Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Love You


__ADS_3

18+ Istri Gelap #42


Oleh Sept


PLAKKKK


Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi pria tampan tersebut. Sierra marah karena Mateo tiba-tiba mencium dirinya.


"Ra ... Sierra!" teriak Mateo yang melihat Sierra pergi meninggalkan dia di tepi jalan.


Setelah kejadian itu, esok harinya Sierra pulang ke Jakarta. Begitu juga dengan Mateo, setelah tahu bahwa janda Naga itu sudah balik, ia pun menyusul Sierra ke ibu kota.


Ketika Mateo dan Sierra dalam hubungan yang tidak jelas, ada sepasang hati yang sedang berbunga-bunga.


Kediaman Naga.


"Apa Sendy sudah tidur?"


Moza mengangguk, ia baru saja membacakan dongeng untuk pengantar tidur buat Sendy.


"Kemarilah!" Naga menepuk ranjang di sebelahnya. "Jangan terlalu lelah!" tambah Naga.


Ketika Moza sudah naik ranjang, Naga menarik tubuh istrinya itu. Ia membetulkan posisi duduknya, membiarkan Moza terbaring dalam pangkuannya. Dengan lembut tangannya membelai rambut Moza.


"Moza ... aku punya sesuatu untukmu!"


Moza pun menatap suaminya, "Kali ini barang mahal apalagi?" batin Moza. Namun, matanya malah berkaca-kaca. Tak kala Naga memperlihatkan dua buku nikah mereka. Ditambah sebuah cincin yang terlihat amat cantik.


Moza langsung bangkit, memeluk Naga dengan erat. "Terima kasih!" ucapnya lirih sembari mengusap sudut matanya yang basah.


"Love you!" bisik Naga. Makin meweklah si Moza, itu adalah kalimat cinta pertama yang diucapkan oleh Naga.


"Hey ... kenapa malah menangis?"


"Nggak papa!" Moza memalingkan wajah, tidak mau Naga menatap wajahnya.


"Lihat, hidungmu sudah seperti tomat."

__ADS_1


Moza menyusut hidung, Naga sudah membuatnya mengharu biru malam ini. Buku nikah, cincin dan kata cinta. Semua paket komplit itu membuat hati Moza terenyuh. Naga berhasil menyentuh hatinya yang paling dalam.


"Itu karena kata cinta itu!" Moza masih mengusap ingusnya.


"Kamu ini, kayak baru pertama saja mendengarnya," celetuk Naga.


"Memang baru pertama," terang Moza.


"Benarkah?"


Moza mengangguk pelan. Naga malah baru menyadarinya. Baginya tidak penting mengatakan aku mencintaimu setiap hari, karena selama ini perhatian yang ia berikan pada Moza cukup membuktikan bahwa ia mencintai wanita tersebut.


"Ke mari! Mana tanganmu?"


Tanpa ragu-ragu Moza mengulurkan tangannya. Dan pria itu pun memasangkan sebuah cincin di jari manis Moza.


"Kamu menyukainya, Moza?"


Moza kembali mengangguk. Gemas, karena istrinya hanya mengangguk saja sejak tadi. Naga pun langsung menarik Moza dalam pangkuannya. Memegangi perut Moza yang masih rata itu.


"Terima kasih juga, sudah menjaga kami selama ini," balas Moza sembari memegang tangan Naga yang ada di atas perutnya.


Terbawa suasana, tangan Naga malah mulai nakal. Bila semula ia hanya megang perut Moza, kini tangan itu mulai meraba ke mana-mana. Membuat Moza langsung bangkit, tapi Naga kembali menahannya.


"Mau ke mana? Aku bahkan belum memulainya!" ucap Naga dengan senyum jahil.


"Geli!" Moza menepis tangan suaminya.


Sudah tahu istrinya mengeluh geli, Naga makin menjadi-jadi. Ia malah dengan sengaja mengelitiki Moza, keduanya terkekeh di tengah malam. Naga baru berhenti saat tidak sengaja piyama Moza tersibak. Kini wajahnya nampak serius, menatap pemandangan yang mengusik itu.


Tidak mau membuang waktu, pria itu langsung melepas pakaiannya. Melempar ke sembarang tempat. Mungkin saatnya mengunjungi anak keduanya itu.


Pipi Moza sudah merah, terasa panas. Apalagi Naga sudah berdiri di atasnya. Dadanya yang bidang terekspose dengan jelas. Malu tapi mau, Moza menyentuh dada itu dengan perlahan.


"Kamu menyukainya?" Naga mulai menggoda, sembari berbisik dan memainkan daun telinga Moza.


Tidak ada jawaban, Naga hanya mendengar suara napas wanita itu. Terasa hangat ketika menerpa wajahnya.

__ADS_1


Bila semula ia bermain-main dengan telinga Moza, kini fokus Naga sudah berpindah. Ditatapnya bibir ranum istrinya tersebut. Tangannya mengusap lembut pada bibir tanpa lipstick itu. Membuat Moza mengigit bibir bawahnya.


Gemas, Naga langsung merampas saja bibir Moza. Ia mencium Moza cukup dalam. Menyesapnya dengan lembut, semakin lama sesapan makin kuat dan menuntut.


Tidak lupa, tangannya memainkan benda-benda yang tidak pantas disebut. Dua insan itu kini sedang menjelajahi satu sama lain. Memberikan rasa puas pada diri masing-masing.


Hingga Naga sudah tidak tahan lagi, ia pun langsung melepas celana pendek yang semula masih ia kenakan. Setelah itu masuk selimut bersama Moza. Pria itu sudah siap mengunjungi juniornya.


Pagi harinya, Naga mengerjap ketika cahaya matahari menerpa wajahnya. Diliriknya korden kamar sudah terbuka sebagian, lalu di mana Moza?


"Moza ...!"


Ingin mencari Moza, Naga pun turun dari ranjang. Ia keluar kamar mencari istri kesayangannya itu.


"Sayang!"


Begitu dilihat Moza sedang di dapur, ia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Minyak panas ini, jangan dekat-dekat!" Moza mencoba memperingati suaminya itu.


"Matiin aja kompornya!" celetuk Naga.


"Ayolah ... ini panas loh. Mending bangunin Sendy!" titah Moza.


"Belum bangun? Tumen sekali." Pria itu mengerutkan dahi. Biasanya Sendy bangun pagi-pagi.


"Hari minggu biasanya juga gitu."


"Nah ... minggu, kan? Udah tinggalin itu, kita nanti makan di luar ya."


Naga langsung mematikan kompor, tidak peduli pada Moza yang melirik aneh padanya.


Ia langsung menarik lembut tangan Moza, membawanya masuk lagi ke dalam kamar.


"Mumpung Sendy masih tidur!" ucap Naga penuh arti.


"Hah?" Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2