I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Kelewat Batas


__ADS_3

Selama semenit lamanya tak ada suara sekecil apa pun yang terdengar, hanya suara napas mereka berdua saja yang memenuhi ruangan itu. Markus masih terdiam membisu di tempatnya selagi mengamati Amy serius.


"Mark?" Amy menelengkan kepala menatapnya, terlihat sangat gugup menunggu jawaban darinya.


"Apa kau yakin?" tanyanya balik.


"Tentu saja aku yakin," jawab Amy cepat. "Dan bisakah kita menghentikan diskusi ini sekarang juga? Lebih baik kita langsung mempraktekannya saja, alih-alih berbicara mengenai masalah ini sepanjang malam."


Usai mengucapkan itu Amy berbalik membelakanginya, dia terlihat seakan sangat malu setelah menyampaikan pendapat beraninya itu.


Berjalan mendekati istri pemalunya, Markus berbisik, "Siapa yang ada dalam pikiranmu sekarang, Amy sayang?"


"Apa maksudmu?" tengok Amy berpaling menghadapnya.


"Kau tahu maksudku," geram Markus, kemudian bergerak menjauh dari tubuh istrinya.


Bingung oleh sikap Markus yang tiba-tiba berubah kesal terhadapnya, Amy meneliti wajahnya dengan cermat mencoba mencari jawaban dari mimik wajah suaminya.


Tak berapa lama kemudian ekspresi bingung Amy berubah menjadi murka, seakan dia sudah mulai memahami apa yang mengakibatkan sikap dingin suaminya.


"Apa yang membuatmu berpikir aku masih memikirkan Samuel? Sudah kukatakan padamu aku sudah melupakannya!" seru Amy berapi-api, muak melihat sikap Markus masih belum juga mempercayainya. "Harus kukatakan berapa kali supaya kau mengerti."


"Tapi kau masih mencintainya!" hardik Markus.


"Itu dulu."


"Jadi maksudmu sekarang kau sudah tidak mencintainya lagi?"


Amy mengangkat dagunya angkuh. "Tentu saja."


Markus mendengus. "Baru kemarin kau mengatakan kepadaku kau masih mencintainya, dan sekarang…."


Markus melotot marah pada istri pembohongnya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah bilang begitu. Aku cuma bilang 'aku tidak tahu'. Kau harus tahu perbedaannya."


"Kau tidak bermaksud mengatakan kepadaku bahwa kau sudah mencintaiku 'kan?"


Sesaat Amy tampak ragu menjawab, tapi akhirnya dia memutuskan lebih baik bersikap jujur daripada menghindar.


"Aku memang belum mencintaimu, tapi," Amy menatap lekat matanya. "Setelah malam ini aku sadar bahwa tanpa kusadari aku telah mulai menyayangimu. Lagi pula sesudah kita menikah aku tak pernah memikirkan pria lain, hanya kau Mark yang terus-menerus ada dalam pikiranku. Ada begitu banyak hal tentangmu yang sangat ingin kuketahui."


"Sayang? Menyayangiku, kau bilang?" Markus tersenyum sinis. "Aku tak tahu apa yang telah diceritakan Helen kepadamu sehingga kau bersikap penuh kasih seperti ini kepadaku, tapi apa pun yang dikatakan Helen kepadamu, aku tak butuh kasih sayangmu!"


Mengambil sehelai pakaian dari dalam lemarinya, Markus bergegas keluar dari kamarnya, ia berniat mencari tempat lain untuk mengganti pakaiannya.


Baru saja hendak membuka pintu kamar, Amy menangkap pergelangan tangannya. Rupanya dia masih belum menyerah melepaskannya dari pembicaraan memuakkan ini.


"Berhentilah bersikap selalu kabur setiap kali kita sedang berdebat, Markus William Xander." Ketika Amy memanggilnya seperti itu berarti dia telah sangat marah kepadanya. "Dan mau sampai kapan kau menggunakan Samuel tiap kali aku mencoba mendekat kepadamu?"


Markus berpaling dengan wajah muak terpampang jelas di wajahnya. "Kau tidak berhak menuduhku seperti itu! Aku bukan kabur, aku hanya tidak ingin diriku melakukan sesuatu yang sangat buruk kepadamu jika aku meneruskan pembicaraan mengenai dustamu ini lebih lama lagi."


"Beraninya kau!" Markus mencengkeram pundak Amy dengan kuat.


Tidak merasa takut sedikit pun oleh ledakan amarahnya, dagu Amy malah terangkat tinggi memandangnya, sorot matanya seolah menantang Markus melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi dari itu.


"Baiklah. Akan kuberikan apa yang kau inginkan."


Belum sempat Amy merespons, Markus sudah melumatkan bibirnya dengan kasar di bibir istrinya. Tangannya bergerak tidak sabar melepaskan gaun yang dikenakan istrinya hingga mengakibatkan robekan di gaunnya.


