
"Kau habis menangis?" tanya Ibunya sesaat Amy menutup pintu. "Ya ampun, Amy, seharusnya kau bisa menahan dirimu. Akan memalukan sekali jika sang pengantin wanita menjalani hari pernikahannya dengan mata sembab begitu."
"Maafkan aku, Bu, aku tidak bisa menahannya," sahut Amy menunduk penuh penyesalan.
"Untunglah kita memiliki ini." Ibunya menarik tudung pengantin menutupi seluruh wajahnya. "Setidaknya dengan ini wajahmu tidak akan terlalu terlihat jelas. Yang harus kau lakukan tundukkan wajahmu selama upacara pemberkatan berlangsung. Biarkan para tamu berpikir kalau kau pengantin pemalu."
Pemalu. Kata itu seketika mengembalikan keceriaan Amy. Siapa pun yang mengenalnya dengan baik tahu jika sifat pemalu tidak pernah ada di dalam darahnya.
Tapi demi menenangkan ibunya, Amy menuruti kemauan ibunya tanpa protes sedikit pun.
Tinggal beberapa langkah lagi sebelum mereka mendekati Paman Antony—dia merupakan saudara laki-laki ibunya—yang sedang berdiri menantinya di depan altar, sebagai ganti ayahnya yang telah tiada, Amy dikejutkan dengan apa yang dibisikkan ibunya di telinganya sebelum menyerahkannya kepada pamannya.
"Sebenarnya sebelum Ibu mencarimu tadi, Markus sudah terlebih dahulu mencarimu. Tapi karena dia belum kunjung kembali juga akhirnya Ibu memutuskan untuk mencarimu juga." Ibunya melirik ke arah Markus dengan raut wajah bangga. "Tapi melihat dia sedang berdiri dengan gagahnya di sana, mungkin dia sudah menemukan jalannya kembali."
Daripada melihat, Amy lebih merasakan pamannya mengaitkan tangannya dalam lengannya, kemudian melangkah perlahan mendekati Markus di ujung altar.
Di barisan tamu yang sedang bersorak-sorai di sekelilingnya, Ibunya melambai-lambaikan tangan berusaha menarik perhatian Amy untuk melihat ke arahnya.
"Amy, tundukkan kepalamu! Amy," panggil Ibunya frustasi. "Ya ampun, ada apa dengan anak itu?"
Jangankan untuk mengingat permintaan ibunya beberapa waktu lalu, bahkan semua orang yang hadir di sana tampak buram dalam penglihatannya.
Tatapan matanya hanya tertuju kepada pria tampan di ujung altar yang sedang memperhatikannya dengan mata setajam elang. Raut wajahnya sungguh tidak terbaca.
Oh Tuhan, tolong aku. Kumohon jangan biarkan dia mendengarkan percakapanku dengan Samuel tadi.
Tanpa bisa ditahannya, tangan Amy gemetar hebat saat pamannya menyerahkan tangannya dalam gandengan Markus.
Berbalik menghadap Pendeta yang memulai acara pemberkatan pernikahan mereka, Amy merasakan tangan Markus menepuk-nepuk pelan tangan Amy yang berada dalam genggamannya.
Tindakan kecil Markus itu seolah menunjukkan kepada Amy jika dia ingin menenangkannya.
Berpaling menatap Markus di sampingnya, Amy kini bisa bernapas lega. Dalam sekejap kekhawatirannya mengira Markus telah mengetahui kebohongannya sirna saat itu juga.
Tidak mungkin Markus bisa tersenyum penuh cinta seperti itu memandangnya jika dia mengetahui kebohongannya.
Setelahnya mereka berdua pun saling mengucapkan sumpah sakral pernikahan. Dan diakhiri sang Pendeta dengan mengumumkan mereka telah sah sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1
Saling berdiri berhadap-hadapan, Markus membuka tudung pengantin yang sejak tadi masih menutupi wajahnya.
"Lihatlah betapa pucatnya dirimu, sekarang biarkan aku mengembalikan rona wajahmu."
Cara Markus menunjukkan bagaimana dia mengembalikan rona wajah Amy diiringi sorak sorai meriah dari para tamu yang hadir di sana.
Ciuman yang diberikannya membuat Amy hampir saja kehabisan napas. Dan seperti yang dikatakannya, Markus telah berhasil mengembalikan rona wajahnya.
Di antara para tamu yang berkerumun, Amy melihat Ibunya menyeka sudut matanya dengan sebuah saputangan. Di sampingnya Paman Antony memeluk ibunya untuk menghiburnya.
Betapa hatinya sakit karena sebentar lagi akan berpisah dengan ibunya.
Mengedarkan pandangannya, Amy lega sekali tidak menemukan Samuel di antara para tamu. Setidaknya itu berarti Samuel sudah menyerah terhadapnya.
Sekarang semua sudah berakhir. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Yang perlu dipikirkannya sekarang hanyalah membahagiakan suaminya. Ya, suaminya.
Amy melirik kepada Markus yang berdiri di sebelahnya. Sampai akhir hayatnya ia akan selalu membuat suaminya itu tersenyum bahagia. Itu sumpahnya.
Sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke samping.
