Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Darah Perawan


__ADS_3

Istri Gelap #51 (18+)


Oleh Sept


Malam pertama bagi setiap pribadi akan memiliki kesan yang sulit dilupakan, sama halnya bagi Sierra. Bertahun-tahun menikah, tapi sang suami tak pernah menyentuhnya. Tapi, itu hanya sedikit catatan kelam pada masa lalunya. Kini semua sudah berubah.


Sierra sekarang sudah menikah lagi, dengan pria dari masa lalu yang pernah ia kenal sebelumnya. Seorang pria yang juga sempat gagal seperti dirinya. Duda tampan dan banyak pengalaman.


Hotel Anshton


"Kenapa malu-malu, seperti baru pertama kali saja," komentar Mateo yang mengamati gerak-gerik Sierra yang menurutnya sangat aneh itu.


Mateo merasa Sierra baru pertama kali melihat pemandangan spectacular di depannya. Padahal, yang Teo tahu. Sierra sudah pernah menikah dan bertahun-tahun lamanya. Jadi tidak mungkin bila ini yang pertama bagi Sierra.


"Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu sakit Ra?" Ketika tangannya menyentuh kulit Sierra, Mateo menyadari. Betapa dinginnya suhu tubuh Sierra.


Wanita itu jelas tidak sakit, Sierra hanya mengeluarkan banyak keringat dingin. Mungkin dia sedang demam panggung. Sierra lantas mengeleng, namun wajahnya terlihat pucat.


"Kamu sakit Sierra!"


Sekali lagi wanita itu mengeleng, namun kali ini ia mengeleng keras.


"Tapi tubuhmu dingin sekali?"


"It's okay, all is well ... aku baik-baik saja Teo!"


"Baik-baik saja apanya?" Teo tidak percaya, pria itu lantas mencari sesuatu di atas nakas.


"Aku nggak apa-apa!" pekik Sierra.


Pria itu melirik Sierra sekilas, kemudian menatap benda pipih yang kini ada di tangannya.


"Kau mau telpon siapa, malam-malam begini?"


"Dokter!"


Sierra menatap tak percaya, kemudian meraih ponsel Teo dan meletakkan kembali benda itu di atas nakas.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa!"


Mateo mengamati wajah wanita di depannya dengan teliti.


"Benar kamu tidak apa-apa?"


Kalo ini Sierra mengangguk pelan.


"Syukurlah, kamu membuatku cemas saja." Tangan Mateo mengusap rambut Sierra, sentuhan itu menimbulkan aliran listrik kecil yang membuat Sierra kembali merasa merinding.


Karena situasi dirasa sudah kembali kondusif, maka Mateo pun kembali beraksi. Mungkin Sierra malu karena lampunya belum ia matikan. Akhirnya, Mateo pun meraih tombol untuk mematikan lampu kamarnya.


Sekarang, hanya tinggal cahaya remang-remang yang menambah suasana syahdu di dalam kamar pengantin.


"Lampu sudah aku matikan, buka matamu kembali, Ra!"


Sebenarnya Sierra sejak tadi sudah mengintip, tapi tidak tahu mengapa. Begitu lampu dimatikan, kini ia tambah makin deg-degan.


Sebagai seorang laki-laki, Teo dengan sabar membimbing Sierra. Perlahan namun pasti, Mateo kembali membelai istrinya itu hingga meremang dan mengeliat seperti cacing kepanasan.


Pria itu menikmati setiap proses pemanasan yang mereka lalui. Hingga dirasa sudah benar-benar On, barulah Mateo melakukan apa yang sejak tadi ia tahan.


"Susah sekali!" batin Mateo sembari berpikir keras.


Beberapa kali ia coba, namun tidak berhasil. Makin penasaran lah si Mateo, apa ia sudah hilang keahlian?


"Rileks sayang!" bisik Mateo.


Sierra malah memejamkan mata dalam-dalam, wanita itu mengigit bibir bawahnya. Seolah sedang menahan sesuatu.


"Jangan tegang!" ucap Mateo kemudian, mengapa ia merasa jalannya masih buntu?


