Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Ketika Cinta Diragukan


__ADS_3

Istri Gelap #62 (18+)


Oleh Sept


Naga memejamkan mata dalam-dalam, ia ketangkap basah. Moza sepertinya sadar, bahwa ia sedang tidak ada di kantor.


"Pulang sekarang!" ucap Moza dengan suara serak.


"Iya ... nanti!"


"Kenapa tidak bilang kalau memang punya masalah? Kenapa tidak bisa berterus terang?" cecar Moza.


"Moza batraiku habis, nanti ku hubungi lagi."


Tut tut tut


"Hallo! Hallo!"


Percuma Moza berteriak memanggil suaminya, ponsel Naga sudah dimatikan.


Moza yang sedang hamil tua, jadi semakin kepikiran. Ia pun langsung menghubungi kakaknya.


"Iya, Moza."


"Tolong carikan papanya Sendy, Mas!"


"Iya ... iya, aku sudah suruh orang-orang ku mencari Naga. Tenanglah, jangan berpikir yang macam-macam."


"Terima kasih!"


Moza kini mondar-mandir, cemas karena tidak tahu suaminya sekarang sedang di mana.


Hingga malam menjelang, masih tidak ada kabar. Jenny sampai harus menginap di rumah Moza, untuk menemani adik iparnya itu. Sedangkan Rendra, pria itu masih di luar. Mencari keberadaan Naga yang tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi.


"Tenang ya Moza, semoga tidak terjadi apa-apa." Jenny berusah menenangkan Moza dengan memeluk wanita itu.


Karena malam makin larut, Jenny menyuruh Moza untuk istirahat dan tidur di kamarnya. Tapi, Moza tidak mau. Dia akan menunggu sampai Naga pulang malam ini.


"Kasihan pada janin dalam perutmu, Moza. Istirahatlah ... kamu nggak boleh stress berat." Jenny mencoba menjelaskan, bahwa kondisi seperti ini bisa membahayakan kesehatan Moza dan anak yang ada dalam kandungan tersebut.


Dengan terpaksa, Moza akhirnya masuk kamarnya. Baru mau menutup pintu, dari luar terdengar suara gaduh. Spontan Moza langsung berjalan ke luar, ia yakin itu adalah Naga.

__ADS_1


Moza terkejut, ia langsung berlari menuju Naga yang sudah tersungkur di atas lantai dengan sudut bibir yang berdarah.


"Apa yang terjadi?" Moza mencoba membantu membangunkan Naga, tapi pria itu malah menepis tangan Moza.


Kesal, Rendra kembali memberikan bogem mentah kepada Naga. Ia marah pada adik iparnya itu. Mental lembek seperti dodol Garut. Diuji masalah sedikit saja malah lari ke minuman. Mana istri sedang hamil tua, dengan tega, Rendra malah menghajar Naga. Kesal sekali rasanya menghadapi Naga yang seperti sekarang ini.


"Jangan dipukul lagi!" Moza menghalangi Rendra, ia menarik jauh-jauh tubuh Rendra agar tidak bisa lagi memukul suaminya.


Jenny sendiri juga membantu Moza untuk memegangi suaminya.


"Stopped Honey! Please!" teriak Jenny.


Sedangkan Naga, pria itu malah meringis. Tersenyum miris, Naga merasa karirnya kini sudah hancur. Ditambah dipukuli oleh Rendra. Lengkap sudah semuanya untuk hari ini.


Setelah Rendra sudah tenang, dan Jenny pun sudah memegangi pria itu. Kini Moza menghampiri Naga kembali.


Memapah pria itu untuk masuk ke dalam kamar, kali ini Naga tidak menolak. Pria itu tidak menepis lagi. Dengan langkah gontai Naga masuk ke dalam kamar.


"Kunci pintunya!" seru Naga dengan suara serak.


Moza mengerti, Naga pasti tidak mau Rendra mengusik suaminya itu.


Tanpa melepas sepatu, Naga langsung melempar tubuhnya sendiri di bibir ranjang. Memejam mata, merasakan sakit akibat pukulan Rendra.


"Biarkan saja!" sentak Naga yang masih terpengaruh oleh minuman. Ia menjauhkan kakinya dari Moza.


"Jangan seperti ini!"


"Moza ... aku sedang tidak ingin berdebat. Tolong biarkan aku istirahat dengan tenang!" ujar Naga tanpa perasaan.


Tidak mungkin membiarkan Naga tidur dengan masih memakai sepatu, Moza pun mencoba untuk melepas sepatu itu.


"Hentikan Moza!" sentak Naga kembali.


