Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Seiring dengan pendaran matahari yang makin tinggi di ufuk, rasa lapar mulai mengusik perut mereka. Ana, mengenali isyarat ini, segera mulai membuka keranjang piknik mereka. Dari keranjang tersebut muncul aroma makanan yang menggugah selera. Ada sandwich daging asap, salad buah dengan yogurt, dan kue cokelat yang masih hangat.


"Bau apa itu, Bu?" tanya Ima, matanya bersinar ketika melihat kue cokelat.


"Surprise!" kata Ana sambil menunjukkan kue cokelat dengan topping keju. "Aku tahu ini favorit kalian."


Yusuf melirik kue itu dan berkata, "Wow! Terima kasih, Bu." Ia kemudian mengambil sepotong dan menikmatinya. "Enak sekali!"


Mereka duduk berkeliling, menikmati makan siang mereka di bawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa aroma bunga liar. Sesekali, burung-burung kecil hinggap di cabang pohon, mencuri remah-remah makanan yang terjatuh.


Selesai makan, Yusuf mulai bercerita. "Bu, hari ini di sekolah, saya diberi tugas untuk membuat esai. Awalnya saya kesulitan, tapi teman saya, Ardi, membantu saya. Dia memberi ide dan saran yang bagus, dan kami berhasil menyelesaikannya bersama."


Ana, sambil menyesap jus jeruknya, menjawab, "Itu hebat, Yusuf. Selalu baik untuk bekerja sama dengan teman-temanmu. Ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dari mereka."


Ima, tidak mau kalah, segera ikut berbagi cerita. "Bunda, tahu tidak? Guruku, Bu Lina, sangat baik hati. Dia selalu memberikan semangat kepada kami, dan hari ini dia memuji lukisan yang saya buat. Saya sangat senang!"


Mimik wajah Ana menunjukkan kebanggaan. Matanya berbinar mendengar cerita anak-anaknya. "Aku bangga padamu, Ima. Kamu memang berbakat dalam melukis."


Mereka kemudian saling berbagi cerita, tertawa bersama, dan menikmati momen kebersamaan. Di tengah-tengah percakapan, Ana dengan lembut memegang tangan Yusuf dan Ima, memberikan sentuhan hangat yang penuh makna.


Sejenak, mereka terdiam, menikmati kedamaian alam sekitar. Daun-daun pohon bergerak-gerak ditiup angin, menimbulkan suara gemericik yang menenangkan. Di kejauhan, gunung berdiri megah dengan puncaknya yang tertutup kabut.


Dengan mata yang setengah terpejam, Ana mengamati kedua anak angkatnya. Yusuf dengan rambut hitam legamnya yang sedikit berantakan, wajahnya yang tampan dengan alis tebal yang sedikit berkerut saat ia berpikir. Sementara Ima, dengan mata bulatnya yang selalu tampak penuh keingintahuan, pipi yang merona, dan rambut panjangnya yang selalu terurai indah di punggungnya.


Momen-momen seperti ini, bagi Ana, adalah momen yang paling berharga. Melihat kedua anaknya tumbuh dan berkembang, berbagi cerita dan tawa, menjadi pengingat bagi Ana tentang berkah kehidupan.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka merapikan bekalan dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka di alam bebas. Namun, kenangan makan siang bersama di bawah pohon rindang itu akan selalu mereka kenang sebagai salah satu momen terindah dalam hidup mereka.


Suasana damai yang mengelilingi keluarga ini seolah berubah dalam sekejap ketika nada dering ponsel Ana memecah keheningan. Ana, yang sedang asyik mendengar cerita lucu dari Ima tentang seekor kucing yang ia temui di sekolah, dengan cepat merogoh tasnya untuk mengambil ponsel tersebut.


Dedaunan yang berdesir, nyanyian burung yang seolah-olah menyanyikan lagu kebahagiaan, serta aroma bunga-bunga liar yang menghiasi padang rumput, sejenak terlupakan. Semua perhatian terfokus pada Ana yang tampak terkejut melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


"Halo?" suaranya bergetar sedikit ketika menjawab.


Dari sisi lain, Yusuf dan Ima hanya bisa mendengar bisikan-bisikan dari telepon, namun ekspresi wajah Ana memberi mereka gambaran tentang beratnya pembicaraan tersebut. Alis Ana mengerut, matanya membesar dan bibirnya bergetar. Kulitnya tampak memucat dalam hitungan detik.


"...kamu tidak bisa menyembunyikannya selamanya," suara mengancam dari ujung telepon cukup keras hingga Yusuf dan Ima bisa mendengarnya.


Tangan Ana gemetaran ketika ia menutup panggilan tersebut. Ia menatap kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca, tampak takut dan cemas.


"Bu, siapa itu?" tanya Ima dengan suara penuh kekhawatiran. Gerak tubuhnya menunjukkan ketegangan; kedua tangannya berpelukan, seolah mencari keamanan.


