
Matahari mulai mendekati ufuk barat, memberikan semburat warna jingga yang memancar di langit. Di bawah pohon beringin raksasa, dua sosok anak berdiri berhadapan. Daun-daun kering berjatuhan pelan, bermain dengan angin ringan yang berhembus.
Yusuf, anak laki-laki berusia 9 tahun dengan rambut ikal hitam dan kulit sawo matang, dengan tubuh tegap dan rambut ikalnya yang acak-acakan, memandangi layangan yang terjatuh di tanah. Sementara Ima, adik perempuannya yang berusia 7 tahun, berambut panjang sebahu, memeluk buku catatannya erat-erat ke dadanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa takut namun juga ketegasan.
"Apa yang kamu lakukan, Ima?" tanya Yusuf dengan nada tinggi, wajahnya memerah karena frustrasi.
Ima mencoba menahan air matanya, "Aku hanya ingin menulis di bawah pohon ini, Kak. Kamu tahu ini tempat kesukaanku. Kenapa kamu selalu harus bermain di sini?"
Sebelum Yusuf bisa menjawab, terdengar suara memanggil dari kejauhan, "Yusuf! Ima! Kalian berdua, berhenti bertengkar!"
Ana, ibu mereka yang tegas dan selalu mendominasi, berjalan mendekati mereka dengan langkah cepat. Gaun panjang yang dikenakannya berhembus angin, memperlihatkan sisi elegannya, namun tatapan matanya tajam dan dingin. Raut wajahnya menunjukkan rasa tidak senang.
Kedua anak itu menunduk, menghindari kontak mata dengan Ana. Yusuf berkata dengan suara serak, "Maaf, Bu. Aku hanya frustasi karena layanganku jatuh."
Ana menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan nada rendah namun tegas, "Kalian berdua tahu aturanku. Tidak ada pertengkaran di halaman ini. Ini tempat untuk kita rileks dan menikmati alam, bukan untuk bertengkar."
Ima, dengan berani, menatap Ana dan berkata, "Tapi Bu, kenapa aturannya selalu harus diikuti? Aku hanya ingin menulis di sini. Ini tempatku."
Ana menunjuk ke bangku kayu yang terletak di sudut lain halaman, "Kamu bisa menulis di sana, Ima. Kenapa harus di bawah pohon ini?"
Ima mengepalkan tangannya, "Karena di sini aku bisa merasakan angin dan mendengar suara daun yang berbisik. Ini inspirasiku, Bu."
Yusuf, mencoba meredakan situasi, berkata, "Aku yang salah, Bu. Aku seharusnya memeriksa dulu sebelum memainkan layanganku."
Ana menghela napas, "Bukan masalah siapa yang salah. Kalian harus belajar menghargai satu sama lain dan menghargai aturanku."
Kedua anak itu saling bertukar pandang. Mereka tahu betapa keras kepala dan tegasnya ibu mereka, namun mereka juga tahu bahwa di balik semua aturan tersebut, ada cinta dan kepedulian.
__ADS_1
"Kedepannya, kalian harus belajar berbagi ruang," kata Ana, "Yusuf, kamu bisa bermain layangan di sini di hari Senin, Rabu, dan Jumat. Ima, hari lainnya adalah milikmu untuk menulis."
Keduanya mengangguk, meskipun dengan berat hati.
Seiring matahari terbenam, ketiganya duduk bersama di bawah pohon beringin, merenung dan menikmati keindahan alam. Meski sering terjadi konflik, namun di antara mereka ada ikatan yang kuat, yang selalu membawa mereka kembali bersama sebagai satu keluarga.
"Sudah lihat, Ima? Layanganku paling tinggi!" seru Yusuf dengan wajah berseri.
Ima mengerutkan keningnya, menunjukkan rasa kompetitifnya, "Tunggu sebentar, Kak. Aku akan membuat layanganku terbang lebih tinggi!"
Ketika keduanya sedang asyik bersaing, tiba-tiba terdengar suara yang lembut namun penuh otoritas, "Yusuf! Ima! Waktunya makan siang!"
Keduanya menoleh dan melihat sosok Ana, ibu angkat mereka, yang berdiri di ambang pintu rumah dengan apron bergambar bunga matahari. Wajah Ana tampak awet muda meskipun usianya sudah menginjak 40 tahun. Matanya yang cokelat muda berkilau saat menatap kedua anak angkatnya. Ana memiliki tubuh yang tegap dan postur yang tegar, menggambarkan kekuatan dan ketabahannya dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.
