
Istri Gelap #49 (18+)
Oleh Sept
"Sierra? Kamu mau menikahi Sierra?"
Naga masih nampak terkejut, pria itu tidak yakin dengan apa yang ia lihat.
"Kamu mau menikah dengan mantan istriku?" Naga memberikan nada penekanan pada pertanyaan yang ia lontarkan. Ia masih belum percaya. Mengapa Mateo dengan Sierra? Ini konyol, sejak kapan mereka begitu dekat hingga memutuskan untuk menikah?
"Maaf, mungkin ini sangat mengejutkan. Itu salah satu alasan, kita harus mengakhiri kerja sama ini. Aku hanya ingin menjaga perasaan Sierra kedepannya."
Naga mendengus kesal, "Kalian sengaja kan melakukan ini? Apa dia masih memendam benci dan dendam pada kami?"
"Cukup Naga!" Mateo tidak suka, pria lain menjelekan calon istrinya.
"Oke! Lakukan apa mau kalian."
"Kenapa kamu terlihat marah? Apa kamu masih mencintai Sierra?"
Naga tersenyum tipis, "Sudahlah! Mungkin ini takdir yang terbaik untuk Sierra. Dan maaf, kami tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Kau tahu sendiri, sebesar apa keluarga Sierra membenci istriku yang sekarang?"
"Aku paham, dan tahu betul. Sekali lagi, sorry ... kerja sama Kita harus berakhir sampai di sini."
Naga menepuk pundak temannya itu, "Tidak apa-apa, sorry tadi sempat emosi."
Mateo menepuk balik pundak temannya, kemudian ia meninggalkan Naga sendirian di kantornya. Mateo memilih melepaskan diri dari Sanrio Group, bagaimana pun juga. Ia tidak mau menjadi alat balas dendam Sierra.
Kediaman keluarga Surya.
"Kamu harus buktikan, kalau kamu bisa bangkit tanpa Naga!" cetus Nyonya Surya, ia masih gusar, mengingat tempo hari harus dibawa ke kantor polisi gara-gara melakukan penyerangan terhadap Moza.
Untung saja Mateo dan Sierra datang, betapa malu sekali, mau ditaruh mana muka Nyonya Surya kala itu.
Sierra sendiri sudah hampir putus asa, ia kecewa pada sang Mama. Jujur, ia juga ingin mencabik-cabik wanita yang merusak hubungan rumah tangganya. Tapi, sikap Mama malah menunjukkan bahwa itu tindakan rendahan.
Sierra punya cara sendiri untuk membalas luka hatinya, yaitu menghancurkan Naga. Melalui Mateo, ia berniat membuat Naga hancur. Tanpa Sierra tahu, Mateo hanya menipunya.
Okelah dia bilang akan membantu menghancurkan siapa saja yang membuat wanita itu terluka. Namun, Teo dari awal sudah memiliki jalannya sendiri. Baginya menyembunkan luka Sierra bukan dengan cara melukai orang lain, tapi menyentuh hati yang sudah terluka tersebut.
Mencoba memperbaiki dan menyusun kepingan hati yang terlanjur pecah. Mateo adalah pria yang pernah gagal, dan ia tidak akan membiarkan kegagalan menghampirinya lagi.
Ia sedang menipu Sierra, menipu wanita itu dengan cinta yang ia tawarkan. Akankah Sierra goyah dan lupa akan dendamnya? Kita lihat saja nanti.
Hotel Anshton
__ADS_1
Malam ini keluarga Surya sedang merasa bahagia dan bangga. Setelah membuang Naga, mereka dapat Mateo.
Entah siapa yang dibuang dan terbuang, intinya Tuan Surya dengan bangga mengenalkan menantu barunya pada semua kolega yang ia undang malam ini.
Sedangkan Sierra, wanita itu terlihat tersenyum. Tapi tidak dengan hatinya.
Begitu acara resepsi selesai, dan para tamu undangan pergi. Nyonya Surya langsung menyuruh keduanya beristirahat.
Sebenarnya Sierra ingin tidur dengan mamanya saja, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah malam pengantin mereka. Sangat lucu bila di malam pertama malah tidur bersama mamanya.
Dengan perasaan yang canggung, akhirnya Sierra dan Mateo memasuki sebuah kamar pengantin. Harum bunga semerbak memenuhi ruangan. Susana menjadi kaku dan keduanya terlihat salah tingkah.
