
Istri Gelap #60 (18+)
Oleh Sept
Beberapa bulan kemudian.
Usia kehamilan Moza sudah memasuki bulan ke tujuh. Perut wanita tersebut sudah terlihat membesar, apalagi Moza hamil anak kembar. Baru tujuh bulan tapi seperti sembilan bulan saja.
Menjelang trimester akhir, kehidupan rumah tangga Moza dan Naga nampak damai. Apalagi setelah kepergian Mama Ratih yang ikut Tuan Taka ke Ambon. Rumah menjadi tenang dan damai.
"Sayang, kenapa lama sekali?" Naga menengok masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Moza yang sedang duduk di meja rias.
"Nggak usah dandan cantik-cantik!" ucap Naga sambil berjalan ke arah Moza.
Malam ini mereka akan menghadiri acara pernikahan Rendra. Kembaran Moza itu akan menikahi kekasih hatinya, Jenny.
"Cerewet banget, bentar ya!"
"Sini aku bantu!" tawar Naga ketika melihat Moza mengusap blush on di kedua pipinya.
"Ya ampun!" Moza langsung mendorong wajah Naga. Pria itu bukannya membantu, malah sibuk mengecup pipinya bergantian.
Naga terkekeh, "Tuh ... dah merona. Alami malah."
"Sudah sana ... malah nggak selesai nanti!" protes Moza.
"Kalau nggak diganggu, nggak selesai- selesai," celetuk Naga yang tahu betul, perempuan kalau dandan emang lama banget. Sebentar artinya satu jam!
"Ish ... iya ... iya. Ini udahan kok!" Moza pun bangkit dari tempat duduknya. Berputar sambil berkaca.
Naga yang masih di situ, menatap istrinya. Cantik, dress panjang yang dikenakan Moza terlihat cocok dan elegant. Tapi tunggu?
Mata Naga malah tertuju pada perut buncit Moza, pakaian itu memang cantik tapi membuat Moza jadi tambah aduhai. Duh, isi kepala Naga malah mikir ke mana-mana.
"Sayang, sepertinya ... jangan pakai dress itu deh."
"Kenapa? Apa jelek?" Moza kembali menatap kaca. Ia mencari di mana yang kurang pas.
"Sangat cantik, bajunya cantik apalagi yang pakai."
"Terus masalahnya apa?"
"Itu terlalu WOW! Dan terlalu ... seksi!"
Moza mendesi, ia pikir apaan.
"Terus harus ganti? Aku nggak punya dress yang cocok untuk ke pesta dengan perut sebesar ini? Lagian ini juga hasilnya siapa?" gerutu Moza.
__ADS_1
Naga menelan ludah. Ya, itu karena hasil karya Naga. Hasil dari antena yang selalu on bila di dekat Moza.
"Sebentar!" Naga lantas berjalan menuju lemari milik istrinya. Ia memindai seluruh isi lemari. Begitu matanya tertuju pada shall bulu-bulu yang panjang. Ia langsung mengeluarkan shall itu. "Pakai ini untuk menutupi perut seksimu itu!" ucap Naga sembari memasang shall yang panjang itu.
"Ya ampun, ini nggak banget sayang!"
"Pakai aja, aku nggak rela mereka melihat pemandangan ini!" Naga memegang perut Moza. Kemudian menepuk bagian belakang yang aduhai itu. Hamil tua, Moza jadi terlihat begitu menggoda di mata pria itu.
Karena wajah Naga terlihat sangat serius. Moza akhirnya memakai shall itu. Tentunya dengan setengah hati, Moza merasa sama sekali nggak matching.
Tidak mau terlambat datang di acara resepsi sang kakak. Mereka pun bergegas, dan lagi, sebuah limousine sudah menunggu mereka bertiga.
Hotel bintang lima, Aster Hotel. Di sebuah aula yang luas dengan hiasan bunga yang memenuhi seluruh ruangan. Terlihat sepasang kekasih sedang duduk dengan wajah yang berseri-seri.
Rendra dan Jenny mengeluarkan aura pengantin baru. Membuat siapa yang melihatnya ikut senang. Si tampan yang sukses dengan si cantik yang menawan.
"Mengapa mereka lama sekali?" Rendra melihat semua tamu. Pria itu menanti kedatangan saudara kembarnya.
"Mungkin macet, Honey!"
"Padahal aku udah siapin kamar di hotel ini, ish ... Naga itu, ngeyel banget. Nggak mau nginep di sini."
