Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Pemilik Sanrio Group


__ADS_3

Istri Gelap #52 (18+)


Oleh Sept


"Masuklah!"


Suara Mateo terdengar sangat menyeramkan untuk Sierra kala itu, ia pun langsung bergegas dan berbalik meninggalkan kamar mandi.


"Hampir saja!" Sierra memegangi jantungnya yang berdegup kencang. Pemandangan barusan, membuat matanya langsung ternoda.


Sedangkan Mateo, pria itu tak henti-hentinya tersenyum. Teo tidak mengira, setelah menikah, banyak kejutan yang datang. Wajah malu-malu Sierra semakin membuat Mateo tak akan melepaskan wanita itu.


Beberapa saat kemudian.


Mateo sudah berpakaian rapi, ia menatap Sierra yang juga sudah mengenakan baju. Sebuah mini dress dengan ujung renda-renda. Manis sekali, apalagi wajah istrinya itu, sejak tadi bersemu merah.


"Bagaimana dengan perusahaan Sanrio?" tiba-tiba Sierra bertanya mengenai perusahaan Sinaga.


Wajah Mateo yang semula sumringah langsung berubah masam.


"Nanti akan aku urus!" Mateo berbohong.


Seketika itu juga, Sierra langsung tersenyum. Mungkin sebentar lagi ia akan melihat mantan suaminya hancur bersama wanita sialan itu.


Sedangkan Mateo, ia menghela napas panjang. Mengapa Sierra masih saja fokus pada dendamnya? Kapan istrinya itu akan menikmati kebahagiaannya sendiri?


"Lalu kapan kita check out?" tanya Sierra lagi.


"Lusa, tapi Kita akan langsung terbang ke Ausy."


"Australia? No!" Sierra mengeleng keras.


"Aku bahkan sudah memesan ticket," Mateo seolah tidak peduli. Kini yang berkuasa adalah dirinya.


"Mengapa tidak bilang-bilang dulu?" Sierra marah, mengapa Mateo seenaknya mengambil keputusan sendiri.


"Kejutan!" jawab Mateo datar. Padahal sengaja ia ingin membuat Sierra lupa dengan dendamnya itu. Setidaknya, dengan pergi bulan madu. Akan sedikit membuat Sierra menatap dunia lebih berbeda.


Ada hal lain yang lebih indah, dari pada hanya memikirkan dendam pada mantan suaminya.


"Ini perlu dibicarakan berdua, Teo. Bukan seperti ini caranya. Aku tidak suka!"


"Ya sudah, batalkan saja," ucap pria itu dengan dingin.


Setelah Mateo mengalah, kini Sierra yang tidak enak. Pergi atau tidak?


Di tempat yang lain. Perusahaan Sanrio Group.


Setelah Mateo menarik diri, perusahaan kembali mengalami guncangan. Belum lagi Tuan Surya banyak mengompori para kelogenya untuk menarik diri dari Sanrio Group. Isu tidak sedap kembali digulingkan.


Belum lagi dana dari bank Swiss yang mengalami kendala untuk ditarik seluruhnya. Ini karena kasus yang membelit Tuan Taka akhir-akhir ini. Pria tua itu sepertinya sedang masuk jebakan seorang wanita. Tuan Taka sedang diperas oleh kekasih dari teman kencannya.


Dasar sudah bau tanah, bukannya tobat tapi malah menjadi. Tuan Taka kembali terkena skandal. Kali ini tidak main-main. Ia terlibat cinta yang panas dengan wanita yang penuh masalah. Yaitu istri simpanan mafia dari Rusia.


Semua simpanan Tuan Taka habis, kini rumah juga terancam disita.


Kediaman Naga.


Mama terlihat kacau, biasanya ia nampak elegant dan wah. Kini wanita itu nampak kusut, benar-benar bukan seperti Nyonya besar.

__ADS_1


"Mama ... apa yang terjadi?" Moza kaget, tidak seperti biasanya mertuannya datang berkunjung dengan kondisi yang enggak banget begini.


"Mana Naga?" Tidak mau menjawab pertanyaan Moza, Mama Ratih langsung menanyakan putranya.


"Belum pulang, mungkin sebentar lagi."


"Cepat telpon dia, suruh pulang sekarang!"


"Iya, Ma!"


Moza langsung masuk ke kamar, mencari ponsel dan menghubungi suaminya.


"Iya, Moza."


"Cepat pulang, sepertinya ada sesuatu sama Mama."


"Tahan Mama, jangan biarkan pulang."


"Iya!"


Naga langsung bergegas pulang, sepanjang jalan ia terlihat berpikir serius. Kabar rumahnya yang sedang disita sudah ia dengar. Kini papanya tidak tahu pergi ke mana.


Untuk sesaat ia memejamkan mata, kesal rasanya terhadap sang Papa. Sudah tua masih saja berbuat ulah. Kapan papanya akan tobat?


