I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Masa Kecil Markus


__ADS_3

Kali ini Amy tidak tahu harus merespons seperti apa atas ungkapan mengejutkan itu, akan sangat tidak pantas jika ia melontarkan sumpah serapah di depan Helen.


Meskipun begitu, ia tidak bisa menahan luapan amarahnya saat mengetahui perilaku ibu Markus yang sangat kejam itu.


Bagaimana mungkin dia tega menyakiti anaknya seperti itu tanpa merasa bersalah sedikit pun, mengingat sikap santainya saat mengunjungi Markus di kantornya beberapa tahun lalu.


Sekarang setelah mengetahui sifat kejam ibu Markus, ia bisa memahami kenapa Markus bersikap sedingin itu kepada ibunya.


Menyesap minumannya, Helen melanjutkan, "Andai saja kau di sana hatimu pasti akan hancur juga melihat Markus yang masih begitu kecil terdiam terpaku di tempatnya mengetahui jika ibu yang dikiranya selama ini sedang berlibur memulihkan diri dari rasa dukanya ternyata membawa pulang ayah baru untuknya."


Barulah setelahnya Helen menceritakan kebohongan yang telah dilakukan ayah mereka demi Markus yang kala itu masih kecil merengek mencari-cari ibunya. Tak tega melihat kesedihan anaknya, Charles ayah mereka berbohong pada Markus kalau ibunya sedang pergi menjenguk kakeknya yang sedang sakit parah.


Tentu saja saat itu kakek yang merupakan ayah dari ibu mereka memang sedang sakit keras, tapi soal kepergian ibu mereka ke sana hanyalah bohong belaka, dan Helen mengetahui itu dengan sangat baik.


Lain hal dengan Markus yang tak tahu apa-apa, Helen menyaksikan secara langsung kepergian ibunya dengan guru musik mereka. Saat itu ibunya berpamitan padanya dengan mengatakan pada Helen bahwa kebahagiannya bukanlah bersama ayah mereka, melainkan bersama guru musik mereka yang sangat mencintainya.


Meskipun pernikahan orang tua mereka terjadi karena perjodohan, sebenarnya Charles bukanlah suami yang buruk. Dia selalu memperlakukan Elisabeth dengan baik. Bahkan apa yang diminta istrinya dia akan memberikannya dengan senang hati.


Hanya saja Charles adalah seseorang yang sangat perfeksionis. Dia selalu mengutamakan pekerjaan daripada keluarganya sendiri.


Karena sifatnya itulah dia selalu tak mempunyai waktu bersama keluarganya. Ditambah karena sifatnya yang pendiam dia tidak terlalu pintar mengekspresikan perasaannya.


Makanya dia berpikir kemewahan yang diberikannya pastilah cukup membahagiakan istri serta anak-anaknya.


Hal itulah yang menyebabkan Elisabeth yang selalu haus akan kasih sayang mencari pelampiasan di tempat lain tanpa sepengetahuan suaminya.


Meskipun begitu, Elisabeth tetap merasa berkewajiban memberikan suaminya seorang pewaris sebelum memutuskan meninggalkannya. Sebab Charles adalah anak semata wayang dalam keluarga Xander.


Lalu setelah dirasanya anak lelakinya cukup umur, Elisabeth akhirnya memutuskan meninggalkan Markus yang masih berusia 5 tahun dalam asuhan seorang pengasuh. Dan sebelum pergi dia juga sudah meninggalkan surat perceraian di ruang kerja suaminya 


Saat mengetahui kepergian istrinya, tentu saja Charles merasa hancur, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa sebab dia merasa itu semua salahnya. Makanya ketika tahu Markus merindukan ibunya, dia melontarkan kebohongan itu, yang dia rasa tidak akan terlalu menyakiti anaknya.


Hari demi hari berlalu, Markus terus-menerus meminta ayahnya mengantarkannya ke rumah kakeknya supaya dia bisa menemui ibunya di sana, tapi berulang kali pula Charles memberikan berbagai macam alasan pada anak lelakinya.


Sampai akhirnya setahun kemudian Charles mendapatkan kabar bahwa ayah mertuanya telah meninggal dunia. Meski khawatir Markus akan bertanya-tanya kenapa ibunya tak terlihat di rumah kakeknya nanti, Charles tetap mengajak kedua anaknya ke sana.


Untunglah selama di perjalanan menuju rumah ayah mertuanya dia menemukan solusi jika nanti Markus menanyai keberadaan ibunya, berkat Helen yang memberikan ide itu padanya.


"Kau tahu, Amy, ayahku sangat terkejut saat mengetahui aku tahu soal kepergian ibuku bersama guru musik kami," kata Helen. "Dia tak tahu sama sekali jika ibuku telah berpamitan kepadaku hari itu. Wajah terpukul ayahku saat itu masih terbayang sangat jelas dalam ingatanku."


