Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Fitnah


__ADS_3

Istri Gelap #55 (18+)


Oleh Sept


Malam yang tenang menjadi gaduh, Mama Ratih mulai mengusik rumah tangga putranya yang semula damai.


"Kenapa dengan Mama?" sentak Naga pada Bibi. Ia gemas karena Bibi malah tergagap, tidak bicara langsung apa yang sudah terjadi.


Sedangkan Moza, wanita itu buru-buru membetulkan pakaian dan langsung bergegas memeriksa Mama mertuannya.


Mereka semua terlihat panik ketika mendapati Mama Ratih tergeletak di atas lantai dengan mulut yang sudah berbusa.


"Ma!" teriak Naga sembari menghambur ke lantai. Ia langsung membopong tubuh sang Mama.


"Cepat, ambil kunci mobil!" perintah Naga pada Moza.


Dengan panik Moza masuk ke kamarnya, mencari kunci mobil sang suami. Begitu dapat, ia langsung bergegas turun.


Sedangkan Sendy, ia tidak tahu apa-apa. Karena sejak tadi menonton TV bersama Bibi.


"Sendy di rumah saja ya?" bujuk Moza.


Anak kecil itu mengeleng keras, bersikukuh ingin ikut naik mobil.


"Biarkan saja dia ikut, ayo Moza ... Masuk!" ujar Naga yang sudah panik.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil, Naga mengemudikan mobilnya sendiri. Ia ngebut menuju rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Mama Ratih langsung dibawa ke UGD.


Naga mondar-mandir, ponselnya bunyi terus tapi ia abaikan.


Sementara Moza, ia juga terlihat cemas dan panik. Apalagi Sendy terus bertanya. Ada apa dengan omanya.


Hingga seorang dokter muncul, barulah Naga berhenti bagai setrikaan.


"Bagaimana dengan Mama saya, Dok?"


Dokter tersebut langsung bicara apa adanya. "Pasien mengalami keracunan makanan."


"Keracunan?" Naga mengulang kata-kata dokter. Mengapa mamanya bisa keracunan?


Pria itu langsung menatap Moza.


Melihat tatapan Naga, Moza langsung lemas. Ia merasa menjadi tersangka utama. Sebab yang memberikan makan pada Mama Ratih adalah dirinya.


"Pasien sedang istirahat, beliau masih pingsan karena obat. Tapi tidak perlu khawatir, kami sudah mengeluarkan semua makanan yang sempat pasien telan. Untung saja hanya sedikit." tambah dokter.


Setelah dokter menjelaskan panjang lebar, Naga pun masuk ke dalam kamar rawat inap Mama Ratih.


Sedangkan Moza, ia hanya duduk di depan. Sikap Naga yang terasa dingin, membuat Moza merasa tidak enak. Beda dengan Sendy, putrinya itu langsung masuk bersama papanya.


Saat sedang duduk menunggu dengan perasaan campur aduk, tiba-tiba ponselnya berdering.


Moza menatap benda pipih di tangannya, siapa malam-malam telpon. Apalagi nomornya adalah nomor asing.


Karena berdering berkali-kali, Moza pun mengangkat panggilan yang masuk.


"Hallo?"

__ADS_1


"Moza," suara Rendra terdengar di telinga Moza. Membuat Moza yang waktu itu sedang kalut gara-gara perkara mertuannya, menjawab panggilan Rendra dengan suara serak.


"Iya."


"Ada apa dengan suaramu? Kau menangis?" tebak Rendra.


Moza langsung mengusap pipinya. "Tidak ...!" jawab Moza buru-buru namun nada suaranya terdengar bergetar.


Rendra terlihat marah, ia mendesis kesal. Kali ini apa yang sudah diperbuat pria temperamen itu? batin Rendra.


"Kamu di mana?"


Saat akan menjawab, mendadak Naga muncul di depannya. Moza pun buru-buru mengakhiri sambungan telponnya.


"Maaf, aku sedang sibuk."


Klek


Moza langsung mematikan ponselnya. Dilihatnya Naga menatap dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa dimatikan?"


Moza mengeleng.


"Siapa yang telpon?"


Moza menelan ludah, bila ia jujur apakah Naga akan marah?


