
Langit biru cerah dengan semburat oranye yang menyebar merata, memberikan tanda bahwa hari hampir sore. Angin berhembus perlahan, menerbangkan dedaunan yang gugur, dan bercampur dengan aroma bunga-bunga yang tumbuh di sekitar rumah Ana.
Di dalam rumah, terdengar langkah kaki kecil yang melangkah cepat menuju tangga yang mengarah ke loteng. Yusuf, dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, memutuskan untuk menjelajahi loteng tersebut. Rambut cokelat gelapnya berterbangan seiring langkahnya yang semakin cepat. Loteng itu selalu menjadi misteri baginya, penuh dengan kotak-kotak berdebu yang menyimpan kenangan masa lalu.
Saat ia memasuki loteng, cahaya matahari yang menerobos celah-celah atap kayu memberikan penerangan yang cukup untuknya. Yusuf menemukan kotak kayu berwarna coklat dengan hiasan ornamen kuno di sudut ruangan. Dengan tangan kecilnya, ia membuka kotak tersebut dan menemukan mainan kereta yang tampak telah usang oleh waktu.
"Wow!" Yusuf berseru dengan mata terbelalak. Ia menggenggam mainan tersebut dan berimajinasi. "Chug-chug! Siap berangkat menuju kota berikutnya!" katanya, sambil membiarkan imajinasinya bebas.
Kerutan di dahi Ana mulai menghilang ketika ia mendengar suara riang Yusuf dari loteng. Ana, dengan apron masak yang ia kenakan, meninggalkan dapur dan menaiki tangga untuk melihat apa yang sedang dilakukan Yusuf. Saat melihat mainan di tangan Yusuf, matanya membelalak, dan kenangan masa lalu kembali menghampirinya.
"Yusuf," katanya dengan nada lembut, "darimana kamu menemukan mainan itu?"
Dengan senyum lebar, Yusuf menjawab, "Di kotak tua di sudut loteng, Bu. Ini keretamu waktu kecil?"
Ana duduk di lantai kayu loteng, mengambil mainan dari tangan Yusuf dan memandanginya dengan mata berkaca-kaca. "Ini bukan milikku, tapi milikmu saat kamu masih bayi," ujarnya, sambil mengusap permukaan mainan dengan jemari lentiknya.
"Benarkah?" Yusuf dengan wajah penuh keingintahuan mendekat, duduk bersila di sebelah Ana. "Ceritakan dong, Bu!"
Cahaya sore semakin meredup, memberikan suasana hangat di loteng yang penuh kenangan. Ana menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita, "Saat kamu baru lahir, seorang teman baik memberikanku mainan kereta ini untukmu. Ia bilang, semoga Yusuf tumbuh menjadi seseorang yang kuat dan bisa melintasi rintangan seperti kereta yang tak pernah berhenti."
Yusuf memperhatikan wajah ibunya, melihat kerutan halus di sudut matanya dan senyum lembut yang membentuk di bibirnya. "Lalu, kenapa mainan ini ada di kotak tua di loteng, Bu?"
Ana tersenyum, "Karena kita selalu ingin menyimpan kenangan yang berharga, meski terkadang kita lupa di mana kita meletakkannya."
Keduanya tertawa, dan saat itulah, di tengah hangatnya kenangan dan cahaya sore yang meredup, hubungan seorang ibu dan anak semakin erat.
__ADS_1
Langit mulai berubah menjadi ungu gelap, memberi isyarat bahwa malam akan tiba. Burung-burung pulang ke sarangnya, menciptakan latar suara yang harmonis. Ana dan Yusuf masih duduk di loteng, dikelilingi kotak-kotak kenangan yang berdebu. Yusuf, dengan matanya yang masih bersinar karena penasaran, menatap Ana dan menunggu cerita selanjutnya.
Ana menarik napas dalam-dalam, "Saat pertama kali aku melihatmu, Yusuf, kamu sedang bermain sendiri di halaman panti dengan sebuah mobilan mainan kecil."
Yusuf mengangkat alisnya, "Mobilan? Bukannya kereta, Bu?"
Ana tersenyum, "Ya, mobilan. Panti asuhan itu berada di pinggiran kota, di sebuah rumah tua dengan pagar besi berkarat dan taman yang dipenuhi bunga aster dan mawar. Saat itu, matahari bersinar cerah, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga dan kue cokelat yang sedang dipanggang."
Yusuf merasakan hidungnya dihinggapi aroma kue cokelat yang manis dan hangat. "Mmm, pasti enak sekali kuenya!"
Ana tertawa ringan, "Iya, memang. Pemilik panti, Bu Sari, adalah seorang ahli dalam membuat kue. Anak-anak di panti selalu menantikan saat-saat istimewa ketika Bu Sari memanggang kue cokelatnya yang legendaris."
