Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Gen Siapa


__ADS_3

18+ Istri Gelap #43


Oleh Sept


"Ma ... Mama!"


Terdengar suara pintu diketuk, Sendy berteriak memanggil mamanya. Rupanya anak itu sudah terbangun. Kontan saja Moza dan Naga ketar-ketir. Seperti maling saja. Apalagi Naga, pria itu padahal sudah melepas sebagian pakaiannya.


"Katanya masih tidur?" Terlihat rona kecewa pada wajah tampan Naga, wajah yang semula semangat itu kini kisut. Ia pun meraih pakaiannya, dan memakainnya kembali.


Bahkan, antena yang semula sudah memancar dengan tegap dan berani. Kini sinyalnya langsung lemah. Naga pun melempar tubuhnya di samping Moza. Pagi ini gagal. Kepalanya jadi tambah nyut-nyutan.


Moza tersenyum, dalam hati ia mengucap syukur. Alhamdulillah, selamat. Ibu berbadan dua itu pun turun dari ranjang, tapi tangan Naga malah meraih pinggangnya. Seakan tidak rela melepas mangsa.


"Ish ... Sendy lagi nunggu!"


"Ah, Sendy ... kenapa juga buru-buru bangunnya?"


Moza tersenyum, sama sekali tidak prihatin pada suaminya yang tersiksa bagai cacing yang kepanasan. Pria itu glojotan tidak jelas di atas ranjang, membuat Moza mengecupnya kilat. Agar cacing itu sedikit tenang.


Dasar Naga, dikecup sebentar malah minta nambah. Padahal Sendy sudah mengetuk pintu berkali-kali.


Naga masih sempat-sempatnya mencium istrinya dengan gemas dan ganas. Kalau saja Moza tidak mendorong tubuhnya, Naga pasti akan terus melanjutkan aksinya.


Puas dapat mencium Moza, pria itu kembali berbaring. Menikmati hari santai di akhir pekan.


"Sudah bangun?" tanya Moza tak kala membuka pintu kamarnya. Ia melihat Sendy yang berkacak pinggang. Sepertinya putrinya itu sedang merajuk.


"Mama lama banget!" protes Sendy sambil mengerucutkan bibir.


Moza hanya tersenyum tipis, ini gara-gara suaminya. Sendy jadi menunggu lama.


"Iya ... iya, maafin Mama. Sendy mau apa?"


"Nggak mau apa-apa, Mama!"


"Hem ... Ayo sini Mama akan buat sarapan."


Sendy pun berjalan di belakang mamanya, dua orang itu melangkah menuju dapur.


Siang harinya, Naga sudah terlihat rapi dan wangi. Seperti biasa, ia selalu terlihat tampan dari segala arah. Bibirnya sumringah saat akan menghampiri Moza dan Sendy yang sedang bermain boneka di ruang keluarga.


"Ish, berapa botol yang digunakan? Mengapa baunya menyengat sekali?" Protes Moza saat Naga sudah mendekat. Wanita itu kurang suka dengan aroma yang menyengat akhir-akhir ini.


"Hanya beberapa semprot." Naga lantas mencium keteknya sendiri, apa ia berlebihan? Ah, tidak. Ini aromanya sangat soft, lembut dan ringan.

__ADS_1


"Tolong ganti baju saja!"


"Ayolah sayang, ini nggak strong-strong amat!" Naga tidak mau mengalah.


Karena aroma di dalam ruangan dipenuhi oleh wangi parfum, Moza merasa mual kembali. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi.


"Ya ampun, mengapa anak itu rewel banget!" gerutu Naga, saat itu juga ia langsung masuk kamar. Membuka lemari dan mencari pakaian yang tidak ada baunya. Kaos putih polos, tanpa motive tanpa aroma.


Beberapa saat kemudian.


Moza tersenyum setelah melihat Naga sudah ganti baju. Biarpun bibirnya menolak, Naga tetap ganti pakaian.


"Dari pada nggak ngapa-ngapain, ke dokter sekarang ya?" tawar Naga.


"Katanya nanti sore?"


"Sekarang saja, sekalian ... penasaran soalnya." Naga tersenyum tapi senyumnya terlihat berbeda. Ia merasa tidak enak pada Moza, mengingat kehamilan pertama istrinya itu. Pasti berat, karena tidak ada ia di sisi Moza.


