
Suara langkah kaki lalu lalang serta canda tawa membangunkan Amy dari tidurnya. Kelembapan di bawah pipinya membuat Amy merabakan tangannya ke sana.
Akibat tangisannya sepanjang malam, Amy telah membasahi seprai tempat tidurnya. Belum lagi rasa perih di kedua matanya membuatnya kesakitan saat membuka mata.
Beranjak bangun dari tempat tidurnya, Amy berjalan mendekati tirai jendela, membiarkan secercah cahaya menerangi ruangan itu.
Melongokkan kepalanya, ia melihat ada dua pria di sana, yang satunya sudah paruh baya dan satunya lagi masih muda, sedang sibuk membersihkan halaman di luar.
Banyak dedaunan dari pohon berserakan di halaman. Tidak lama setelah pertengkarannya dengan Markus tadi malam, hujan badai mengguyur atap rumah.
Dan saat itulah Amy membiarkan air matanya tumpah dari matanya dan meratapi nasibnya hingga akhirnya ia jatuh tertidur.
Berpaling dari jendela, Amy segera menghampiri cermin meja rias yang ada di kamar itu.
Seketika ia terkesiap melihat pantulan dirinya yang ada di cermin. Matanya terlihat bengkak, rambutnya yang tebal nampak kusut, belum lagi maskaranya yang luntur memperparah penampilannya.
"Aku terlihat sangat mengerikan!" cetus Amy ternganga.
Terdengar suara benda jatuh di belakangnya, membalikkan badan, Amy dan pengunjung itu sama-sama terkesiap kaget.
Amy terkejut atas kemunculannya, sedangkan pelayan itu—pakaian yang dikenakannya menunjukkan bahwa itulah profesinya—terlihat kaget mendapati ada orang di kamar itu.
Hal itu terlihat dari apa yang diucapkannya setelah pulih dari rasa terkejutnya.
"M-Maafkan a-aku, Nona," ucapnya terbata-bata sambil nenundukkan kepala. "Aku pi-pikir tidak ada orang di sini. Sekali lagi maafkan aku."
Berniat kabur setelah mengucapkan permintaan maaf itu, Amy berteriak memanggilnya untuk menghentikannya. "Hey, tunggu dulu! Aku perlu bicara denganmu. Jangan pergi dulu!"
Pelayan itu langsung saja menghentikan langkahnya, seakan-akan sudah dilatih untuk tidak membantah perintah majikannya.
Amy mengamatinya dengan saksama, jika dilihat dari wajahnya pastilah usia pelayan itu tidak lebih dari 18 tahun. Sungguh usia yang sangat muda untuk seorang pelayan.
"Ada apa ini?" tanya seorang wanita berparas eksotis mendekati mereka berdua.
__ADS_1
Dia juga mengenakan pakaian yang sama dengan gadis muda di hadapannya, tapi pelayan yang satu ini terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Ada aura percaya diri terpancar dari dirinya.
Mungkin karena itulah dia cepat menguasai dirinya saat melihat penampilan Amy yang sangat mengerikan. Mrskipun ia sempat menangkap keterkejutan berkilat dalam mata ambernya yang dengan cepat ditutupinya.
Yang menandakan dia lebih berpengalaman dan sudah lama bekerja di rumah ini. Berbeda jauh dengan gadis muda kikuk di hadapannya.
"Kau buat masalah lagi, ya?" tuduh wanita itu kepada rekan kerjanya yang lebih muda.
"Tidak, aku tidak melakukannya," elak gadis muda itu menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu kalau ada orang di dalam sana, yah, kau tahu—"
Lirikan setajam pisau yang diberikan wanita berparas eksotis itu seketika membungkam celotehan gadis muda malang itu.
Tidak tega melihat gadis malang itu dimarahi lebih lama lagi, Amy menimpal, "Itu bukan salahnya. Aku tadi sudah mengagetkannya."
Mendengarkan penjelasan singkat itu, pelayan berparas eksotis itu menundukkan kepala menghadapnya.
"Meskipun begitu aku tetap meminta maaf atas perilakunya, Nona."
Melihat perhatian pelayan yang lebih senior itu teralihkan kepada Amy, gadis muda itu berseru meminta maaf kepadanya lalu lari sebelum wanita itu menghentikannya.
"Tidak apa-apa, biarkan saja dia pergi," kata Amy. "Omong-omong siapa namamu?"
