
Istri Gelap #59 (18+)
Oleh Sept
Ada sebuah rasa lega yang menyusup, ketika Naga berhasil mengapai hati Moza kembali. Jiwa yang resah akhir-akhir ini, kembali tenang ketika menemukan kembali pelabuhannya.
Naga dan Moza, dua manusia yang jatuh pada takdir yang tidak pernah mereka kira sebelumnya.
"Nanti ketahuan Mas Rendra!" ucap Moza dengan lirih.
"Kunci pintunya."
"Ish ... di rumah saja," tolak Moza. Ia malu kalau sampai ketahuan sama Rendra, saudara kembarnya.
"Jadi kamu mau pulang sekarang?"
"Hem!"
Naga pun menarik diri sejenak, ia terlihat berpikir. Mamanya sangat membenci Moza, tidak mungkin rasanya menyatukan istri dan mamanya dalam atap yang sama.
"Mama sudah pulang ke rumah," ucap Naga kemudi.
"Cepat sekali?"
"Dia memaksa pulang."
"Apa tadi ribut sama Mama? Hingga mengemudi sampai ceroboh begitu?"
Naga lantas memegang dahinya. "Ah ... ini bukan karena Mama. Ini karena kamu."
"Aku?"
"Aku nggak bisa berpikir jernih kalau jauh-jauh darimu, Moza."
Wanita itu langsung melengos, membuang muka sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa aku jauh dari kalian?" Disentuhnya perut Moza.
Merasa tersentuh, Moza melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya itu. Memeluknya dengan lembut. Mengelayut manja pada sosok pria yang membuat hatinya merasa nyaman.
"Jangan dekat-dekat seperti ini, Moza!" Selalu ada sinyal yang kuat bila mereka melakukan sentuhan fisik. Sengaja atau tidak.
"Ish ... ish!" Moza langsung melepas pelukannya. Ia tahu betul, ada yang sedang traveling di balik sana.
"Apa kita pulang sekarang?"
Ajakan itu hanya dijawab Moza dengan senyuman kecil. Membuat Naga gemas, dan langsung mencium saja bibir yang meliuk-liuk tersebut.
"Nanti mereka masuk!" Moza langsung mendorong wajah Naga, takut ada yang melihat. Pasalnya mereka kini tidak di rumah sendiri. Kalau sampai Rendra tahu, mau ditaruh mana muka mereka?
"Nggak apa-apa, sudah halal ... sama istri sendiri. Siapa yang bakalan protes?"
"Kenapa jadi nggak sabaran banget?"
"Hehehe ... kalau hamil gini bawaannya ingin dekat-dekat terus, Moza."
Giliran hidung Moza yang jadi kembang-kempis.
"Moza!"
__ADS_1
Tok tok tok
Dua orang itu langsung menoleh ke arah pintu.
"Iya, Mas. Masuk! Nggak dikunci."
Dari balik pintu Rendra muncul sambil mengendong Sendy.
"Mama!"
Anak kecil itu langsung naik ke atas ranjang.
"Sini sayang!" Naga merentangkan tangan.
Karena Naga sedang cidera, untuk saat ini Rendra tidak mendebat lagi iparnya itu. Lagian kasihan juga, Rendra juga bisa menilai dengan sekilas. Kalau Naga memang benar-benar menyukai adiknya.
Apalagi cara Naga bersikap pada Sendy. Orang lain pun dapat menilai, bahwa perlakuan Naga pada anak kecil itu sangatlah tulus.
"Mas, kami akan pulang."
"Sekarang?"
Moza mengangguk pada Rendra.
"Biarkan sopir yang mengantar kalian, lagian mobil Naga sepertinya rusak."
Mau mengucapkan terima kasih, tapi gengsi. Akhirnya Naga hanya diam.
Beberapa saat kemudian, Naga dan keluarga kecilnya sudah naik mobil milik Rendra.
"Antarkan mereka, Pak!" titah Rendra pada sopir pribadinya.
Dari dalam mobil, Moza dan Sendy melambaikan tangan.
Kediaman Naga. Jarak rumah yang sangat dekat, membuat mereka cepat sekali tiba di rumah Sinaga. Dan kedatangan mereka disambut oleh kekacauan yang dibuat Mama Ratih.
Ruang tamu terlihat sangat berantakan, banyak benda yang berserakan. Ditambah lagi vas bunga dan guci di sudut ruangan yang pada pecah semuanya.
