I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Tak Mau Kalah


__ADS_3

Amy sedang bersiap tidur ketika suara pintu terbuka terdengar di dalam kamarnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan segera turun dari ranjangnya untuk melihat siapa yang telah masuk ke dalam kamarnya.


Kebingungan mendera Amy saat melihat Markus menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di kamar itu.


"Kenapa kau kemari?" tanya Amy spontan.


Membuka matanya sedikit, Markus menjawab, "Ini kamarku. Tentu saja aku kemari untuk beristirahat."


Amy bersedekap. "Itu dulu. Sekarang ini kamarku. Bukankah kau punya kamar lain, tempat kau sering menghabiskan waktumu dengan mabuk-mabukkan."


"Bisakah hari ini kau memberiku ketenangan? Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," gerutu Markus. "Padahal selama ini kau selalu memintaku untuk sekamar denganmu, tapi kenapa setelah aku dengan sukarela tidur bersamamu kau malah protes."


"Kau salah, Willy, kita tidak sedang tidur bersama," decak Amy. "Artian tidur bersama antara aku dan kau sangatlah bertolak belakang."


Dengan gerakan cepat Markus beranjak bangun dari posisi tidurnya, dia melemparkan tatapan tajam kepada Amy.


"Berhenti memanggilku dengan nama itu!"


Amy tidak sedikit pun merasa ciut dengan tatapan menusuk dari suaminya.


"Aku rasa ini ada hubungannya dengan ibumu."


"Kalau memang iya, kenapa?" balas Markus ketus. "Aku tidak ingin wanita tua itu mempertanyakan perihal kita yang tidak tidur sekamar. Apalagi kalau sampai dia ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Kedatangannya kemari saja sudah membuatku sakit kepala. Aku tidak ingin dia tinggal di sini lebih lama dengan dalih ingin memperbaiki hubungan kita."


"Mark, aku tahu kau sangat membencinya, tapi tidak seharusnya kau bersikap keterlaluan kepadanya seperti yang kau tunjukkan tadi."


"Kau tidak tahu apa-apa," Markus mengertakkan giginya. "Itu sikap terbaik yang bisa kuberikan kepadanya."


"Sebenarnya aku tahu banyak tentang kalian." Amy mengakui. "Helen menceritakan semuanya kepadaku."


"Sudah kuduga si tukang ikut campur itu akan membongkar aib keluarga kami," gumam Markus mencebik.


"Meskipun begitu ibumu bermaksud baik dengan datang kemari, Mark. Dia hanya ingin menemui menantu perempuan yang dia tidak bisa menghadiri pernikahannya karena tidak diundang olehmu. Dia ingin menemuiku secara langsung," lanjut Amy. "Jadi, haruskah kau memperlakukannya sekasar itu?"


Markus hanya tertawa pahit mendengarkan celotehannya. Lalu dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, kemudian melemparkan sebuah gumpalan yang telah diremas-remas hingga lecek kepada Amy.


"Lihatlah betapa baiknya wanita tua yang kau puja-puja itu."


Amy membungkuk mengambil gumpalan yang terjatuh ke lantai di dekat kakinya. Dibukanya gumpalan itu, yang ternyata adalah sebuah undangan. Undangan pernikahan Elisabeth, tepatnya.


Matanya terbeliak membaca undangan pernikahan itu. Dengan perlahan diangkatnya kepalanya menghadap suaminya. Raut bersalah terpampang di wajahnya saat berjalan mendekati suaminya.


"Maaf, Mark, aku tidak tahu–"


Markus menepis sentuhannya. Matanya berkilat dingin menatapnya. "Kau tahu, Amy, sampai kapan pun wanita tua itu tak akan pernah berubah. Jika dia memang ingin menemuimu, tentunya dia akan datang kemari seminggu lebih awal. Atau dia akan tetap datang ke pernikahanku meskipun aku tidak mengundangnya. Jika dia sebegitu inginnya bertemu denganmu."


Merasa tertampar oleh kebenaran dari ucapan Markus, ia hanya bisa terdiam membisu memandang suaminya.