Ikut merasakan kesedihan kakak iparnya, Amy merengkuh Helen dalam pelukannya. Ingin rasanya ia memeluk Markus dan Helen kecil juga. Pasti itu sangat berat bagi mereka.


"Aku sudah tak apa, Amy," gumam Helen, menepuk-nepuk punggungnya. "Cinta Luke telah membantuku menghilangkan rasa sakit itu dari dalam hatiku."


"Tapi tetap saja itu telah menghancurkan Helen kecil," isak Amy.

__ADS_1


"Kau benar," sahut Helen pelan.


Melepaskan pelukannya, Amy mengambil saputangan di dalam tasnya dan menyeka air mata yang telah membasahi pipinya. Duduk tegak ia kembali menghadap Helen dengan raut wajah serius.


"Lanjutkan ceritamu, Helen. Aku sudah siap mendengarkan lagi."


Tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat perubahan emosi secepat itu dalam dirinya, Helen akhirnya melanjutkan ceritanya.


"Awalnya semua berjalan lancar. Aku dan ayah tiap tahun menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Mark, dan mengatakan hadiah itu merupakan pemberian ibu selama dia melakukan perjalanan panjang ke berbagai negara demi memulihkan diri dari rasa dukanya."


Mendesah panjang, Helen dengan sengaja mengalihkan tatapannya dari Amy.


"Sampai akhirnya semua kebahagiaan itu hancur saat ibu pulang ke rumah membawa kekasih barunya, dan memberikan undangan pernikahan mereka ke hadapan ayahku dengan senyum bahagia," desis Helen, merasakan kembali kemarahan kala itu berkobar dalam dirinya. "Setelah tiga tahun berlalu hilang tanpa kabar dia kembali ke rumah kami dengan raut wajah tak berdosa sedikit pun. Dia merasa tiga tahun pastilah waktu yang cukup bagi ayah untuk menemukan istri yang baru. Jadi, tidak ada salahnya kalau dia juga memperkenalkan calon suaminya kepada ayah."


"Ayahmu menikah lagi?"


Walaupun Charles bersikap seolah pernikahannya dengan Elisabeth baik-baik saja di hadapan anak-anaknya, tidak menutup kemungkinan dia memiliki seorang istri atau kekasih di luar sana. Bagi pengusaha sekaya Charles tidaklah sulit menyediakan tempat tinggal lain untuk istri keduanya.


"Tentu saja tidak!" jawab Helen sengit.


Menarik napas dalam-dalam, Helen kembali menenangkan dirinya.


"Maaf, Amy, aku tidak bermak–"


"Tidak apa, Helen, lanjutkan saja ceritamu," sela Amy tak sabar.


"Dia sungguh ayah yang baik," renung Amy.


"Ya, dia memang ayah yang baik." Helen mengangguk setuju. "Mungkin karena itulah dia mewarisi rumah kaca pada ibuku dalam surat wasiatnya, terlepas dari sikap ibuku yang sudah terlalu banyak menyakitinya."


"Apa?" seru Amy kaget.


Helen tersenyum kecut. "Sudah kuduga kau pasti akan sama kagetnya seperti aku dan Markus. Meskipun menjengkelkan itulah yang dilakukan ayahku. Mungkin di dalam hatinya dia masih mencintai ibuku, makanya dia mewarisi rumah kaca miliknya untuk ibuku karena dia tahu betapa besar ibuku menyayangi bunga-bunga cantik di dalam sana."


"Maksudmu rumah kaca yang ada di rumah kami?" tanya Amy tak percaya.


"Ya, rumah kaca itu," angguk Helen mengiyakan. "Karena itulah ibu selalu punya alasan untuk pulang ke rumah, dan membuat Markus kesal tiap kali dia menolak menjual rumah kaca itu padanya."


"Aku bisa membayangkan seberapa kesalnya Mark."


Mengibaskan tangannya, Helen berkata, "Cukup sudah membicarakan mengenai keluargaku yang penuh drama ini." Helen mengamatinya dengan saksama. "Hari ini kau terlihat cantik sekali, Sayang, terutama kalung itu, terlihat sangat indah di lehermu."


Amy menyentuhkan tangannya ke kalung berbentuk oval berhiaskan berlian di lehernya. "Ya, ini memang cantik. Mark memberikannya kepadaku malam ini."


"Pasti dia sulit mengalihkan matanya darimu," duga Helen, tersenyum penuh makna. "Seperti yang dia lakukan sepanjang makan malam tadi. Dia terlihat sangat terpesona padamu."