"Siapa?" tanya Naga lagi karena istrinya malah membisu.


"Mas Rendra!"


"Kalian sering berkomunikasi?"


Moza kembali mengeleng.


"Hemm, katakan padanya. Malam ini Kita tidak bisa menemuinya."


Moza mengangguk.


Setelah mengatakan itu, Naga kembali masuk ke dalam kamar rawat inap Mama Ratih.


Hingga satu jam lebih, pria itu baru keluar. Sendy sudah tertidur di atas sofa. Naga ingin melihat istrinya sedang apa. Dilihatnya Moza malah sedang tertidur sambil duduk. Pria itu mengamati wajah Moza dengan seksama.


"Tidak mungkin bila Moza sengaja meracuni Mama!" batin Naga.


Tapi kenyataannya, mamanya kini terbaring dengan lemah. Rasanya tidak mungkin mamanya memakan racun sendiri. Mamanya tidak mungkin segila itu.


Bingung harus percaya pada siapa, Naga pun hanya menatap Moza dalam-dalam. Kemudian, ketika kepala Moza hampir jatuh. Naga buru-buru duduk di samping istrinya itu. Menahan kepala Moza agar tidak sampai jatuh.


"Moza ... kamu tidak melakukannya, kan?" suara hati Naga.


Pertanyaan dari hati itu hanya dijawab dengkuran halus dari Moza. Wanita itu tidur dengan lelap.


Moza terbangun ketika tengah malam, tubuhnya terasa mengigil karena tidur di luar ruangan.


"Sudah bangun?" ucap Naga yang menyadari Moza sudah terbangun. Pria itu terjaga semalaman.


"Ah ... aku ketiduran."

__ADS_1


"Aku suruh sopir jemput ya? Biar tidur di rumah."


Moza menggeleng.


"Tidak, aku mau di sini."


"Nanti kamu sakit."


"Nggak, nggak apa-apa."


"Mama sudah sakit, aku nggak mau kamu juga sakit Moza."


Moza malah menundukkan wajah, ia merasa bersalah. Tapi bukan dia yang menyebabkan mertuannya jatuh sakit.


"Bukan aku ...!" Akhirnya Moza membela diri.


"Hem!"


"Aku nggak mungkin bikin Mama kenapa-kenapa." Masih dengan wajah tertunduk.


"Siapa yang bilang?"


"Sikapmu!" jawab Moza, sembari menyusut hidung. Matanya sudah basah.


"Aku terkejut Moza, bagaimana bisa Mama keracunan di rumah kita?"


Kata-kata Naga seolah menyudutkan Moza, wanita itu memejamkan mata. Kemudian bangkit, sepertinya Naga menuduh dirinya. Ditambah hormon hamil yang membuatnya tambah sensitive. Moza pun memilih pergi.


"Mau ke mana?"


Naga memegang tangan Moza.


"Aku ingin sendiri. Lepaskan!"


"Kamu marah Moza?"


Moza kembali mengeleng. Ia tidak marah, tapi sangat kecewa. Tapi tidak bisa mengatakan kekecewaannya itu.


"Aku ingin sendiri, tolong ... lepaskan!"


"Mana bisa aku melepasmu?"


"Bukan aku, tidak mungkin aku meracuni Mama? Meski aku tahu Mama benci padaku."


"Siapa yang bilang kamu meracuni Mama?"


"Tatapanmu ...!"


Kali ini Naga menelan ludah dengan berat, Moza benar. Hatinya memang sempat curiga, tapi itu hanya sesaat. Karena kini ia sadar, Moza tidak mungkin melakukan hal sadis itu.


Tapi terlambat, Moza terlanjur terluka. Sikap Naga membuat wanita itu sangat kecewa.


"Moza!"


Mendengar namanya dipanggil, Moza langsung berbalik. Ia menatap sosok pria yang berjalan ke arahnya.


Karena sedang kecewa pada suaminya, Moza langsung menepis tangan Naga yang semula memegangi dirinya.


Moza berjalan mendekati sosok pria yang sempat memanggil namanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


Moza tidak menjawab pertanyaan pria di depannya. Ia malah memeluk sosok itu. Membuat Naga makin terbakar. Bersambung.


__ADS_2