Puas telah membungkam mulut istrinya yang sok tahu, Markus kembali membaringkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Selamat malam, Amy," ucapnya mengakhiri pembicaraan mereka.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu, Mark."


Mengira yang dimaksud Amy soal ibunya, Markus berucap acuh, "Tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu karena terjebak tipu muslihat wanita tua itu."


"Yang kumaksud soal Delilah," koreksi Amy.


"Oh, itu," sahut Markus datar.


"Aku sangat menyesal sudah berprasangka buruk kepadamu malam itu. Tidak seharusnya aku menuduhmu seperti itu."


Menaruh kedua tangan di belakang kepalanya, Markus mengulas senyum mengejek. "Tidak perlu merasa bersalah, Sayangku. Bukan salahmu karena terlalu gampang curigaan," ledeknya. "Lagi pula itu bukan pertama kalinya kau menuduhku hidung belang."


Kesal permintaan maafnya ditanggapi dengan nada mengejek seperti itu, Amy terpikirkan sesuatu yang ia yakin akan menghapus senyuman mengejek itu dari wajah suaminya dalam sekejap.


Bibirnya melengkungkan senyuman manis di wajahnya saat perlahan membungkuk dengan tangan terulur menyentuh pinggang celana suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" Markus terlonjak oleh sentuhannya.


Dalam hati ia tersenyum puas saat mendapati suaminya menelan ludah dengan gugup memandangnya.


"Tidakkah kau ingin aku membantumu melepaskan pakaianmu? Bukankah sudah menjadi tugas istri untuk melepaskan pakaian suaminya?" tanya Amy memasang wajah polos. "Lagi pula akan sangat tidak nyaman sekali bagimu jika kau tidur dengan mengenakan pakaian selengkap ini."


"Aku bisa mengurusi diriku sendiri," cetus Markus. "Kau kembalilah ke tempat tidurmu dan tinggalkan aku sendiri."


Terdengar desah napas lega di belakangnya. Menolehkan kepalanya, sekali lagi Amy tersenyum manis kepada suaminya.


"Omong-omong, Mark, jika sofa itu membuatmu tidak nyaman, kau bisa bergabung bersamaku di kasur empuk milikmu."


Jawaban yang diberikan Markus kepadanya hanyalah sebuah geraman. Tertawa senang, Amy melenggang pergi menuju tempat tidurnya.


Setidaknya sekarang ia bisa tidur nyenyak di atas kasurnya setelah berhasil membuat Markus kesal terhadapnya. Itulah yang didapatkan suaminya karena telah berani mengejeknya.


Markus yang sedari tadi masih memandang kepergian Amy, hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang telah berhasil mengusilinya. Rupanya istrinya itu seorang pendendam.


Ia juga baru tahu kalau Amy punya sisi nakal seperti ini. Andai saja hubungan mereka tidak seburuk ini mungkin sekarang ia sudah bergabung bersama istrinya itu di atas kasur sembari memberikan hukuman kepadanya karena sudah berani mengusilinya.


Sungguh kehidupan rumah tangga yang sangat membahagiakan. Akhirnya malam itu ia tertidur dengan memimpikan kehidupan pernikahan yang selama ini diidamkannya bersama Amy.


Jadi saat terbangun dan menghadapi realita yang ada, dia bergegas pergi bekerja dengan wajah bersungut-sungut. Ia tidak ingin bertukar sapa di pagi hari dengan istri maupun ibunya dalam suasana hati seburuk ini.


##


Sore harinya Amy yang sedang duduk bersantai di ruang tamu mendengar suara mobil berhenti dii luar rumah. Tak berapa lama kemudian Markus masuk bersama pria tampan berambut pirang berpenampilan flamboyan yang tak dikenalinya.


"Di mana Elise?" tanya Markus saat ia menyambutnya di ruang tamu.


"Dia pergi ke rumah Helen," jawab Amy. "Katanya dia akan tinggal sehari dulu di sana sebelum kembali pulang ke rumahnya."

