Ibu Dari Anankku

Ibu Dari Anankku
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Istri Gelap #48 (18+)


Oleh Sept


"Sayang ... ambilin handuk!" teriak Naga dari dalam kamar mandi.


"Tadi kenapa nggak bawa kesalian?" gerutu Moza sembari mengambil handuk bersih dari dalam lemari.


Tok tok tok


"Buka pintunya!"


Begitu pintu diketuk, mata Naga langsung berbinar-binar. Dengan cekatan ia langsung membuka pintu.


"Masuklah!"


"Ish ... ngapain? Ini handuknya!" Moza memilih tetap berdiri di ambang pintu. Mengulurkan tangan ke dalam, dengan mata yang lurus ke depan.


"Ayolah!" Naga bicara sambil bisik-bisik, takut nanti ada yang dengar.


"Tidak! Aku mau siapin bekal buat Sendy." Moza langsung berbalik dan tidak peduli pada Naga yang memanggil namanya berkali-kali.


"Moza ... awas ya nanti!" bibirnya melengkung, pria itu tersenyum sambil menatap kain handuk yang sudah ada di tangannya.


Beberapa saat kemudian.


"Sayang ... bajuku mana?"


Di kamar Sendy, Moza yang sedang menyiapkan baju seragam putrinya. Harus datang ke kamarnya lagi.


"Bentar ya sayang, papamu teriak-teriak terus." Moza meletakkan seragam Sendy di atas ranjang, kemudian ganti mengurus bayi besarnya itu.


Saat terdengar derap langkah yang makin dekat, Naga pura-pura mencari pakaian dengan berdiri di depan lemari yang sedang terbuka.


"Bukannya sudah aku siapkan?" keluh Moza.


"Mana?"


Moza nampak berpikir, harusnya ada. Tapi ke mana? Ia lalu menatap ke arah suaminya. Dilihatnya Naga tersenyum jahil.


"Tuh kan ... pasti lagi ngerjain aku, kan?" tuduh Moza.


"Apa sih? Nuduh terus dari kemarin."


"Senyummu itu mencurigakan sekali!" cetus Moza.


Naga malah terkekeh, kemudian berjalan mendekati Moza.


"Moza ... mengapa kamu mengemaskan sekali, sayang?"


"Jangan mulai deh!"


"Ish ... galak amat!" Naga langsung memeluk saja tubuh Moza. Terasa hangat, karena badannya yang dingin habis mandi.


"Nanti dilihat Sendy!" pekik Moza karena pintu kamar sedikit terbuka. Pada kenyataannya, mereka memang tidak dilihat oleh Sendy, tapi Bibi.


"Maaf Nyonya, ada Nyonya besar." Bibi nampak ragu-ragu saat mengatakan hal itu. Ini karena Naga sedang memeluk Moza dengan erat. Membuat orang yang melihatnya jadi tidak enak sendiri.

__ADS_1


"Ngapain Mama pagi-pagi ke sini?" omel Naga sembari melepas pelukannya.


"Mungkin nyari Sendy," timpal Moza yang kini merapikan rambut dengan jari-jarinya. Naga membuat penampilan Moza sedikit acak-acakan.


Keduanya pun menemui tamu agung tersebut.


"Tumben, Ma. Pagi-pagi banget?" Naga menatap curiga pada mamanya.


"Itu karena Mama rindu sama Sendy! Lagian, kalian keterlaluan. Tidak pernah bawa Sendy ke rumah."


"Maaf, Ma. Nanti bakal kita usahain."


Mama Ratih langsung bermuka masam ketika mendengar suara Moza, hatinya masih sakit. Ia belum ikhlas menerima Moza sebagai anak mantu.


"Maaf ... maaf! Pasti kamu yang nggak ijinin Sendy main ke rumah. Dasar perempuan licik!" batin Mama Ratih sembari melirik tajam.


Moza merasakan aroma ketidaksukaan dari Mama mertuannya itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu, menutup mata, telinga dan hati. Yang paling penting adalah Naga, pria itu mau menerimanya dengan sepenuh hati. Masalah ibu mertua suka atau tidak, itu adalah lain cerita.


Memaksa seseorang suka kepada Kita, bukan perkara mudah. Moza akan menyerahkan semua pada waktu, semoga hati Mama Ratih bisa mencair suatu saat nanti.


"Mana Sendy?" Mama Ratih clingak-clinguk mencari sang cucu kesayangan.


"Ada di kamar, Sen ... Sendy, ada Oma nih!" panggil Naga.


