Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
New Couple


__ADS_3

18+ Istri Gelap #41


Oleh Sept


Mama Ratih langsung berjalan keluar, wanita itu tidak sanggup menerima kenyataan, bahwa sepertinya Moza hamil lagi. Kalau begini, makin kuat saja kedudukan Moza. Batin Mama Ratih menjerit, kenapa Naga gampang sekali hamil dengan wanita tidak jelas itu? Sedangkan dengan bibit unggul seperti Sierra, bertahun-tahun malah tidak dapat apa-apa. Mama Ratih pun kecewa berat, merasa tidak adil dengan semua ini. Masa ia harus menerima Moza? Tidak jelas siapa bapak ibunya? Agrh ... Wanita itu hanya bisa menahan kesal sambil memijit pilipisnya. Mama Ratih langsung diserang migraine mendadak.


"Mau ke mana, Ma?"


"Urusi saja istrimu!" jawab Mama dengan kesal.


Setelah Mama pergi, Moza keluar dari kamar mandi.


"Ada apa denganmu, Moza? Kita ke rumah sakit ya?" Naga nampak cemas.


"Nggak usah, nggak apa-apa."


"Nggak apa-apa gimana? Bolak-balik ke kamar mandi, lihat ... wajahmu pucet begini."


"Beneran, nggak apa-apa!"


Baru bilang nggak apa-apa, Moza kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Moza ... Moza!"


Naga pun berjalan mendekati nakas, mengambil ponselnya yang ada di atas sana. Menghubungi dokter langanan mereka. Setelah itu kembali ke kamar mandi.


"Moza buka pintunya!" serunya ketika Moza menutup pintu dari dalam.


Moza keluar, tapi tiba-tiba dia oleng. Hampir saja tubuhnya jatuh ke lantai kalau tidak ditangkap oleh suaminya.


Naga makin panik, ia membopong tubuh Moza ke atas ranjang. Sambil menunggu dokter datang, ia mengoles minya angin untuk membuat Moza tersadar.


Beberapa saat kemudian. Seorang dokter datang ke kediaman Naga. Mama yang sudah menduga apa yang terjadi, terlihat masam duduk di ruang tamu. Dari pada mengkhawatirkan Moza, ia lebih memilih bermain bersama cucunya.


Sedangkan Tuan Taka, pria itu sedang bertelpon di teras rumah. Entah lagi telpon dengan siapa, katanya sih rekan bisnis. Tapi sepertinya bukan, sebab terdengar suara manja dari seorang wanita.


Di dalam kamar.


"Sakit apa Dok istri saya?"


"Sakit? Bukan ... Nyonya Moza tidak sakit."


"Lah, terus?"


"Sepertinya sedang berbadan dua, apa sudah pernah dites?"


Naga pun langsung menatap Moza, dilihatnya sang istri yang kala itu sudah siuman.


"Kamu hamil Moza?" tanya Naga tidak percaya.


Moza menelan ludah, sebenarnya ia sudah tahu kalau sedang hamil. Hanya saja ingin membuat kejutan, tapi sepertinya gagal. Mama Sendy itu pun mengangguk pelan.

__ADS_1


"Beneran?" Masih tidak percaya.


Dokter pun menepuk pundak Naga, seolah memberi ucapan selamat atas kehamilan Moza.


Setelah dokter pergi, Tuan Taka sudah kembali duduk di ruang tamu bersama Mama Ratih serta Sendy.


Ketika Naga keluar kamar dan menemui orang tuanya, Tuan Taka langsung bertanya.


"Sakit apa istrimu?"


"Tidak sakit apa-apa, Pa."


"Lah, ngapain dokter datang? Aneh kamu ini!"


"Moza hamil, Pa."


"Lagi? Wah ... hebat betul!"


Dua pria itu terlihat senang dengan kabar kehamilan Moza. Namun tidak dengan Mama Ratih, dia terlihat paling sedih. Seolah kabar kehamilan Moza adalah kabar duka.


Apa Mama Ratih menyerah dan mengaku kalah?


Di belahan pulau yang lain, pulau Dewata, Bali.


Terlihat sepasang kaki melukis jejak di atas pasir, ia berjalan sambil menenteng sepatu di tangannya. Menikmati debur ombak yang berkejar-kejaran. Sesekali mengenai kakinya yang jenjang.


Tidak jauh dari sana, seorang pria mengikuti dari belakang. Mengamati punggung yang selalu ingin ia peluk dengan erat.


Sierra berjalan pelan, bermain-main dengan air laut yang terasa dingin saat menyentuh kakinya. Wajahnya nampak ceria, terlihat dari senyum yang tergambar saat ombak menerjang kaki wanita itu.


"Ah ... kamu membuntutiku!" tuduh Sierra.