__ADS_1


"Bagus," angguk Markus.


Suaminya tampak gembira sekali atas kabar kepergian ibunya. Dia tidak kecewa sedikit pun mengetahui ibunya tidak sempat berpamitan terlebih dahulu kepadanya sebelum pergi.


Nampaknya memang sulit sekali memperbaiki hubungan ibu dan anak ini, batin Amy skeptis.


"Hei, Mark, tidakkah kau harus memperkenalkan aku kepada istrimu," protes pria yang datang bersama suaminya.


"Amy, perkenalkan ini Daniel," ucap Markus memperkenalkan rekan kerjanya. "Danny, perkenalkan ini Amy, istriku."


"Senang berjumpa denganmu, Manis," salam Daniel, membungkuk berniat mengecup pipinya.


Sayangnya aksinya itu dihalangi Markus yang langsung berdiri menghadangnya.


"Salammu cukup sampai di sini saja, Dan."


"Aku baru tahu kalau kau ini tipe suami posesif, Mark," keluh Daniel pura-pura kesal. Menggeser tubuh Markus, dia mengedipkan mata kepadanya. "Pasti melelahkan sekali untukmu Amy memiliki suami pencemburu seperti Markus."


"Ya, itu sungguh melelahkan," setuju Amy, yang langsung mendapatkan tatapan menghujam dari suaminya. "Dan senang bertemu denganmu, Daniel."


"Panggil aku Danny. Aku lebih senang wanita secantik dirimu memanggilku seperti itu."


"Simpan rayuan gombalmu itu untuk para wanitamu di luar sana, Danny" sela Markus masam. "Dan ayo, pekerjaan penting sedang menunggu kita di dalam."


"Hei, Amy," sapa Madelyne menghampirinya. "Lama tak jumpa."


Betapa terkejutnya Amy mengetahui sekretaris kurang aja itu muncul lagi di hadapannya. Ia kira setelah hari itu, wanita berbisa itu tidak akan berani lagi menjejakkan kaki di rumahnya.


Ternyata ia salah besar. Rupanya dia merupakan lawan yang tangguh. Kekasaran Amy hari itu tidak menciutkan nyalinya sama sekali.


"Kalian berdua sudah cukup menyapanya. Ayo ke ruang kerjaku," ajak Markus berjalan mendahului keduanya.


Madelyne tersenyum puas melihat wajah terperangahnya.


"Kali ini kau tidak akan mengusirku lagi, bukan?" ejek Madelyne. "Karena suka atau tidak Markus-lah yang telah mengundangku kemari. Jadi kau tidak bisa seenaknya lagi mengusirku dari sini, seperti yang terakhir kali kau lakukan kepadaku."


"Wah, wah, Maddy, itu bukanlah sikap yang pantas saat menyapa istri bosmu," tegur Daniel menengahi. "Maaf, Amy. Terkadang mulut manis Maddy ini suka mengeluarkan bisanya."


"Hei, Dan, tidak seharusnya kau membela wanita kasar ini," protes Madelyne marah. "Dia yang terlebih dahulu bersikap kasar kepadaku. Sifat pencemburu–"


Daniel membekap mulut Madelyne untuk menghentikan gerutuannya.


"Ayo, Sayangku, Markus sudah menunggu kita berdua di dalam."


Dengan gerakan gesit Daniel menyeret Madelyne bersamanya, saat mereka berdua berbelok di sudut terdengar caci maki yang terlontar dari mulut Madelyne saat menyumpahi Daniel bertubi-tubi.


Untung saja wanita berbisa itu tidak datang kemari sendiri. Karena jika yang ada di dalam sana hanya Markus dan sekretaris genitnya itu, maka ia tidak akan segan-segan menendang bokong wanita berbisa itu tepat di depan wajah suaminya.


Persetan soal Markus yang telah mengajaknya kemari. Ia tidak akan membiarkan wanita berbisa itu berdua saja dengan suaminya dalam suatu ruangan di dalam rumahnya. Di sini ialah nyonya rumah, bukan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2