"Bibi ....!" teriak Naga yang shock rumahnya bagai kapal pecah.
Dari dalam rumah Bibi muncul, dengan takut ia menghampiri Naga serta Moza yang menatap nanar pada kondisi rumah mereka.
"Apa yang terjadi?"
"Maaf Tuan, belum saya rapikan semuanya. Sebab saya masih membereskan kamar."
"Di mana Mama?"
Bibi menelan ludah sebelum bercerita.
"Itu Tuan ... tadi Tuan besar datang. Dan terdengar Nyonya berteriak-teriak. Nyonya dan Tuan bertengar hebat. Saya tidak tahu apa-apa, karena hanya mendengarkan dari dalam."
"Lalu ke mana mereka?"
"Waktu saya intip, Tuan pergi dan Nyonya ikut masuk ke dalam mobil Tuan besar."
Naga memejamkan mata dalam-dalam, dua orang tuanya itu sedang apa lagi sekarang? Mengapa di masa tua, mereka tidak bisa hidup dengan tenang? batin Naga.
Pria itu pun meraih ponsel, mencoba menghubungi nomor Mama Ratih. Tapi tidak tersambung. Ia akhirnya mencoba menelpon sang Papa.
__ADS_1
"Pa ... Mama mana?"
Tuan Taka langsung memberikan ponselnya pada Mama Ratih yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu cari-cari Mama? Bukankah kamu sudah tidak peduli sama Mama?" sindir Mama Ratih.
"Mama di mana?" tidak peduli pada sindiran dari mamanya. Naga hanya ingin memastikan bahwa wanita tersebut baik-baik saja.
"Mama nggak sudi tinggal di rumah itu, sudah! Jangan cari Mama!"
"Ma!"
Ponsel kini kembali ke tangan Tuan Taka.
"Ga! Ini Papa!"
"Pa, apa yang terjadi?"
"Ceritanya panjang, rumah hari ini sudah disita. Mamamu seperti orang kesetanan!" Tuan Taka melirik istrinya sejenak, dan suaranya sedikit pelan saat bicara pada Naga.
"Lalu sekarang kalian di mana?"
"Kami di hotel!"
"Kenapa di hotel?"
"Papa sepertinya akan terbang ke Ambon. Dan menetap di sana."
"Hah? Mama pasti tidak suka, lagian kenapa ke sana?"
"Citra sudah menipu Papa habis-habisan, tapi ada aset Papa yang tersisa di sana. Ada saham Papa yang belum diusiknya."
Naga mendesis kesal, kenapa banyak sekali wanita yang mengerogoti harta papanya?
"Pa, bukannya tambang itu sudah berhenti prosuksi lama. Dan setahu Naga, itu sudah diambil alih oleh pemerintah beberapa tahun silam?"
Tuan Taka terdiam sejenak, bangkai kalau disembunyikan lama-lama baunya pasti tercium juga.
Ternyata Tuan Taka main-main di belakang putranya. Pengelapan dana perusahaan masih ia lakukan sampai saat ini.
"Itu ...!"
"Papa korupsi lagi?" tuduh Naga karena papanya tak kunjung memberi kejelasan.
"Sudah ... sudah! Ada yang harus Papa urus." Tidak mau terciduk oleh putranya. Tuan Taka memilih kabur dan mematikan ponsel.
Di samping Tuan Taka, Mama Ratih yang mendengar. Lebih tempatnya menguping, merasa sangat prustasi.
"Ikut Naga atau ikut Papa?" tanya Tuan Taka yang melihat ketidakpuasan di wajah istrinya.
"Papa mau, Mama ikut anak durhaka itu?"
"Sudahlah, mengapa meributkan perkara yang sudah-sudah."
"Mana bisa begitu? Mama nggak rela, sampai matipun Mama tidak mau menerima menantu seperti itu!" ucap Mama Ratih dengan berapi-api. Tuan Taka sampai tidak bisa berkata-kata.
Pada akhirnya, Tuan Taka tetap pergi ke pulau paling timur Indonesia tersebut. Di sana Tuan Taka membawa istrinya. Lebih tempatnya Mama Ratih ikut dengan terpaksa karena sedang bersitegang dengan Naga.
***
__ADS_1
Di belahan bumi yang lain, Australia. Seorang wanita nampak termenung, menatap laut lepas yang terbentang di depannya di atas sebuah kapal pesiar. Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang wanita cantik tersebut. Bersambung.