Ingin membuat Sierra merasa rileks, Mateo mencoba kembali membelai Sierra. Ia ingin wanita itu menerima dirinya dengan terbuka, agar tidak meninggalkan rasa sakit yang dalam.


Diciumlah kembali bibir Sierra, memberi beberapa gigitan kecil agar istrinya itu terbawa arus bersamanya.


Merasa sudah benar-benar siap, Mateo pun langsung ke intinya. Namun ia malah merasakan ada sesuatu yang aneh. Ingin segera memeriksa apalah itu, Mateo langsung menyalakan lampu kamar.

__ADS_1


Mata pria itu terbelalak, ketika mendapati darah di atas seprai. Alas tidur mereka terdapat banyak bercak darah yang masih segar. Mateo kemudian beralih memandangi Sierra.


Ditatapnya Sierra, wanita itu masih memejamkan mata. Tangannya meremas kain seprai. Sepertinya masih menahan perih atas apa yang terjadi barusan.


Mateo mengusap wajahnya, ia seakan tidak percaya. "Dia masih perawan?" batinnya lirih.


"Sierra!" panggil Mateo yang masih terlihat shock.


Perlahan wanita yang masih merasakan perih itu membuka mata. Tanpa sadar, bulir bening keluar dari sudut matanya.


Sedangkan Mateo, ia bingung harus bagaimana. Pasalnya ia masih terkejut dengan fakta yang sesungguhnya. Ia tidak menyangka, bila Sierra ternyata masih virgin.


"Apa Naga tak pernah menyentuhmu?" kata itu lolos begitu saja dari mulut Mateo. Jujur, pria itu sangat penasaran. Mengapa Sierra masih perawan?


Merasa pertanyaan dari Mateo sangat menyakitkan, Sierra langsung memalingkan muka.


"Ya Tuhan! Mengapa kamu bertahan selama ini Sierra? Kamu benar-benar bodoh!" Rasa marah, kesal kini Mateo rasakan. Ia marah karena selama ini Sierra diam saja. Harusnya ia pergi bila Naga tak menginginkan dirinya. Untuk apa bertahan? Hanya wanita bodoh yang melakukannya.


Mendengar Mateo malah marah padanya, Sierra pun tak bisa membendung air matanya lagi. Tangis wanita itu pun pecah.


Mateo mendesis kesal, tangannya mengepal. Ingin rasanya menghajar Naga, untuk sesaat ia membenci pria yang tega melakukan ini pada Sierra.


Meskipun, jauh di lubuk hatinya ia merasa berterima kasih. Terima kasih karena sudah tidak menyentuh Sierra.


"Maafkan aku, ini sangat mengejutkan Sierra ... aku tadi sangat terkejut!" Mateo menyentuh pundak Sierra. Namun, wanita itu langsung menepisnya. Tidak mau Mateo kembali menyentuhnya.


"Sierra ...!" Tidak peduli Sierra bersikeras menolak dirinya. Mateo malah semakin merangsek tubuh istrinya. Ia memeluk tubuh itu dengan erat.


"Jangan menangis! Maafkan aku!" Mateo membelai Sierra. Berharap Sierra mau menatap wajahnya. Karena kini wanita itu membuang muka, tidak mau menatapnya.


Cukup lama posisi keduanya tidak berubah, hingga akhirnya Sierra tertidur dalam tangisnya.


Mateo merasa tidak enak, karena sudah membuat pengantinnya menangis semalaman di malam pertama mereka.


Pagi harinya, saat matahari sudah meninggi. Sierra baru bangun dari tidurnya.


"Ke mana Teo?" Ia melihat sekeliling, namun tidak ada Teo di sana.

__ADS_1


Saat akan turun dari ranjang, Sierra meraih semua bajunya yang sudah ada di kursi. Ia kemudian memakainnya. Ingin segera mandi karena tubuhnya terasa amat lengket, Sierra pun berjalan menuju kamar mandi yang luas itu.


Baru membuka pintu, ia langsung memejamkan mata. "Aihs ...!" Sierra merutuki sikap cerobohnya. Mengapa ia tak mengetuk pintu dulu. Bersambung.


__ADS_2