Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Rendra Caraka


__ADS_3

Istri Gelap #46 (18+)


Oleh Sept


"Cepat ... tidurlah!"


Naga menarik tubuh Moza dalam pelukannya, mencium kening wanita tersebut kemudian memejamkan mata dalam-dalam. Hari yang melelahkan, ia hanya ingin tidur dan memeluk Moza dalam dekapannya.


Tidak terasa, dua orang itu akhirnya terlelap. Hingga pagi menjelang, Moza terbangun. Tapi Naga sudah tidak ada di sampingnya.


"Pagi-pagi sudah nggak ada lagi?" gerutu Moza sembari mengusap mata.


"Nyenyak sekali tidurnya?"


Moza langsung menoleh, dilihatnya sang suami sudah berpakaian rapi.


Wanita itu buru-buru bangkit dari ranjang, namun Naga malah mendekati Moza.


"Jangan buru-buru, nanti jatuh!" Naga membetulkan sendal untuk dipakai Moza.


"Terima kasih."


"Aku harap, hari ini kamu tetap di rumah." Naga melirik Moza sekilas.


"Hem ... iya." Sedangkan Moza, ia hanya menunduk. Sepertinya sang suami masih uring-uringan. Aneh, lama bener suaminya nahan marah. Nggak seperti biasanya.


"Ya sudah, aku buru-buru ... ada meeting penting hari ini."


"Tidak sarapan dulu?"


Naga menatap arlogi di tangan, kemudian menggeleng. "Tidak!"


Pria itu malah merunduk dan mencium perut Moza. "Papa berangkat dulu."


Moza pun menatap punggung suaminya yang hilang dari balik pintu. Kini Moza galau, mau ngapain? Bosan di rumah sendirian. Sendy sudah sibuk dengan sekolah serta les ini dan itu.


Tidak ada kegiatan, ia pun seharian hanya rebahan. Menonton film, drama dan melihat gosip.


Sampai siang harinya, Sendy datang bersama sopir pribadinya.


"Ma ... Mamaaa!"


"Sudah pulang? Ayo, ganti baju dulu!"


"Iya, Ma!" Sendy langsung ke kamarnya sendiri ditemani Bibi.


Ting tung


Moza menoleh ke pintu kamarnya yang masih setengah terbuka, siang-siang kok ada tamu? Apa Mama mertuannya?


"Biar saya temani Sendy, Bibi lihat siapa yang datang!" ucap Moza saat masuk kamar putrinya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya!" Bibi pun beranjak, ia pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.


Di depan rumah. Keributan kecil sedang terjadi.


"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk sembarangan ke dalam rumah ini!" Penjaga rumah menatap penuh selidik pada pria asing yang tidak diketahui siapa namanya.


"Penghuni dan penjaga, sama gilanya!" batin pria tersebut.


Mendengar keributan di luar, setelah membantu Sendy ganti baju, Moza pun keluar juga. Ia penasaran, suara ribut-ribut apa itu.


"Ada apa ini?" tanya Moza yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Anda lagi ...?" Moza melihat siapa yang datang, pria yang sama. "Maaf ada perlu apa datang ke sini? Dan dari mana anda tahu alamat rumah Saya?" tambah Moza.


Detik berikutnya Moza langsung beringsut, merasa ada yang tidak beres. Jangan-jangan pria di depannya adalah penculik. Bagaimana dengan mudahnya tahu di mana ia tinggal.


Merasa pandangan wanita di depannya berubah. Pria itu lantas mengeluarkan sebuah kertas.


"Baca ini, nanti akan aku jelaskan!"


Moza menatap aneh pada lembar kertas yang ditujukan padanya.


"Apa ini?"


"Duduk dan bacalah!" seru pria itu masih dengan berdiri tegap.


Moza pun meraih kertas tersebut, dahinya mengkerut. Hidungnya kembang-kempis, sesekali matanya menajam sembari membaca susunan kata demi kata yang tertera pada kertas yang ia pegang.


"Moza! Apa yang mereka berikan padamu? Mengapa kau jadi bodoh seperti ini?" cetus pria itu dengan kesal. Jelas-jelas di sana tertulis hasil tes DNA.


Moza mendelik, melotot pada pria yang ia taksir usianya sama dengannya. Mengapa pria itu mengatai dirinya? Dan pria itu juga tahu siapa namanya? Siapa pria asing ini? Batin Moza. Matanya memindai pria itu dari atas sampai bawah.