******* letih terhembus dari wanita itu. "Kuharap Anda memakluminya, dia baru seminggu bekerja di sini," ujarnya, tersenyum letih. "Dan maaf saya lambat memperkenalkan diri, Nona, nama saya Meggie, tapi panggil saja saya Meg, saya salah satu kepala pelayan di rumah ini, Nona."
"Berhenti memanggilku 'Nona', aku tidak terbiasa mendengar seseorang memanggilku seperti itu," pinta Amy, tersenyum malu. "Panggil saja aku Amy."
"Aku tidak bisa memanggil Anda seperti itu, Nona Amy," tolak Meggie cepat.
Setelah 15 menit berlalu berusaha mengubah pendirian Meggie untuk bersikap santai kepadanya, akhirnya Amy menyerah juga. Tidak ada yang bisa mengubah kekakuan pelayan cantik itu.
Selama waktu itu juga Amy berupaya mencerna informasi tentang semua pelayan yang ada di sana serta menanyakan keberadaan mereka tadi malam.
Sangatlah aneh seluruh pelayan yang ada di rumah itu tidak ada satu pun yang tampak di malam kedatangannya bersama Markus.
__ADS_1
Ternyata itu semua ulah Markus yang memerintahkan semua pelayannya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing setelah jam 9 malam.
Mungkin suaminya itu tidak ingin ada yang mendengar pertengkaran hebat mereka tadi malam. Setidaknya ia harus berterima kasih atas kebaikan Markus yang satu itu karena tidak mempermalukannya di depan para pelayannya.
"Maafkan jika saya bersikap lancang, Nona," ucap Meggie, menyadarkan Amy dari lamunannya. "Tapi sampai pagi ini tidak ada yang tahu kalau Tuan Xander sudah menikah dan telah membawa istrinya kemari. Saat sarapan tadi dia mengejutkan semua orang dengan berkata untuk mengantarkan sarapan untuk istrinya ke kamar."
Amy tahu Markus adalah orang yang sangat tertutup, tapi bagaimana mungkin dia baru mengabari pernikahannya kepada para pelayannya sehari setelah hari pernikahannya.
Apakah menurutnya pernikahannya bukanlah hal penting yang harus diumbar-umbarkannya kepada para pelayannya? Atau sedari awal Markus sudah ragu untuk menikahinya, jadi tidak merasa perlu menyampaikan kabar itu kepada para pelayannya.
"Makanya saya bingung ketika tidak menemukan Anda di kamar Tuan Xander tadi," lanjut Meggie, melirik hati-hati kepadanya. "Saya mengira kalian berdua tidur di sana, tapi sepertinya saya salah,"
Siapa pun bisa melihat dengan jelas kalau Amy dan Markus tidak menghabiskan malam bersama. Mana ada pengantin baru yang terbangun dengan penampilan mengerikan seperi dirinya sekarang.
Tidak ada senyum kebahagiaan, yang ada cuma mata sembap, yang diperoleh dari tangisan sepanjang malam.
Hanya orang bodoh yang menganggap mata sembapnya disebabkan oleh tangis kebahagiaan.
Lalu tidak ada juga pengantin baru yang terbangun secepat suaminya. Seharusnya pengantin baru menghabiskan sepanjang hari di dalam kamarnya. Begitulah perilaku pengantin baru yang sering didengarnya.
Tidak ingin mengelak ataupun mengiyakan, Amy mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain yang tadi hendak ditanyakannya kepada Lucy.
"Omong-omong soal suamiku, Meg, di mana dia sekarang?"
"Dia sudah berangkat bekerja, Nona."
Ah, sial. Andai saja ia terbangun lebih cepat, mungkin ia masih sempat berbincang dengan suaminya itu mengenai masalah yang belum terselesaikan di antara mereka berdua.
Membiarkan situasi tegang di antara mereka berlarut-larut begini malah akan membuat hubungan mereka semakin buruk. Ia tidak bisa membiarkan hal itu.
Untuk mengisi waktu luangnya selagi menunggu kepulangan Markus dari tempatnya bekerja, Amy meminta bantuan Meggie untuk menemaninya berkeliling rumah sekaligus mengenalkannya pada semua pelayan di sana.
Dengan begitu ia sudah melakukan tahap awal sebagai istri Markus, yaitu mengenal wajah pelayannya satu per satu. Walaupun sepertinya butuh waktu lebih dari sehari untuk menghapal wajah dan nama 21 pelayan di sana.
__ADS_1
Tapi sebelum melakukan itu Amy harus merapikan penampilannya terlebih dahulu. Akan sangat memalukan sekali kalau istri tuan rumah berpenampilan seperti wanita stres seperti penampilan yang diperlihatkannya sekarang ini.