
Di luar, malam semakin gelap, menyelimuti dunia dengan bintang-bintang yang berpendar di langit. Gemerisik angin bertiup melalui celah-celah jendela loteng, membawa aroma bunga lavender yang tumbuh subur di pekarangan belakang rumah. Cahaya bulan memantulkan sinarnya melalui jendela loteng, menciptakan nuansa yang magis dan tenang.
Yusuf menoleh ke Ana, matanya berkaca-kaca. "Bu, aku ingat sesuatu. Setiap kali aku sulit tidur, ada lagu yang selalu kamu nyanyikan. Lagu apa itu?"
Ana, dengan sorot mata yang penuh nostalgia, menjawab, "Ah, lagu itu. Lagu yang selalu membuatmu terlelap dalam dekapanku." Dia menarik napas dalam-dalam, seakan mencoba mengingat setiap kata dan nada dari lagu tersebut.
Dengan suara lembut, Yusuf bertanya, "Bisakah kamu menyanyikannya lagi, Bu?"
Ana mengangguk pelan. Kemudian, dengan suara serak penuh emosi, ia mulai menyanyikan lagu tersebut. Suaranya yang merdu mengisi seluruh ruangan, membawa keduanya ke masa lalu. Lirik lagu itu berbicara tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, tentang impian dan harapan yang dia miliki untuk masa depan anaknya.
Seiring berjalannya lagu, Yusuf mulai bergabung, menyanyikan lirik yang ia ingat. Suara mereka berdua menyatu dengan sempurna, menciptakan harmoni yang memenuhi loteng.
"Bu, kenapa kamu memilih lagu itu sebagai lagu pengantar tidurku?" tanya Yusuf setelah mereka selesai bernyanyi.
Ana tersenyum, "Lagu itu mengingatkanku tentang betapa berharganya setiap momen yang kita habiskan bersama. Liriknya menggambarkan perasaanku, harapanku, dan impianku untukmu. Dan, entah bagaimana, lagu itu selalu berhasil membuatmu tenang dan tertidur dengan nyenyak."
Yusuf menggenggam tangan Ana erat-erat, "Terima kasih, Bu. Lagu itu, dan kamu, selalu membuatku merasa aman dan dicintai."
Mereka berdua duduk bersama-sama, menikmati kedamaian malam yang disertai dengan suara jangkrik dari luar. Yusuf menopang kepalanya di bahu Ana, sementara Ana memeluk Yusuf dengan erat, merasakan setiap detak jantung anaknya.
Di tengah keheningan, Ana bisikkan sesuatu di telinga Yusuf, "Kamu tahu, Yusuf, lagu itu bukan hanya untuk mengantarmu tidur, tetapi juga untuk mengingatkanku betapa beruntungnya aku memiliki kamu."
Yusuf tersenyum, "Dan aku beruntung memiliki kamu, Bu."
Dalam kehangatan cahaya bulan, di tengah aroma bunga lavender, dan ditemani oleh alunan lagu pengantar tidur, seorang ibu dan anaknya saling berbagi kenangan dan kasih sayang yang tak terbatas.
Ketika malam semakin larut, Ana dan Yusuf masih duduk berdekapan di loteng, dikelilingi oleh kenangan yang tersembunyi dalam kotak-kotak tua. Gerimis mulai turun di luar, mempercantik malam dengan detik-detik air yang menabur lembut di atas genting.
Ana mengangkat mainan kereta yang tadi ditemukan Yusuf dan mengelusnya dengan lembut. "Tahukah kamu, Yusuf, ada kisah khusus di balik mainan kereta ini."
__ADS_1
Yusuf, dengan rasa ingin tahu yang membara, bertanya, "Kisah apa itu, Bu?"
Ana menarik napas dalam, mempersiapkan diri untuk bernostalgia. "Sebelum kamu lahir, aku memiliki seorang teman dekat, namanya Bapak Arif. Dia adalah seorang masinis kereta. Ketika aku memberitahunya bahwa aku akan mengadopsi seorang anak, dia memberiku mainan kereta ini sebagai hadiah."
Mata Yusuf berbinar, "Jadi, mainan ini adalah hadiah dari Bapak Arif?"
Ana mengangguk, "Benar. Tetapi ada janji yang dia sampaikan bersama mainan ini." Dia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, "Dia berjanji, ketika kamu cukup besar, dia akan mengajakmu berkeliling kota dengan kereta asli."
Yusuf menatap Ana dengan mata membesar, "Kenapa aku tidak pernah tahu tentang ini, Bu?"
