
18+ Istri Gelap #40
Oleh Sept
Sierra terlihat panik, pria kasar itu menariknya dengan kuat. Sudah mencoba berpegang pada apapun, tapi tarikan pria itu tidak sebanding. Sierra wanita lemah gemulai, pasti kalah melawan pria tegap dan berotot tersebut.
Beruntung bagi Sierra, ketika Mateo datang menghampiri mereka.
"LEPASKAN DIA!" sentak Mateo sembari menendang perut pria kurang ajar tersebut. Matanya menyalak marah, menatap pria kurang ajar yang sudah terjungkal membentur meja.
Semua orang yang semula tidak mau ikut campur, kini menatap ngeri tak kala Mateo menghajar pria itu habis-habisan.
Tidak peduli meskipun pria tidak sopan itu sudah terkapar berimbah darah, Mateo terus saja menyerang. Ia tidak terima, Sierra diperlakukan dengan kasar.
"Cukup! Sudah Teo, cukup!" Sierra menarik tubuh Mateo yang terus saja mengebu-ngebu menghajar pria itu.
Mateo hanya menatap sekilas pada Sierra, kemudian kakinya kembali menendang. Namun, pria yang tergeletak di atas lantai itu menarik kaki Mateo. Hingga Mateo ikut terjatuh.
"Sialan!" Makin emosilah si Mateo, begitu bangun ia mengangkat kursi dari plastik dan melempar ke arah pria kurang ajar tersebut.
"Ya Tuhan, sudah Mateo ... nanti dia bisa mati!" Sierra langsung meraik paksa baju Mateo. Menyeret pria itu keluar dari klab malam.
Di sebuah taman di sekitar klab tersebut, Mateo duduk terdiam. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Pria itu baru bersuara ketika Sierra bertanya pada dirinya.
"Kenapa ada di sini? Ada urusan bisnis atau apa?"
"Bukan urusanmu!" Mateo terlihat gusar, ia tidak suka Sierra pergi ke tempat seperti itu. Yang ia kenal, selama ini Sierra selalu menjaga diri dengan baik. Dunia seperti itu bukanlah gaya Sierra.
"Kamu marah padaku, Teo?"
"Untuk apa aku marah? Aku tidak berhak marah!"
"Lihat! Wajahmu terlihat sangat masam!"
"Apa pedulimu?"
"Ya ampun, kamu tidak berubah!" Sierra memilih beranjak, percuma menghadapi Mateo yang sedang marah. Ia akan selalu nampak salah bila Mateo sedang dikuasai emosi.
"Mau ke mana?" Mateo meraih tangan Sierra.
"Aku mau balik, percuma di sini. Hariku sudah berat, aku tak punya tenaga untuk ribut denganmu, Teo!"
"Teruslah begitu! Menghindar sampai kau lelah!" Mateo melepas tangan Sierra. Tidak tahu mengapa, ia ingin marah dengan Sierra. Mungkin ia benci, melihat wanita itu yang terpuruk pasca cerai dengan Naga. Ada cemburu yang mulai tumbuh.
__ADS_1
Sierra tertegun, kemudian ia memilih duduk kembali di samping pria itu.
"Berdamailah dengan hatimu, Ra. Kalian tidak berjodoh!" ucap Mateo dengan nada rendah. Tidak lagi marah-marah seperti sebelumnya.
Sierra tidak membantah, ia malah menundukkan wajah dalam-dalam. Terisak, menangis dalam diam.
"Tidak apa-apa, menangislah ... mungkin itu bisa mengurangi sakit di hatimu."
Mateo meraih tubuh Sierra, mendekap wanita itu. Memeluknya dengan hangat.
"Semua akan baik-baik saja, hidup tetap berjalan. Patah hati bukan akhir dari segalanya!"
Tangis Sierra makin pecah, apa yang ia tahan selama ini, ia tumpahkan semua. Pada Mateo, ia meluapkan rasa sakit yang selama ini ia pendam.
Jakarta, kediaman Naga.
Pagi ini Naga dan Moza kedatangan tamu agung, Mama Ratih dan Tuan Taka datang untuk mengunjungi Sendy. Selama dalam perjalanan, Mama Ratih terlihat manyun, wajahnya masam.