__ADS_1


Mengira Amy akan bersemu merah mendengakan ucapannya itu, Helen heran saat ekspresi wajah Amy berubah kesal, bibirnya mengatup rapat, seolah tak senang mengetahui suaminya telah memperhatikannya tanpa sepengetahuannya di ruang makan tadi.


"Sepertinya kau mengartikan dengan salah tatapan Mark padaku, Helen. Dia bukan terpesona, lebih tepatnya dia membenci penampilanku malam ini."


"Bagaimana mungkin? Tidak ada yang salah dengan penampilanmu."


"Sayangnya, Mark berpikiran sebaliknya." Amy mengendikkan bahunya. "Kau tahu, dia mengatakan padaku tidak seharusnya aku mengenakan gaun ini di depan anak kecil, lebih konyolnya lagi dia beranggapan gaunku ini terlihat seperti gaun yang cocok pergi ke kelab malam. Yang benar saja! Sepertinya suamiku itu sedang mengalami sakit mata, jadi dia tidak bisa membedakan yang mana pakaian sopan dan tidak."


Sejenak tak ada tanggapan apa pun dari Helen, dia hanya menurunkan lalu menaikkan kembali pandangannya dari tubuh Amy, kemudian setelahnya dia meledak tertawa di hadapan Amy.


Tidak senang terhadap reaksi kakak iparnya, wajah Amy semakin cemberut saja melihat Helen yang tertawa terbahak-bahak di hadapannya


"Itu tidak lucu, Helen!" cetus Amy masam.


"Itu… Itu sangat lucu, Amy," balas Helen di tengah-tengah tawanya.


Akhirnya setelah puas tertawa, Helen mengangkat sebelah tangannya pada Amy.


"Maaf, Amy, tapi ceritamu barusan sungguh menghiburku."


"Aku tidak sedang menghiburmu."


"Aku tidak tahu Mark bisa selucu itu," lanjut Helen, mengabaikan gerutuan adik iparnya. "Sepertinya aku tahu apa yang menyebabkan Mark berkata seperti itu padamu."


"Selain karena dia membenciku?" tanya Amy sinis. "Tidak ada alasan lain dia berkata sekasar itu padaku, kalau bukan karena dia sangat membenciku."


"Tidak, Sayang, tidak." kata Helen lembut. "Terlepas dari apa yang kau lakukan padanya, dia tak pernah membencimu. Dia cuma kecewa. Perkataannya padamu itu hanya membuktikan bahwa dia masih menginginkanmu."


Saat Amy hendak memprotes, Helen menangkupkan tangannya di tangan Amy sambil menggelengkan kepalanya.


"Dengar, Amy, rasa bersalahmu pada Mark telah membuatmu selalu melihat segala sesuatunya ke arah yang negatif. Namun, jika kau mau mengesampingkan perasaan bersalahmu itu, kau akan tahu apa yang sebenarnya Mark rasakan padamu."


Amy hanya terdiam mendengarkan nasehat Helen itu. Terpikirkan olehnya mungkin saja apa yang dikatakan Helen itu ada benarnya. Akan tetapi, ia sungguh takut untuk berharap.


Bagaimana jika Helen salah? Bagaimana kalau yang Helen katakan padanya ini hanya angan-angannya saja? Apa pun itu ia tetap takut menumbuhkan harapan dalam hatinya.


Sebab jika ternyata dugaan Helen salah, itu akan menambah rasa sakitnya saja. Lebih baik tidak menyimpan harapan apa pun terhadap suaminya.


Lagi pula mengingat eskpresi jijik Markus di malam pernikahan mereka, rasanya mustahil suaminya itu masih memiliki hasrat untuk menyentuhnya. Belum lagi sikapnya yang selalu tak tahan tiap kali berada di ruangan yang sama dengannya.


Mrskipun begitu, ia tak mengungkapkan isi pikirannya itu pada Helen. Jika itu bisa sedikit meredakan kekhawatiran kakak iparnya terhadap pernikahan mereka, ia akan menyimpan pemikirannya itu untuk dirinya saja.


Jadi alih-alih menanggapi nasehat Helen, ia memilih mengucapkan sesuatu yang pasti tidak akan terlalu nampak jika ia sengaja menghindar dari pembicaraan itu.


"Meskipun begitu, Helen, aku tetap harus melakukan sesuatu terhadap gaunku ini," ujar Amy, mengerucutkan bibir menunduk memandang gaunnya. "Apa kau punya syal, atau scraft, mungkin? Pasti itu akan membuat Mark sangat senang sekali saat dia melihat penampilanku nanti."

__ADS_1


Menganggap itu sebagai lelucon, Helen sekali lagi meledak tertawa oleh ucapannya.


__ADS_2