Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Marah-Marah


__ADS_3

Istri Gelap #45 (18+)


Oleh Sept


"Nyonya, mobilnya sudah siap!" suara pengawal membuat Moza meninggalkan pria yang membantunya barusan.


Mereka masih saling menatap, hingga Moza benar-benar pergi, barulah pria itu beranjak.


"Cari tahu semua tentangnya, dan periksa ini!" ucap pria tersebut pada pria yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Baik, Tuan!" pria itu pun meraih beberapa helai rambut yang diberikan oleh bosnya. Membungkusnya dengan sapu tangan dan menyimpannya ke dalam saku.


"Aku ingin hasilnya cepat keluar!" ujar pria tersebut.


"Segera, Tuan!" jawab anak buahnya dengan yakin.


Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu bersama-sama.


Malam hari di kediaman Naga.


Moza memilih diam tidak menceritakan apa yang terjadi pada suaminya, ia juga sudah mewanti-wanti pada Bibi dan pengawal. Pokoknya Naga tidak boleh tahu tentang penyerangan tadi pagi yang dilakukan ibunya Sierra.


Ketika Naga pulang, Moza menyambut kedatangan suaminya dengan biasa. Bersikap seperti biasanya. Berharap Naga tidak akan curiga.


Hingga waktu semakin larut, ketika Moza sedang tertidur. Naga perlahan bangkit dari ranjang, pria yang wajahnya semula tak mengambarkan apa-apa, kini wajahnya nampak mengeras.


Naga meraih ponsel, kemudian menghubungi seseorang. "Pecat pengawal yang bertugas hari ini!"


"Baik, Tuan!"


"Kumpulkan semua CCTV yang merekam peristiwa tadi pagi. Kirim ke tempatku, sekarang!"


"Baik, Tuan."


Setelah berbicara di telpon, Naga langsung mengambil tas yang berisi laptop. Ia menyalakan benda kotak itu. Setelah mendapatkan rekaman tadi pagi, matanya menyalak marah melihat aksi mantan mertuannya. Tapi, ia lebih marah lagi saat melihat sosok pria asing yang terlihat bicara pada Moza.


"Siapa dia?" batin Naga sembari terus mengamati vidio yang masih diputar itu.


Ketika sibuk mengamati laptop, mendadak Moza bergerak. Wanita itu kemudian terbangun. Buru-buru Naga langsung menutup layar laptop miliknya.


"Sudah bangun?" pria itu pun meninggalkan tempat duduknya, berjalan perlahan menuju sisi ranjang.


Moza mengerjap, terbangun dari mimpi buruknya. Keningnya dipenuhi bulir keringat yang merata, entah apa yang sudah dimimpikan wanita tersebut.


"Apa yang terjadi? Mengapa berkeringat sebanyak ini?" tanya Naga sembari meraih tisu dan mengusap dahi Moza.


"Tidak, tidak apa-apa!"


"Bohong!" gumam Naga lirih, hingga hanya mampu didengar oleh telinganya sendiri.


"Tidurlah kembali!" ucap Naga kemudian membetulkan selimut Moza.


Moza lama-lama merasa tidak enak sendiri, menyembunyikan sesuatu dari Naga membuat tidurnya jadi susah saja. Resah dan gelisah karena tidak berani berterus terang pada suaminya.


Pagi hari, Moza terbangun menatap ke sekeliling. Naga sudah tidak ada di dalam kamar, ke mana suaminya itu?


Dicarinya ke kamar mandi, namun tidak ada. Akhirnya ia pun mencari ke luar.


"Sudah bangun?" sapa Naga yang sedang bersama putrinya.

__ADS_1


"Ah ... iya!" Moza masuk lagi ke dalam. Gara-gara kejadian kemarin, ia jadi salah tingkah sendiri. Selesai mandi, ia pun keluar mencari anak dan suaminya. Mereka sudah menunggu di meja makan.


Ketika selesai sarapan, Moza mengantar Sendy sampai di depan rumah. Kemudian mengantar kepergian Naga dengan melambaikan tangan. Saat ia berbalik, barulah ia mengetahui sosok pengawal yang sudah diganti.


"Em ... Pengawal yang kemarin ke mana?"


Pengawal baru itu berdehem sebentar, kemudian menjawab pertanyaan dari Moza. "Tuan Naga sudah memecatnya!"


Moza langsung menelan ludah dengan berat, pasti Naga mengetahui kejadian kemarin. Pantas sejak pulang, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada suaminya. Kini barulah ia tahu, bahwa Naga mungkin mengetahui kejadian yang menimpanya kemarin.


Buru-buru ia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.


"Iya, Moza?"


Begitu mendengar suara suaminya, lidah Moza malah keluh.


"Hallo ...?"


"Iya!"


"Ada apa? Katakan!" suara Naga mulai terdengar dingin.


"Em ... tidak, tidak apa-apa. Hati-hati." Moza langsung menutup ponselnya. Ia bingung harus bicara apa.


Di dalam mobil, Naga nampak serius menatap biography seorang pria di tab yang ia pegang.


"Siapa pria ini?" gumam Naga sembari menatap sosok pria yang kemarin juga muncul di CCTV bersama istrinya.


Mobil terus melaju hingga berhenti di sebuah tempat. Bukan perusahaan Sanrio Group, tapi di sebuah cafe di pusat kota.