Tidak diam saja diperlakukan sekasar itu, Amy meronta-ronta melepaskan diri darinya. Sayangnya kekuatan Markus dua kali lipat lebih besar darinya. Jadi tanpa pikir panjang Amy mengigit keras bibir Markus hingga berdarah.


"Hentikan!" Amy mendorong tubuh Markus sekuat tenaga. Tangannya berupaya keras menahan gaunnya yang hendak terlepas jatuh dari tubuhnya.


Menyeka noda darah dari bibirnya, Markus menampakkan senyum kejam di wajahnya. "Kenapa kau menghentikanku? Aku cuma memberikan apa yang kau inginkan. Anak."


Suara tamparan keras menggema dalam kamar itu saat tangan Amy yang bebas melayang keras ke pipinya. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Markus dengan raut wajah marah sekaligus rasa benci yang kentara jelas dalam sorot matanya 

__ADS_1


"Kau berhasil, Berengs*k." Dibukanya pintu kamar untuk menyuruhnya keluar. Sesudah ia berada di luar, Amy membanting pintu sekeras mungkin hingga pintu bergetar. "Sekarang pergilah kau ke neraka!" teriaknya dari dari dalam kamar.


Membalikkan badan, Markus memandang pintu kamar yang menutup itu selama beberapa saat. Perasaannya terombang-ambing antara ingin memaksa masuk ke dalam untuk berlutut meminta maaf pada istrinya atau memukul-mukul pintu kamarnya sambil memaki-maki istrinya karena telah berani mengumpat padanya.


Ternyata pilihan ketigalah yang diambilnya, yaitu pergi dari sana secepat mungkin.


Di dalam kamarnya Amy sedang menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya. Hatinya begitu hancur atas perilaku kasar suaminya tadi.


Ia sunggun tak menyangka Markus akan bertindak seburuk itu padanya. Awalnya ia mengira ancaman Markus hanyalah omong kosong belaka saat berkata hendak melakukan hal buruk padanya.


Namun nyatanya ancamannya itu bukanlah gertakan belaka, dia benar-benar menunjukkan padanya jika penilaian Amy terhadapnya telah salah besar.


Selama setengah jam lamanya Amy menghabiskan waktunya dengan menangis sambil mengutuk suaminya. Lalu tangisan itu berubah menjadi kemarahan yang membuatnya bergegas mengepak barang-barangnya. Tekadnya telah bulat meninggalkan suaminya itu.


Akan tetapi selesai mengemasi semua pakaianya dalam koper, amarahnya yang kini mulai surut membuatnya kembali memikirkan kejadian beberapa waktu lalu dengan pikiran yang lebih jernih.


Setelah dipikirkannya baik-baik mungkin apa yang telah dilakukan Markus tadi padanya merupakan siasat suaminya agar ia menjauh darinya. Apalagi sikap kasarnya itu bermula karena ia memprovokasinya dengan mengungkit mantan tunangan dan ibunya.


Rupanya suaminya itu takut ia membongkar ketakutan terbesarnya selama ini. Dia takut terluka lagi. Makanya dia sekuat tenaga mendorong Amy menjauh dengan bersikap kasar itu sebab tak ingin ketakutannya itu terlihat jelas olehnya.


Jika ingin menghadapi suami penakutnya itu, Amy harus memiliki kesabaran yang begitu besar dalam menghadapinya. Walaupun sejujurnya ia sangat kesal dengan cara Markus yang selalu menggunakan Samuel sebagai senjata untuk menyerangnya.


Padahal ia sudah jujur saat mengatakan tidak mencintai sahabat kecilnya itu lagi. Pembicaraannya dengan Helen di rumahnya tadi telah menyadarkannya mengenai perasaannya.


Setelah mereka menikah tidak sekali pun ia teringat akan mantan kekasihnya itu. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan kekhawatiran akan keberadaan suaminya, orang-orang di sekelilingnya, serta rasa ingin tahu tentang masa lalunya.


Kesimpulannya ia sangat ingin tahu semua tentang suaminya. Tak ada waktu memikirkan pria lain seperti yang dituduhkan suaminya barusan.


Sayangnya suami bebalnya itu tak mau mendengarkan isi hatinya. Di dalam kepalanya ia selalu Amy pembohong yang telah memanfaatkannya. Apa pun yang dikatakan atau dilakukannya tidak bisa mengubah pandangan buruk Markus terhadapnya


Inilah yang membuat kepalanya pusing. Bagaimana caranya mengubah pandangan buruk Markus terhadapnya. Butuh waktu berapa lama meyakinkan suami bebalnya itu? Sebab ia tak tahu berapa banyak lagi kesabaran yang harus dimilikinya setiap kali menghadapi kesinisan suaminya.


Walaupun begitu ia harus kuat menjalani semua ini. Anggap saja ini rintangan yang harus dilaluinya demi bisa mendapatkan kembali kepercayaan suaminya. Ia harus ingat kalau ialah yang telah membangkitkan sisi buruk Markus ini.

__ADS_1


__ADS_2