
Istri Gelap #50 (18+)
Oleh Sept
Maaf, yang belum punya KTP dan yang belum menikah and yang jomblohhh ... Maaf, menepi dulu ya ... Hehehe
***
"Tidak! Aku tidur di sini saja!" Sierra melangkah mendekati sofa, "Sial!" Janda tapi perawan itu kini merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia memikirkan hal ini, mana mau Mateo hanya menikah tanpa embel-embel yang lainnya.
Sierra merasa terjebak dalam permainannya sendiri.
"Ada apa denganmu? Kamu seperti anak gadis saja bila malu-malu begitu. Kamu bukan anak ABG yang baru nikah, Ra!" celetuk Mateo sambil tersenyum remeh.
Pria itu perlahan turun, dan bersiap menangkap kelinci incarannya.
Melihat Mateo yang berjalan mendekat ke arahnya, Sierra kini mati kutu. Kakinya malah seakan lumpuh, tidak bisa menghindar atau pun menjauh.
"A ... ku le ... lah, tolong jangan ganggu!" ucap Sierra sedikit tergagap. Ia bahkan harus menyeret kakinya agar tiba di tepi sofa.
Mateo menatap curiga, "Apa kamu nervous satu ruangan denganku?"
"A .. ku? Ayolah Mateo! Aku hanya lelah!" kelit Sierra kemudian memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Mateo malah berdiri tepat di sisinya, membuat Sierra makin deg-degan.
"Untuk apa kau di sini? Tidurlah di sana!" Sierra mengibaskan tangan, mengusir Mateo agar tidak dekat-dekat dengannya.
"Ini malam pengantinku, mana mau aku tidur di ranjang seorang diri ... ish!" Pria itu mendengus kesal.
"Tapi ... aku lelah!"
"Tubuhmu akan semakin lelah bila kau tidur di sana!" Tanpa ba bi bu, Mateo langsung membopong tubuh istrinya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Astaga! Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Belum apa-apa, Sierra sudah panik.
"Jangan berlebihan! Aku hanya membuatmu agar lebih nyaman!"
Bugh
Mateo merebahkan tubuh Sierra di atas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga segar. Entah berapa tangkai yang harus dihabiskan untuk memenuhi isi kamar pengantin baru itu.
Deg deg deg deg deg
Sierra memegangi dadanya, ada degup asing yang tidak biasa. Apalagi saat Mateo menatapnya terus menerus.
"Jangan mendekat! Jangan!" teriak Sierra namun hanya dalam hati.
Karena detik berikutnya, ketika Mateo menegelamkan wajah di sekitar leher Sierra. Wanita itu langsung merasakan sensasi aneh, tubuhnya lemas. Tulangnya linu dan merasa ngilu di sana sini.
"Sentuhan macam apa ini? Teo ... apa yang sudah kamu lakukan?" batin Sierra sembari mengeliat.
Ia merasa tidak tahan dan menepis kepala Mateo yang membuatnya meremang dan merinding disco. Bagaimana bulu kudunya tidak berdiri, Mateo menyebrang Sierra pada titik-titik rawan.
Puas menyesapi sekujur leher Sierra yang jenjang, Mateo mulai kembali aksinya. Ia bermain dengan halus, hingga Sierra tak mampu menolaknya.
"Hentikan!" sentak Sierra sembari memegangi dadanya.
Padahal, sedikit lagi Mateo berhasil menguasai tubuh wanita itu sepenuhnya.
"Aku bahkan belum memulainya!" bisik pria itu dengan lembut di telinga Sierra, perlahan Mateo menyingkirkan tangan Sierra yang menghalangi pemandangan.
Keduanya saling menatap, Sierra di bawah sedangkan Mateo, pria itu berada tepat di atas Sierra, dengan menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan. Ia terus memperhatikan Sierra dengan dalam. Memperhatikan irama napas Sierra yang perlahan semakin cepat dan memburu.
Sama dengan dirinya, sejak tadi jantungnya berdegup melebihi batas normal. Sierra membuat jantungnya terpacu, berdebar tak karuan.
"Tahan sebentar, aku akan melakukannya dengan pelan!" Mateo mendekatkan wajahnya, terasa sekali napas Sierra yang terasa hangat saat menerpa wajahnya.
__ADS_1
Sierra makin panik, ia hanya bisa meremas kedua pundak pria yang sudah mengkungkung tubuhnya itu.
Sedangkan Mateo, ia malah sudah tidak peduli pada perubahan ekspresi wajah istri barunya tersebut. Hasrat sudah mengebu, mana peduli ia dengan hal yang lain?
Tidak ingin membuang waktu lagi, Mateo langsung saja menuju inti. Pria itu dengan semangat mencium Sierra, mengigit bibir yang sejak tadi membuat tidak fokus dan hilang kendali.
Sierra sampai tersengal, seakan oksigen langsung habis dalam ruangan itu. Teo benar-benar tidak membiarkan dia bernapas dengan bebas.
Hanya lepas sesaat, kemudian bibir mereka kembali bertautan. Malam yang berat bagi Sierra, ia tidak pernah membayangkan akan kualahan. Padahal ini baru sekedar ciuman. Teo benar-benar pencium yang handal.
Lama-lama Teo merasa kasihan, dilihatnya Sierra sudah lemas. Hello! Ia bahkan belum mengeluarkan jurus inti.
Dibelainya rambut Sierra, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian dahi Sierra, hanya sebentar, karena detik berikutnya. Teo kembali merampas bibir yang kini terlihat penuh itu.
Barangkali Sierra merasakan kebas luar biasa akibat sesapan demi sesapan yang diberikan Mateo dengan kuat. Bagai candu, Teo tak mau melepas Sierra lama-lama.
"Kenapa sudah lemas begini? Kita bahkan belum masuk ke inti!" bisik Mateo dengan suara seraknya yang menggoda.
Tangannya mengusap pundak Sierra, menurunkan pakaian yang masih terpasang.
Secepat kilat, ia langsung melepas dan melempar pakaian yang semula membungkus tubuh Sierra.
Jelas sekali Sierra terperangah, tubuhnya beringsut. Ia merasakan hawa dingin yang menyerang. Wanita itu mundur karena merasa tidak nyaman. Tidak ada yang menutupi tubuhnya, Sierra merasa malu. Sangat malu, apalagi Mateo terus menatap tanpa berkedip.
Mateo sedang menikmati lukisan alam, sebuah gambar paling sayang bila dilewatkan.
Tidak tahan lagi, dengan sekali tarikan. Mateo melepas pakaiannya sendiri. Melempar ke sembarang arah.
Jantung Sierra hampir copot, saat melihat pemandangan spectacular di depan mata. Hampir saja ia menahan napas, dan spontan menutup mata dengan tangan.
Teo tersenyum, tangannya menarik tangan Sierra yang menutupi wajah wanita itu.
"Seperti baru melihat pertama kali saja!" celetuk Mateo sembari tersenyum geli. Bersambung.
__ADS_1
Yang belum kenal sama penulis Istri Gelap, Instagram Sept_September2020
Yang udah kenal, hai ... hehehe, salam sekebon cabe dari Thor gabut.