"Naga keterlaluan! Bisa-bisanya ia tidak pernah membawa Sendy ke rumah!" gerutu Mama Ratih yang duduk di sebelah suaminya.
"Mungkin dia punya alasan!" bela Tuan Taka.
"Pasti wanita itu yang tidak mengijinkan! Dasar wanita licik!" Mama Ratih menuduh Moza yang tidak mengijinkan Sendy diajak ke rumah. Padahal itu adalah siasat Naga, bila mau putrinya, mamanya juga harus menerima istrinya. Apalagi, sebentar lagi Naga akan mengurus berkas resmi pernikahan mereka. Pernikahan Moza dan Naga akan diakui di mata hukum. Tapi, Mama Ratih, sepertinya belum memberikan restunya. Makanya, ia sengaja menahan Sendy di rumah saja. Kalau kangen, sok ... mampir ke rumah. Ketemu Sendy dan juga istrinya.
"Penjara aja gak ketat seperti ini, banyak sekali penjagaan di rumah Naga!" cetus Mama Ratih dengan wajah gusar. Apa-apa yang dilakukan oleh Naga selalu salah, apalagi setelah menceraikan Sierra. Mama Ratih masih memendam dendam pada Naga dan Moza.
"Sudahlah Ma, lihat kerutan di wajahmu! Kalau marah-marah, semakin tua!"
"Mama memang sudah tua, kenapa? Papa mau kawin lagi?" celetuk Mama dengan emosi.
Tuan Taka langsung diam, lebih baik pura-pura tidak mendengar. Kalau diteruskan, radio bobrok itu akan terus saja menyala.
Ting Tung
"Lama sekali mereka membuka pintu?" Mama Ratih mengipas wajahnya dengan kipas tangan.
"Mama semalam sudah kasih kabar kan, kalau akan ke sini?"
"Sudah, Pa!"
Keduanya berhenti bicara ketika Bibi membuka pintu.
Dengan angkuh Mama Ratih melewati asisten rumah tangga itu, "Mereka ada di rumah, kan?"
__ADS_1
"Ada, Nyona!"
"Baguslah!"
Mama langsung masuk ke dalam, dilihatnya Sendy sedang bermain boneka berbie. Sedangkan Naga dan Moza tidak tahu ke mana.
"Sendy!" panggil Mama Ratih dengan wajah Malaikat yang penuh kasih.
Anak kecil itu langsung berlari, mencium tangan omanya. Selama ini Omanya jarang ke rumah. Tapi selalu mengirim hadiah yang banyak untuk cucunya itu.
"Lihat, Oma bawa apa?" Mama Ratih langsung meraih boneka besar yang semula dibawa oleh suaminya.
"Sudah besar cucu Opa!" Tuan taka berjongkok, manatap cucu pertama dan satu-satunya itu.
"Sangat mirip dengan Naga kan, Pa?"
"Benar, mirip sekali. Hanya saja rambutnya panjang!"
Keduanya tersenyum, mengenang masa lalu.
"Papa mana?"
"Di dalam, Oma!"
Mama Ratih pun masuk ke dalam, di dapur tidak ada orang. Di kolam renang samping juga kosong. Mama Ratih pun melirik ke salah satu kamar yang separuh terbuka.
"Ga! Mama masuk ya!"
Mama clingak-clinguk, dilihatnya ranjang yang kosong. Matanya kemudian beralih, ketika terdengar suara berbisik di sudut ruangan, kamar mandi.
"Ga! Ada apa?" Mama Ratih menepuk pundak Naga yang bersandar pada pintu kamar mandi.
"Moza sepertinya sakit, bolak-balik ke kamar mandi terus."
"Sukurin!" batin Mama Ratih dalam hati. Mungkin ibunya Sendy kena azab, pikir Mama.
Tapi, ketika ia dengar dengan seksama. Telinganya malah menangkap suara orang mual-mual di dalam. Kaki Mama Ratih seketika itu langsung lemas. Bersambung.
Yang belum kenal sama penulis Istri Gelap, Rahim Bayaran. Cuss yuk ke Instagram : Sept_September2020
Yang udah kenal, terima kasih ya.
Jangan memendam benci terlalu dalam, karena itu sama halnya kamu minum racun dan berharap orang lain yang mati.
__ADS_1