Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Menjanda


__ADS_3

18+ Istri Gelap #39


Oleh Sept


Dilihat sekilas saja Mama Ratih sudah tahu, wanita pilihan Naga tidak ada bagus-bagusnya. Lebih baik Sierra kemana-mana, melihat dari baju yang Moza kenakan, jelas itu bukan buatan desainer ternama. "Ya ampun, kamu nemu wanita ini di mana, Ga?" batin Mama Ratih.


Moza memakai baju biasa saja bukan berarti Naga tidak pernah membelikan banyak baju branded. Di dalam lemari Moza, sudah penuh dengan berbagai macam pakaian berlogo desainer dari Milan. Moza wanita sederhana, ia cantik karena apa adanya. Sebuah kecantikan alami bukan karena sesuatu yang melekat pada tubuhnya, dan menjadikan dirinya nampak wah.


Moza dan Mama Ratih, dua wanita dengan sudut pandang yang jauh berbeda. Yang satu memandang dunia apa adanya, biasa-biasa saja, satunya lagi menitik beratkan penilaian berdasar materi.


Tidak puas dengan pilihan Naga, Mama pun mau pulang. Sudah cukup rasa penasaran yang semula ia rasa, dan sangat-sangat kecewa. Karena Moza terlihat biasa saja. Meski ia akui, wanita itu cukup cantik. Walaupun tanpa make-up dan baju bagus.


"Mama akan pulang!"


"Kok cepet, nggak minum dulu?" tanya Naga basa-basi, padahal ia juga seneng mamanya pulang. Karena dari tadi wajah mamanya jutek sekali terhadap Moza.


"Besok ajak ... siapa nama anak itu?"


"Sendy, Ma."


"Ya, ajak Sendy ke rumah." Mama menatap tajam ke arah Moza, seolah mengatakan bawa anaknya jangan emaknya.


"Hem ... iya Ma."


Mama pun mendekati cucunya yang kini mengelayut manja di pangkuan Moza. Ia membelai poni Sendy. Bila boleh, rasanya ia ingin membawa anak itu pulang bersamanya. Sayang sekali, itu bukan anak Sierra. Hidupnya pasti sempurna bila Sendy adalah putri dari Sierra dan Naga, dalam kepala Mama Ratih, ia sudah berandai-andai.


Saat mereka bertiga mengantar Mama Ratih sampai depan rumah, Mama tersenyum pada Sendy. Tapi saat menatap Moza, senyum itu ia telan dalam-dalam. Nehi! Seolah Moza adalah musuh yang harus diberantas.


Di tempat yang berbeda, kediaman Tuan Surya.


Sierra sudah tidak pulang ke rumah, untuk apa pulang ke rumah itu? Naga juga tidak ada di sana. Kini ia tinggal bersama orang tuanya untuk sementara.


"Ra, ayo makan dulu," Nyonya Surya mengetuk pintu kamar Sierra yang tertutup.


"Ra ... Sierra, buka sayang!"

__ADS_1


Dari belakang, Tuan Surya muncul. "Ada apa dengan anak itu?"


"Dia belum keluar kamar Pa sejak tadi."


Tuan Surya nampak diam, baru saja anak buahnya menghubungi. Rencana mereka semua gagal total.


"Biarkan saja, sudah ... jangan sebut nama Sinaga di rumah ini. Papa sudah tidak sudi memiliki menantu seperti dia!"


"Pa!" Nyonya Surya terlihat cemas, sepertinya konflik tidak kunjung mereda.


"Katakan pada putrimu, seperti tidak ada pria lain saja. Ini adalah penghinaan! Jangan sampai Sierra digugat cerai! Hari ini juga, Sierra harus yang mengugat pria itu!"


Nyonya Surya tertegun, tapi benar apa kata suaminya. Hanya saja, ia ingin bertemu dengan wanita murahan yang menghancurkan hidup putrinya. Ia ingin mencabik-cabik wanita itu dengan tangannya sendiri. Bak seperti keinginan ibu hamil yang sedang ngidam, Nyonya Surya belum bisa tidur nyenyak sebelum memberi pelajaran pada Moza.


