
Angin sepoi-sepoi berhembus di luar rumah, menggerakkan dedaunan pohon rambutan di halaman belakang dengan ritme yang menenangkan. Langit senja menampilkan gradasi warna oranye dan ungu, menciptakan pemandangan yang indah dari jendela dapur Ana. Di dalam dapur yang penuh aroma tumisan bawang putih dan bumbu rempah, Ana sibuk mempersiapkan makan malam.
Piring-piring bersih sudah tersusun rapi di meja makan, menanti hidangan yang akan segera siap. Ima, yang duduk di ruang tamu, sedang asyik membaca buku kesayangannya sambil sesekali melirik ke luar jendela, menikmati permainan cahaya senja yang memantul dari permukaan daun yang basah karena hujan sore tadi.
Tiba-tiba, derap langkah cepat mendekati pintu depan rumah. Ketukan terdengar tiga kali, cukup keras namun berirama. Ana, yang tengah membalik ayam di wajan, terlonjak kaget. Ia mematikan kompor dan menghapus tangan yang berminyak dengan serbet dapur.
Ima, dengan raut wajah penasaran, berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Ibu, ada tamu?" tanyanya seraya mengintip melalui jendela samping pintu.
Ana mengangguk, "Bukakan pintunya, Nak."
Dengan gerakan pelan, Ima membuka pintu. Di ambang pintu berdiri seorang wanita berambut hitam panjang yang diikat kuda-kuda, dengan mata yang penuh cerita. Ia mengenakan blus biru dan rok panjang berwarna hitam. Wajahnya tampak akrab, namun sekaligus asing bagi Ima.
"Lila?" Ana mengucapkan nama itu dengan suara yang penuh kejutan dan rasa haru.
Lila tersenyum lembut, "Hai, Ana. Sudah lama sekali ya."
Mereka berdua berpelukan erat, seolah mencoba mengejar ketinggalan waktu yang sudah lama memisahkan mereka. Mata Ana berkaca-kaca, dan Lila pun tampak menahan air mata.
Yusuf, yang baru saja turun dari tangga setelah selesai belajar, berhenti di tengah-tengah ruang tamu dengan ekspresi bingung. "Ibu, siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Lila dengan dagu.
Ana melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Lila, "Yusuf, Ima, ini Lila, teman lamaku. Kita pernah bersama-sama saat masih di sekolah dulu."
Lila melambaikan tangan dengan ramah, "Hai, Yusuf. Hai, Ima. Kalian sudah besar ya."
__ADS_1
Ima tersenyum malu, "Halo, Tante Lila. Maaf, saya tidak mengenali Anda."
Lila tertawa, "Tidak apa-apa, Sayang. Terakhir kali saya melihatmu, kamu masih bayi."
Sambil bercengkerama, Ana mengajak Lila masuk dan duduk di sofa ruang tamu. "Kamu mau minum apa, Lil?" tanya Ana sambil menuju dapur.
"Segelas teh hangat saja," jawab Lila dengan senyum.
Sementara Ana sibuk di dapur, Yusuf dan Ima duduk di samping Lila, memulai percakapan ringan tentang sekolah dan kegiatan sehari-hari mereka. Mimik wajah Lila menunjukkan rasa tertarik dan senang mendengar cerita dari kedua anak tersebut.
Tidak lama kemudian, Ana kembali dengan nampan berisi gelas teh dan pisang goreng cokelat. "Aku ingat kamu suka pisang goreng cokelat, Lil," ucap Ana sambil tersenyum.
Lila menatap pisang goreng dengan mata berbinar, "Oh, Ana, kamu masih ingat ya? Terima kasih." Ia lalu menggigit pisang goreng itu, dan ekspresi wajahnya tampak sangat puas.
Ketika malam semakin larut, obrolan mereka semakin dalam, membahas kenangan masa lalu dan segala rahasia yang sempat terpendam. Namun, di tengah-tengah kehangatan tersebut, ada rasa haru dan kesedihan yang terasa, seolah ada luka lama yang kembali terbuka.