Yusuf menghampiri Ana dengan wajah bersalah, "Maaf, Bu. Kami terlalu asyik bermain."
Ima berlari mendekati Ana dan memeluk pinggangnya, "Terima kasih, Bu. Bau masakanmu selalu membuat perutku keroncongan."
Ana tertawa lepas, menepuk lembut kepala Ima, "Ha-ha, kamu ini selalu bisa membuatku tersenyum. Ayo masuk, saya sudah membuat sayur lodeh dan ayam goreng kesukaan kalian."
Ketiganya berjalan masuk ke rumah. Dari dalam rumah tercium aroma rempah-rempah yang menggugah selera. Di ruang makan, terdapat meja kayu jati yang telah tertata rapi dengan piring, gelas, dan sendok garpu. Di atas meja, tampak semangkuk besar sayur lodeh dan piring berisi potongan ayam goreng yang masih mengeluarkan asap panas.
Sambil makan, Yusuf menatap Ana dengan serius, "Bu, mengapa kamu selalu kuat? Bahkan setelah semua yang telah terjadi?"
Ana menatap dalam ke mata Yusuf, mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Ketika kamu memiliki sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan, seperti kalian berdua, kekuatan itu datang dengan sendirinya."
Mereka makan dalam keheningan sejenak, meresapi makna dari perkataan Ana. Hanya suara gemericik air dari kolam ikan di halaman belakang yang mengiringi makan siang mereka.
__ADS_1
Hawa sore itu terasa agak dingin, dengan awan mendung yang menggelayut di langit. Suara gemercik air dari saluran di sebelah rumah menambah kesegaran di lingkungan sekitar. Pohon rambutan di samping rumah bergerak-gerak pelan ditiup angin, dengan buahnya yang merah dan menggiurkan tampak menggantung.
Yusuf dan Ima sedang berusaha menggeser lemari kayu tua di kamar mereka. Lemari itu besar dan kokoh, dengan ukiran bunga di setiap sudutnya. Kedua anak itu mengerahkan seluruh tenaga mereka, namun lemari itu tak bergeming sedikit pun.
"Duh, kenapa berat sekali ya?" keluh Ima, dengan wajah memerah dan dahi yang basah oleh keringat. Mata Ima tampak kelelahan, dan pipinya memucat seolah kehabisan tenaga.
Yusuf menghapus keringat di dahinya, "Aku rasa kita butuh bantuan. Lemari ini seperti tertempel di lantai!"
Saat mereka berdiskusi, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ana berdiri di ambang pintu, dengan rambutnya yang dikuncir rapi dan gaun merah jambu yang dikenakannya. Tatapan matanya tajam, namun di balik itu ada kehangatan yang selalu membuat Yusuf dan Ima merasa nyaman.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua terlihat seperti habis berlari maraton?" tanya Ana, sambil mengerutkan dahinya.
Ima menunjuk lemari dengan tangan gemetaran, "Kami mencoba menggeser lemari ini, Bu. Tapi, rasanya berat sekali."
Ana memandang lemari tersebut sejenak, kemudian dengan gerakan cepat ia menghampiri lemari dan dengan mudah mengangkat salah satu sudutnya. Gerakan Ana begitu lancar dan ringan, seperti mengangkat selembar kertas. Wajahnya tetap tenang dan tak terlihat ada beban, namun matanya menunjukkan fokus yang kuat.
"Bu... kamu bisa mengangkatnya?!" seru Yusuf dengan mata terbelalak, kagum dengan kekuatan yang dimiliki ibunya.
Ana tersenyum, "Lemari ini memang berat, tapi bukan berarti tidak bisa diangkat. Kalian hanya perlu tahu teknik yang tepat."
Ima menatap Ana dengan rasa penasaran, "Bagaimana kamu bisa sekuat itu, Bu?"
Ana menaruh lemari itu kembali ke tempatnya dengan hati-hati. "Dulu, saat aku masih muda, aku pernah bekerja di sebuah gudang. Di sana aku belajar banyak tentang bagaimana mengangkat benda-benda berat dengan cara yang benar. Teknik itu yang membantuku hingga sekarang."
Yusuf melangkah mendekati Ana, "Aku ingin belajar, Bu. Aku ingin sekuat kamu."
Ana mengelus kepala Yusuf dengan penuh kasih sayang, "Kekuatan bukan hanya dari otot, Nak. Tapi juga dari hati dan tekad. Jika kamu memiliki tekad yang kuat, kamu bisa mengatasi segala rintangan."
__ADS_1
Ima mengangguk setuju, "Terima kasih, Bu. Kami beruntung memiliki ibu sepertimu."