"Kenapa wajahnya begitu?" Moza menyadari perubahan mimik wajah suaminya.


"Tidak, tidak apa-apa. Ayo siap-siap, keburu macet." Naga beralih menatap putrinya.


"Sendy, ayo lihat dedek ... mau nggak?"


Anak kecil itu langsung mengangguk cepat. Setelah diberitahu bahwa akan punya adik, Sendy terlihat senang. Mungkin ia akan punya teman main, tidak hanya bermain dengan boneka saja.


"Ayo!" seru Moza.


Cuss, mereka pun masuk mobil. Sudah siap meluncur ke rumah sakit.


Rumah sakit Harapan Bunda, mereka bertiga kini sudah berada di halaman rumah sakit.


Naga sepertinya sudah tidak sabar ingin melihat visual calon anak keduanya. Padahal pasti belum nampak jelas, karena belum diketahui usia kehamilan Moza juga.


Sedangkan Moza, ia malah terlihat ragu. Itu karena Moza lupa kapan terakhir ia mendapat tamu bulanannya.


"Nyonya Moza?" panggil suster.


Setelah dipanggil, Naga langsung berdiri paling pertama.


"Semangat bener?" batin Moza sembari melirik suaminya.


"Ayo sayang!" Naga mengandeng Moza untuk buru-buru masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan tersebut.


"Hem!" Ketika tangan satunya digandeng Naga, tangan Moza yang lain meraih lengan Sendy.

__ADS_1


"Selamat siang!" sapa dokter ketika keluarga kecil itu masuk.


"Pagi, Dok!"


Setelah berbicara sebentar, dokter Serena pun meminta Moza untuk berbaring di tempat yang sudah disediakan sebelumnya.


Usai diolesi jel di permukan perutnya, Moza nampak tenang. Ketika sebuah alat digerakan di seputar perutnya yang masih rata itu.


Sedangkan Naga, pria itu terlihat excited dengan layar yang hanya menampilkan warna hitam putih itu.


"Sudah berapa minggu, Dok? Saya lupa kapan terakhir mendapat tamu bulanan."


"Dilihat dari gambar yang tertera di layar, mereka sepertinya sudah berusia 8 minggu. Makan yang banyak ya, pedulikan nilai gizinya yang penting. Karena harus dobel ini."


Naga terlihat bingung, sebab yang ia lihat hanya hitam putih saja.


Lain halnya dengan Moza, ia terkejut ketika dokter menyebut kata mereka. Itu artinya ia tidak mengandung satu janin saja.


"Apa kembar?" Kata itu lolos saja dari bibir Moza. Membuat Naga yang semula bingung jadi heran dan heboh.


"Kembar?" Naga mengulang kata istrinya.


Dokter hanya mengangguk, ia pikir pasangan itu sudah pernah memeriksakan kehamilan sebelumnya. Mengingat sudah jalan dua bulan. Siapa yang mengira, bahwa pasangan pasutri itu tidak tahu bahwa mereka akan memiliki bayi kembar.


"Tapi, Dok. Dalam keluarga saya tidak ada gen kembar." Naga masih tidak percaya.


Dokter kemudian memberikan penjelasan, "Mungkin gen kembar dari ibunya?" tebak dokter Serena.


"Sayang, kamu punya gen kembar?"


Moza langsung masam, mana dia tahu? Siapa Ayah dan Ibunya saja Moza sampai sekarang tidak tahu.


Sadar pertanyaan yang ia ajukan pada Moza membuat istrinya masam, Naga langsung memeluk Moza. Tidak peduli ada dokter di sana. Ia langsung menghampiri Moza dan mencium kening dan pipi berkali-kali. Anggap saja permintaan maaf.


"Ehem ... ehem!"


Mendengar dokter Serena berdehem, Naga langsung kembali ke tempat duduknya lagi.


Di tempat lain.


Di sebuah Bandara, terminal kedatangan international. Seorang pria berusia tiga puluhan awal, berjala sambil berbicara pada ponselnya.


"Sewa detective yang kompeten, saya hatap kalian bisa diandalkan!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Setelah pangilan berakhir, pria dengan pakaian rapi itu pun memasukkan ponsel ke saku jasnya.


Ia melangkah dengan pasti, menuju sebuah limousine yang sudah menantinya di depan sana. Bersambung.


__ADS_2