
Istri Gelap #54 (18+)
Oleh Sept
Semua bukti-bukti sudah tidak mungkin bisa ditolak, kini Naga yakin bahwa Rendra adalah saudara Moza. Itu artinya Rendra merupakan Kakak iparnya.
Kesalahpahaman sudah berakhir, Naga terlihat menyesal sudah berprasangka buruk sebelumnya.
Sedangkan Rendra, pria itu bukanlah pendendam. Dengan tangan terbuka ia menyambut Naga. Karena pria itu sudah menyanyangi adiknya yang hilang semalam ini.
"Untuk Sanrio, aku tahu betul ... perusahaanmu sedang di ambang krisis." ucap Rendra saat mengantar Naga meninggalkan rumahnya.
"Aku masih bisa mengatasinya!" jawab Naga, malu mau mengakui kalau Sanrio memang dalam masalah.
"Kita keluarga, masalah kalian ... biarkan aku membantu. Setidaknya ini adalah rasa terima kasihku. Terima kasih karena sudah menjaga Moza selama ini." ucap Rendra dengan tulus sembari menepuk pundak iparnya.
Naga nampak canggung, pria itu kemudian hanya mengangguk pelan. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Dekatnya jarak rumah mereka, membuat Naga langsung pulang ke rumahnya.
Saat pulang, didapatinya sang Mama marah-marah kepada Moza.
"Ada apa ini?"
Mama Ratih langsung mengaduh pada Naga.
"Moza sepertinya tidak suka Mama tinggal di sini."
Moza yang tidak tahu akal bulus sang Mama mertua langsung mengeleng keras.
"Nggak Ma ... bukan seperti itu. Moza tidak pernah berpikir seperti demikian." Moza mencoba membela diri. Karena kata-kata yang diucapkan Mama Ratih adalah sepenuhnya fitnah.
"Alaaaa ... bohong kamu. Masa makanan Mama dipisah, nggak sama kayak yang kalian makan!" sentak Mama Ratih dengan berapi-api. Mungkin tekanan darah wanita paruh baya itu sedang naik-naiknya.
"Bukan begitu, Ma. Mama nggak boleh makan makanan yang berminyak, tadi pagi dokter memeriksa ... kolestrol, gula darah dan tensi Mama tinggi. Moza hanya ingin menjaga pola makan Mama!"
"Alasan! Bilang saja kamu tidak suka Mama tinggal di sini!" Mama Ratih terus saja menyudutkan Moza tanpa ampun.
Melihat itu, Naga langsung melirik Moza. Kemudian mengantar mamanya ke kamar Sendy.
"Mama istirahat dulu."
"Tapi ... istrimu itu."
"Iya, nanti Naga kasih tahu."
Tidak ingin mamanya terus mempertahankan Moza, Naga memilih tidak membela istrinya di depan sang Mama. Karena percuma, semua pasti salah di depan Mama. Apapun itu, asal mengenai Moza, pasti selalu salah di mata sang Mama.
Setelah menenangkan sang Mama, kini Naga menemui Moza.
Dilihatnya wajah Moza yang kecewa, bumil itu juga butuh dibela. Bukannya mendiamkan mertuannya memfitnah dan betkata yang bukan-bukan.
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahmu itu?"
Moza langsung melengos, tidak mau menatap suaminya.
Tahu bahwa istrinya sedang kesal, Naga pun memeluknya saja Moza dari belakang.
"Seperti tidak hafal Mama saja, jangan masukin hati!" bisik Naga.
"Mungkin aku tambah sensitive," Moza menepis lengan suaminya. Ia masih terlihat jengkel.
"Simpan tenagamu, jangan merajuk seperti Mama, dan aku memiliki sesuatu yang pasti membuatmu senang."
"Apa?" tanya Moza dengan ketus.
"Nanti malam, akan aku ajak kamu menemui seseorang."
"Siapa?"
"Orang lah!"
"Orang siapa?"
