
Istri Gelap #47 (18+)
Oleh Sept
"Bicara apa kamu?" Naga tidak percaya omong kosong yang Moza bisikan di telinganya barusan. Pria itu tidak ada mirip-miripnya dengan Moza, saudara dari Hongkong? Naga yang sedang emosi tidak bisa berpikir jernih. Ia kelewat kesal sejak pertama berjumpa dengan Rendra.
"Coba lihat dulu, asli apa nggak itu?" Moza menunjuk lembar kertas di atas meja.
Dengan mata yang masih melirik tajam, Naga meraih kertas hasil DNA yang tergeletak di atas meja.
Dasar Rendra yang juga memiliki rasa sama bencinya pada Naga, ia langsung menarik kertas itu. Melipat dan memasukkan ke dalam saku jas.
Padahal, Naga belum sempat membacanya. Dengan wajah masam, kini Naga menatap Moza. Seolah berbicara, "Lihat betapa menyebalkan pria asing itu!"
"Maaf, boleh suamiku melihatnya?" Moza mencoba bicara baik-baik.
"Tidak perlu!" jawab Rendra ketus. Ia sudah terlanjur merasa terhina karena sikap Naga yang kasar, dari pertama hingga sekarang.
"Moza, tidak usah bicara dengan pria itu. Aku pastikan dia pasti penipu. Datang tiba-tiba mengaku saudara. Mencurigakan ... omong kosong!"
Rendra tersenyum remeh, kemudian menatap Naga. "Perbaiki dulu temperamenmu itu!" cibir Rendra.
Rahang Naga mulai mengeras, tidak tahu mengapa. Ia sangat sebal bila berhadapan dengan pria yang mengaku saudara istrinya itu.
Kalau bukan tangan Moza yang sedari tadi menahan lengannya, pasti ia sudah menghajar Rendra.
Melihat Naga yang kurang bersahabat, Rendra pun meminta bicara empat mata saja dengan Moza.
"Bisa kita bicara? Hanya berdua!"
Hal ini kembali menyulut emosi Naga, "Sial!" maki Naga dengan tangan yang sudah mengepal sempurna. Sepertinya pria ini cari mati.
"Dia suamiku! Bicara saja di depannya!" Moza langsung menolak, bila ia menuruti kata-kata pria itu. Maka ia bagai menggali kuburnya sendiri.
"Lihatnya! Dia bahkan tidak bisa mengontrol emosinya!" Rendra malas berbicara pada orang yang dikuasai emosinya saja.
"Itu karena anda memancingnya." Moza mencoba membela suaminya.
"Moza!"
"Jangan sebut nama istriku begitu saja!" protes Naga.
"Ish!" Rendra mendesis kesal.
"Aku mohon, jangan mulai ribut lagi. Kalau memang kita suadara, lalu ... bagaimana dengan ayah dan ibuku?"
Rendra langsung terdiam. Dan Naga tersenyum kecut. "Pasti pria ini penipu!" gumam Naga dalam hati.
__ADS_1
"Kau yakin ingin bertemu mereka?" Rendra akhirnya buka suara.
Moza mengangguk dengan ragu.
"Maaf harus membuatmu kecewa!" ucap Rendra penuh penyesalan.
"Kali ini sandiwara apalagi?" celetuk Naga.
Celetukan itu menghasilkan sorot mata tajam yang mengarah kepadanya. Rendra menatap tak suka ke arah Naga.
"Lanjutkan ... tolong lanjutkan!" sela Moza yang ingin mengetahui fakta yang selama ini tidak ia ketahui.
"Suruh suamimu diam dulu!" gerutu Rendra.
Muka Naga langsung seperti kanebo kering, jengkel sekali rasanya. Tiap kata yang ia dengar dari mulut Rendra bagai bualan. Ia sama sekali tidak percaya dan tidak tertarik. Bodohnya Moza, percaya begitu saja. Uhg! Rasanya ingin mencabik-cabik pria yang mendadak mengaku saudara Moza itu.
"Aku mohon ... tenanglah!" Moza mengengam tangan suaminya. Berharap Naga jangan menyambar ketika Rendra bercerita.
