Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Together


__ADS_3

Istri Gelap #58 (18+)


Oleh Sept


"Oma nggak jahat, mengapa Sendy takut?"


Putrinya hanya menggeleng, tetap tidak mau pulang bersama dengannya. Hal itu membuat Naga sakit kepala. Mengapa akhir-akhir ini hidupnya jadi rumit?


"Moza ... apa yang sudah kamu katakan pada Sendy?" Naga malah menuduh istrinya. Ia menduga jangan-jangan Moza sudah mencuci otak putri mereka agar membenci omanya.


"Aku? Aku lagi?" Moza sampai pada titik di mana ia benar-benar kecewa pada suaminya sendiri. Mengapa Naga berubah? Wanita itu sangat kecewa.


Prok prok prok


Terdengar Rendra malah bertepuk tangan, ia manatap sinis pada iparnya.


"Bagus ... bagus! Sepertinya kamu harus pulang dulu, dinginkan kepalamu yang panas itu." sindir Rendra.


"Tolong jangan ikut campur!" potong Naga. Tentunya dengan tatapan tajam. "Moza, ayo pulang!" sambung pria tersebut.


"Tidak!" Moza enggan pulang bersama suaminya. Percuma, bikin sakit hati saja.


"Moza!" pekik Naga. Papanya Sendy itu terlihat gusar.


"Kami akan di sini." Ucap Moza mantap.


"Ini bukan rumahmu!" teriak Naga yang mulai emosional.


"Ini rumah Moza juga!" sela Rendra.


"Bisa tidak! Jangan ikut campur!" sungut Naga, hawa panas kembali tercium di antara mereka.


"Percuma memiliki orang tua, sepertinya mereka tidak mengajarimu sopan santun dalam berbicara!" celetuk Rendra.


Makin kembang kempis hidung Naga, menahan emosi.


"Moza! Pulang atau tidak?" tanya Naga sekali lagi.


"Biarkan dia di sini." Yang menjawab malah Rendra. Karena Moza malah diam.


"Aku sedang bicara dengan Moza!" sentak Naga yang marah karena Rendra menyela kata-katanya.


"Biarkan kami di sini." Moza sudah mengambil keputusan. Ia ingin menjauh dari Naga dan mertuannya. Karena lama-lama ia jadi nelangsa.


Naga pun langsung kecewa, ketika Moza memutuskan tidak mau pulang. Apalagi ponselnya terus saja berdering, ada telpon masuk dari rumah sakit.


Naga pun mengangkat telpon sejenak. Kata suster, Mama Ratih terus menanyakan keberadaan putranya. Dengan berat hati, akhirnya Naga memutuskan untuk pergi, tentunya dengan perasaan kecewa yang berat.


"Moza ...!" panggil Naga sekali lagi.


"Pergilah, kami akan di sini."


Dengan berat hati, Naga meninggalkan kediaman Rendra. Ia sampai belum mandi, langsung bergegas menuju rumah sakit.


***


Di sebuah rumah sakit. Mama Ratih nampak gusar, sejak tadi ia memarahi seluruh perawat. Membanting nampan yang diberikan oleh perawat.


Mendengar keributan dari dalam kamar mamanya, Naga langsung berlari. "Ada apa ini?"


"Naga! Mama mau pulang, sekarang."


"Tapi, Ma!"

__ADS_1


"Mama mau pulang."


Karena Mama Ratih bersikeras minta pulang, akhirnya mereka pun pulang hati itu juga. Begitu sampai di rumah, Mama Ratih menanyakan para penghuni rumah.


"Mana Sendy?"


Naga malah diam saja.


"Mana Sendy, Ga?"


"Mereka ada di rumah kakak Moza."


"Dia punya saudara? Setahu Mama, bukannya dia tidak jelas asal usulnya?" terang Mama tanpa basa-basi.


Naga menghela napas dalam-dalam, malas rasanya membahas mengenai saudara kembar Moza itu.


"Dia memiliki saudara kembar, Ma."


"Apa? Jangan bercanda kamu. Mama sudah menyelidik mengenai Moza. Dan dia hanya wanita sampah!"


"MAMA!" pekik Naga, ia tak menyangka mamanya begitu tega menjelekan istrinya.


Naga benar-benar kecewa berat.


"Kenapa? Kamu pikir Mama tidak tahu masa lalu wanita murahan itu? Sekali sampah tetap sampah!"


"Cukup! Hentikan, Ma."


"Cih ... kenapa? Kamu malu Mama tahu seluk beluk istrimu itu? Mama kecewa sama kamu Ga! Melepas Sierra hanya demi wanita murahan!"


Bruakkk


Naga menendang kursi kayu dari jati yang ada di depannya. Ia sangat marah karena mendengar Moza dijelek-jelekan.


Naga mendesis kesal, kemudian memilih meninggalkan rumah.


"Mau ke mana? Naga! Ga ...!" teriak Mama Ratih.


Prustasi karena Naga tak mengubris teriakannya. Mama langsung teriak-teriak histeris. Hingga assistan rumah tangga mendekat, namun terlihat ketakutan.


"Sana kamu! Jangan dekat-dekat!" teriaknya ketika Bibi mendekat. Karena takut, Bibi langsung masuk ke dalam lagi.


