
18+ Istri Gelap #38
Oleh Sept
Siang yang panas jadi tambah semakin panas, dinginnya AC kamar tidak mampu meredam panas dari jiwa-jiwa yang sedang berkobar, membara dan bergejolak.
Mungkin benar kata orang, ketika terlalu banyak beban masalah. Carilah hiburan di ranjang, lepaskan semua beban di pundak. Rasakan sensasinya, masalah pun pasti hilang seketika, namun hanya sesaat.
Di atas tempat tidur, terlihat sepasang kaki menyembul dari balik selimut. Lalu di mana sepasang kaki yang lain?
Moza meringkuk, bila semula ia dibuat kepanasan oleh suaminya. Wanita itu kini merasa kedinginan. Itu semua karena Naga sudah melempar pakaian yang ia kenakan.
Hanya kain selimut yang kini jadi penutup tubuhnya.
"Sendy pulang jam berapa?" tanya Naga yang menatap jam berbentuk diamond di dinding kamar.
Moza langsung menyibak selimut, matanya terbuka lebar melihat jarum jam.
"Biasanya sebentar lagi!"
Kontan Moza turun dari ranjang, apalagi terdengar suara mobil di depan halaman.
"Cepat pakai ini!" titah Moza ketika meraih celana Naga di atas kursi.
Dua insan itu terlihat buru-buru memakai baju.
"Moza, rokmu terbalik!
Moza menatap rok warna lemon selutut yang ia kenakan. Tanpa melepas, wanita itu memutar rok begitu saja.
Naga tersenyum, melihat aksi panik mereka. Mengapa seperti takut ketahuan telah berselingkuh?
"Nyonya ... ada tamu!"
Asisten rumah tangga Moza mengetuk pintu rumah.
Moza dan Naga saling menatap. Tamu? Dua orang itu terlihat berpikir keras, mereka pikir deru mobil yang mereka dengar adalah suara mobil jemputan Sendy. Ternyata malah tamu.
"Moza jangan keluar dulu! Biar aku lihat siapa itu."
Naga khawatir jangan-jangan musuh lagi yang datang. Dengan penasaran ia pun menemui tamu dadakan tersebut.
__ADS_1
"Mama!" pekik Naga pelan. Dari mana mamanya tahu ia tinggal di sini? batin Naga.
"Mama tidak bisa tenang, Mama penasaran mana istri dan anakmu. Jangan-jangan itu bukan anakmu! Jangan-jangan dia juga hanya memperalatmu saja!" terang Mama sambil meletakkan tas kulit buaya yang semula ia pangku.
"Mama membuntuti Naga?" tidak peduli pada rentetan dugaan sang Mama. Naga penasaran, kok bisa Mama Ratih tahu di mana ia tinggal sekarang.
Mama diam saja, mungkin tuduhan Naga benar.
"Itu tidak penting! Mana istri dan anakmu yang kamu sembunyikan?"
"Ma ... tolong hargai keputusan Naga, Naga sudah tua untuk diatur-atur seperti anak kecil. Tolong jangan mengusik ketenangan keluarga kecil Naga sekarang."
"Mengusik! Durhaka kamu sama Mama!" sentak Mama Ratih.
Saat dua orang itu terus berseteru, suara mobil kembali terdengar. Melihat ada mobil di halaman, Sendy pikir itu adalah mobil papanya. Meski beda warna dan modelnya, Sendy tidak tahu. Gadis kecil itu begitu keluar dari mobil, kakinya langsung berlari kencang masuk rumah sambil meneriakkan kata Papa.
"PAPA!"
Sendy mengelayut manja pada Naga, melingkar lengan saat papanya mengendong dirinya.
"Bagaimana sekolahmu, sayang?"
"Seru, Pa!" celoteh anak kecil tersebut.
"Sendy, beri salam sama Oma!"
Deg
Hati Mama Ratih makin menciut, apalagi anak kecil itu langsung turun dan meraih tangan Mama Ratih, kemudian menciumnya.
Lidah Mama terasa keluh, mau marah pada Naga tapi ia masih terpana pada mahluk kecil yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Sendy masuk dulu, ganti baju sama Mama!" titah Naga.
Mama Ratih kini dirundung kebingungan, bagaimana ini? Hatinya ingin membela Sierra. Tapi melihat anak kecil itu, saat ini wanita itu pun tambah resah. Bingung pilih yang mana.
"Kenapa sudah besar sekali?" tanya Mama Ratih dengan lemas. Ia kembali duduk dan terlihat tidak berdaya.
"Hem!"
"Di mana selama ini kamu menyembunyikan mereka?"
__ADS_1
"Naga baru menemukan mereka, Ma." Naga berterus terang pada mamanya. Tidak ada lagi yang ingin ia tutupi, berharap sang Mama ada di pihaknya.
"Lalu bagaimana dengan nasib Sierra? Ya Tuhan ... mengapa hidupmu rumit sekali Naga! Malang sekali nasib Sierra."
Naga tidak bisa menjawab pertanyaan Mama Ratih. Bagaimana lagi? Cinta tidak bisa memilih pada siapa ia melabuhkan hati.
"Mama ingin tahu, mana istrimu itu!"
"Sebentar!"
Naga pun masuk ke dalam, memanggil Moza. Ia ingin mengenalkan istri keduanya itu pada mamanya.
Saat ada di dalam kamar, terlihat wajah Moza yang tegang.
"Kata Sendy ada Oma di depan, apa ibumu ada di sini?"
"Jangan cemas, selama ada aku. Tidak ada yang bisa melukaimu."
"Tapi!"
Naga meraih tangan Moza, ia tersenyum ketika merasakan dinginnya tangan Moza.
"Jangan grogi! Mama wanita biasa, meski kadang mulutnya pedas. Tapi hatinya baik, tanya Sendy. Iya ... kan Sen?"
Sendy yang tidak tahu papanya bicara apa, gadis itu hanya tersenyum. Memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Moza pun menghela napas panjang, kemudian menyiapkan hati.
Mereka bertiga pun keluar dari kamar, berjalan menuju ruang tamu.
"Ma, ini Moza ... Moza, kenalkan ini Mama!"
Mama Ratih memindai Moza dari ujung rambut sampai kaki. Seolah sedang menilai istri kedua putranya itu.
Sedangkan Moza, wanita tersebut lebih banyak menundukkan wajah.
Suasana nampak kaku, Mama sepertinya sudah suka dengan Sendy, terlihat dari sorot matanya yang teduh tak kala melirik cucu pertamanya itu. Akan tetapi tidak dengan ibunya Sendy.
Dari sorot mata itu, terlihat rasa tidak suka yang terpancar jelas. Apalagi saat Moza mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dengan terang-terangan Mama Ratih melengos.
Ia butuh menyelidiki asal usul Moza, baru ia terima. Tidak mau membeli kucing dalam karung. Mama harus memeriksa dulu, wanita yang akan menyanding putranya. Keluarga mereka bukan keluarga sembarangan, keluarga konglomerat yang sering disorot media. Mana mau Mama Ratih punya menantu yang tidak jelas asal usulnya. Nehi! Bersambung.
__ADS_1
Instagram : Sept_September2020
Percaya atau tidak, di luar sana masih banyak orang kaya yang memandang orang miskin dengan sebelah mata. Barangkali ada tetanggamu yang seperti itu. Atau jangan-jangan kamu salah satunya.