel menjelaskan. "Baterai hp-ku habis, makanya aku jadi tidak bisa mengabarimu."


Hanya alasan payah itu saja yang terlintas dalam benaknya, yang untungnya dipercayai oleh Sophie.


"Maafkan Aku, Sam, ini semua salahku," sesal Sophie murung. "Karena aku, kau jadi kurang tidur."


"Tidak, Manisku, aku saja ysng ceroboh karena tidak mampu menahan kantukku."


Samuel mendekap Sophie dalam pelukannya. Semudah itu membohongi gadis malangnya ini. Bodoh sekali ia karena tadi sempat terpikirkan ingin mengamuk marah kepada Sophie untuk melampiaskan kesedihannya kehilangan Amy.


Akhirnya detik itu juga Samuel memutuskan untuk mulai mencoba membuka hatinya untuk Sophie. Mungkin saja itu tidak sesulit dugaannya.


Rasa sayang bisa berubah menjadi cinta. Lagi pula sekarang ia adalah kekasih Sophie. Sudah saatnya bagi Samuel untuk melupakan Amy, sang mantan yang telah menyatukannya bersama adiknya.


Jika mantan kekasihnya itu saja bisa dengan mudahnya membuang Samuel dari hidupnya, lalu kenapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama?


Akan Samuel tunjukkan kepada wanita yang dicintainya itu kalau ia juga bisa bahagia bersama wanita lain. Tidak ada lagi pria menyedihkan yang mengemis-ngemis cinta kepadanya.

__ADS_1


Biar saja Amy menyesal karena telah melepaskannya.


__ADS_2