Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Latar Lukisan


__ADS_3

Di balik wajah-wajah yang telah diabadikan dengan indah di kanvas, ruang kosong dengan potensi tak terbatas menunggu untuk diisi. Ana berdiri, memegang palet catnya, matanya melihat berbagai warna cerah yang siap untuk menyempurnakan lukisannya.


"Warna apa yang paling mencerminkan masa laluku?" gumam Ana pelan, jari-jarinya dengan lembut mengusap setiap tabung cat.


Dinding ruangan seolah mendengarkan, menyerap setiap pikiran Ana. Suara gemericik air dari kolam luar menambah kedamaian. Namun, dalam kedamaian itu, kenangan masa lalu Ana muncul kembali. Warna-warna masa lalu yang penuh perjuangan, cemoohan, tetapi juga kasih sayang.


Dengan kuas di tangan, Ana mulai menciptakan latar. Ia memilih biru muda, mengingatkannya pada hari-hari ketika dia merasa sendirian, dikelilingi oleh kegelapan. Namun, ada pula semburat oranye dan kuning, yang menggambarkan harapan dan kehangatan dari orang-orang yang mencintainya.


Sambil melukis, dia teringat akan Sari, sahabatnya yang telah pergi, yang juga mengalami nasib serupa dengannya. "Kita harus tetap kuat, Ana," ucap Sari dalam ingatannya, saat mereka duduk bersama di tepi jalan setelah diusir dari rumah.


"Kau ingat, Sari?" Ana berbisik, air matanya jatuh ke kanvas, menyatu dengan cat. "Kita pernah berjanji akan melukis dunia dengan warna-warna cerah kita."


Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Ima masuk dengan secangkir teh di tangannya. "Bu, kau tampak lelah," katanya dengan suara penuh kekhawatiran, "Aku buatkan teh untukmu."


Ana tersenyum, menghentikan kuasnya sejenak. "Terima kasih, sayang," katanya, mengambil cangkir dari tangan Ima. "Kamu selalu tahu kapan aku butuh istirahat."


Ima duduk di samping Ana, "Ceritakan tentang latar yang kau lukis, Bu. Tentang warna-warnanya."


Ana menghela napas, "Setiap warna memiliki cerita, Ima. Seperti biru muda ini, mengingatkanku pada hari-hari ketika aku merasa sendirian. Namun, oranye dan kuning mewakili harapan dan cinta dari orang-orang yang selalu ada untukku."


Ima menatap lukisan dengan kagum, "Setiap sapuan kuasmu penuh dengan perasaan, Bu. Aku bisa merasakannya."


Ana menatap Ima dengan mata berkaca-kaca, "Itulah seni, sayang. Cara kita mengungkapkan perasaan kita, kisah kita."


Mereka berdua kemudian tenggelam dalam kenangan, duduk bersama di bawah cahaya lampu yang hangat, dikelilingi oleh aroma teh yang harum dan suara gemericik air yang menenangkan.


Setelah beberapa saat, Ana kembali melanjutkan lukisannya, dengan Ima di sisinya. Mereka berdua, ibu dan anak, mengisi ruang tersebut dengan cinta dan kenangan, melalui setiap sapuan kuas dan percakapan yang hangat.

__ADS_1


Cahaya senja menyinari ruangan melalui jendela besar, memberikan semburat emas pada setiap objek yang terkena. Di sebuah meja sudut, terdapat beberapa barang kenangan keluarga: mainan kecil berbentuk kereta api, gelang manik-manik berwarna biru muda, dan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati.


Ana mengambil mainan kereta api kecil itu, memegangnya dengan lembut. "Ini mainan kesukaan Yusuf saat dia masih bayi," katanya pada dirinya sendiri, mengingat saat-saat dimana Yusuf selalu tertidur dengan mainan itu di tangannya. Dengan hati-hati, dia menggambarkan mainan tersebut di sudut kanvas, menciptakan detil yang sempurna hingga roda kecil mainan itu.


Selanjutnya, Ana mengambil gelang manik-manik biru muda. Setiap manik-manik mengingatkannya pada tawa Ima yang riang, saat dia memberikannya sebagai hadiah ulang tahun. Ana melukis gelang tersebut di pergelangan tangan gambar Ima, dengan detail manik-manik yang tampak seolah-olah berkilauan.


Kemudian, Ana memandang kalung dengan liontin berbentuk hati. Kalung yang dia terima saat transisi, simbol dari perjalanan pribadinya, penuh dengan cinta dan penerimaan. Ana menggantungkannya di lehernya sendiri dalam lukisan, dengan sentuhan yang penuh emosi.


Saat Ana tengah membenahi beberapa detil terakhir, suara ketukan pintu mengganggu konsentrasinya. "Siapa ya?" pikirnya.


Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok tetangga mereka, Ibu Rini, dengan wajah cerah. "Wah, Ana, maaf mengganggu. Aku melihat cahaya di ruangan ini dan penasaran dengan apa yang kau kerjakan," ujarnya sambil memasuki ruangan.


Ana tersenyum, "Selamat datang, Bu Rini. Aku baru saja menyelesaikan lukisan keluargaku."


Ibu Rini mendekati kanvas, matanya membelalak kagum. "Wah, ini luar biasa, Ana! Setiap detailnya begitu hidup. Aku terutama suka bagian kalung itu," katanya sambil menunjuk kalung di gambar Ana.


Ana merasa sedikit gugup. "Terima kasih, Bu Rini. Kalung itu memiliki makna khusus bagiku."


Ana mengangguk, "Tentu saja, Bu."


Setelah Ibu Rini pergi, Ana duduk di sofa, memandangi karyanya. Dia merasa bangga dengan apa yang telah dia ciptakan. Bukan hanya karena kemampuan melukisnya, tetapi juga karena cerita dan makna di balik setiap detailnya.


Yusuf dan Ima bergabung dengannya, memeluknya erat. "Kau luar biasa, Bu," bisik Ima.


Ana menatap kedua anaknya, mata mereka penuh dengan cinta dan kebanggaan. "Kita semua luar biasa," katanya dengan suara penuh harapan.


Seiring matahari mulai tenggelam, ruang tamu rumah Ana dipenuhi dengan cahaya emas yang hangat. Ruangan yang biasanya sederhana kini telah berubah menjadi sebuah galeri kecil. Di tengah ruangan, sebuah kanvas besar dengan lukisan keluarga Ana diletakkan dengan bangga.

__ADS_1


Yusuf dan Ima sibuk menata kursi dan meja kecil. Di atas meja, ada beberapa hidangan ringan dan minuman yang telah mereka siapkan untuk keluarga yang akan datang.


"Bu, kau rasa kakek dan nenek akan suka lukisan ini?" tanya Ima dengan sedikit gugup.


Ana mendekat dan memeluk Ima, "Mereka pasti akan menyukainya, sayang. Kita telah mengabadikan kenangan indah kita di sini."


Tak lama, suara bel rumah berbunyi. Yusuf segera berlari ke pintu dan membukanya. Satu per satu, anggota keluarga mulai datang. Mulai dari kakek dan nenek, paman dan bibi, hingga sepupu-sepupu Yusuf dan Ima.


Kakek, dengan rambutnya yang sudah memutih dan tongkat di tangannya, mendekati lukisan dengan langkah pelan. "Ini... luar biasa, Ana," katanya dengan suara tercekat.


Ana menghampirinya, "Terima kasih, Kakek. Aku ingin semua orang melihat dan merasakan kebersamaan kita."


Nenek, dengan mata berkaca-kaca, menambahkan, "Aku bangga padamu, Ana. Kau telah melalui banyak hal dan kini kau berdiri di sini, bersama keluarga yang kau cintai."


Seiring malam semakin larut, ruangan itu dipenuhi dengan tawa dan cerita. Mereka berbicara tentang masa lalu, masa saat Ana masih kecil, masa ketika Yusuf dan Ima pertama kali diadopsi, dan banyak kenangan lainnya.


Paman Budi, yang selalu dikenal dengan humorisnya, berkata sambil tertawa, "Ingat saat Yusuf mencoba memanjat pohon di halaman belakang? Dan dia terjebak di sana selama berjam-jam?"


Semua orang tertawa, termasuk Yusuf yang tampak malu. "Aku hanya ingin mengambil bola, Paman!" katanya sambil tertawa.


Sebagai tuan rumah, Ana sibuk melayani tamu, tetapi senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dia merasa begitu beruntung memiliki keluarga yang mendukungnya.


Ima, dengan gelas jus di tangannya, menghampiri Ana. "Bu, aku ingin mengatakan sesuatu," katanya dengan serius.


Ana menunduk, "Apa itu, sayang?"


Ima menarik napas dalam-dalam, "Aku bangga memiliki ibu sepertimu. Meskipun kita bukan keluarga kandung, tapi cinta yang kau berikan padaku lebih dari cukup."

__ADS_1


Ana meneteskan air mata, memeluk Ima erat. "Kau adalah anugerah terbesarku, Ima."


Malam itu, ruangan itu dipenuhi dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Meskipun ada beberapa kali air mata jatuh, tetapi lebih banyak tawa yang menggema. Keluarga, dengan segala dinamikanya, selalu menjadi tempat kembali bagi setiap anggotanya. Dan lukisan keluarga Ana adalah bukti nyata dari kebersamaan yang tak tergoyahkan.


__ADS_2