"Jangan mudah dikelabuhi! Sekarang banyak penipu dengan banyak modus!" bisik Naga.
"Ehem ... ehem!" Rendra berdehem, telinganya bisa menangkap dengan jelas apa yang dikatakan oleh Naga.
"Ikutlah bersamaku!"
Naga langsung berdiri, ia melepas tangan Moza yang dari tadi menghalanginya untuk leluasa bergerak.
"Keterlaluan!"
"Moza, aku ingin berbicara empat mata saja!" pintanya tegas.
Moza bingung, antara penasaran dan harus menjaga perasaan sang suami.
Ia bergantian menatap Rendra dan Naga, "Maaf!" Moza mengeleng. Kemudian menarik tangan Naga untuk masuk ke dalam rumah.
Sembari masuk, Naga menengok ke belakang. Tersenyum penuh kemenangan ke arah Rendra.
Dengan kesal, Rendra pun pergi meninggalkan rumah itu. Harusnya ia ke sana pas suami Moza tidak ada di sana. Bertemu pria temperamental itu hanya membuat ia naik darah.
"Tuan, kita mau ke mana?"
"Cari rumah di sekitar sini, beli hari ini juga!" ujarnya dengan tatapan kosong.
Sekretaris sekaligus sopir pribadinya hanya bisa menelan ludah.
"Baik, Tuan!"
Malam hari, di kediaman Naga.
__ADS_1
Saat akan berangkat tidur, Naga kembali mewanti-wanti istrinya.
"Besok, kalau dia datang lagi. Jangan temui!"
"Tapi bagaimana kalau dia memang kakakku?"
"Ayolah Moza! Hidup ini tidak seindah novel. Kenapa dia baru muncul? Jangan terlalu percaya pada orang lain!"
"Tapi ... aku membaca hasil DNA-nya."
"Bisa aja direkayasa!"
"Kenapa sih? Kok ... sepertinya nggak suka banget aku punya saudara?" Moza sudah mulai menuduh yang bukan-bukan pada suaminya sendiri.
"Ya ampun Moza! Aku cuma tidak ingin kamu dengan mudahnya dibodohi."
"Tapi ... mungkin dia benar. Dia bilang kembaranku. Lahir satu jam lebih awal. Dan lihat ... aku juga mengandung anak kembar."
"Tidak! Kalian seperti bumi dan langit. Tidak ada mirip-miripnya!" elak Naga.
"Bukan kembar identik!" Moza mengeleng, seolah memberikan penjelasan. Mereka kembar tapi tidak sama.
"Ayolah Moza, kamu sepertinya suka sekali dengannya!" Mendengar tuduhan Naga, Moza tambah kesal.
"Lah ... marah." gerutu Naga yang melihat Moza tidur sambil membelakangi dirinya.
"Jangan seperti anak kecil, Moza!" celetuknya lagi.
Moza langsung berbalik dan menatap suaminya dengan sebal.
"Aku bersikap seperti ini, karena tidak ingin kamu terluka nantinya!" terang pria itu sembari menarik Moza dalam pelukannya.
Moza mengeser posisinya, tidak mau dekat-dekat dengan Naga. Pria itu hanya membuatnya jengkel.
"Mau sampai kapan kamu merajuk? Malu sama dia!" Naga menatap perut Moza.
Sedangkan Moza, ia tidak peduli. Memilih berbalik, membelakangi Naga menjadi solusi satu-satunya.
"Ish ... kenapa aku dikasih bagian belakangan? Mau main belakang Moza?" Naga malah tersenyum nakal sembari tangannya berkelana semakin dalam.
BUGH
Sebuah bantal mendarat sempurna, untung Naga dapat menangkap dengan tepat. Pria itu terkekeh. Bumil sedang merajuk, membuat ia malah ingin menjahilinya sampai pagi menjelang.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pekikan yang keras.
"Astaga! Kecilkan suaramu ... bisa-bisa penjaga datang!" Bisik Naga. Bersambung.
__ADS_1
Kecil atau besar, mungkin perlu dicoba, selesaikan masalah dengan pasangan di atas ranjang. Bila masalah tidak teratasi, ciptakan masalah yang baru. Hehehe ...
Instagram : Sept_September2020