Yusuf mencoba mengingat-ingat, tetapi kenangan itu terasa kabur. "Tapi, mengapa aku sendirian, Bu?"
Ana menatap Yusuf dengan mata yang penuh kasih. "Kamu selalu mandiri sejak kecil. Meski begitu, aku bisa melihat kesepian di matamu, seolah kamu menunggu seseorang yang akan mengerti dan mencintaimu."
Ana mengangguk, "Ya. Aku datang untuk berbicara dengan Bu Sari, ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak di panti tersebut. Tapi, begitu mataku tertuju padamu, aku merasa ada ikatan khusus antara kita."
Yusuf, dengan mata berkaca-kaca, bertanya, "Bagaimana reaksimu saat pertama kali melihatku?"
Dengan senyum yang penuh kehangatan, Ana menjawab, "Kamu sedang duduk di bawah pohon besar, dengan rambutmu yang acak-acakan dan wajahmu yang lusuh karena bermain tanah. Namun, yang paling kuingat adalah mata kamu, yang penuh dengan harapan dan rasa ingin tahu."
Yusuf tersenyum, "Seperti saat aku menemukan mainan kereta ini?"
Ana mengangguk, "Tepat sekali. Saat itu, aku merasa harus membawamu pulang, memberimu rumah, keluarga, dan cinta yang selama ini kamu cari."
__ADS_1
Keduanya terdiam sejenak, tenggelam dalam kenangan. Seiring malam yang semakin dalam, lampu loteng yang berpendar lembut menambah kehangatan antara ibu dan anak ini, saling menguatkan dan menghargai setiap momen berharga yang telah mereka lalui bersama.
Lampu loteng mulai berpendar dengan ritme yang konsisten, memberikan penerangan yang cukup untuk melanjutkan percakapan yang hangat antara Ana dan Yusuf. Suara jangkrik mulai terdengar dari luar, menyertai irama malam yang damai dan tenang.
Ana mengambil napas panjang, mencoba mengumpulkan kenangan-kenangan pertamanya dengan Yusuf. "Kamu tahu, Yusuf, menjadi seorang ibu itu bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi seseorang yang baru pertama kali merawat bayi."
Yusuf, dengan ekspresi penuh keingintahuan, bertanya, "Apa yang terjadi, Bu? Apakah aku sering menangis?"
Ana tersenyum, mengingat kembali masa-masa tersebut. "Oh, tentu saja. Setiap malam, seperti jam, kamu akan menangis tersedu-sedu. Aku mencoba segala cara, dari menggendongmu, menyanyikan lagu pengantar tidur, hingga menari-nari di sekitar kamar."
Mata Yusuf membesar, "Menari, Bu?"
Ana tertawa, "Ya, menari! Aku begitu putus asa mencoba membuatmu berhenti menangis hingga aku menari dengan gerakan-gerakan konyol." Ia kemudian menirukan beberapa gerakan tarian yang pernah ia lakukan, membuat Yusuf tertawa terbahak-bahak.
Namun, suasana ceria itu segera berubah saat Ana melanjutkan ceritanya, "Namun, ada satu malam yang benar-benar membuatku frustasi. Aku terjaga oleh tangisanmu dan menemukanmu basah kuyup. Aku pikir mungkin kamu kedinginan atau ada yang salah. Tapi, saat aku memeriksa popokmu..."
Yusuf mengerutkan kening, "Apa yang terjadi dengan popokku?"
Dengan rona muka yang memerah, Ana menjawab, "Ternyata aku salah mengenakan popokmu! Aku terlalu lelah dan mungkin sedikit linglung saat itu, sehingga popokmu terbalik! Air senimu menumpah dan basahi seluruh tempat tidur."
Yusuf tertawa keras mendengar cerita ibunya. "Oh, Bu! Jadi itu sebabnya ada foto ku dengan popok terbalik di album keluarga?"
Ana mengangguk sambil tertawa, "Betul! Aku memotretmu sebagai kenangan bahwa kesalahan kecil bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan."
Yusuf menghampiri Ana dan memeluknya erat, "Terima kasih, Bu, sudah merawatku dengan penuh cinta, meskipun dengan popok terbalik."
__ADS_1
Ana membelai rambut Yusuf, "Kamu adalah anugerah terbesarku. Kesalahan-kesalahan kecilku sebagai ibu baru hanya mengingatkanku betapa berharganya setiap momen bersamamu."
Dedaunan di luar mulai berbisik dengan angin malam, mengirimkan aroma bunga melati yang sedang mekar. Lampu loteng memberikan semburat cahaya keemasan di wajah Ana dan Yusuf, mengabadikan momen hangat antara ibu dan anak yang saling mengapresiasi perjalanan hidup mereka bersama.