Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Simalakama


__ADS_3

Istri Gelap #57 (18+)


Oleh Sept


"Naga nggak menuduh Mama, tenanglah Ma. Nanti tekanan darah Mama naik!"


"Bagaimana Mama bisa tenang, kamu sepertinya lebih percaya istrimu." Mama Ratih memasang muka kecewa.


Naga bingung, ingin mamanya tenang agar darah tingginya tidak kambuh. Ia akhirnya berkata. Bahwa ia percaya mamanya tidak akan meracuni dirinya sendiri.


"Naga percaya sama Mama!" ucap Naga dengan lirih.


Mendengar itu, tubuh Moza langsung lemas. Padahal Naga hanya mencoba membuka mamanya tenang, karena bila mamanya tersulut emosinya. Naga takut, mamanya bisa-bisa malah kena stroke.


Tapi Naga tidak sadar, kata-katanya itu secara tidak langsung menyudutkan posisi Moza.


Moza yang kecewa langsung keluar dari kamar.


Mendengar suara Moza keluar dari kamar, Naga langsung berbalik. Siap mengejar istrinya. Namun lagi-lagi Mama Ratih berakting. Wanita yang menilai segalanya dari segi materi itu pura-pura sesak napas.


Membuat Naga tak berkutik dan cemas. "Ma ... kenapa Ma?"


Dengan epik, Mama Ratih akting seperti kehabisan napas. Bila ikut casting di series ikan terbang. Mama pasti lolos tahap awal.


Bodohnya Naga, pria itu percaya begitu saja. Dengan panik keluar kamar memanggil dokter.


Ketika Naga keluar, Mama Ratih tersenyum lebar. Ia terkekeh sendiri, Mama Ratih tidak sadar. Bahwa ada Sendy yang sejak tadi memperhatikan dirinya.


"Sendy!" pekik Mama Ratih menyadari Sendy menatapnya dengan aneh.


"Ke mari sayang!" Ia melambaikan tangan, meminta cucu kesayangannya mendekat.


Meski masih kecil, Sendy kali ini tahu. Antara tatapan tulus dan tatapan akal bulus. Gadis kecil itu malah mundur dan berlari keluar. Memilih menjauhi omanya yang terlihat mengerikan. Habis tersengal, kok malah tertawa? Sendy jadi ketakutan.


"Sialan! Anak itu lama-lama mirip seperti ibunya. Menyebalkan!" gerutu Mama Ratih.


Sesaat kemudian, Naga datang dengan seorang dokter.


Begitu terdengar derap langkah, Mama Ratih kembali berakting lemas.


Dokter pun langsung memeriksa pasiennya itu. Aneh, semua normal.


"Bagaimana dengan Mama saya, Dok?"


Dokter kemudian tersenyum, kemudian memilih bicara di luar.


"Ibu anda sepertinya hanya butuh perhatian ekstra. Beliau baik-baik saja, mungkin hanya butuh perhatian lebih dari para anggota keluarga." terang dokter kemudian pergi meninggalkan Naga yang diam termanggu.


Ketika dokter sudah benar-benar pergi, Naga pun masuk. Ia bersikap biasa, dan menanyakan, apa mamanya sudah merasa baikan?


Mama yang tidak tahu bahwa kedoknya sudah kebongkar. Masih pura-pura lemas.


Kemudian Naga baru menyadari, Sendy tidak ada di sana. "Ma, Sendy ke mana?"


Tidak mungkin menjawab bahwa cucunya kabur. Mama pun kembali berbohong.

__ADS_1


"Dia menyusul mamanya!"


Ingin rasanya Naga lari dari ruangan itu, tapi ... pria itu ingin membelah diri saat itu juga.


Beberapa jam kemudian, ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Mama Ratih sudah tertidur. Akhirnya Naga punya kesempatan untuk menyusul Moza.


Pria itu bergegas pulang, mencari Moza dan putrinya.


"Sayang .... sayang!"


Ia mencari ke kamar, Moza tidak ada. Kemudian ia mencari ke kamar Sendy, semua kosong.


Kini pria itu terlihat panik, "Bibi ... Bibi!"


