Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
TAMAT


__ADS_3

Istri Gelap Presdir #63 (18+)


Oleh Sept


Sinar matahari terasa hangat menyentuh permukaan kulit Moza, matanya mengerjap. Kemudian sebuah bayangan menghalangi bias cahaya tersebut, mengusir silau yang semula menerpa wajahnya.


Moza menatap punggung Naga, suaminya itu sedang duduk di tepi ranjang. Diamatinya bagian tubuh yang bidang itu, kemudian menyentuhnya dengan lembut.


"Sudah bangun?" Naga berbalik, kemudian mengecup kening Moza dengan hangat.


Ketika akan bangkit dari ranjang, Naga menghalangi Moza.


"Kamu sepertinya lelah sekali, tidur lagi saja."


Moza menggeleng, "Nggak, sudah nggak ngantuk lagi."


"Mau mandi? Biar aku siapin air hangat."


Kali ini Moza mengangguk.


***


Di sebuah kamar mandi yang luas, Naga sedang menyiapkan air hangat untuk Moza. Ia sudah memenuhi bathtub dengan air yang suhunya ia rasa cukup hangat, tidak terlalu panas atau pun terlalu dingin.


"Sayang, airnya sudah siap!" teriak Naga dari dalam kamar mandi.


Dari luar kamar mandi, Naga bisa mendengar derap langkah Moza yang semakin mendekat.


"Terima kasih!" ucap Moza sembari melepas pakaian satu persatu. Ia tidak melihat, Naga masih berdiri di ambang pintu.


Ketika Moza akan mengantung pakaian, barulah ia sadar dan terkejut.


"Astaga! Aku pikir sudah keluar."


"Aku bantu gosokin, ya!"


Moza langsung memutar bola matanya, ia mencium gelagat mencurigakan pada diri Naga.


"No!"


"Ayolah!"


"Tidak!" jawab Moza, namun dengan tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Keburu airnya dingin. Masuklah! Aku bantu gosok!"


"Cuma gosok?"


Naga menelan ludah dengan berat, kemudian nyengir bak kuda.


"Hehehe!"


Acara mandi pun jadi tak biasa.


Beberapa waktu kemudian, Moza sudah keluar dari kamar mandi. Tentunya dengan rambut yang dililit handuk. Naga akhir-akhir ini membuatnya sering keramas.


Saat sarapan, suasana di meja makan terlihat tegang. Rendra dan Jenny semalam menginap di rumah mereka. Kini semua nampak berkumpul di meja makan.


Naga sudah normal kembali, karena service Moza, pria itu tidak lagi uring-uringan. Malah semalam seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan santai ia menyapa Renda dan Jenny.


Tapi tidak dengan Rendra, pria itu menatap dengan tajam. Seolah selalu memantau gerak-gerik Naga. Sampai macam-macam lagi, pria itu akan tamat.


Selesai makan, Rendra meminta bicara empat mata dengan Naga. Keduanya pun masuk ke ruang kerja Naga yang ada di dekat ruang tengah.


"Aku tidak berniat merendahkanmu, ini milik Moza. Dia menolak semua ini. Terserah kau apakan. Yang pasti sebagai seorang saudara. Aku tidak ingin melihat adikku menderita. Kau tahu Naga? Di dunia ini ada seseorang yang ingin aku sampaikan berjuta terima kasih. Padamu! Aku sangat bersyukur. Ada pria yang tulus mencinta Moza. Jadi tolong dengarkan aku. Lusa aku akan ke luar negeri. Kami, Aku dan Jenny mungkin akan berbulan-bulan di sana. Aku harap, kamu menjaga Moza dengan baik. Jika tidak, aku akan menjemputnya dengan paksa."


Naga tertegun, ia menatap Rendra dan tumpukan map di depannya secara bergantian.


"Bila Moza tidak mau, itu artinya dia tidak menginginkan ini semua!"


"Jangan keras kepala seperti Moza, anggap ini milik Sendy dan calon keponakanku. Bila tidak mau, bisa kau sumbangkan ke badan amal atau buang saja!"


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya!"


"Ya Tuhan Naga! Hatimu terbuat dari apa?"


Tiba-tiba pintu terbuka, dari tadi Moza menguping di luar pintu.


"Terima saja, demi anak ini!" Moza memegangi perutnya. Mencoba membujuk suaminya, agar luluh dan tak keras kepala lagi.


Setelah dipikir-pikir dengan kepala yang dingin. Akhirnya Naga mau menerima itu semua.


Rendra dan Moza pun bisa bernapas lega, karena Naga mau menerima bantuan dari mereka.


***


Hari keberangkatan Rendra dan Jenny, sembari bulan madu, mereka memang berencana mengunjungi orang tua Jenny.


Setelah melakukan salam perpisahan, Rendra berpesan. Bila ada hal sekecil apapun, ia meminta Moza dan Naga langsung menghubungi.

__ADS_1


"Kami mungkin di sana sebulan lebih, tapi aku pastikan. Ketika anak ini lahir, kami akan segera pulang." Rendra menatap perut Moza yang seperti badut.