Di tengah jalan, Naga mengendara dengan kecepatan penuh. Pria itu sedang banyak pikiran. Masalah perusahaan, masalah Papa, masalah Moza, masalah Mama, semuanya membuat sakit kepala.


Bruakkk


"Auh!" pekik Naga yang tidak sengaja menabrak pembatas jalan. Bagian depan mobilnya ringsek. Kepalanya terbentur setir di depannya. Membuat darah mengucur deras.


Naga masih sadar, dan mencoba mengemudikan mobilnya kembali. Untung saja mobil itu masih bisa menyala. Ia baru berhenti saat sampai di depan rumah Rendra.


Satu jam kemudian.


"Tuan ... Tuan!" penjaga rumah Rendra mengetuk mobil yang parkir pebih dari setengah jam itu.


Melihat ada yang tidak beres, penjaga rumah pun melapor pada Tuan rumahnya.


Rendra yang kala itu sedang berbicara dengan Moza, saat penjaga bilang ada orang yang pingsan di dalam mobil tepat di depan rumah mereka. Semua orang pun langsung keluar.


Moza sudah merasakan firasat yang buruk saat dilihatnya mobil Naga yang ringsek di bagian depannya.


Apalagi saat ia mengintip jendela mobil suaminya, mendadak tubuh Moza jadi lemas dan pingsan. Untung saja Rendra langsung menangkap tubuh adiknya.


Sembari membopong tubuh Moza, Rendra meminta penjaga untuk membuka paksa mobil Naga.

__ADS_1


"Buka pintu mobilnya, pakai cara apapun."


"Baik, Tuan!"


Rendra bergegas masuk ke dalam rumah, ia langsung menelpon dokter.


Tidak butuh waktu lama, penjaga berhasil membuka pintu mobil Naga. Mereka pun membawa masuk Naga yang sudah pingsan.


"Kalian benar-benar!" gerutu Rendra menatap adik dan iparnya.


Sedangkan Sendy, ia terlihat sedih dalam gendongan Rendra.


"Mama sama Papa kenapa?" tanya gadis itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nggak apa-apa, tuh ... lagi diperiksa sama Pak Dokter."


"Baju Papa kenapa banyak darahnya?"


"Itu ...!" Rendra bingung mau mencari jawaban yang pas.


Ketika ia sedang kebingungan, beruntung Moza sudah siuman. Moza yang kala itu cemas pada kondisi Naga. Langsung mendekati suaminya.


"Apa yang terjadi, Mas? Apa yang terjadi sama suami saya, Dok?" Moza menatap dokter dan kakaknya bergantian.


"Sepertinya dia mengalami kecelakaan saat ke sini. Kamu tenang saja, dokter sudah mengobati lukanya. Hanya luka kecil." terang Rendra.


"Tapi kenapa bajunya banyak darah?" Moza menatap kerah baju Naga yang penuh noda merah.


"Tidak apa-apa Bu, karena lukanya tidak terlalu dalam." Jelas dokter. Karena dirasa sudah beres, pria berjas putih itu pun pamit.


Rendra ikut keluar mengantar dokter, masih sambil mengendong Sendy.


Sedangkan di dalam kamar, kini hanya ada Moza dan Naga.


Samar-samar dari luar terdengar suara isak tangis Moza, ia mengusap pipinya yang basah. Melihat Naga celaka, membuatnya cemas.


Sedangkan Rendra, ia memilih di luar. Membiarkan Moza menghabiskan waktu bersama dengan suaminya.


Di dalam kamar, perlahan Naga mengerjap, kemudian membuka mata. Dilihatnya Moza yang menangis sembari memeluk tubuhnya.


Tangan Naga pun terangkat sebelah, membelai rambut Moza yang ada di atas tubuhnya.


Sedangkan Moza, ketika merasakan sentuhan tangan itu, ia langsung mengangkat wajah. Keduanya saling menatap.


"Kenapa tidak hati-hati?" isak Moza.


Naga hanya mengerjap, kemudian menyentuh pipi istrinya. Lalu ganti memegang perut Moza.


"Maafkan aku!" ucap Naga dengan lirih.


Moza mengeleng, kemudian memeluk Naga yang masih terbaring.


"Jangan menangis, maafkan aku Moza."


Moza malah semakin terisak, hamil membuatnya jadi gampang merasa mellow. Gampang baper dan cengeng.


Naga lantas membetulkan posisi duduknya, kini ia sudah setengah berbaring. Disentuhnya wajah Moza, mengusap pipi yang sudah basah itu.


"Aku yang salah ... jangan menangis lagi."


Moza masih tidak bisa menghentikan tangisnya.


Tidak tahan lagi, karena Moza masih saja terisak. Naga pun meraih dagu Moza. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya sendiri. Menghilanglah jarak antara mereka berdua. Detik berikutnya, kedua bibir sudah saling bertautan. Melebur menjadi satu. Naga yang akhir-akhir ini diliputi banyak masalah, melepas semua beban itu. Ia menyesap bibir ranum itu semakin dalam. Ada gejolak kecil yang mulai berkobar.

__ADS_1


Sepertinya ia butuh kamar itu untuk mereka berdua. Hanya berdua. Bersambung.


__ADS_2