Ana mencoba menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri. "Ada seseorang dari masa laluku, Sayang. Orang yang tidak ingin kulewatkan. Dia mengancam akan mengungkap rahasia yang selama ini kujaga."


Suasana menjadi tegang. Di tengah-tengah keindahan alam, ketakutan dan kecemasan sekarang mendominasi. Namun, di antara semua itu, ada satu hal yang tetap kokoh; ikatan antara Ana, Yusuf, dan Ima.


Ima, dengan matanya yang berkaca-kaca, mendekati Ana dan memeluknya erat. "Bunda, apapun yang terjadi, kami selalu di sampingmu," bisiknya dengan suara gemetar.


Yusuf bergabung dalam pelukan tersebut, menambah kehangatan di tengah-tengah kekacauan emosi yang mereka rasakan. "Kita akan melewatinya bersama-sama, Bu. Seperti yang selalu kita lakukan."


Ana, meskipun terguncang dengan ancaman tersebut, merasa sedikit lebih baik dengan dukungan kedua anaknya. Wajahnya tampak sedikit lebih tenang, meskipun matanya masih menunjukkan tanda-tanda kecemasan. "Terima kasih, Sayang-sayangku. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya, tapi sekarang, mari kita nikmati waktu kita bersama di sini."

__ADS_1


Mereka berusaha melanjutkan kegiatan mereka, meskipun suasana hati sudah berbeda. Namun, dukungan dan kehangatan yang mereka berikan satu sama lain menunjukkan kekuatan keluarga ini menghadapi setiap badai yang datang menghampiri.


Setelah beberapa saat mencoba kembali menikmati indahnya alam di sekitarnya, Ana merasa sulit untuk benar-benar tenang. Bayangan dari telepon misterius tersebut seperti bayangan hitam yang menyelimuti pikirannya. Dengan berat hati, ia memutuskan bahwa mungkin lebih baik untuk pulang lebih awal.


"Sayang," kata Ana dengan suara pelan, berusaha menutupi kegelisahannya, "Mungkin kita harus pulang sekarang."


Yusuf dan Ima saling pandang. Mereka bisa merasakan kecemasan yang menggelayut di hati Ana. Dengan matang, Yusuf mengangguk. "Baik, Bunda. Mari kita pulang."


Mereka dengan cepat merapikan barang-barang mereka dan kembali ke mobil. Sepanjang jalan, pemandangan hijau dan birunya langit terasa berbeda. Ada sedikit kabut kecemasan yang menyelimuti mata Ana setiap kali ia menatap jendela.


Namun, Ima, dengan semangatnya yang khas, mencoba mengalihkan perhatian. "Bunda, tahukah Anda? Saya berencana mengambil kelas melukis setelah lulus. Saya ingin menjadi pelukis terkenal!"


Yusuf, menyambung percakapan, berkata, "Dan saya ingin belajar tentang teknologi. Mungkin saya bisa membuat aplikasi sendiri suatu hari nanti. Siapa tahu, Bunda bisa menggunakan aplikasi buatan saya."


Ana melirik keduanya dengan mata berkaca-kaca, tersentuh dengan usaha anak-anaknya untuk menghiburnya. Meski hatinya masih berat, ada rasa hangat yang menyebar di dadanya. "Kalian berdua adalah anugerah terbesar dalam hidupku," kata Ana dengan suara bergetar.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan bercerita tentang impian-impian mereka. Seakan-akan kegelapan yang sejenak menyelimuti hati Ana mulai pudar, digantikan oleh sinar harapan dari masa depan kedua anaknya.


Matahari perlahan mulai tenggelam, menyinari mobil mereka dengan sinar kuning keemasan. Bayangan pohon-pohon di tepi jalan bergerak cepat, seiring dengan laju mobil. Di kejauhan, gunung-gunung berdiri megah, dengan siluet yang tampak mempesona di balik kabut sore.


Meski ada kegelisahan yang masih tersisa, perjalanan pulang mereka dipenuhi dengan tawa dan cerita. Setiap kali Ana tampak tenggelam dalam pikirannya, Yusuf atau Ima akan bercerita tentang hal-hal lucu atau rencana-rencana mereka, membuat Ana kembali tersenyum.


Ketika mereka tiba di rumah, langit sudah berubah menjadi perpaduan warna oranye dan ungu, memberi tanda bahwa malam akan segera tiba. Mereka turun dari mobil, saling memandang dengan penuh pengertian.


"Bunda," kata Ima sambil memeluk Ana erat, "kami selalu ada untukmu."

__ADS_1


Yusuf, dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca, bergabung dalam pelukan tersebut. "Kami akan melewati ini bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan."


Ana, dengan mata yang banjir air mata, merasa begitu beruntung memiliki kedua anak ini di sisinya. Meski badai mungkin sedang mengancam, ia tahu bahwa bersama Yusuf dan Ima, mereka akan mampu melewatinya.


__ADS_2