Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Titik Terang


__ADS_3

18+ Istri Gelap #37


Oleh Sept


Di dalam sebuah mobil, keduanya nampak diam. Naga sudah bebas dengan jaminan nama besar Tuan Taka. Sejak tadi pria itu nampak gusar, bukan pada Sinaga, tapi pada Tuan Surya. Ia tidak menyangka, besannya itu menyerang putranya dengan picik.


Akan tetapi, ia juga sedikit sebal pada Naga. Bisa-bisanya anaknya itu menikah lagi, lebih mengejutkan, ia kini malah punya cucu.


"Berapa usianya?"


Pertanyaan Tuan Taka memecah sepi di dalam mobil yang melaju menuju kediaman pendiri Sanrio tersebut.


Naga yang semula menatap kosong ke luar jendela, menjawab pertanyaan dari sang Papa tanpa mengalihkan pandangan.


"Enam tahun," jawab Naga singkat.


"Apa?"


Makin shock lagi pria tua tapi jiwanya masih berapi-api itu. Tuan Taka merasa oksigen di dalam mobil berkurang banyak, karena dadanya kembali sesak.


"Kau sembunyikan anak enam tahun selama ini dari kami?" tanya Tuan Taka lagi dengan nada tidak percaya.


Naga hanya diam, enggan mengatakan apa-apa. Selama ini ia tahu, betapa lebih buruknya kelakuan papanya ketimbang dirinya.


"Bawa dia ke rumah!" titah Tuan Taka yang melihat Naga diam saja.


"Nanti! Kalau aku sudai cerai, Pa!"


"Kamu ini!" Pria tua itu kelihatan naik darah lagi.


Sampai tidak terasa, mereka sudah tiba di rumah.


Mama Ratih langsung membrondong Naga dengan banyak pertanyaan. Berita perusahaan kena audit sudah tersebar di media.


"Apa yang terjadi?" Wajah Mama Ratih nampak cemas dan khawatir.


"Siapkan jantungmu dulu!" cetus Tuan Taka kemudian memilih meninggalkan putra dan istrinya di ruang tamu.


"Ga ...! Ada apa ini?"


"Kami akan bercerai, Ma!"


"Ngomong apa kamu? Masalah anak? Kamu bisa pakai program bayi tabung. Kalau belum berhasil, bisa coba lagi," ucap Mama penuh harap.


Dari dalam Tuan Taka muncul dengan sebuah koper kecil warna hitam.


"Dia sudah punya anak!" celetuk Tuan Taka sembari duduk di sebelah Naga.


Wajah Mama Ratih yang semula cemas Kini berubah penuh tanda tanya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tuntut wanita paruh baya tersebut.


Naga pun menghela napas panjang, "Naga sudah menikah lagi, Ma."


"Jangan bercanda!" Mama Ratih tersenyum. Tapi senyumnya ia telan kembali tak kala menatap wajah serius dari dua orang pria di depannya.


"Kamu mau bunuh Mama, Ga?" Mama Ratih langsung berdiri. Ia mearas bahwa ucapan Naga pasti benar.


"Mama akan lebih shock jika tahu, apa lagi yang Naga lakukan!" sela Tuan Taka.

__ADS_1


"Maksud Papa apa?"


Mama lebih suka bertanya pada suaminya, karena Naga malah diam membisu.


"Selama ini, Naga sudah menyembunyikan anak!"


"Astaga!" Mama Ratih memegangi jantungnya. Ia tersentak, jantung wanita itu hampir berhenti berdetak.


"Kalian pasti bercanda!" elak Mama Ratih.


"Papa benar, Ma!" Naga menatap tidak enak pada mamanya. Dilihatnya wajah wanita yang melahirkan dirinya itu. Wajah Mama sudah berubah pucat.


"Ga ... kamu keterlaluan," gumam Mama lirih. Wanita itu mengatur duduknya, mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba rasa sesak menyerang. Naga membuat ia tak habis pikir, bagaimana bisa putranya yang lurus itu berbelok begitu tajam?


"Mama kecewa sama kamu!" tatapan dengan wajah penuh kekecewaan.


"Maaf, Ma!"


"Ceraikan wanita itu!"


"Tidak!"


"Naga!"


Tuan Taka yang melihat aura ketegangan antara anak dan istrinya pun mencoba melerai.


"Ceraikan Sierra saja!"


Naga dan Mama Ratih kontan menatap Tuan Taka secara bersamaan. Pernyataan pria tua itu sungguh di luar ekspetasi mereka berdua.


"Papa!" sentak Mama yang tak sependapat. Ia tak menyangka, suaminya malah mendukung Naga.


"Yang menjebloskan putramu agar masuk ke penjara, itu mantu kesayangan Mama serta besan yang Mama eluh-eluhkan!"


"Tanya saja pada putramu!"


"Apa yang Papa katakan pasti salah, kan Ga?"


Naga tidak bisa menyalah atau membenarkan, sebab ia juga belum menyelidik secara langsung. Tapi besar kemungkinan memang benar adanya.


"Mungkin, Ma!"


"Jangan bikin pertanyaan yang ambigu! Katakan, iya apa tidak?"


"Sudahlah, ada yang lebih penting dari pada itu semua," potong Tuan Taka.