"Meskipun kami sudah menduga kalau Markus sudah lama menaruh hati padamu, kami tetap saja kaget dengan pernikahan mendadakmu ini," celetuk Bella mengedipkan mata kepadanya. "Atau rumor itu benar kalau kau sudah menghasilkan 'Markus kecil'?"
Pertanyaan terus terang itu langsung saja memancing tawa dari rekan kerjanya yang lain.
"Sayang, kau tidak boleh berkata blak-blakan begitu kepada istri Bosmu. Bagaimana kalau nanti dia mengadukanmu kepada suaminya, yang juga merupakan Bosmu. Bukankah begitu, Ny. Xander?" ledek Katryn.
Seperti biasanya Kat tidak pernah melewatkan kesempatan mencibirnya. Bukanlah rahasia lagi jika wanita cantik bertubuh seksi itu membencinya.
Kebenciannya bukannya tak beralasan. Andai saja Markus tidak memilihnya sendiri sebagai sektretarisnya, pastilah Kat yang akan berada di posisi itu.
Terlebih lagi Kat juga sudah mengincar Markus sejak lama. Sayangnya usahanya menggoda Markus selalu saja ditanggapi dingin oleh suaminya itu.
"Aku tidak sepertimu, Kat," balasnya tersenyum miring. "Mulutku tidaklah seliar mulutmu."
Sindiran pedasnya itu membuat orang-orang di sekelilingnya tergelak.
Tidak terima menjadi bahan tertawaan, Kat membuka mulut ingin membalas cemoohannya.
__ADS_1
"Permisi, para gadis-gadisku yang cantik dan baik hati, sekarang biarkan Bos kalian yang malang ini mengambil istrinya kembali," sela Markus, menghentikan ledakan amarah Kat yang hampir saja keluar. "Ada yang ingin bertemu dengannya."
Tersenyum penuh pengertian, teman-teman Amy mempersilakan Markus membawanya.
Melontarkan tatapan kebencian ke punggung Amy yang berjalan menjauh, Katryn mencebik. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dilihat Markus dari jal*ng itu. Dilihat dari sisi mana pun, jal*ng kampungan itu adalah gadis licik. Markus sudah tertipu oleh wajah sok polosnya itu."
"Sudahlah, Kat, terima saja kenyataan kalau kau sudah kalah darinya," Anna menepuk pundak Kat seraya menyerahkan segelas sampanye ke dalam tangannya. "Minumlah. Sepertinya kau memerlukan ini."
Usai menyerahkan minuman itu, Anna segera pergi meninggalkan Kat, sebelum gendang telinganya pecah oleh amukan rekan kerjanya itu.
Di kejauhan, Amy menengok ke belakang saat jeritan memekakkan telinga mengejutkannya dan semua para tamu di sana.
"Abaikan saja," ujar Markus memalingkan wajah Amy. "Tiada hari tanpa Kat membuat keributan."
"Kau benar juga," setuju Amy tertawa kecil.
Setelah itu Markus mengajak Amy bertemu dengan seorang kerabat satu-satunya yang hadir dalam pernikahan mereka. Dia adalah kakak iparnya, Luke Dryden. Seorang pengusaha kaya yang memiliki departemen store terbesar di Brighton Hill. Begitulah Markus memperkenalkannya.
"Sebenarnya Helen juga ingin datang kemari, tapi berhubung dia sedang dalam masa pemulihan sehabis melahirkan, dia ingin aku menyampaikan kepada kalian berdua betapa menyesalnya dia karena tak bisa datang."
"Dia tak perlu merasa bersalah. Kesehatannya lebih penting," ujar Markus maklum.
"Markus benar. Kami bisa bertemu dengannya di lain waktu."
Jika dipikirkan baik-baik, sebenarnya Amy tidak tahu banyak mengenai keluarga suaminya itu. Ia hanya pernah bertemu dengan ibu Markus—yang sekarang juga ibu mertuanya—di kantor sekali.
Saat itu hubungan mereka terlihat sangat canggung sekali, seakan-akan Markus dan ibunya sudah lama tidak saling berjumpa. Belum lagi sikap dingin Markus ketika menyambut kedatangan ibunya membuat Amy bergidik ngeri.
Itu adalah pertama kalinya Amy melihat kebencian yang sangat besar di mata suaminya itu. Mungkin itu jugalah yang menjadi alasan ketidakhadiran ibu Markus di pernikahannya.
Sepertinya ibu dan anak ini memiliki hubungan yang tidak baik. Nanti kalau mereka sudah punya waktu berdua saja, Amy akan mulai menanyakan banyak hal mengenai keluarga suaminya itu.
Sudah saatnya baginya untuk mengenal Markus lebih dalam lagi. Terlalu banyak hal yang belum diketahuinya mengenai kehidupan pribadi suaminya.
Mula-mula ia akan mencari cara untuk memperbaiki hubungan Markus dan ibunya. Apalagi yang lebih membahagiakan daripada keharmonisan sebuah keluarga.
Puas oleh pemikiran itu, Amy tersenyum lebar memandang suaminya yang sedang asyik mengobrol dengan kakak iparnya.
__ADS_1