Bibi yang sudah tertidur langsung bangun. Ia tergesa-gesa membuka pintu kamarnya yang digedor Naga.


"Iya, Tuan."


"Nyonya dan Sendy ke mana?"


"Nyonya? Bukannya tadi pergi dengan Tuan?" Bibi yang baru bangun tidur nampak bingung.


Naga memejamkan mata, kemudian bergegas keluar rumah lagi. Ia langsung menyalakan mesin mobil. Sepertinya sudah tahu di mana istri dan anaknya sekarang.


Tidak perlu ngebut, karena rumah mereka jaraknya cukup dekat.


Tok tok tok


Ia mengetuk pintu rumah Rendra dengan keras.


Tok tok tok


Di dalam rumah Rendra, di dalam sebuah kamar yang luas, Moza sudah tertidur sambil memeluk Sendy. Wanita itu sedang marah pada Naga, oke tidak apa-apa Naga tidak mengejar dirinya. Tapi bagaimana bisa, ia membiarkan Sandy berkeliaran di lobby rumah sakit? Keterlaluan.


"Tuan, apa saya buka pintunya?" tanya asisten rumah tangga Rendra yang terbangun karena suara berisik.


"Tidak! Biarkan saja."


Rendra menyuruh asisten rumah tangganya masuk ke kamarnya. Biar saja Naga jamuran di luar sana. Dengan sadis, ia membiarkan Naga berteriak-teriak di luar rumah.


Naga yang kesal karena pintu tidak dibuka, ia langsung menelpon ponsel Moza.


Sayang sekali, telpon Moza malah tidak aktif. Gemas, ia meremas mukanya sendiri.


Dengan berat hati, akhirnya ia mencoba menghubungi Rendra.


Belum bertanya apa-apa, Rendra langsung menyuruhnya pulang.


"Pulanglah!"


Klek


"Hallo ... hallo?" teriak Naga yang ponselnya malah dimatikan Rendra.


Pria itu tambah prustasi, karena merasa diabaikan. Naga langsung masuk ke dalam mobil. Pria itu memilih menunggu di dalam mobilnya.

__ADS_1


***


Sinar matahari menembus jendela mobil Naga, membuat pria itu langsung mengerjap.


"Jam berapa ini?" gumam Naga. Rupanya ia tertidur.


Begitu bangun, Naga langsung bergegas keluar mobil. Ia kembali mengetuk rumah Rendra dan membuat keributan karena ketukan yang cukup keras.


Moza yang masih tidur sambil memeluk Sendy, sampai terbangun. Saat akan keluar kamar, Rendra menghalanginya.


"Biarkan dia menyesal dulu."


"Tapi ...!"


"Tetap di sini, jangan ke mana-mana."


Mendengar ada yang bicara, Sendy ikut terbangun.


"Ma ...!"


"Iya, sayang." Moza membelai rambut putrinya.


"Sudah ... kalian di sini saja." ucap Rendra.


Renda pun menutup kamar Moza, dan karena Naga berisik sekali. Akhirnya ia pun membuka pintu.


"Mana Moza?" begitu pintu terbuka, Naga langsung menerobos masuk ke dalam.


"Moza ... Sendy?" teriak Naga.


"Sopan sedikit bila bertamu!" sindir Rendra.


"Di mana mereka?"


"Kecilkan suaramu!"


Naga menahan kesal, ia menghela napas panjang. Matanya memindai seluruh ruangan.


"Papa!" Pria itu langsung menoleh ke sumber suara.


Sendy berlari ke arah papanya.


Dengan sayang, Naga langsung mengendong putrinya.


"Mana mana?" tanya Naga.


Dari belakang, Moza muncul.


"Moza!" panggil Naga. "Ayo pulang." ajak Naga sembari berjalan mendekati istrinya.


"Nggak mau!" Sendy tiba-tiba nyeletuk.


"Sendy dicari Oma!" kata Naga.


Anak itu tiba-tiba langsung merosot dari gendongan papanya. Sendy turun dan mendekat ke arah Moza.

__ADS_1


"Sendy takut Oma, Ma!" ucap Sendy sembari memeluk tubuh mamanya. Bersambung.


__ADS_2