"Udah, lihat wajahmu ... jangan terlalu dengan adik iparmu itu."
"Entahlah, sepertinya shio atau weton kami sama. Karena aku selalu bentrok sama si Naga itu."
"Apa seperti itu?" tanya Rendra tidak yakin.
"Jangan ragukan keahlianku!" bisik Jenny.
Mendapat bisikan halus di telinganya, Rendra malah jadi meremang. Bibirnya tanpa sadar melengkung, pria itu tambah tersenyum penuh arti.
"Nah ... itu mereka!" seru Jenny saat melihat Moza dan keluarga kecilnya datang.
Dari jauh, Rendra melempar senyum pada adik sekaligus kembarannya itu.
"Selamat Mas!"
Begitu sudah sangat dekat, Moza langsung memeluk Rendra. Pelukan hangat yang membuat tangan Naga ingin melepas pelukan itu.
Melihat ekspresi wajah Naga, Jenny hanya tersenyum tipis. "Dasar!" batin Jenny sembari mengamati muka jealous Naga.
"Selamat ya!" Giliran Naga memberikan selamat pada Rendra. Meskipun terkesan dingin, namun Naga mengucapkan itu tulus dari hatinya.
Setelah semua keluarga berkumpul, dan acara berjalan sukses. Tiba saatnya sesi conference.
Rendra sengaja mengundang media, selain mengumumkan pernikahan, ternyata ia juga memiliki pengumuman khusus.
__ADS_1
"Moza, nanti ikut denganku," bisiknya pada Moza.
"Ke mana Mas?"
"Ruang conference!"
"Untuk apa?"
"Nanti juga tahu sendiri," ucap Rendra dengan enteng.
Sesaat kemudian, akhirnya waktu konferensi pers pun dimulai. Rendra duduk di samping Jenny. Sedang di sisi yang lain, Moza duduk dengan canggung. Apalagi semua sorot kamera terasa tertuju padanya.
Jebret ... jebret ... jebret
Berkali-kali para pemburu berita itu mengambil potret Moza. Mereka malah tertarik pada wanita hamil itu ketimbang pengantin barunya.
"Selamat malam semuanya!" Rendra memulai acara, karena ia merasa Moza sudah tidak nyaman duduk lama-lama bersama mereka.
Semua wartawan dan juru potret nampak diam sesaat, mendengarkan apa yang disampaikan oleh Rendra.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua, terima kasih atas attention dari kalian. Saya sengaja mengundang kalian semua, selain mengumumkan pernikahan. Saya juga akan mengumumkan sesuatu yang mungkin sedikit mengejutkan."
Rendra berhenti sejenak, mengambil segelas air minum di depannya. Kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Seperti yang kalian tahu, pagi tadi saya sudah melangsungkan pernikahan. Dan ini istri saya. Jenny Magdalena Caraka." Rendra menatap ke samping. Ia melempar senyum pada wanita yang kini jadi pemilik hatinya.
Jenny pun tersenyum pada semua orang di depannya. Dan untuk Rendra, ia berikan senyum paling manis yang ia punya. Mungkin sebentar lagi, gula dara Rendra akan naik drastis. Saking manisnya senyum Jenny.
Setelah mengenalkan Jenny, kini Rendra menatap ke sebelahnya lagi.
"Kalian pasti bertanya-tanya, siapa wanita yang sedang hamil besar dan terlihat cantik ini." Rendra tersenyum pada saudara kembarnya.
"Namanya Moza, tiga puluh tahun lebih ia memakai nama itu. Tapi perlu kalian tahu, itu bukan namanya."
Mendengar kata-kata Rendra, Moza langsung menoleh. Pasalnya, ia juga tidak tahu nama lahirnya siapa.
"Kami terpisah 30 tahun lebih, dia adalah putri satu-satunya keluarga Caraka. Dan dia adalah saudara kembar saya yang hilang. Perkenalkan pemilik Caraka foundation dan pemegang saham tertinggi di Sanrio Group. Rania Caraka Mahendra."
JEBRET JEBRET JEBRET
Sorot kamera tidak henti-hentinya mengambil gambar Moza. Bersambung.
Esok harinya, wajah Moza terpampang di seluruh surat kabar. Berita munculkan pewaris Caraka yang hilang, membuat sebagian orang membicarakannya.
Berita itu juga sampai ke pulau paling timur Indonesia. Kaki Mama Ratih lemas, melihat siapa yang kini sedang dibicarakan banyak orang. Apa Mama Ratih menyesal?
Instagram : Sept_September2020
__ADS_1