Tidak terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah. Pria itu langsung turun dari mobil dan mencari mamanya.


Saat masuk ke dalam rumah, Mama Ratih langsung menghambur ke pelukan Naga. Wanita itu menangis, mengadu pada putranya.


Sedangkan Moza, ia tidak tahu apa-apa. Hanya diam sambil mengamati apa yang sebenarnya terjadi.


"Tenang Ma, pasti ada jalan keluar." Naga mencoba menenangkan sang Mama dengan menepuk punggung wanita tersebut.


Sedangkan Moza, ia nampak serius mendengarkan cerita dari sang suami.


"Ya Tuhan, lalu Papa sekarang di mana?"


Naga tersenyum miris. "Nanti kalau masalah sudah clear, Papa pasti muncul!" jawab Naga.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan?"


"Masih aku pikirkan!"


"Apa sangat serius?" Moza nampak khawatir, karena melihat wajah suaminya yang sepertinya tidak baik-baik saja.


"Semua pasti ada jalan keluarnya. Sudah malam ... Ayo tidur!" Hari yang melelahkan, Naga malam ini ingin merebahkan tubuhnya. Semoga besok ada jalan keluar.


Beberapa ratus meter dari tempat tinggal Moza.


Di sebuah hunian mewah empat lantai dengan kolam renang yang luas di sebelah rumah. Seorang pria berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang gelap.


Sembari menikmati segelas wine, pria itu nampak memikirkan sesuatu.


"Beli semua sahamnya!" ucap Rendra. Pria itu rupanya juga sedang bicara di telpon dengan menggunakan headset wireless.


"Semua Tuan?" tanya pria di seberang telpon yang merupakan kaki tangan Rendra.


"Hemm ... semua! Jangan lewatkan sedikitpun."


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Setelah panggilan telpon berakhir, Rendra kembali menengak habis segelas wine yang ada di tangannya.


Pria itu kemudian berbalik, masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang sudah ada wanita cantik yang menunggunya.


"Honey, kapan Kita balik?" wanita cantik itu merajuk. Mengelayut manja pada tubuh Rendra yang tegap dan atletis tersebut.


"Nanti ... setelah urusanku selesai!" Rendra menepis tangan wanita cantik itu. Malam ini ia sedang tidak bernafsu.


"Apa susahnya mengatakan pada adikmu kalau kamu ini kakaknya?" Wanita yang merupakan tunangan Rendra itu terlihat tidak sabar. Sebab, pria itu sudah janji. Mereka akan menikah setelah Rendra menemukan saudara kembarnya.


Kini sudah ketemu, tapi wanita itu merasa kalau Rendra malah main-main saja.


"Tidak semudah itu, Jen!"


"Bukankah sudah tes DNA, lalu apa masalahnya?" Jenny kesal, ia merasa Rendra sangat lamban. Atau jangan-jangan pria itu memang tidak berniat menikahnya?


"Suaminya tidak percaya!" cetus Rendra tak kalah kesal.


"Buat dia percaya!" ucap Jenny tanpa beban.


"Sedang aku usahakan!"


"Jadi ... Kita jadi menikah?" Mata wanita itu berbinar-binar.


Rendra mengangguk.


"Makasih honey!" Jenny langsung memeluk tubuh Rendra. Mencium pria itu dengan penuh perasaan.


"Cukup ... cukup!" Rendra menjauhkan tubuhnya. "Ayo aku antar ke hotel!"


"Malam ini aku mau menginap di sini!" Mata Jenny menatap penuh harap.


Karena memang sudah larut malam, Rendra pun membiarkan saja wanita itu menginap. Hidup di luar negeri sejak kecil, membuat Rendra bergaya hidup bebas.


Pagi harinya.


Rendra bangun karena Jenny mengusik tidurnya.


"Jam berapa ini?"


"Jam tujuh!"


"Mengapa tidak membangunkan aku?"


Rendra langsung bergegas, pria itu terlihat buru-buru.


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa terlihat sibuk sekali?"


"Ada banyak yang harus aku urus, aku keluar dulu. Jangan lupa, nanti kunci pintunya kalau pergi."


Jenny mengangguk kemudian memejamkan mata saat Rendra mencium keningnya.


Perusahaan Sanrio Group.


Di sebuah ruang meeting yang digelar tertutup, Naga terlihat duduk dengan beberapa para dewan direksi yang tersisa dan masih setia dengan perusahaan.


Pagi ini mereka mendapat kabar yang mengejutkan. 51% Saham Sanrio Group jatuh ke tangan pembeli misterius. Pagi ini mereka akan bertemu siapa pemilik saham tertinggi di Sanrio Group sekarang.

__ADS_1


Saat akan muncul dan mengenalkan diri, begitu pintu terbuka. Orang yang paling tidak terima dengan kenyataan ini adalah Naga. Suami dari Moza tersebut, menatap tidak suka pada pria yang berjalan masuk menuju ruang meeting. Bersambung.


__ADS_2