"Anda siapa?" akhirnya Moza bertanya lagi.


Pria itu menghela napas panjang, "Kita benar-benar berbeda!" ucapnya lirih.


"Anda ngomong apa? Bicaralah bahasa yang mudah dipahami!" sentak Moza yang malas diajak main tebak-tebakan.


"Bicaralah dengan nada yang sopan Moza!" Tidak tahan, gemas, rindu dan semua rasa jadi satu. Pria itu pun langsung memeluk saja Moza.


"Eh ... apa yang anda lakukan?"


Pengawal langsung melangkah ke depan untuk melerai, tapi tangan sekretaris pria itu menghalangi.


"Lepaskan!" Moza berusaha melepas pelukan pria asing itu. Bila Naga tahu, bisa-bisa ia jadi kambing guling nantinya.


Puas memeluk saudara kembarnya, pria itu melepaskan Moza.


"Aku lahir satu jam lebih dulu! Bicara yang sopan, aku kakakmu!"


"Bicara apa anda ini?" Moza tersenyum namun matanya menatap nanar.

__ADS_1


Moza mengamati pria di depannya, ia tidak mau dengan mudahnya percaya pada pria itu. Tapi, ia kembali melirik sekilas pada kertas hasil DNA. Kapan pria itu mengambil sample darinya? Berarti ia sudah diincar berhari-hari ini.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Pria itu malah tersenyum tipis, kemudian duduk tanpa disuruh.


"Kamu bahkan tidak mempersilahkan kakakmu duduk!" sindir pria tersebut.


Tin tin


Baru juga duduk, suara klakson membuat pria itu menoleh. "Sepertinya pemarah itu datang!" gumamnya.


Siang yang terik, kepala Naga makin memanas tak kala ada tamu tak diundang datang ke rumahnya.


"Berani sekali dia datang!" maki Naga sembari melepas sabuk pengaman. Ia mengemudi sendiri mobilnya, begitu ada laporan masuk, ia langsung meninggalkan semua aktifitas dan bergegas pulang.


"Moza masuk!" teriak Naga setelah keluar dari mobil.


Moza menatap orang yang mengaku sebagai kakaknya dan Naga secara bergantian.


Dilihatnya pria itu malah tersenyum getir, sedangkan suaminya, manik matanya hampir mau lepas. "Kenapa dia marah sekali?" pikir Moza, ia pun memilih masuk saja.


"Moza, tetap di sini!" suara itu terdengar tegas. Membuat Moza menoleh dan menghentikan langkah kakinya.


"Berani sekali kau ke mari!" Naga langsung mencengkram kerah baju pria itu.


Mungkin sudah cukup waktu untuk main-main, pria itu tidak suka diperlakukan kasar. Apa lagi di depan Moza, dengan sekali gerakan. Rendra berhasil membalik keadaan. Ia mendorong tubuh Naga, membuat pria itu makin bertambah gusar.


Moza lantas menghampiri Naga, namun pria itu menepis tangan Moza yang hendak membantunya.


"Masuk ke dalam!"


"Tetap di sini!" sela Rendra.


"Berani sekali kau!" Naga mengepalkan tangan, bersiap untuk menghajar pria asing yang akhir-akhir ini mengusik hidupnya.


"Tidak kusangka, kamu menikahi pria sekasar ini?" Rendra melipat lengan bajunya. Sepertinya siap menghajar Naga.


"Hentikan!" pekik Moza, ia tidak mau ada pertempuran di rumahnya.


"Moza! Kamu tidak mendengarku? Masuk!" seru Naga.


"Bagaimana bisa aku masuk, kalian akan berkelahi. Apa yang kalian ributkan saja itu tidak jelas!" sentak Moza yang kesal karena dua pria itu malah beradu otot.


Rendra dan Naga malah saling melempar tatapan penuh benci.


"Hari ini kamu selamat! Silahkan angkat kaki dari rumah ini!" ujar Naga, ia sudah tidak bisa petantang-petenteng karena Moza memegangi lengannya.


"Sambutan macam apa ini? Keterlaluan!" Rendra Caraka mengebrak meja. CEO Caraka Foundation dan Group Caraka International yang memiliki banyak yayasan tersebar di seluruh Asia itu akhirnya mengeluarkan taringnya.


Moza manarik lengan suaminya lagi, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Naga.

__ADS_1


"Apa?" Bersambung.


__ADS_2