Dekapan malam telah menggulung kota, menyisakan gemerlap cahaya bulan purnama yang menyilaukan. Langit malam dengan bintang-bintangnya tampak begitu cerah, seolah-olah mereka adalah saksi bisu dari kenangan masa lalu yang sedang dibagikan. Cahaya lilin yang diletakkan di atas meja teras menambah atmosfer hangat dan romantis. Semilir angin malam menghembuskan aroma bunga kamboja yang tumbuh di sudut taman, menciptakan suasana yang mendamaikan.
Lila dan Ana duduk berhadapan di kursi rotan, sementara secangkir teh hangat yang masih menguap berada di tangan mereka. Lila menyesap tehnya perlahan, lalu menaruhnya kembali ke atas meja dengan gerakan lembut. "Ingat waktu kita naik gunung tanpa persiapan apa-apa, hanya membawa bekal roti dan air?" tanyanya sambil tersenyum.
Ana tertawa, "Oh, Tuhan! Itu adalah ide terburuk yang pernah kita miliki! Kita berdua kedinginan dan lapar. Hahaha." Wajahnya tampak merah memikirkan kenakalan masa remajanya.
Lila menunjuk hidung Ana, "Dan kamu, selalu berpikir kamu adalah pemandu gunung terbaik. Padahal, kita nyaris tersesat."
__ADS_1
Keduanya tertawa. Lila mengambil napas dalam-dalam, menikmati kesegaran udara malam. "Tapi, Ana," katanya dengan nada lebih serius, "Waktu itu, ketika kita berdua duduk di puncak, melihat matahari terbit... itu adalah salah satu momen terindah dalam hidupku."
Ana mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu, Lil. Kita telah melewati banyak hal bersama. Dan kamu tahu, di saat-saat sulit, saat aku merasa dunia berada di pundakku, kamu selalu ada di sana untukku."
Lila mengambil tangan Ana dan memegangnya erat. "Dan kamu untukku, Ana. Ketika dunia tampak begitu kelam, saat aku merasa tak ada yang peduli, kamu selalu ada. Menjadi teman yang penuh empati, mendengarkan ceritaku, menghiburku dengan leluconmu yang konyol."
Kedua wanita itu duduk dalam diam sejenak, membiarkan kenangan-kenangan itu mengalir dalam benak mereka, meresapi setiap detik dari masa lalu yang telah mereka jalani bersama.
Sementara itu, di dalam rumah, Ima duduk di meja kerjanya, mengambil seutas benang dan beberapa manik-manik berwarna. Ia sibuk membuat gelang persahabatan untuk Lila. Dia ingin memberikan sesuatu yang spesial sebagai tanda terima kasih karena telah membuat ibunya begitu bahagia malam itu.
"Yusuf!" Ima memanggil kakaknya. "Apa menurutmu Tante Lila suka warna biru atau hijau?"
Yusuf, yang sedang asyik bermain game di komputernya, menoleh. "Mmm, biru kayaknya. Sepertinya dia suka warna yang tenang."
Ima mengangguk dan mulai merangkai manik-manik biru ke dalam benangnya. Sesekali, ia menoleh ke arah jendela, melihat siluet ibunya dan Lila yang tampak begitu akrab dan hangat di bawah sinar bulan.
Ketika gelang itu selesai, Ima memandanginya dengan bangga. Ia berharap Lila akan menyukainya.
Kembali di teras, Lila tampak sedikit ragu sebelum bertanya, "Ana, apa kamu pernah merasa... kesepian? Meski kamu punya Yusuf dan Ima?"
Ana menghela napas panjang, "Tentu, kadang-kadang. Tapi anak-anak selalu ada untukku, dan mereka adalah segalanya bagiku."
Lila tersenyum, "Aku bahagia untukmu, Ana. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan ini."
__ADS_1
Ana tersenyum balik, "Kita semua pantas, Lil."
Keduanya kembali tenggelam dalam kenangan dan tawa, menikmati kebersamaan di bawah langit malam yang penuh bintang.