Jenny pun memeluk Moza, "Kalo ada apa-apa kabari ya!"


Moza mengangguk dalam pelukan Kakak iparnya.


"Naga, kami berangkat dulu!"


Naga mengangguk saat Rendra pamit padanya.


"Sendy, jaga Mama ya!" Rendra mengendong dan mencium pipi bakpo Sendy. Rasanya berat untuk berpisah. Tapi mereka harus mengunjungi keluarga besar Jenny. Apalagi selama ini keluarga Jenny lah yang berjasa besar pada Rendra.


Karena pesawat akan segera terbang, mereka pun akhirnya berpisah.


Dua bulan kemudian.


Di sebuah rumah sakit, di salah satu ruangan VIP, terlihat Moza sudah terbaring. Wanita itu sebentar lagi akan dibawa ke ruang operasi.


Naga nampak cemas melihat Moza yang pucat dan tangannya terasa dingin. Apalagi saat waktunya Moza operasi, tidak hanya Naga yang hatinya campur aduk. Di sana juga ada Rendra dan Jenny yang baru tiba kemarin.


Mereka buru-buru pulang saat Moza sudah mendekati hari kelahiran anak keduanya. Kini semuanya menunggu di depan ruang operasi.


"Duduklah dengan tenang, Ga!" ucap Rendra yang pusing melihat Naga wara-wiri bagai setrikaan.


Akan tetapi, Naga seperti tidak peduli. Ia masih saja berjalan ke sana-sini.


Ceklek


Begitu pintu terbuka, Naga langsung menghampiri dokter yang keluar.


"Bagaimana istri dan anak-anak saya, Dok?"


"Selamat! Semua berjalan dengan lancar. Nyonya Moza masih belum sadar karena bius. Dan untuk kedua bayi kembar Tuan, kalian bisa melihatnya."


"Alhamdulillah!" semua yang menunggu dengan cemas langsung bersyukur.


Sebelum Moza dibawa ke ruang pemulihan, Naga masuk. Ia ingin mengadzani anak kembar mereka. Ada rasa haru yang menyeruak, ini adalah kali pertama ia lakukan. Sebab lahirnya Sendy, tidak pernah ia ketahui.


Ruang rawat inap. Di sebuah kamar rumah sakit, dengan balon-balon berbentuk hati serta tulisan kata selamat atas kelahiran si kembar, menghiasi ruang rawat Moza.


Wanita itu sudah siuman, Moza sedang memperhatikan salah satu bayi kembarnya yang ada di atas dadanya. Sedangkan yang satu kini ada dalam pangkuan Jenny.


"Cantik sekali ... mirip denganmu, sayang!" Naga membelai pipi bayi yang sedang mencoba menyesap pada ibunya itu.


"Cantik dan ganteng!" tambah Jenny yang melihat begitu ingin saat menatap bayi kembar Moza.


"Siapa Pa?" Anak itu balik bertanya pada papanya.


"Adek Kezia sama adek Kezio, Sendy. Jangan ketuker ya," goda Naga.


"Kan satunya ada ekornya Pa," celetuk Sendy. Seketika ruangan langsung hening, namun hanya sebentar, karena setelah itu mereka semua malah tertawa. Betapa polosnya Sendy saat membedakan mana adik laki-laki dan mana yang perempuan.


Kabar lahirnya si kembar, akhirnya sampai juga di telinga Tuan Taka serta Mama Ratih.


Rencananya Tuan Taka akan terbang ke ibu Kota. Ia ingin mengunjungi cucu baru mereka.


"Beneran Mama nggak ikut Papa?"


"Tidak!" jawab Mama Ratih ketus.


"Nanti Mama nyesel!"


"Sudahlah Pa, nggak usah ajak-ajak Mama!"


"Ya sudah kalau begitu. Ini tiket Mama, Papa berangkat dulu. Ingat, lihat jam keberangkatan yang tertera."


"Mama bilang, Mama nggak ikut!" ucap Mama Ratih ngeyel.


Satu jam kemudian, Tuan Taka sudah duduk di dalam pesawat. Ia terkejut, ketika di sebelahnya ada sosok wanita yang langsung duduk dengan gusar.


"Katanya nggak ikut?" sindir Tuan Taka.


Mama Ratih langsung melengos.


Kediaman Naga. Rumah terlihat sangat ramai, banyak bunga serta kado dari para sahabat dan relasi Naga.


Sore itu mereka juga mendapat kejutan dari Mama Ratih. Moza terlihat biasa saat mertuannya datang berkunjung. Tapi tidak dengan wanita paruh baya itu.


Mama Ratih jadi tidak enak sendiri, apalagi Moza menyambut dirinya dengan hangat. Kini wanita itu jadi galau, ditambah betapa mengemaskan Kezio dan Kezia.


"Boleh Mama gendong?"


Dengan senang hati Moza memberikan Kezia yang saat itu ada dalam gendongannya.


"Ganteng sekali cucu Oma, Ga ... mirip kamu saat bayi!" ucap Mama dengan lirih.


