I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Situasi Canggung


__ADS_3

Amy yang terkejut mendapati Markus menyambut mereka di depan pintu, secara bergantian bolak-balik menatap Markus dan ibunya. Ia gelagapan memandangi mereka berdua, bingung mencari kata-kata untuk memecah keheningan mencekam di ruangan itu.


Apalagi belum sempat ia mengatakan sesuatu, Markus sudah terlebih dahulu menariknya ke sisinya.


"Dari mana saja kau hingga pulang selarut ini," cerca Markus kepadanya.


"Ini masih jam 7 malam, Mark, belum terlalu larut."


"Di mana Helen?" tanya Markys, mengabaikan pembelaannya. "Aku dengar kau pergi berbelanja bersamanya."


"Mau sampai kapan kau mengabaikan ibumu ini, Willy? Tidakkah kau ingin memeluk ibumu ini dulu," ujar Elisabeth cemberut. "Dan jangan memarahi istrimu hanya karena dia telah pergi bersamaku."


Markus menoleh menatap ibunya dengan dingin. "Sampaikan yang yang ingin kau sampaikan. Setelah itu pergilah dari sini secepat mungkin." Menatap tak senang melihat penampilan Amy, Markus menggeram. "Aku tidak suka pengaruh buruk yang kau berikan kepadanya."


Amy menarik napas tercekat mendengar kekasaran Markus kepada ibunya. Tetapi anehnya Elisabeth seolah sudah terbiasa dengan kekasaran anak lekakinya itu, dia terlihat tidak tersinggung sedikit pun oleh ucapannya barusan.


"Tidak ada yang perlu disampaikan. Ibu cuma ingin melihat menantu perempuan Ibu secara langsung saja," sahut Elisabeth santai. "Omong-omong tega sekali kau Willy tidak mengundang Ibu ke pernikahanmu. Padahal Ibu sudah lama sekali ingin melihatmu di altar pernikahan."


"Aku tidak pernah berniat mengenalkan istriku kepadamu, Elise," balas Markus ketus. "Lagi pula aku tidak seperti dirimu yang hanya datang mengunjungi anaknya untuk mengabari pernikahannya saja."


Oh Tuhan, itukah yang selama ini selalu dilakukan Elisabeth kepada Markus suaminya. Amy memandangi suaminya penuh simpati.


Seakan menyadari tatapan kasihannya, Markus bergerak menjauh darinya.


"Sebaiknya kau kembali ke atas," perintah Markus mendorong pelan tubuhnya. "Aku perlu berbicara empat mata dengan Elise di ruang kerjaku."


"Bisakah kita menunda pembicaraan ini? Ibu terlalu lelah. Biarkan Ibu berendam sebentar di kamar Ibu. Saat datang tadi Ibu belum sempat istirahat," pinta Elisabeth memelas. "Lihatlah betapa lusuhnya penampilan Ibu sekarang. Tidakkah kau merasa kasihan dengan ibumu ini?"


Markus hanya melemparkan tatapan tak tajam kepada ibunya, kemudian dia berjalan pergi menuju ruang kerjanya. Menghela napas keras, dengan wajah kecut Elisabeth segera mengikuti Markus masuk ke dalam ruang kerja.


Makan malam hari itu terasa lebih suram dan menyesakkan daripada hari-hari sebelumnya. Ketegangan di ruang makan itu membuat Amy sulit menelan setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Setiap kali Elisabeth berbicara kepadanya, dari seberang meja Markus akan melontarkan tatapan menusuk kepada ibunya. Suaminya bersikap seakan tidak ingin ia terlalu dekat dengan ibunya.

__ADS_1


Namun entah tidak sadar atau tidak mau peduli, Elisabeth tetap tidak henti-hentinya mengajaknya mengobrol, seolah-olah merasa senang telah menyulut kemarahan anaknya.


"Jujur Amy, aku kaget sekali saat tahu kaulah yang telah menjadi menantu perempuanku. Bukannya aku bermaksud menghinamu, Sayang, hanya saja kau berbeda jauh dari mantan Willy sebelumnya." Elisabeth tersenyum meminta maaf. "Yah, walaupun begitu tentunya kau tidak akan sebodoh Manda yang mengakhiri hidupnya hanya karena–"


"Cukup sudah!" Markus menggebrak meja makan yang mengakibatkan Amy dan Elisabeth terlonjak kaget menolehnya. "Aku tidak ingin kau mengungkit-ungkit masa laluku kepada istriku, Elise."


"Tidak perlu semarah itu, Willy," tegur Elisabeth, menyentuh dadanya. "Itu 'kan hanya masa lalu–"


"Aku bilang cukup!" bentak Markus murka. "Dan sudah kubilang berkali-kali berhenti memanggilku dengan nama itu!"


Setidaknya sekarang ia jadi tahu apa yang menyebabkan suaminya itu sangat membenci nama tengahnya.