Esok harinya.


Sierra keluar kamar dengan wajah lesu, ia sarapan dengan tatapan kosong. Semalam mamanya sudah mengatakan padanya, hari ini mereka harus ke pengadilan. Mengajukan gugatan cerai terhadap Naga. Jelas Sierra menolak mentah-mentah.


Ketika Nyonya Sierra menjelaskan panjang lebar, bahwa ia akan membantu menangkap wanita murahan itu. Sierra pun mau, lagian percuma. Naga secara terang-terangan sudah membuang dirinya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membalas dendam dengan menyakiti Moza. Wanita yang membuat Naga jatuh cinta.


"Papa tenang saja!"


Yang ditanya Sierra yang jawab Nyonya Surya.


Beberapa minggu kemudian.


Di sebuah Pengadilan Agama.


Sidang perceraian sudah berlangsung antara Naga dan Sierra, akan tetapi yang datang hanya kuasa hukum saja, Naga sedang sibuk membangun bisnisnya lagi karena semua dana dari keluarga Surya sudah ditarik. Jadi semua mengenai perceraian, sudah diserahkan sepenuhnya pada kuasa hukum masing-masing.


Sementara Sierra, wanita itu sedang menikmati masa kesedihannya dengan pergi berlibur di Bali. Menyatu dengan pantai, melupakan patah hatinya. Sudah tiga minggu ia tinggal di Bali, entah mau pulang kapan. Sierra masih ingin menjauh dari kota yang sama dengan Naga. Hanya membuatnya sakit saja.


Di sebuah klab. Terlihat Sierra sedang menghibur diri. Menikmati minuman yang terasa pahit di lidahnya. Ia heran, apa yang mereka sukai dari benda cair yang membuat lupa diri ini? Walaupun begitu, ia meminumnya sampai habis.


"Sendirian saja?" sapa seorang pria tampan namun terlihat playboy. Terlihat dari kilau matanya, yang nampak tertarik dengan body Sierra.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" sentak Sierra galak.


"Wih ... judes sekali."


"Singkirkan tanganmu!" Sierra menatap kesal, saat pria itu dengan sengaja meraba-raba tubuhnya. Dia bukan perempuan gatal.


"Ayolah! Jangan jual mahal, aku tahu betul wanita seperti apa dirimu!"


PLAKKKK


Sierra langsung menampar pria kurang ajar itu. Ia ke klab malam bukan untuk menjual diri, ia hanya ingin melupakan sakit hatinya pada Naga. Ingin mabuk, biar lupa dengan sakit yang ia rasa setelah resmi bercerai dari Naga beberapa hari lalu.


Pria yang habis ditampar Sierra menyalak marah, matanya melotot tajam. Bila semula ia terlihat tergiur pada tubuh Sierra, kini ia merasa harus memberi wanita itu pelajaran.


Dengan kasar, ia menarik tangan Sierra.


"Lepaskan!" teriak Sierra, suaranya yang keras tidak terdengar karena beradu dengan dentuman musik yang kencang di dalam ruangan itu.


"Akan aku lepaskan bila sudah di dalam kamar!" tatapan penuh ancaman.


Sierra makin panik, sepertinya yang ia temui adalah pria psychopath.


Wanita itu pun meronta sebisa mungkin, berpegang pada kursi. Sayang, pria itu mencengkram tangan Sierra dengan erat.


Di salah satu tempat duduk paling ujung, seorang pria lain bangkit. Sudah cukup main-mainnya.


Sosok itu mendekati Sierra yang wajahnya mulai panik.


"LEPASKAN DIA!" Bersambung.


Yang mau tahu novel apa saja yang Sept tulis, bisa lihat di Instagram : Sept_September2020


Yang nggak mau tahu, nggak apa-apa sih. Hihihih...


Kadang harus bertemu orang yang salah, sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Bisa jadi jodoh sudah habis, karena jodoh tidak pernah tertukar.

__ADS_1


__ADS_2