Tap tap tap


Anak kecil itu langsung berlari ke luar kamar dan menghambur dalam pelukan sang nenek.


"Wanginya cucu Oma!" Mama Ratih langsung mencium gemas pipi cucunya itu.


"Mau ke sekolah?"


"Sekolah yang pinter ya sayang," Mama Ratih mengelus poni Sendy dengan lembut. Terlihat sekali ia begitu sayang dan tulus pada anak Naga tersebut. Akan tetapi, sangat benci pada ibunya.


"Boleh lah nanti malam Sendy nginap di rumah Oma?" Mama Ratih menatap putranya. Dari pada permintaan, ini terlihat seperti sesuatu yang harus dikabullan.


Naga melirik Moza, istrinya itu malah langsung mengangguk.


"Yes!" gumam Naga. Kesempatan emas, Sendy nginep di rumah omanya. Ini artinya ia bebas.


"Iya Ma, nanti pulang sekolah biar langsung ke sana."


Mama Ratih langsung sumringah, ia melirik Moza sekilas. Kemudian mencubit pipi Sendy.


Sedangkan Sendy, anak itu sih senang-senang saja. Apalagi Oma Ratih selama ini sangat sayang dan membelikan banyak hadiah untuknya. Ikut Oma itu kayak surga dunia. Apa-apa yang tidak diperbolehkan oleh sang Mama, pasti boleh sama Oma. Asik bener.


"Oh ya, bagaimana dengan kehamilan keduamu?" Setelah mendapat ijin membawa Sendy, kini Mama Ratih sedikit basa-basi.


"Alhamdulillah, semua bagus, Ma."


Mama Ratih manggut-manggut, kemudian dilihatnya Naga malah senyam-senyum tidak jelas.


"Kamu kelihatan seneng sekali, ada apa Ga?"


"Nggak apa-apa Ma, Mama kalau tahu juga bakal shock!"


"Kejutan apa lagi?" Mama langsung melotot penuh curiga.

__ADS_1


"Moza hamil anak kembar, Ma."


"Ha?"


Berhasil membuat mamanya ternganga, Naga malah sengaja mengelus perut Moza di depan mamanya.


"Langsung dua, Ma!" ucapnya bangga.


Kini Mama Ratih terlihat bingung, harus senang atau sedih?


Moza benar-benar memiliki kedudukan yang semakin kuat. Kalau begini, ia tidak memiliki cela untuk mengulingkan posisi Moza. "Ah, wanita itu benar-benar memiliki banyak cara untuk semakin kuat!" batin Mama Ratih meronta.


"Ah, selamat ... jaga kandunganmu baik-baik!" ucap Mama Ratih namun dengan separuh hati.


Moza bisa merasakan itu, ia pun hanya membalas senyum.


"Ya sudah, Mama pulang dulu. Jangan lupa, nanti Sendy nginep di rumah Mama!"


"Iya Ma, kok buru-buru? Nggak sarapan dulu?"


"Nggak, Mama ada acara di dekat sini. Ya sudah, Mama pulang. Sendy ... sini peluk Oma dulu. Nanti jangan lupa ya!"


Anak kecil itu mengangguk kemudian mencium tangan omanya.


Setelah kepergian Mama Ratih, disusul oleh Sendy yang berangkat sekolah. Terakhir Naga, sebelum pergi. Ia kembali berpesan pada Moza.


"Moza, kalau ada tamu. Gak usah ditemui ya!"


"Hemm ...!"


"Aku serius Moza!"


"Iyaaaa!"


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya!"


Naga mencium kening Moza, kemudian meninggalkan kediamannya untuk bergegas ke kantor.


Perusahaan Sanrio Group


"Apa-apaan ini, Teo?" Naga terlihat sangat merah, ia merasa Mateo sudah menghianati dirinya.


"Sorry Ga! Aku harus mundur." Terlihat sekali penyesalan di wajah tampan Mateo.


"Ini konyol! Ayolah! Professional sedikit!" Naga berkacak pinggang, kesal, marah campur kecewa dengan keputusan Mateo yang memilih mengakhiri kerja sama mereka.


"Maaf Ga! Aku juga punya priority sendiri."


Naga memincingkan mata, "Ada apa sebenarnya?"


"Aku harap kamu nggak salah paham!"


"Salah paham?" Naga mengulang kata-kata sahabatnya itu.


"Semoga kamu ngerti."


Mateo mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya. Sebuah kertas tebal dengan pita warna emas.

__ADS_1


"Apa ini?" Mata Naga terbelalak ketika menatap sebuah undangan pernikahan. Bersambung.


__ADS_2