"Dan kau Amy," tunjuk Markus kepadanya. "Kembali ke dalam kamarmu. Sekarang!"


Beranjak berdiri dari tempat duduknya, Amy mengangkat dagunya angkuh kepada suaminya. 


"Aku bukan anak kecil yang bisa kau sutuh-suruh semaumu, Willy," cetus Amy dengan sengaja memanggil suaminya dengan nama yang sangat dibencinya itu. Lalu ia berpaling menatap ibu mertuanya. "Selamat malam, Elise. Sampai ketemu lagi besok."


"Selamat malam, Sayang." Elisabeth mengecup pipinya lalu seakan tak terjadi apa-apa dia kembali menyantap makanannya.


##


"Kenapa kau telihat murung sekali hari ini, Sophie?" tanya Samuel mengelus pipi Sophie dengan lembut. "Apa terapimu hari ini berjalan dengan tidak lancar?"


Sophie memgatupkan tangannya di tangan Samuel yang mengelus pipinya.


"Aku hanya khawatir kepada Amy, Sam."


Sesaat tubuh Samuel menegang, tapi dengan cepat berubah menjadi rileks lagi.


"Ada apa dengannya? Apa perjalanan bulan madunya dengan Markus berjalan dengan tidak baik?"


"Aku tidak tahu. Dia memang mengatakan kepadaku semuanya berjalan dengan sangat baik, hanya saja…." Sophie mendesah letih. "Aku hanya merasa Amy sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Sam. Entah kenapa dia terlihat tidak bahagia dengan pernikahannya. Selama aku video call dengannya tadi dia seakan memaksakan senyuman di wajahnya."

__ADS_1


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," kata Samuel datar. "Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja saat kau berbicara dengannya tadi Amy sedang bertengkar dengan suaminya."


"Aku harap begitu."


"Sudahlah, lebih baik kau tidur."


Samuel menyelimuti Sophie. Ditemaninya kekasihnya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi keluar dari sana setelah yakin Sophie telah tertidur pulas.


Di luar kamar ia berjalan mondar-mandir, bimbang menatap layar ponselnya. Saat mendengarkan kekhawatiran Sophie tadi, kepalanya langsung dipenuhi kekhawatiran terhadap keadaan Amy mantan kekasihnya. Meskipun di dalam tadi ia berpura-pura tidak peduli dengan kabar itu.


Jika apa yang dikatakan Sophie tadi benar, mungkin saja saat ini Amy sedang mengalami masalah dengan suaminya. Atau jangan-jangan kebohongan yang dilakukan Amy telah ketahuan oleh suaminya itu.


.


Seharusnya ia sudah tidak usah terlalu peduli lagi dengan apa yang terjadi dalam pernikahan mantan kekasihnya itu, tapi tanpa bisa dihentikannya mendengarkan nama Amy saja sudah membuatnya gelisah seperti ini.


Sebesar apa pun tekad yang telah ia buat supaya melupakan Amy, malam-malamnya selalu saja dipenuhi dengan bayangan kenangan membahagiakan yang telah mereka habiskan bersama.


Tidak semudah itu baginya melupakan semua kenangan mereka bersama. Di dalam hatinya ia tahu bahwa ia masih sangat mencintai mantan kekasihnya itu.


Makanya mendengar Amy tidak bahagia dengan pernikahannya ia jadi sekhawatir ini. Apakah ini pertanda masih ada harapan untuk mereka. Mungkinkah ini kesempatan baginya untuk mendapatkan kembali Amy dalam pelukannya.


Mungkin saja saat ini Amy membutuhkan pertolongannya. Dan tidak menutup kemungkinan Amy sebenarnya telah sangat menyesal memutuskan meninggalkannya.


Tapi jika benar begitu, kenapa Amy tidak menghubunginya saja. Apa dia takut Samuel akan mengabaikannya.


Banyaknya berbagai macam dugaan berkecamuk dalam pikirannya, tanpa bisa dihindarinya harapan juga mulai tumbuh di dalam hatinya.


Apa sebaiknya ia pergi saja mengunjungi Amy ke rumahnya yang ada di Brighton Hill demi memastikan keadaannya.


Namun tak berapa lama kemudian ia menepis jauh-jauh pikiran bodoh itu dari dalam kepalanya. Tidak seharusnya ia melakukan tindakan gegabah seperti itu lagi.


Bukankah ia sudah memutuskan untuk bahagia bersama Sophie. Belum sebulan ia sudah tergoyahkan hanya karena mendengar keadaan Amy yang kurang bahagia.

__ADS_1


Abaikan, Samuel. Perempuan itu bukan lagi milikmu. Apa pun yang terjadi kepadanya itu bukan urusanmu lagi.


Dengan pemikiran itu, Samuel kembali masuk ke dalam ruangan Sophie untuk beristirahat di sana.


__ADS_2