Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Jejak Kehilangan


__ADS_3

Yusuf menghampiri Bu Siti dan duduk di sampingnya. "Ceritakan tentang Mila, Bu."


Dengan pandangan yang jauh, Bu Siti mulai bercerita, "Mila adalah kucing putih dengan bintik abu-abu, mirip sekali dengan Momo. Dia adalah temanku saat aku merasa kesepian. Kami bermain, tertawa, bahkan kadang menangis bersama. Saat dia hilang, bagian dari hatiku hilang bersamanya."


Mata Ima membasah mendengar cerita itu. "Bu Siti, kami sangat menyesal. Kami tidak tahu jika Momo membawa kenangan yang begitu mendalam untukmu."


Bu Siti tersenyum pahit, "Bukan salahmu, sayang. Melihat Momo hanya mengingatkanku pada Mila."


Yusuf menggenggam tangan Bu Siti dengan lembut, "Bu, apakah ada foto Mila? Mungkin kami bisa membantu memastikan apakah Momo benar-benar mirip dengan Mila."


Bu Siti mengangguk, "Aku punya foto lama di dalam rumah. Tunggu sebentar."


Tak lama kemudian, Bu Siti kembali dengan sebuah foto hitam putih yang sudah lusuh. Dalam foto tersebut, terlihat seorang gadis kecil yang memeluk erat seekor kucing putih dengan bintik-bintik abu-abu. "Itu aku," kata Bu Siti sambil menunjuk gadis kecil itu, "dan itu adalah Mila."


Ima dan Yusuf memandangi foto tersebut, kemudian membandingkannya dengan Momo. Memang ada kemiripan, tetapi tentu saja, ada perbedaan juga. Namun, kesedihan dalam mata Bu Siti sangat nyata.


"Bu Siti," kata Ima dengan lembut, "meskipun Momo bukan Mila, kami berharap dia bisa memberimu kenangan baru yang indah."


Bu Siti tersenyum, membelai kepala Ima, "Terima kasih, sayang. Aku tahu kalian memiliki hati yang baik."


Yusuf berdiri, "Bu, bagaimana jika kami mencari tahu siapa pemilik sebenarnya dari Momo? Mungkin dia memiliki sejarah yang bisa kita ketahui."


Bu Siti mengangguk, "Itu ide yang baik. Terima kasih, Yusuf, Ima."


Dengan semangat yang baru, Ima dan Yusuf memulai misi baru mereka: mencari tahu asal-usul Momo dan, semoga saja, memberi Bu Siti sedikit kenyamanan dari kenangan lamanya.


Seiring matahari yang mulai condong ke barat, taman kota menjadi tempat bermain favorit bagi Ima dan Yusuf. Taman yang rimbun dengan pepohonan besar dan semak-semak berbunga menjadi tempat mereka berlarian, tertawa, dan kadang-kadang hanya duduk menikmati alam. Di salah satu sudut taman, ada papan informasi tempat warga biasa menempelkan pengumuman atau poster.


Saat sedang bermain petak umpet, mata Ima tertuju pada sebuah poster yang menampilkan gambar kucing. "Yusuf!" panggilnya, "Lihat ini!"

__ADS_1


Yusuf, yang bersembunyi di balik pohon, muncul dengan wajah kebingungan. "Apa, Ima?"


Ima menunjuk ke poster. "Ini Momo, kan?"


Dengan langkah cepat, Yusuf mendekat dan memperhatikan poster tersebut. Poster berwarna kuning pucat dengan gambar kucing yang sangat mirip dengan Momo. Tulisan di bawahnya berbunyi, "Hilang! Kucing bernama Leo. Jika menemukan, hubungi Pak Haris."


Yusuf mengepalkan tangannya, "Pak Haris? Tetangga sebelah rumah kita?"


Ima mengangguk, "Kita harus memberitahunya."


Tanpa menunggu lama, keduanya berlari pulang. Ketika sampai di rumah Pak Haris, mereka bisa mendengar suara musik piano yang pelan. Dengan hati-hati, Yusuf mengetuk pintu. Tak lama, pintu terbuka memperlihatkan Pak Haris dengan rambutnya yang mulai memutih.


"Selamat sore, Pak," sapa Yusuf dengan sopan. "Kami menemukan ini di taman." Ia menunjukkan poster yang mereka bawa.


Mata Pak Haris membesar, "Leo! Kalian menemukannya?"


Ima menjawab dengan ragu, "Sebenarnya, Pak, kami menemukan kucing yang mirip dengan gambar ini beberapa hari yang lalu. Kami pikir dia kucing jalanan, jadi kami merawatnya."


