
Istri Gelap #53 (18+)
Oleh Sept
Hampir semua orang yang ada di dalam ruangan, melempar senyum pada sosok pria tegap yang masuk ke dalam ruang meeting. Kecuali satu orang, belum apa-apa Naga sudah memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Rendra.
"Sial! Mengapa harus dia?" batin Naga tak kala menatap Rendra, seorang pria yang akhir-akhir mengaku sebagai saudara kembar Moza.
Sedangkan Rendra, pria itu mendapat sambutan hangat dan terbuka dari para dewan direksi.
"Silahkan duduk!"
Rendra pun langsung menempati kursi yang sudah disiapkan.
Dua pria itu saling menatap, tidak ada tegur sapa. Hanya saling melempar pandangan yang sama tajam, setajam silet.
Setelah meeting tertutup selesai, semua peserta rapat meninggalkan ruangan satu per satu. Kini yang tersisa tinggalah Rendra dan Naga, dua orang itu masih nampak perang dingin.
"Apa maksud semua ini?" Tanpa basa-basi, Naga langsung to the point. Ia ingin tahu, niat Rendra yang membeli saham milik Sanrio Group.
"Mengapa kau terlihat gusar? Harusnya kau bersyukur. Aku membelinya untuk Moza!" Sama seperti Naga, Rendra juga bicara langsung pada intinya.
"Sudah kuduga! Apa kau sangat tertarik dengan istriku?" tuduh Naga. Ia masih tidak percaya jika Rendra adalah saudara Moza. Bila benar, lalu mengapa selama ini Moza dibiarkan hidup terlunta-lunta, dan sampai jatuh ke tangan Madam Antony? Naga benar-benar tidak percaya.
"Aku rasa Moza sudah salah, menikahi pria gila sepertimu!" sindir Rendra. Ia tak habis pikir dengan isi kepala Naga.
Mendapat sindiran dari pria yang ia benci, Naga hanya tersenyum tipis. Kemudian kembali menyerang Rendra.
"Tuan Rendra yang terhormat, tinggalkan perusahaan ini. Sekarang mungkin hanya perusahaan, aku rasa nanti kau juga akan mengambil Moza!"
Bruakkk
Kesal dengan tuduhan Naga yang seperti omong kosong, Rendra mengebrak meja. Detik berikutnya, pria itu melempar semua berkas yang ada di depannya.
"Ambil ini, picik sekali isi dalam kepalamu!"
Tanpa berbalik, Rendra langsung meninggalkan ruang meeting. Meninggalkan semua berkas yang semula sudah ia tanda tangani. Bagi Rendra uang bukan masalah.
Pria itu melangkah meninggalkan Naga yang tertegun di tempat.
Naga hanya mampu melihat kepergian Rendra yang perlahan hilang dari pandangan.
"Ronaaaa!" teriak Naga. Kesal dengan Rendra, sekretarisnya yang kena getahnya.
__ADS_1
"Iya, Tuan." Rona datang terhuyung-huyung, ia segera tiba saat Naga selesai meneriakkan namanya.
"Rapikan semua ini!" titah Naga kepada sekretarisnya.
Rona menatap lantai ruang meeting, "Mengapa berserakan begini?" batin Rona sembari membereskan berkas satu demi satu.
Ketika Rona sedang merapikan kekacauan di dalam sana, Naga bergegas ke luar ruangan. Ia masih ingin membereskan sesuatu lagi.
Pria itu bergegas mencari keberadaan Rendra, pasti Rendra masih ada di sekitar sana.
Sebagian karyawan memperhatikan Naga yang berjalan setengah berlari. Hingga sampai di lobby, Naga kembali berteriak.
"Tunggu!"
Dengan wajah dingin, Renda berbalik. "Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" cetus Rendra.
"Siapa kamu sebenarnya?" sentak Naga.
"Aku Kakak Moza, jadi tolong lebih sopanlah."
"Bagaimana bisa aku percaya?"
"Ikutlah denganku!" Tanpa peduli Naga mau ikut atau tidak, Rendra terus melangkah.
Mereka naik mobil yang berbeda, kemudian menuju ke kediaman baru Rendra.
"Sial! Sejak kapan dia tinggal di sini?" Sambil menahan kesal, Naga membuka sabuk pengaman. Matanya menatap rumah besar yang letakkan tak jauh dari rumahnya.
"Masuklah!"
Rendra mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumahnya yang megah.
"Sudah pulang Honey?" Jenny langsung merangsek, memeluk dan mencium Rendra di saat yang bersamaan. Ia tidak tahu, di belakang sana ada sosok pria yang mengamati mereka dengan geli.
"Belum balik?" Rendra juga sama terkejutnya, ia pikir tunangannya itu sudah balik ke hotel.
