
Istri Gelap #56 (18+)
Oleh Sept
Ada hati yang panas, terbakar cemburu yang salah tempat. Naga yang semula memang kurang suka kepada Rendra, kini semakin membenci iparnya tersebut. Dengan langkah gusar ia menarik lengan Moza.
Rendra langsung melotot tajam pada Naga, kasar sekali pria itu menarik-narik adiknya. Tidak mau Naga semena-mena, pria itu pun mencengkram lengan Naga. Dan dua mata pun saling menghujam. Dua pria itu sama-sama melototi satu sama lain.
Sadar ada hawa dingin yang menyeruak di sekitarnya, Moza langsung memegangi Naga. Tidak mau dua pria itu jadi bersitegang.
"Tolong perbaiki tempramenmu!" sentak Rendra.
"Tolong juga jangan ikut campur masalah kami!" balas Naga yang terpancing.
"Cih ... dia adikku! Bagaimana mungkin aku diam saja, bila kau membuatnya menangis. Lebih baik aku bawa dia pergi!" ancam Rendra.
Hidung Naga jadi kembang kempis, berani sekali Rendra mau membawa istrinya. Baru muncul sudah mengusik rumah tangganya. Hanya karena memiliki saham tertinggi di Sanrio Group, Rendra pikir bisa ikut campur urusannya? Naga yang sedang kacau pikirannya, tidak bisa berpikir jernih lagi. Pria itu malah menantang iparnya sendiri.
"Ini hanya salah paham, tolong jangan ribut. Ini di rumah sakit." Moza mencoba melerai dua orang yang terlihat panas tersebut.
"Moza, ikutlah denganku!" ucap Rendra kemudian.
"Dia tidak akan ke mana-mana!" sela Naga.
"Mas Rendra pulang saja, Moza akan tetap di sini." Moza menatap kakaknya, meminta Rendra mengerti. Sebab ia tahu, Naga sedang emosi. Bila ia pergi, masalah akan jadi tambah kacau. Moza hafal betul karakter suaminya.
Rendra jelas kecewa terhadap Moza, karena sepertinya Moza tidak pernah berada di pihaknya bila ia sedang bersitegang dengan Naga. Apapun itu, Moza selalu membela suaminya. Membuat Rendra geram saja.
"Baiklah! Kita lihat, sekali lagi kau buat Moza kesusahan. Akan aku bawa dia pergi!" ancam Rendra.
Telinga Naga rasanya sangat panas mendengar kalimat ancaman dari iparnya itu. Ia melengos, memperlihatkan rasa tidak sukanya tersebut.
"Langsung hubungi nomerku, bila sesuatu terjadi!" Rendra memegang pundak Moza, dan hal itu dilirik oleh Naga.
Moza mengangguk, kemudian menatap Rendra yang pergi tanpa pamit pada Naga.
__ADS_1
Saat Rendra sudah pergi, dua orang itu terlihat diam. Duduk tanpa kata. Barulah setelah beberapa menit, Naga mulai bersuara.
"Aku tidak suka kamu memeluk pria lain di depanku!"
Moza memejamkan mata dalam-dalam, kemudian membalas ucapan suaminya. "Dia kakakku!"
"Tetap saja dia pria!" Naga tidak mau mengerti.
Moza langsung menoleh, ia kini menatap Naga. "Sepertinya ada yang salah, jangan katakan kamu cemburu dengan kakak kandungku sendiri?"
Naga pun menghela napas panjang, kemudian mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Ia juga merasa hampir gila dengan sikapnya yang mengapa menjadi over possessive sekali.
"Itu karena aku tidak ingin pria lain menyentuhmu ... Moza!" jawab Naga dengan putus asa.
Moza menyentuh tangan suaminya, mengengamnya erat. "Tapi ini sangat tidak masuk akal. Dia hanya keluarga yang lama tidak aku temui."
Mendengar kata-kata Moza, Naga pun menyandarkan kepalanya ke tembok. Pria itu bersikap pasrah, tapi tetep saja. Mengapa hati kecilnya belum menerima dengan terbuka?
"Entahlah Moza, meskipun dia kakakmu ... jujur, aku kurang suka padanya. Kau tahu Moza? Dia membeli saham Sanrio, bahkan melebihi saham yang aku miliki."
Moza tersentak, ia kaget. Karena Naga baru cerita. "Membeli saham Sanrio? Untuk apa?"
"Untukku? Jangan mengada-ada."
"Dia yang bilang dengan mulutnya sendiri."
"Tapi untuk apa?" Moza masih belum mengerti, mengapa kakaknya membeli saham di perusahaan suaminya.
"Tanyakan padanya sendiri." Masih dengan nada ketus.
Saat keduanya berbicara, Sendy muncul dari balik pintu.
"Sendy ...!" Moza pun mendekati putrinya.
"Mama ... Oma bangun, cari Papa!"
__ADS_1
Naga pun langsung masuk ke dalam. Sedangkan Moza, ia ragu-ragu akan ikut masuk atau tidak. Tapi karena tangan Sendy menariknya, membuat Moza akhirnya masuk.
Mama Ratih terlihat lemah, ia berbicara sangat pelan pada Naga. Kemudian melirik Moza sekilas. Dalam lirikan itu, terkandung tatapan kemenangan. Ia merasa sudah berhasil mengelabuhi putranya.
"Apa tidak ada kabar dari papamu?" bisik Mama.
Naga mengeleng, karena papanya memang masih belum ada kabar.
"Ma ...!" Naga mencoba pelan-pelan bicara pada mamanya. Ia akan menanyakan sesuatu yang lain.
"Hem ...!"
"Kata dokter Mama keracunan makanan, Mama ingat-ingat lagi. Mama kemarin makan apa?"
Wanita itu langsung menatap Moza yang berdiri di belakang Naga.
Mendapat tatapan dari mertuannya, Moza merasakan sesuatu yang tidak enak. Ada yang tidak beres.
"Mama tidak makan apa-apa, kecuali dari Moza."
Moza langsung menggeleng ketika Naga berbalik dan menatapnya.
"Ma ... Moza tidak mungkin membuat Mama celaka!" Moza mencoba membela diri, sebab tatapan ibu dan anak itu kini tertuju padanya dengan tatapan menuduh.
"Kamu pikir Mama makan racun dengan tangan Mama sendiri? Kamu menuduh Mama, Moza?" suara lemah itu berubah keras. Seperti orang sakit bohongan.
"Bukan begitu, Ma! Tapi Moza tidak mungkin meracuni makanan Mama. Untuk apa?"
"Karena kamu benci Mama!" fitnah Mama Ratih.
Moza menutup mulutnya dengan tangan, ia tidak menyangka. Mama mertuannya tega melempar fitnah pada dirinya.
"Cukup, Ma!" Naga yang dari tadi diam mulai melerai.
"Kenapa? Kamu lebih percaya istrimu? Kamu menuduh Mama yang mengada-ada?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan sang Mama, Naga hanya bisa melena ludah.
Sedangkan Moza, ia kini menanti jawaban Naga. Percaya siapa? Istri atau ibunya? Bersambung.