Naga menatap dan mengamati mamanya, dilihatnya sang Mama mengusap sudut matanya. Entah apa yang Mama Ratih tangisi, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Sementara Tuan Taka, ia ingin mengendong cucu yang satunya. Semoga kedepannya Tuan Taka bisa insaf ya....

__ADS_1


***


Huek huek huek


Terdengar suara orang mual-mual di dalam sebuah kamar mandi.


"Sayang, buka pintunya!"


Tok tok tok


Mateo cemas, dari tadi Sierra lama sekali di dalam kamar mandi.


"Sayang ... buka pintunya."


Saat akan mengetuk lagi, tidak taunya pintu malah kebuka. Hampir saja Teo mengetuk dahi Sierra.


"Ya ampun, kenapa lama sekali di dalam? Kamu membuatku cemas saja!"


Dengan wajah kesal, Sierra meraih tangan Mateo. Kemudian memberikan sebuah benda pipi dan berjalan mendahului suaminya itu.


Mata Mateo menajam, ia mengamati benda yang barus saja diberikan Sierra.


"Kamu serius? SIERRA!" teriak Mateo sembari mengejar istrinya.


Dengan santai Sierra mengambil buah dari dalam kulkas. Mengigitnya sembari melihat Mateo yang berjalan cepat ke arahnya.


"Nggak bercanda?"


Mateo tidak percaya.


Sierra malah cuek bebek, kemudian mengambil minuman bersoda dari dalam kulkas. Saat akan meminumnya, Teo langsung meraih botol itu.


"No no no ...! Nggak boleh, hanya boleh minum minuman sehat!"


Mateo langsung melempar botol itu ke sampah. Kemudian berjalan ke arah Sierra. Sembari tersenyum, ia langsung membopong wanita itu.


"Ya ampun, stop ... turunin!"


"Terima kasih Sierra, thanks Honey ... Love you so much!" Ia mencium pipi, kening mata dan terakhir bibir Sierra. Masih sambil membopong, ia mencium Sierra sampai puas. Hingga wanita itu terkekeh karena ulahnya.


"Udah ... turunin!"


Mateo menggeleng, kemudian membawa Sierra masuk ke kamar.


"Ayo ganti baju, Kita ke dokter!" ajak Mateo yang terlihat antusias dengan anak pertama mereka.


"Iya, tapi kamu keluar dulu."


"Ish! Biasanya bagaimana?" Mateo kembali menyerang Sierra, dengan banyak cinta. Pria itu membuat Sierra lama-lama lupa dengan luka hatinya.


***


Kediaman Naga.


"Mama sama Papa cepet banget baliknya? Nggak nginep lagi?" tanya Naga sembari membantu mamanya berkemas.


"Mamamu ngajak cepet balik." terang Tuan Taka yang juga mengemas kopernya.


"Kenapa buru-buru?" tanya Naga kembali.


"Sepertinya mamamu butuh waktu berdamai dengan hatinya," celetuk Tuan Taka.


Mama Ratih hanya diam, memang susah kalau sudah terlanjur membenci. Butuh waktu, tidak semudah membalik telapak tangan. Mungkin Tuhan belum membolak-balik hati Mama Ratih.


Wanita itu, sampai sekarang tetap memiliki hati yang menganjal terhadap menantunya. Entah kapan duri dalam hatinya itu hilang. Yang pasti, ia terlanjur tidak suka. Sebaik apapun Moza, akan selalu nampak buruk di mata orang yang membencinya.


Karena Mama memaksa pulang, Moza dan Naga tidak memaksa.


Hari demi hari pun berlalu, hidup keluarga kecil Naga terasa sempurna. Keluarga harmonis dan karir yang kembali mapan. Sepertinya tidak ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Mungkin ada satu, hanya satu saja. Yaitu restu dari mama mertua.


Begitulah kehidupan, di antara orang-orang yang mencintai dengan tulus, terselip satu dua orang yang membenci dengan segelap hati.


Untuk bisa menikmati hidup, fokus pada orang-orang yang mencintai Kita. Sebab bukan perkara mudah membahagian semua orang.


END


Semoga kisah Naga dan Moza bisa diambil baiknya, buang jauh-jauh buruknya. Dari sini penulis mencoba menyampaikan, kadang harus bertemu orang yang salah sebelum berjumpa dengan orang yang tepat.


Seperti jodoh, Kita tidak pernah tahu. Dengan siapa nantinya Kita berjodoh. Bisa saja jodoh habis di tengah jalan. Atau jodoh Kita ternyata sedang dijaga orang. Hehehe ... maaf ngelantur.


Terima kasih sudah membaca kisah Naga dan Moza. Sampai ketemu di cerita yang lainnya.


Maaf bila banyak kekurangan selama ini, sekali lagi terima kasih untuk semua supportnya.


Tanpa kalian, Istri Gelap mungkin tidak akan pernah jadi terang. Hehehe ... Lope lope sekebon cabe.


Yang mau kenalan sama penulis Istri Gelap, cuss Instagram : Sept_September2020


Salam hangat dari tanah Jawa.

__ADS_1


__ADS_2