Sadar ada tamu, Jenny langsung melepaskan diri. "Sorry ... aku Kira kamu pulang sendiri."
Saat Jenny akan masuk, Rendra langsung menarik tangan Jenny. "Tunggu, kenalkan dulu ... dia Naga, suami Moza!"
Wajah Jenny langsung berubah, ia langsung mengamati Naga. Sedikit banyak, Rendra sudah bercerita, betapa temperamen sekali suami Moza tersebut. Membuat tunangannya kesusahan saja.
"Jenny! Tunangan Mas Rendra!"
__ADS_1
Naga hanya mampu menelan ludah, mungkin selama ini ia sudah salah sangka. Sepertinya Rendra tidak ada rasa pada istrinya, sepertinya ia juga sudah keliru. Rasa cemburu dan curiga, membuat Naga buta untuk sesaat.
Naga pun berjabat tangan dengan Jenny, dan mereka akhirnya duduk di sebuah ruangan. Kali ini tidak ada yang bersitegang.
Apalagi Jenny, wanita itu dari tadi bersemangat menceritakan bagaimana perjalanan Rendra dalam mencari saudaranya.
Wanita itu hampir putus asa, bila Moza tidak ditemukan, jangan-jangan ia akan menjadi perawan tua selamanya. Jenny begitu santai dalam berbicara, sesekali ia mengelayut manja pada pria yang duduk di sebelahnya.
Melihat itu, lama-lama mata Naga makin terbuka. Ia merasa sedikit menyesal karena menilai buruk pada Rendra. Sosok pria yang ia curigai memiliki ketertarikan pada istrinya. Ah bodohnya dia.
Rendra sendiri kemudian masuk ke dalam kamar, kemudian kembali dengan membawa sebuah koper kecil. Di depan Naga, ia membuka tas koper warna hitam tersebut.
Rendra mengeluarkan banyak lembar foto masa kecilnya. Lebih tempatnya foto usang saat ia bayi.
"Moza diculik beberapa jam setelah lahir," terang Rendra. Sebelum Naga bertanya, ia kini mulai bercerita.
"Mengapa?" Mendengar kenyataan itu, Naga makin penasaran.
"Persaingan bisnis, orang tuaku memiliki banyak musuh. Ketika bisnis makin berkembang, musuh pun semakin bertambah."
"Kenapa kalian tidak mencarinya? Moza sangat menderita ... kenapa kalian tidak mencarinya?" Naga marah, tapi ia tidak tahu harus marah dengan siapa. Akhirnya ia menyalakan keluarga Rendra, mengapa tidak mencari Moza sampai ketemu?
"Mana mungkin kami tidak mencarinya? Selang beberapa hari, penculiknya sudah tertangkap. Tapi Moza sudah tidak bersama mereka. Moza kembali hilang tanpa jejak."
"Mengapa tidak mengerahkan semua tenaga kalian? Kalian orang berkuasa, bukannya uang tak jadi soal? Mengapa sampai tidak ketemu?" Lagi-lagi Naga menyalahkan keluarga Rendra.
Jenny yang jengah karena Naga menyudutkan Rendra, ia pun mengeluarkan suara.
"Kamu tidak tahu, betapa kacau dan hancurnya keluarga Rendra kala itu. Setelah Moza diculik, Tante meninggal. Tante tertekan karena salah satu anaknya hilang, selang beberapa hari. Om menyusul Tante. Sebuah kecelakaan merengut nyawanya."
Naga merasa sempati, namun tunggu. Mengapa Jenny sangat tahu sekali. Apa hubungan mereka sangat dekat sekali?
Bagaimana tidak tahu? Selama ini dengan Jenny lah Rendra hidup dari kecil sampai dewasa dan sukses seperti ini. Setelah kehilangan orang tua, keluarga Jenny lah yang mengasuh Rendra.
Tumbuh bersama, menjadikan benih cinta bersemi di antara mereka berdua. Sampai mereka memutuskan akan menikah, tapi Rendra meminta waktu. Ia ingin mencari saudaranya yang hilang sebelum benar-benar menikahi Jenny.
"Ku harap, kamu tidak meragukan lagi bahwa Rendra adalah saudara Moza!" Kini Jenny menyerahkan foto saat Rendra dan Moza yang masih bayi. Keduanya di letakkan di sebuah box rumah sakit.
"Dan ini hasil tes DNA!" Rendra mengulurkan kertas yang tempo hari ia sembunyikan dari Naga.
Naga menghela napas panjang, sepertinya Rendra tidak berbohong.
"Bagaimana? Kau percaya sekarang?" tanya Rendra. Bersambung.
__ADS_1