Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Bukan Berita Hoax


__ADS_3

Istri Gelap #61 (18+)


Oleh Sept


"Mana boleh seperti ini? Ini pasti hoax! Ini pasti berita bohong!" Mama Ratih melempar surat kabar di atas meja.


"Ada apa sih, Ma? Tiap hari marah-marah terus, nanti kena stroke!" cibir Tuan Taka.


"Lihat ini!"


Tuan Taka melirik surat kabar di atas meja. "Ini Moza kan? Menantu Kita?"


"Menantu apa?" Mama Ratih tetap teguh pada kesombongannya. Ia masih tidak terima, kenyataan bahwa Moza berdarah biru, membuat hati Mama Ratih semakin tercabik-cabik.


"Mama ini aneh, Moza miskin Mama tidak suka. Sekarang tahu bahwa Moza ternyata anak orang kaya, masih juga tidak suka, lihat berita ini dulu Ma. Dikatakan dia adalah pewaris Caraka foundation. Mama tau? Berapa triliun yayasan itu menyumbangkan amal setiap tahun?"


Mama Ratih memutar bola matanya, berusaha mencerna kata-kata Tuan Taka. Apa benar seperti itu? Perlahan ia merasa tubuhnya makin lemas.


"Apa Moza sekaya itu, Pa?" Suara Mama Ratih terdengar tanpa tenaga.


"Makanya, jangan terlalu benci pada seseorang, Ma."


Melihat Tuan Taka yang malah mengurui. Wanita itu malah semakin masam. Mama pun memilih pergi keluar rumah. Ia mau cari angin segar.


Rumah keluarga Surya.


Kabar tentang Moza yang merupakan anak konglomerat, tidak hanya memukul hati Mama Ratih. Ada hati yang lain, yang juga merasa sangat panas.


Nyonya Surya merasa geram, tidak terima. Bagaimana bisa Moza adalah keturunan orang berada, pokoknya ia tidak respect. Ia malah mengutuk, semoga keluarga Moza segera bangkrut.


"Ma ... lihat apa sih?" Sierra yang kebetulan main ke rumah orang tuanya menatap curiga pada mamanya. Nyonya Surya terlihat meremas surat kabar dengan tatapan kosong namun penuh benci.


"Oh, bukan apa-apa. Mama sebal saja, media sekarang suka sekali memberitakan pelakor."


Sierra melirik, tapi Nyonya Surya langsung membawa surat kabar itu. Mencari tong sampah dan membuangnya.


Begitu mamanya pergi, Sierra langsung mencari tahu. Ia pergi ke belakang. Mencari apa yang coba mamanya sembunyikan darinya.


Sierra meraih surat kabar yang sudah kusut itu. Seperti mamanya, ia juga meremas kertas itu. Menyobek-nyobeknya, ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul.


"Sedang apa?"


Sierra langsung melepas kertas itu kembali ke tong sampah.


Ia berbalik dan menatap suaminya. "Bukan apa-apa."


Mateo menoleh ke keranjang sampah, karena Sierra menarik tangannya. Ia pun mengikuti Sierra yang mengajaknya ke ruang tamu.


Saat semua sudah duduk di ruang keluarga itu, Nyonya Surya mulai memancing. Ia ingin tahu, kapan diberikan cucu.


"Ra ... jangan tunda-tunda ya. Mama pingin nimang cucu."


Uhuk uhuk uhuk

__ADS_1


Seketika itu Sierra langsung terbatuk-batuk.


"Sabar, Ma. Sedang diusahain."


Sierra langsung mencubit perut Mateo, malu sekali kalau membahas masalah ini di depan orang tuanya.


Nyonya Surya tersenyum geli, "Kamu nggak KB kan?"


"Tenang Ma, Sierra nggak pakai KB-KBan kok!" seru Mateo.


Bukkk


Kali ini Sierra melempar bantal ke arah suaminya.


Melihat hal itu, Tuan Surya sedikit terhibur. Ia terlihat lega, sepertinya sekarang Sierra hidup bahagia.


Mereka melanjutkan ngobrol sembari makan bersama. Hingga tidak terasa, waktu sudah menjelang malam. Sierra dan Mateo pun pulang, karena memang tidak berencana untuk menginap.


Di dalam mobil, menuju kediaman Mateo.


"Kamu denger kan tadi Mama minta cucu?"


"Apa sih?"


"Malam ini kita bikin, ya?"


Sierra malah melengos, "Aku masih dapet!" jawabnya.


"Nggak tahu!"


"Ada yang nggak beres ini, ke rumah sakit ya?"


"Nggak!"


"Terus kapan Kita bikin anaknya?"


Sierra menatap kesal ke arah suaminya.


"Oke ... oke! Jangan cemberut. Tambah cantik!"


Sierra membuang muka, namun bibirnya mengulas senyum dengan sendirinya.


***


Di sebuah balkon, terlihat Naga berdiri sembari mengapit benda kecil di tangannya. Kepulan asap keluar perlahan dari mulutnya.


Dari belakang Moza muncul, dan langsung merebut benda dari tangan Moza.


"Ada masalah apa?" Moza merasa Naga sedang dalam masalah, pria itu selalu melakukan kebiasaan buruk bila sedang banyak pikiran.


"Bukan apa-apa, ayo tidur."


"Katakan! Pasti ada sesuatu di dalam perusahaan." Moza mengelayut manja pada lengan suaminya.

__ADS_1


Naga hanya mengeleng, ia tidak mau cerita apa yang terjadi di perusahaan. Sebenarnya, banyak dewan direksi yang ingin menurunkan Sinaga.


Mereka lebih memilih Rendra, padahal pria itu membeli sebagian saham Sanrio bukan untuk dirinya. Tapi untuk Moza.


Para anggota dewan memilih bukan tanpa sebab, melihat sejarah buruk keluarga Naga yang penuh scandal. Membuat para pemegang saham yang lain mulai tidak percaya pada Naga.


Barangkali mereka mulai tidak yakin, desas desus menyebutkan bahwa terlalu banyak dana yang sudah digelapkan.


Kini Naga memilih menyimpan masalahnya sendiri, ia tidak mau istrinya yang hamil tua itu ikut kepikiran. Biarlah ia memikirkan masalahnya seorang diri.


Esok harinya.


Pagi-pagi Naga sudah pergi ke kantor, siang harinya Moza mendapat telpon dari Rendra.


"Moza? Naga di mana?"


"Loh ... bukannya ada di kantor?"


"Apa dia sudah pergi dari pagi? Kami sedang menunggu suamimu itu sejak tadi, ia mangkir dari meeting."


Moza langsung memikirkan yang bukan-bukan.


"Mas, sebenarnya ada masalah apa di perusahaan?"


"Apa dia tidak cerita?"


"Tidak, Mas Naga tidak bicara apapun."


Terdengar Rendra menghela napas panjang.


"Sebagian anggota direksi ingin menurunkan Naga dari jabatannya."


"Kok bisa?"


"Hanya salah paham, tenanglah ... aku pasti membantu suamimu itu."


"Lalu sekarang di mana dia?"


"Jangan panik, akan aku bantu cari."


Kini Rendra terlihat menyesal, harusnya ia tidak membicarakan ini pada Moza. Hanya membuat saudara kembarnya itu jadi tambah kepikiran.


Setelah selesai bicara pada Rendra, Moza pun mencoba menghubungi suaminya.


Tiga kali panggilan, baru akhirnya diangkat.


"Lagi di mana?"


"Lagi di kantor, ada apa Moza?"


"Bohong!" Bersambung.


Di mana sih, babang Naga? Hehehe

__ADS_1


__ADS_2