Pria itu membuka koper yang ia bawa, menyodokan pada putranya.


"Bereskan urusan perusahaan secepatnya, gunakan semua ini. Ada di bank Swiss, setelah kasus ini selesai. Papa tidak mau dengar lagi kamu tersandung masalah!"


"Apa itu, Pa?" Mama menatap surat-surat berharga yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa ini semua adalah dana yang Papa gelapkan?" tuduh Naga sembari mengeryitkan dahi.


"Kurang ajar!" Tuan Taka terlihat sangat gusar. Ia marah mendapat tuduhan dari sang putra. Pasalnya, tuduhan itu tidaklah benar.


"Ini aset dari kakekmu, sengaja tidak Papa gunakan. Dunia bisnis pasti suatu saat akan ada guncangan, Papa yakin itu. Ini adalah milik kakekmu, sekarang gunakan ini. Perbaiki kekacauan yang kau timbulkan!" sambung pria tua itu.


Naga masih menatap penuh curiga. Dan Tuan Taka menyadari hal itu.

__ADS_1


"Jangan kurang aja kamu Naga! Papa tidak seburuk yang kamu kira!" gerutunya kesal.


Pria itu lantas mengambil beberapa surat berharga dari dalam koper, "Lihat! Di sini tertulis tanggalnya! Kamu bahkan belum lahir waktu itu!" ujarnya dengan kesal.


Naga melirik sekilas, dilihatnya tanggal yang tertera di atas sebuah tanda tangan dan stempel. Sepertinya kali ini papanya benar.


"Terima kasih, Pa!" ucap Naga dengan nada kaku. Bapak dan anak itu selama ini memang memiliki hubungan yang kurang bagus, terkesan dingin.


Itu semua karena Naga yang membatasi jarak, ia kecewa pada Tuan Taka yang mempermainkan pernikahan.


Sedangkan mamanya, seolah menutup mata. Mama Ratih pasti tahu sikap terjang suaminya di luar sana, demi kedamaian yang semu. Wanita itu menutup mata dan hatinya.


Makanya, Naga tidak begitu respect pada papanya sendiri. Ia merasa kasihan pada mamanya. Tapi mau bagaimana lagi, Mama lebih memilih bertahan. Sebagai anak, Naga tidak mungkin mengurui orang tuanya. Mereka terlalu besar, bahkan terlalu uzur untuk mendapat nasehat darinya.


"Begitu urusan perusahaan beres, tetap jangan bercerai!" tiba-tiba Mama mengeluarkan pendapatan.


"Ma!" Naga menatap ke arah sang Mama dengan wajah memohon.


"Semua bisa dibicarakan baik-baik, ini pasti salah paham. Dan lagi, pantas kamu mendapatkan ini semua. Karena kamu benar-benar mengecewakan!" Tekanan darah Mama Ratih mulai naik.


Naga hanya bisa memejamkan mata, bila sepertinya mudah membujuk papanya. Sepertinya tidak dengan mamanya.


"Biarkan dia pulang, banyak kekacauan yang harus ia bereskan!" bela Tuan Taka. Sebagai seorang Casanova sejati, Tuan Taka pasti mengerti. Cinta barangkali tidak bisa dipaksakan.


Entah dapat pencerahan dari belahan langit sebelah mana, yang jelas pria tua itu nampak terlihat di jalan yang benar. Untuk kali ini, belum tahu nanti.


"Naga pulang dulu, Ma!"


Mama Ratih terlihat masam, ia nampak belum puas. Ia tidak terima dengan keputusan Naga, bagaimana dengan istri kedua putranya? Apa jelas bibit bebet dan bobotnya? Lalu status sosialnya seperti apa? Pikiran Mama Ratih hanya seputar status duniawi belaka.


Pulang dari rumah orang tuanya, Naga lantas diantar sopir sang Papa ke rumahnya sendiri.


Hari yang melelahkan, sepertinya ia butuh energi tambahan.


"Moza ...!" panggilnya.


Dilihatnya Moza yang sedang berada di dapur. Entah masak apa wanita itu. Selama di rumah ia hobby sekali masak ini dan itu.


"Eh!"


Moza terkejut, dan langsung melepas apron yang semula ia kenakan.


"Sebentar, aku lepas dulu!" Moza berusaha melepaskan diri dari pelukan Naga.


Bukannya dilepas, Naga malah membalik tubuh Moza. Menaikkan tubuh itu di atas meja.


"Lihatnya wajahmu, kusut sekali!" ucap Moza sembari membelai wajah Naga.


"Sepertinya butuh diurai!" Naga tersenyum penuh arti.


Di rumah sedang kosong, Sendy sudah pergi ke sekolah. Dan belum pulang.


"Jam berapa ini?" Moza meminta Naga untuk sadar. Matahari saja belum di atas kepala. Masa Naga meminta yang bukan-bukan.


"Kita sudah menikah, jam berapa saja boleh."


Moza menelan ludah, bisa aja ngelesnya, pikir wanita tersebut.


"Ada Bibi!" sela Moza ketika mendengar derap langkah yang makin mendekat.

__ADS_1


"Menganggu saja!"


Naga pun langsung membopong tubuh istrinya menuju ke dalam kamar. Bersambung.


__ADS_2