"Sejak kapan pantai ini jadi milikmu? Semua bebas bermain di sini!" kelit Mateo. Padahal, ia memang membuntuti Sierra. Akan tetapi tidak mau mengaku, gengsi dong.


"Selalu tidak mau kalah!" cetus Sierra.


"Karena tidak ada kata kalah dalam kamus hidupmu!"


Sierra mendesis kesal, Mateo tidak pernah berubah.


Mereka berdua terus berjalan, hingga sampai di sebuah cafe pinggir pantai.


"Mau makan?" tawar Mateo.


"Hem!"


Sierra dan Mateo pun masuk ke dalam cafe, mereka makan sambil mengobrol. Hingga semua makanan habis, Mateo mulai bertanya serius.


"Kapan kamu pulang?"


"Kenapa? Aku malah berencana beli rumah di sini."

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan menghindar?"


"Sampai aku lupa!" Sierra memalingkan wajah, ia jengkel bila berhadapan dengan Mateo. Pria itu selalu tahu isi hatinya. Ia sengaja tidak pulang ke ibu kota karena tidak sanggup mengenang Naga, mantan suaminya.


"Kamu tidak akan pernah bisa lupa, karena hatimu tak pernah melepasnya."


"Omong kosong! Jangan sok tahu, Teo!" Sierra langsung beranjak, ia marah. Karena Mateo berkata benar. Bagaimana bisa ia melepas Naga begitu saja. Hati tidak bisa dipaksa, seperti Naga yang tak bisa mencintai dirinya, hati Sierra pun tak bisa dipaksa melupakan pria itu dengan mudah.


"Hey!" Mateo meraih lengan Sierra.


"Jangan sentuh aku!" sentak Sierra dengan marah.


"Oke ... oke!" Mateo melepas tangan itu.


"Jangan ikuti aku!"


"Siapa yang mengikutimu? Aku juga mau jalan ke sana!" kelit Mateo.


Kesal, Sierra berjalan terus dengan cepat. Melihat Mateo hanya membuat ia naik darah.


"Hati-hati! Nanti nabrak!" teriak Mateo dengan nada bercanda.


Sierra tidak peduli, ia pun berlalu memilih pergi.


Malam harinya, Mateo kembali menguntit Sierra yang sedang makan malam di sebuah restaurant mewah. Sendiri, hanya sendiri.


Dari meja yang lain, Mateo terus mengamati. Dilihatnya Sierra yang makan dengan tenang. Tapi wajahnya nampak menyiratkan kesedihan.


"Apa sulit sekali melupakan pria itu?" batin Mateo seraya terus memperhatikan Sierra dari jauh. Sebenarnya ini adalah kesempatan emas, ketika Sierra bercerai, artinya ia bisa masuk dalam hidup wanita tersebut. Tapi, Sierra terlalu menutup hatinya. Membuat Mateo kesusahan untuk masuk.


Setelah selesai makan malam, Sierra pergi begitu saja. Makanan yang ia pesan, hanya ia makan sedikit saja.


Dari pada naik taksi, Sierra memilih jalan kaki. Ia berjalan dengan hati yang patah.


Sementara itu, di belakangnya ada Mateo, pria itu hanya mampu melihat Sierra dari jauh. Sierra sedang kesal dengannya.


Ketika akan menyebrang jalan, tatapan Sierra nampak kosong. Ia sampai tidak memperhatikan bahwa lampu merah sudah berubah hijau.


"Hey! Kau mau mati!" teriak seseorang dari dalam mobil.


Kesal, Mateo langsung menghampiri mobil itu. Sekali tendangan, spion mobil langsung patah.


"Pria gila! Apa yang kau lakukan dengan mobilku?" teriak pengemudi mobil yang semula berteriak pada Sierra.


Marah, Mateo menjawab dengan mengacungkan jari tengah ke arah mobil. Kemudian mengambil uang dari dompetnya. Melempar banyak lembaran kertas merah ke arah pengendara.


"Pria setres!" maki pengendara, tapi tangannya sibuk memunguti lembaran uang yang dilempar Mateo. Lumayan! Masih balik modal.


Mateo sendiri langsung menarik Sierra ke tepi jalan.


"Apa kau mau mati?" teriak Mateo. Padahal tadi ia marah saat ada orang yang membentak Sierra, tapi ia sendiri kini yang justru marah-marah.

__ADS_1


"Apa pedulimu?" Tatap Sierra dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jujur, ia juga kaget saat sebuah mobil berhenti mendadak di depannya. Ia pikir ia juga akan mati.


"Jelas aku peduli!" ucap Mateo, kemudian meraih dagu Sierra. Tanpa ijin, Mateo langsung mencium bibir wanita itu. Bersambung.


__ADS_2