
Istri Gelap #43 (18+)
Oleh Sept
Pulang dari rumah sakit, wajah Naga terlihat sumringah. Pria itu tidak menyangka akan mendapat kabar mengejutkan, yaitu Moza yang sedang hamil bayi kembar. Sedangkan Moza, ia nampak memikirkan sesuatu. Setelah bertahun-tahun tidak meributkan tentang jati dirinya. Kini ia mulai resah, rasa ingin tahu siapa ibu dan ayahnya tiba-tiba muncul begitu saja.
"Moza! Ada apa denganmu? Apa yang kamu pikirkan?" Naga melirik ke arah istrinya yang nampak melamun sedari tadi.
"Tidak ... tidak apa-apa." Moza mengelak, meski jelas-jelas ia sudah kepikiran dengan masa lalunya.
"Beneran?"
Moza mengangguk pelan. Akhirnya pria itu pun tak mengulik lebih dalam. Mungkin hormon ibu hamil membuat mood Moza tidak menentu, pikir Naga. Ia pun tak mempermasalahkannya lagi.
Sampai di rumah, hari sudah sore. Naga tak membiarkan Moza melakukan apapun. Ia benar-benar membuat Moza diam di tempat, tanpa melakukan apapun.
"Akan aku pekerjakan lagi, asisten di rumah ini, aku nggak ingin kamu terlalu lelah." Pria itu berniat menambah pegawai lagi di dalam rumahnya.
"Nggak usah, Bibi aja udah cukup." Mana mau Moza, ia rasa Bibi saja sudah cukup.
Naga mengeleng, sepertinya kata-katanya tidak boleh dibantah. Moza pun hanya bisa pasrah. Rupanya Naga lagi kumat protective-nya.
Esok harinya, Naga berangkat kerja seperti biasa. Sebelum berangkat, ia memberi ceramah panjang lebar pada Moza, tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Hampir semua terlarang untuk Moza. Wanita itu hanya mengiyakan saja, nanti kalau suaminya berangkat kerja, ia juga sudah pasti bebas.
Mungkin ini hasil dari tidak mengikuti anjuran sang suami. Pagi itu, setelah Naga berangkat ke kantor dan Sendy pergi ke sekolah. Moza pergi bersama Bibi ke sebuah supermarket.
Tidak nyaman diikuti pengawal, Moza meminta penjaganya itu menunggu di depan. Awalnya pengawal menolak keras, bahkan dua orang itu terlihat berdebat. Ketika Moza memperlihatkan raut kekesalan di wajahnya, akhirnya ia bisa bebas masuk bersama Bibi saja.
Sedangkan pengawal, hanya berdiri di depan pintu saja.
__ADS_1
Puas mengambil barang-barang kebutuhan untuk beberapa hari ke depan. Moza dan Bibi hendak ke kasir. Ketika Moza sedang sibuk mengeluarkan dompet dari tas miliknya, tiba-tiba sebuah tangan mendorong tubuh Moza.
Hal itu membuatnya terdorong dan menyentuh troli belanjaan yang berisi banyak barang. Moza lantas menatap siapa orang yang sudah mendorong tubuhnya.
Seorang wanita paruh baya yang tidak pernah Moza kenal sebelumnya.
"Nyonya ... Nyonya tidak apa-apa?" Bibi mencoba membantu Moza. Sedangkan Moza, matanya tidak lepas dari sepasang mata yang menyorot tajam ke arahnya.
"Siapa dia?" batin Moza.
Belum juga terjawab pertanyaan dalam hatinya, wanita itu kembali menyerang.
"Wanita gatal! Perebut suami orang, ambil pria itu ... kalian memang pasangan sampah!" maki wanita paruh baya tersebut.
Mendapatkan penghinaan di depan umum, dan semua mata tertuju padanya. Moza hanya bisa diam, menahan rasa malu karena semua melihatnya dengan tatapan jijik.
Situasi di dalam masih memanas, apalagi Nyonya Surya masih terus mengintimidasi Moza. Ia terus saja menyerang Moza dengan kata-kata kasar yang menusuk telinga dan hati.
"Puas kamu merusak rumah tangga anak saya? Dasar wanita murahan!" ucap Nyonya Surya dengan berkacak pinggang.
"Nyonya, ayo ke mobil dulu. Biar belanjaannya saya bereskan nanti!" Bibi mencoba membawa Moza untuk pergi dari sana, namun tangan Nyonya Surya malah menghalangi. Ia menarik lengan Moza hingga tas Moza terjatuh dan isinya tercacar di atas lantai.
"Ya Tuhan!" pekik Bibi. Ia langsung memunguti barang-barang milik Moza. Sedangkan Moza ia malah tertegun, mungkin dia shock dengan perlakuan ibu dari Sierra tersebut. Dari rentetan kemarahan wanita tersebut, Moza pun menduga. Wanita itu pasti mantan mertua suaminya.
"Kenapa diam saja? Malu kamu sekarang? Hem? Makanya ... pikir lagi kalau mau merusak rumah tangga orang!" maki Nyonya Surya sekali lagi. Wanita itu sengaja meninggikan suara agar semua orang memperhatikan aksinya. Ia sengaja membuat Moza malu di muka umum.
"Ini, Nyonya!" Bibi memberikan tas Moza yang semula terjatuh.
Tidak mau jadi bahan tontonan, Moza pun berbalik.
__ADS_1
"Hey! Mau lari ke mana kamu?" teriak Nyonya Surya ketika melihat Moza diam saja dan pergi meninggalkan dirinya. Kesal karena Moza tidak membalas ucapannya. Kini wanita itu menghadang langkah Moza.
"Kamu pikir saya akan biarkan kamu lepas begitu saja? Jangan harap!"
"Nyonya! Cukup!" Akhirnya Moza membuka suara.
"Cukup? Setelah berhasil membuat anak saya jadi janda, kamu pikir cukup?" Ibunda Sierra naik darah, apalagi dilihatnya Moza berani menatap ke arahnya.
Tersulut emosi, tangan Nyonya Surya reflect menarik rambut Moza. Belum puas sampai di situ, wanita tersebut menarik baju Moza sampai robek. Beruntung bagi Moza, seorang pria datang dan menarik paksa tubuh Nyonya Surya.
"Penjaga!" teriak pria tersebut. Wajahnya menahan kesal, bagaimana bisa orang-orang hanya menonton saja tanpa ada yang ingin memisahkan?
"Lepaskan! Kalian tidak tahu siapa saya? Lepaskan!" teriak Nyonya Surya yang merasa terhina karena tangannya dipegangi beberapa orang.
"Bawa dia ke kantor polisi!" ujar pria itu sembari melepas jas yang ia kenakan. Kemudian memakainkannya pada tubuh Moza.
"Tidak apa-apa ... tidak apa-apa!" ucap Moza, meski bibirnya mengatakan tidak apa-apa. Dari suaranya yang terdengar bergetar, pasti wanita itu shock dengan apa yang menimpanya barusan.
Selang beberapa saat, pengawal Moza baru datang. Tapi sudah terlambat, Nyonya Surya sudah diamankan. Sedangkan Moza, ia duduk dengan pria asing yang barusan menolongnya.
"Terima kasih!" ucap Moza pada pria asing itu. Kemudian bersiap untuk pergi.
"Tunggu!"
Moza pun menghentikan langkah kakinya, berbalik dan menatap pria asing tersebut. Mata keduanya saling menatap cukup lama.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Moza. Dan pria itu hanya tersenyum penuh arti. Bersambung.
Negara api habis menyerang, hehehe ... author-nya tepar berhari-hari. Maaf ya, lama upnya.
__ADS_1