"Ada apa denganmu! Merokok lagi ... minum minuman, mengapa jadi seperti ini? Kamu benar-benar membuatku sangat kecewa!" Moza meluapkan emosinya. Ia bicara dengan nada yang sama tingginya dengan Naga.


"Ketika aku hampir kehilangan semuanya, kamu kini merasa kecewa? Apa karena aku akan jatuh miskin? Itukah sebabnya kamu kecewa? Hem?" Naga menatap sinis.


"Serendah itu kah aku di matamu?" Moza menatap nanar tak percaya. Ia tidak mengira, bahwa cintanya diragukan. Hanya sebatas uang? Mengapa cintanya jadi sangat murah?


"Jangan naif Moza!"

__ADS_1


"Apa ini mengenai statusku sekarang? Baiklah! Aku akan tetap menjadi Moza. Moza yang hanya hidup di lumpur semasa hidupnya. Aku akan tetap jadi Moza, wanita rendah yang tak pantas dipandang oleh dunia. Sekarang kamu puas, kan? Tidak akan aku terima sepeser pun dari Mas Rendra. Kamu pikir aku takut miskin? Kamu salah!" cecar Moza, setelah itu ia mengusap wajahnya. Pipinya sudah basah sempurna. Naga benar-benar sudah melukai harga diri Moza sampai terdalam. Ia sudah meragukan kesetiaan Moza.


Naga malah terdiam, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar bingung, mendapati bahwa Moza dari keluarga kaya raya. Sedangkan karirnya sekarang malah hampir hancur. Naga merasa sangat insecure. Pria itu tidak lagi memiliki percaya diri yang tinggi. Merasa pada titik paling rendah. Membuatnya sangat prustasi.


Dua insan itu kini sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.


"Aku sudah hancur Moza!"


Suara Naga terdengar berat, memecah keheningan yang semula tercipta.


"Siapa yang bilang?"


"Kau tidak dengar? Mereka menendangku! Aku yang selama ini menjalankan perusahaan itu! Tapi mereka malah menendangku!"


"Akan aku tendang mereka semua untukmu!" celetuk Moza sembari membuang muka.


Tanpa sadar, Naga tersenyum. Mendengar celetukan Moza yang spontan, membuatnya tersenyum tipis. Suasana pun sedikit mencair.


"Kamu tahu Moza, ketika Rendra ikut campur. Itu sangat melukai harga diriku!"


"Bagaimana kalau aku yang ikut campur? Apa hatimu juga sakit?" sindir Moza dengan dingin.


"Aku lebih suka kalau kamu bukan siapa-siapa!" balas Naga.


"Aku masih sama, Moza yang dulu ... Wanita yang penuh dengan sejarah kelam dalam hidupnya."


"Bukan, kamu Rania Caraka. Kamu Rania sekarang, bukan Moza."


"Aku Moza! Wanita yang tidur dengan pria asing hingga melahirkan Sendy. Aku Moza ... aku wanita itu!"


Moza tidak mampu lagi membendung tangisnya. Peristiwa kelam di masa lalu seakan sedang diputar di depannya saat ini.


Naga tersentak, kesadarannya perlahan kembali sedikit demi sedikit. Ia merasa bersalah, melihat Moza yang sudah berderai air mata. Membuat Naga kini terbuka mata hatinya. Pria itu juga mengingat bagaimana ia menyeret Moza ke dalam sebuah kamar hotel di malam kelam itu.


Reflect, ia mendekati Moza. Namun istrinya itu malah mundur. Terlanjur marah pada pria tersebut.


Naga tidak menyerah ketika Moza menolak dirinya. Ia malah langsung merengkuh pinggang Moza yang sudah melebar itu. Ia menegelamkan wajah Moza dalam pelukan. Mendekap Moza hingga wanita itu tidak mampu menolak.


Beberapa saat kemudian, karena merasa engap, Moza pun mendongak. Dari bawah ia bisa menatap wajah Naga. Melihat siluet pria itu dari bawah.


Semrawut sekali wajah pria tampan itu, tanpa Moza sadari, tangannya malah terangkat. Jari-jarinya yang lembut membelai wajah Sinaga. Pria tampan itu kini terlihat amat sangat kacau sekali.

__ADS_1


Terbawa oleh suasana, apalagi tangan Moza menyentuh kulitnya dengan lembut, terasa hangat. Membuat Naga berjalan sesuai nalurinya sebagai pria. Dibimbingnya Moza ke tepi ranjang. Bersambung. Hahaha ....


Instagram : Sept_September2020


__ADS_2