"Aku akan mandi dulu!"
Sierra hanya melirik, kemudian memilih duduk di meja rias. Melepas segala pritilan yang menempel pada tubuhnya.
Wanita itu nampak berpikir, kemudian mengingat kembali. Kejadian beberapa hari lalu.
Flashbacks On
"Ma! Cukup Ma, jangan kotori tangan Mama dengan menyentuh wanita murahan itu!" pekik Sierra di sebuah kantor polisi.
"Mama hanya gak bisa menahan tangan Mama Ra! Sungguh ... melihat sekilas saja, Mama ingin mencincang wanita gatal itu!"
"Hubungi papamu!" sentak Nyonya Surya.
"Nggak diangkat!"
Nyonya Surya terlihat gusar, kemudian ia bangkit. Wanita paruh baya itu mencoba untuk keluar dari sana. Mencoba untuk kabur.
Begitu para pentugas datang, dan memegangi tangan Nyonya Surya. Wanita itu langsung histeris, ngomel-ngomel dan memaki para petugas.
"Kalian tidak tahu saya? Lepaskan!" teriak Nyonya Surya.
Sierra hanya mampu memejamkan mata, kemudian ia teringat dengan Mateo. Saat itu juga Sierra langsung menghubungi Mateo.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Nyonya Surya bisa keluar dari kantor polisi. Dengan Mateo sebagai penjaminnya.
Nyonya Surya sangat berterima kasih, begitu juga dengan Sierra.
Pulang dari kantor polisi, Mateo tidak langsung pulang. Pria itu terlihat terlibat pembicaraan serius dengan Sierra.
"Kamu masih menyukaiku?"
Mateo langsung menoleh, semua ia menatap kosong ke depan. Setelah mendengar pertanyaan Sierra, kini ia menatap wanita itu dengan dalam.
__ADS_1
"Apa maksudumu?"
"Hancurkan Naga!"
"Kamu gila!"
"Bukankah kamu masih menyukaiku?" tantang Sierra dengan membuang semua rasa malunya. Hari ini mamanya diseret ke kantor polisi, cukup melukai hati Sierra. Ia harus membuat Moza dan mantan suaminya menerima balasan yang setimpal.
"Cukup Sierra, jangan bicara ngawur!"
"Aku Kira kamu masih menyukaiku, ternyata aku salah!" Sierra tersenyum miris. Kemudian ia bangkit dari duduknya, percuma saja. Sepertinya Mateo tidak bisa ia jadikan alat untuk membalas sakit hatinya.
"Apa yang aku dapat, ketika bisa menghancurkan Naga?"
Ucapan Mateo membuat Sierra diam sesaat. Ia menghentikan langkah kakinya.
"Semua! Kamu dapat semuanya Teo!"
Mateo tersenyum penuh arti, kemudian ikut berdiri bersama Sierra.
"Menikahlah denganku, sisanya ... biar aku urus!"
Bagai terkena sihir, Sierra langsung mengangguk pelan.
Flashbacks END
"Sierra! ... Ra!"
Wanita itu tersentak ketika sebuah tangan yang terasa dingin menyentuh pundaknya. Rupanya pengantin baru itu sedang melamun.
"Ah ... iya!"
"Mandilah ... bersihkan tubuhmu dulu!" seru Mateo yang kini badannya sudah terlihat segar. Pria itu dengan santai berjalan ke sana ke mari hanya dengan memakai selembar handuk yang melilit pada pinggangnya.
Sayang, pemandangan itu sama sekali tak membuat hati Sierra berdesir.
Beberapa saat kemudian.
Sierra sudah selesai membersihkan diri, ia berjalan ragu-ragu. Bingung mau tidur di mana. Diliriknya Mateo yang sudah memakai baju piyama, dan bersandar di sandaran ranjang.
"Ke mari!" Mateo menepuk ranjang di sebelahnya. Sembari mengulas senyum penuh pesona.
Mengapa jadi begini? Mendadak kaki Sierra jadi lemas. Apa seperti ini, rasanya demam malam pertama? Sierra terjebak dalam permainannya sendiri. Bersambung.
Malam Pertama itu memang begitu, mendebarkan!
__ADS_1