Ana tersenyum sedih, "Karena beberapa tahun setelah kamu lahir, Bapak Arif harus pindah ke kota lain. Kami sempat kehilangan kontak. Tetapi, aku selalu mengingat janji itu dan berharap suatu saat bisa terwujud."
Sambil menatap mainan kereta di tangan Ana, Yusuf bertanya, "Apakah kamu rindu dengan Bapak Arif, Bu?"
Dengan ekspresi melankolis, Ana menjawab, "Sangat. Dia adalah sahabat yang baik, selalu mendukungku dan percaya padaku. Dia juga sangat bersemangat saat tahu aku akan menjadi seorang ibu."
Air mata mulai menetes di pipi Yusuf. "Aku berharap bisa bertemu dengannya, mendengar cerita tentang kereta dari masinis sejati."
Sejenak, mereka berdua menikmati hening malam, hanya dihiasi suara gemercik hujan di luar. Suasana loteng menjadi hangat dengan kebersamaan mereka, dengan lampu loteng yang semakin redup dan aroma tanah basah yang mulai tercium.
Yusuf, dengan mata berkaca-kaca, berkata, "Terima kasih, Bu, telah menceritakan ini padaku. Aku merasa sangat dicintai, tidak hanya olehmu, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarmu."
Ana mengusap kepala Yusuf, "Kamu memang pantas dicintai, Yus. Kau adalah berkah dalam hidupku."
Dalam pelukan ibu yang hangat, Yusuf merasa aman dan dicintai, menyadari bahwa cinta bisa datang dari banyak sumber, meskipun mereka bukan keluarga kandung.
Pagi itu, cahaya matahari menyinari kamar Yusuf dengan lembut, memberi isyarat awal hari yang cerah. Burung-burung berkicau riang, menyambut pagi dengan lagu-lagu alam. Sebuah aroma kopi dan sarapan hangat mulai menyebar ke seluruh rumah.
Yusuf, yang masih menguap dan menggosok-gosok matanya, turun ke dapur dan menemukan Ana yang tampak sibuk dengan sesuatu di meja makan. "Selamat pagi, Bu," sapa Yusuf sambil menguap.
__ADS_1
Ana menoleh dengan senyum misterius di bibirnya, "Selamat pagi, Yus. Siap untuk petualangan hari ini?"
Yusuf mengedipkan matanya bingung, "Petualangan apa, Bu?"
Tanpa menjawab, Ana memberikan sebuah tiket kepada Yusuf. Yusuf mengambilnya dan membacanya dengan matanya yang masih setengah terpejam, "Tiket kereta... ke pusat kota?" katanya dengan kening berkerut.
Ana tersenyum lebar, "Ingat janji lama Bapak Arif? Meskipun dia tidak bisa menemani kita, kita masih bisa mewujudkannya bersama."
Mata Yusuf membesar, penuh dengan kegembiraan. "Benarkah kita akan berkeliling kota dengan kereta hari ini, Bu?"
Ana mengangguk, "Benar! Siap untuk petualangan?"
Dengan semangat yang meluap-luap, Yusuf berkata, "Tentu saja siap!"
Mereka berdua bersiap-siap dan segera menuju stasiun kereta. Di stasiun, keramaian orang berlalu lalang, dengan aroma kopi dan roti panggang yang menggoda indra penciuman. Ana dan Yusuf naik ke gerbong kereta, duduk di jendela sambil menikmati pemandangan kota yang berlalu dengan cepat.
"Bu, lihat! Ada taman bermain yang besar di sana!" kata Yusuf sambil menunjuk ke luar jendela.
Ana tertawa, "Kamu ingin bermain di sana nanti?"
Yusuf mengangguk bersemangat, "Oh, tentu saja!"
Seiring perjalanan, mereka berdua berbagi cerita, tawa, dan kebahagiaan. Mereka mengunjungi tempat-tempat menarik di kota, dari taman bermain, museum, hingga pasar tradisional. Di setiap tempat, mereka menciptakan kenangan baru yang indah.
Ketika matahari mulai tenggelam, mereka duduk di tepi sungai, menikmati indahnya senja sambil makan es krim. "Bu, hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku," kata Yusuf dengan mata berbinar.
Ana memeluk Yusuf erat, "Bagiku juga, Yus. Aku senang kita bisa mewujudkan janji lama ini bersama."
Mereka berdua kembali ke rumah dengan hati yang penuh dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Meskipun Bapak Arif tidak ada bersama mereka, kenangan dan janjinya tetap hidup dalam hati Ana dan Yusuf.
__ADS_1
Dengan langkah gembira, mereka memasuki rumah, menutup hari dengan kenangan indah yang akan selalu mereka ingat selamanya.