Mereka membawa Pak Haris ke rumah dan menunjukkan Momo yang sedang tidur nyenyak di kursi teras. Pak Haris berjongkok, membelai kucing tersebut dengan lembut. "Ini dia," katanya dengan suara bergetar, "Ini Leo."


Yusuf, dengan perasaan bersalah, bertanya, "Pak, kenapa Leo sangat berarti bagi Anda?"


Dengan pandangan yang jauh, Pak Haris bercerita, "Leo adalah hadiah dari putriku, Raisa. Dia memberikannya kepadaku sebelum pergi kuliah ke luar negeri. Dia bilang Leo akan menemani kesendirianku."


Air mata mulai jatuh dari mata Ima, "Kami benar-benar tidak tahu, Pak. Maafkan kami."


Pak Haris mengangkat tangannya, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, Leo sudah kembali."


Mereka duduk bersama di teras, menikmati kebersamaan sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam. Suasana menjadi hangat, meski ada rasa bersalah yang mendera hati Ima dan Yusuf.

__ADS_1


Sebelum pulang, Pak Haris berpesan, "Anak-anak, terima kasih sudah merawat Leo. Meskipun kalian menyebutnya Momo."


Yusuf tersenyum, "Dia memang istimewa, Pak."


Malam itu, taman kota tidak hanya menjadi saksi permainan Ima dan Yusuf, tetapi juga jejak kehilangan yang berhasil ditemukan kembali. Sebuah kisah tentang kesalahan, pengertian, dan kasih sayang yang mendalam.


Bintang-bintang bersinar terang di langit malam, menaburkan cahayanya dengan lembut di atas rumah Ima dan Yusuf. Di bawah sinar rembulan, taman belakang rumah tampak begitu damai dengan gemericik air dari kolam kecil di tengah-tengahnya.


Dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin, Ima, Yusuf, dan Ana duduk di sekeliling meja kayu kecil. Ekspresi wajah Ima dan Yusuf tampak muram, menggambarkan dilema yang sedang mereka hadapi.


Ima, dengan matanya yang berkaca-kaca, berkata, "Bu, kami benar-benar menyukai Momo. Tapi kami tahu dia milik Pak Haris."


Ana, dengan wajah yang penuh pengertian, menatap Ima dan Yusuf. "Aku tahu kalian berdua sangat mencintai Momo. Tetapi kalian juga tahu apa yang harus dilakukan."


Yusuf menundukkan kepalanya, "Tapi, Bu, rasanya begitu sulit. Kami sudah terbiasa dengan Momo."


Ana mengambil nafas dalam-dalam, "Kadang-kadang dalam hidup, kita harus mengambil keputusan yang sulit, tidak hanya untuk kebaikan kita sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan orang lain."


Ima menatap Ana, "Apa maksudmu, Bu?"


Ana menjawab dengan sabar, "Ketika kalian memutuskan untuk merawat Momo, kalian melakukannya dengan niat baik. Tetapi sekarang, kalian tahu siapa pemilik sejati Momo. Mengembalikan Momo kepada Pak Haris adalah hal yang benar."


Yusuf, dengan suara bergetar, bertanya, "Tapi, Bu, apa yang akan kami rasakan setelah Momo pergi?"


Ana, dengan mata yang bersinar penuh kasih, menjawab, "Kalian akan merasakan rasa sakit, tentu saja. Tapi kalian juga akan merasakan kelegaan karena telah melakukan yang benar. Dan yang terpenting, kalian akan tumbuh menjadi individu yang lebih dewasa dan bertanggung jawab."


Ima, sambil mengusap air matanya, berkata, "Kami akan merindukannya, Bu."


Ana memeluk Ima dan Yusuf erat-erat, "Aku tahu. Tapi ingatlah bahwa cinta sejati seringkali membutuhkan pengorbanan. Kalian telah menunjukkan cinta kalian kepada Momo dengan merawatnya, dan sekarang saatnya kalian menunjukkan cinta kalian dengan mengembalikannya."

__ADS_1


Yusuf, dengan suara yang lebih mantap, berkata, "Kamu benar, Bu. Besok kami akan mengembalikan Momo kepada Pak Haris."


Malam itu, meskipun dikelilingi oleh kesedihan, ada pelajaran berharga yang telah Ima dan Yusuf pelajari. Dengan dukungan Ana, mereka siap menghadapi hari esok dengan keberanian dan keputusan yang sulit namun benar.


__ADS_2