Naga turun dengan menenteng tas dan berjalan masuk dengan langkah pasti. Pria itu berjalan dengan tegap dan percaya diri. Duduk di salah satu meja, kini ia sedang menunggu seseorang.


Pria itu datang tak sendirian, ada seorang pria yang ikut bersamanya.


Ada rona ketegangan ketika dua orang itu berjumpa. Naga menatap tidak suka pada pria tersebut. Padahal mereka baru pertama berjumpa.


Bugh ...


Naga melempar amplop coklat di atas meja. Sembari berkata agar pria itu tidak muncul lagi di depannya.


"Jangan pernah muncul lagi!"


Jelas saja pria itu tersenyum remeh. Siapa Naga yang berani menyuruh-nyuruh dirinya?


"Maaf, sepertinya anda salah paham!"


"Salah paham? Ini peringatan awal, jangan dekati istri saya!"


Pria itu mencengkram pegangan kursi, ia menahan diri agar tidak terpancing. Tunggu sampai hasil tes DNA keluar, baru ia akan bersuara.


"Ambil uang ini kembali! Dan untuk Moza ... akan aku pikir-pikir lagi!" pria itu malah dengan sengaja memanas-manasi Naga.


Ia sudah mengantongi banyak informasi mengenai wanita yang ia curigai sebagai saudara kembarnya. Tinggal menunggu hasil DNA keluar, ia akan mengungkap jati dirinya.


Bruakkk


Naga mengebrak meja, tidak terima. Bisa-bisanya pria asing itu seolah menantang dirinya dengan terang-terangan.


"Temperamenmu buruk sekali!" cibir pria itu.

__ADS_1


Naga semakin gusar, seolah-olah pria itu sedang mengolok-olok dirinya. Dengan kasar ia meraih kerah baju pria di depannya. Membuat mereka menjadi bahan tontonan.


"Lepaskan tanganmu!" pekik pria itu tak kalah kesalnya. Dibantu sang sekretaris yang mencoba menyingkirkan tangan Naga dari tubuhnya.


Naga melepaskan tangan, namun matanya menatap tajam pada pria itu.


Kecewa dengan sikap suami Moza, pria itu memilih pergi bersama sekretarisnya.


"Mengapa tidak mengatakan yang sesungguhnya, Tuan?"


"Belum saatnya!" jawabnya gusar. "Kapan hasilnya keluar?" tambahnya.


"Lusa, Tuan!"


"Bagus!"


Di dalam kafe, Naga masih terlihat kesal. Apalagi saat informasi yang baru saja ia dapat dari informannya. Pria yang baru saja ia temui bukanlah pria biasa, ia adalah pengusaha muda yang namanya ada dalam jajaran pengusaha terhebat seasia.


Makin kebakaran jengot, ia merasa pria itu adalah saingan. Naga, sejak sampai di kantor jadi tambah uring-uringan. Ia selalu memarahi Rona, padahal wanita itu tidak tahu apa-apa.


Hingga waktunya pulang, sampai di rumah pun ia masih terlihat masam. Dan Moza menyadari akan hal itu.


"Apa ia marah sekali karena kemarin?" batin Moza melihat sikap dingin Naga. Padahal Naga sedang uring-uringan karena hal yang lain.


Ketika hanya ada mereka berdua, dan Sendy sudah berangkat tidur. Moza mulai bersuara.


"Mengapa pengawal yang kemarin dipecat?" Moza mulai memancing.


"Dia tidak becus dalam bertugas!" jawab Naga dengan dingin.


Moza menelan ludah, sepertinya suasana hati Naga benar-benar tidak bagus.


"Itu ... aku yang menyuruh dia untuk menunggu di depan."


"Moza, Kita bahas ini lain kali. Malam ini aku lelah sekali!"


Srekkk


Naga berbaring dan menarik selimut, menutupi tubuhnya dan tidur membelakangi Moza. Mood pria itu sedang kacau malam ini, bawaannya hanya ingin marah-marah tidak jelas. Barangkali Naga sedang ngidam.


"Sudah tidur?" tanya Moza yang tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa Naga sedang marah pada dirinya.


Pertanyaan yang ia lontarkan tidak mendapat response, akhirnya Moza mengeser posisinya hingga tepat berada di belakang Naga.


Sementara itu, Naga masih terjaga. Namun memilih diam. Pokoknya ia sedang marah dengan semua orang. Yang hamil Moza, tapi ia yang uring-uringan.


"Aku tidak bisa tidur!" keluh Moza sembari menarik ujung lengan baju suaminya.


Naga bergeming, ia masih teguh pendirian. Diam tak berkutik.


"Baiklah ... aku yang salah! Sudahlah, jangan diam terus!" protes Moza.


"Hemm ... tidurlah! Ini sudah malam!"


"Bagaimana aku bisa tidur? Kamu bahkan tak mau menatapku!"


"Moza! Bila aku menatapmu malam ini, mungkin aku tidak akan membiarkan kamu tidur!"


Moza langsung mengeser posisinya. Ia merasa degup jantungnya mendadak bersautan lebih cepat.

__ADS_1


"Baiklah, begitu saja ... tidak apa-apa!" ucapnya kemudian. Namun sangat terlambat, karena Naga sudah berbalik dan menatapnya dengan intense. Bersambung.


__ADS_2