"Kakakmu!" jawab Naga dengan kesal. Meski menerima kenyataan, tapi sedikit hati kecilnya belum rela sepenuhnya.
"Kakak? Jadi benar? Apa sudah dipastikan?"
"Ish ... lihat wajahmu, langsung berbinar-binar seperti orang kasmaran!" sindir Naga, ia masih menyelipkan rasa cemburu tak jelas pada saudara iparnya sendiri.
"Kapan dia akan ke sini?"
"Hem ... tidak sabar sekali! Sabarlah, kita nanti malam yang akan ke rumahnya. Dan jangan kaget, di mana ia tinggal."
"Kaget? Memangnya tinggal di mana?"
"Sepertinya baru sih, baru membeli rumah tak jauh dari sini. Sepertinya ia sengaja menguntit Kita."
"Hah?"
"Ya ... dia tinggal di kompleks sini juga."
Moza manggut-manggut, sedangkan Naga. Ia masih nampak kesal dan sebal.
"Sepertinya suasana hatimu sudah baikan, sekarang bagaimana kabar cebong Papa?" Naga beralih posisi, kini ia sedikit merunduk. Membelai perut Moza yang sedikit buncit karena ulahnya.
"Mereka baik-baik saja, tenang saja."
"Betulkah? Aku belum percaya karena belum menengoknya sendiri."
Bukkk
__ADS_1
Moza langsung memukul punggung suaminya yang masih merunduk.
Dua pasutri itu malah terkekeh, keduanya bersenda gurau. Hingga suara tawa renyah mereka sampai ke telinga Mama Ratih.
Mama Ratih yang dari tadi mengintip di depan kamar, merasakan geram yang luar biasa. Melihat Moza bermanja-manja dengan putranya. Mata Mama Ratih jadi sakit.
Dengan tatapan penuh kebencian, Mama Ratih merencanakan sesuatu.
Saat malam tiba, Mama Ratih tidak keluar kamar. Cemas dengan mertuannya, Moza pun menghampiri kamar Sendy yang kini dipakai Mama Ratih.
"Ma, makan yuk!"
"Bawakan ke sini, Mama malas makan di luar!"
Moza pun langsung putar balik, ia kini ke dapur. Mengambilkan makanan untuk mertuannya.
Beberapa saat kemudian, Moza masuk kamar dengan membawa nampan.
"Ini, Ma!"
"Letakkan di sana." Mama melirik nakas, seolah menunjukkan pada Moza di mana harusnya meletakkan nampan tersebut.
Setelah itu, Moza pun pamit pada mertuannya. Lagian ia juga ada acara, rencananya Moza mau ke rumah Rendra. Siang tadi Naga sudah janji, akan mengantar dia ke sana.
Begitu di dalam kamar, Naga menanyakan kondisi mamanya.
"Gimana Mama?"
"Nggak mau makan, tapi udah aku bawahin di dalam kamarnya."
"Ya sudah, kamu siap-siap. Bentar lagi kita berangkat."
"Sama Sendy?"
"Jangan, biar di rumah dulu. Biarkan menemani Mama."
"Hemm ... iya sih."
"Ya sudah, cepat ganti bajumu!"
Ketika sedang menganti pakaian, tiba-tiba terdengar keributan di kamar Sendy.
"Nyonya ... Nyoya!" Bibi mengetuk pintu kamar Moza dengan panik.
Moza yang tengah berganti pakaian, menatap suaminya. "Ada apa itu? Coba buka pintunya." seru Moza.
"Ada apa, Bik?" tanya Naga sembari membuka pintu kamarnya.
"Nyonya besar ... Nyonyaaa ...!" Bibi malah tergagap. Bersambung.
__ADS_1
Dari dulu, mertua dan menantu bagai air dan api. Sulit sekali disatukan. 1000 banding 1, mertua rasa ibu kandung. Berbahagia mereka yang memiliki ibu mertua rasa ibu sendiri.