Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Persiapan Lomba Masak


__ADS_3

Langit biru cerah di luar jendela tampak begitu mempesona. Daun-daun pohon di luar bergerak lembut ditiup angin pagi, menciptakan melodi alam yang tenang. Sinarnya yang hangat menyinari ruang tamu yang luas di rumah Yusuf dan Ima, memberi kesan hangat dan menyenangkan. Dari dapur, aroma roti panggang dan kopi mulai menyebar, menciptakan suasana pagi yang sempurna.


Di atas meja makan, Yusuf, dengan kaos polos biru muda dan celana pendek, sedang membaca sebuah brosur. Wajahnya tampak serius, alisnya yang tebal bertaut, mencerminkan keseriusan membaca. "Ima, lihat ini!" serunya, mengibaskan brosur ke udara.


Ima, yang sedang menuangkan susu ke dalam mangkuk serealnya, menoleh. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, dan matanya yang cokelat bersinar penuh antusiasme. "Apa itu, Yus?" tanyanya, sambil mendekati meja.


Yusuf menunjuk gambar di brosur, "Ini lomba masak di sekolah kita! Kita harus ikutan!" Ia tampak bersemangat, kedua matanya berbinar.


Ima mengambil brosur tersebut dan mulai membacanya dengan saksama. "Hmm, sepertinya menarik. Tapi apa yang akan kita masak?"


Sambil menyesap kopi hitamnya, Ana, ibu angkat mereka, tersenyum melihat kedua anaknya bersemangat. "Kenapa tidak coba resep rendang kesukaanku? Kalian kan suka," kata Ana dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia mengingat betapa kedua anaknya selalu meminta masakan itu setiap kali merayakan sesuatu.


Ima menatap Ana, matanya bersinar cerah. "Itu ide bagus, Bu! Apa kamu bisa memberi kami resepnya?"


Ana mengangguk, senyumnya lembut. "Tentu, tapi kalian harus janji akan melakukan yang terbaik, ya."


Yusuf bangkit dari kursinya, matanya bersinar penuh semangat. "Tentu! Kami akan memenangkan lomba ini!" tegasnya, sambil mengepalkan tangan ke udara.


Ima memeluk Ana, wajahnya tampak berterima kasih. "Terima kasih, Bu. Kami tidak akan mengecewakanmu."


Ana menepuk-nepuk punggung Ima dengan lembut, "Saya tahu kalian bisa. Oh, dan jangan lupa untuk berlatih dulu, ya."


Yusuf tertawa, "Tentu saja! Kami akan berlatih setiap hari sampai lomba tiba."


Mereka bertiga tertawa, menikmati suasana pagi yang hangat dan penuh harapan. Mereka tahu bahwa persiapan untuk lomba tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan satu sama lain, mereka yakin dapat menghadapinya.


Luar biasa bagaimana sebuah brosur bisa membangkitkan semangat dan harapan, dan bagaimana resep kesukaan bisa menjadi simbol cinta dan persatuan di antara mereka. Mereka siap untuk tantangan yang akan datang, bersama sebagai satu keluarga.


Pagi itu, matahari masih rendah di langit saat Yusuf dan Ima bersiap-siap untuk pergi ke pasar tradisional. Mereka mengenakan pakaian yang nyaman, dengan tas belanja yang siap dipegang. Ana berdiri di depan pintu, tersenyum hangat saat melihat kedua anaknya yang bersemangat.

__ADS_1


"Dek, jangan lupa membawa daftar belanjaan dan uang," kata Ana, memberi mereka sebuah daftar yang terlipat rapi dan sejumlah uang tunai.


"Baik, Bu!" jawab Ima dengan semangat, menggenggam erat daftar belanjaan.


Mereka berdua berjalan menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Saat mereka tiba di sana, pasar sudah ramai dengan pedagang dan pembeli yang sibuk bertransaksi. Suara dagangan yang dipukul dan tawar-menawar membuat suasana menjadi hidup.


Matahari pagi menerangi pasar dengan cahaya yang lembut, menciptakan bayangan di antara tenda-tenda yang berjejer. Mereka bisa merasakan semilir angin sejuk yang membawa aroma rempah-rempah dan bunga segar. Di sudut pasar, seorang nenek dengan rambut putih yang diikat rapi duduk di bawah tenda berwarna merah, memamerkan berbagai rempah-rempah.


Ibu dan anak berjalan mendekati nenek itu. Ima memerhatikan aneka rempah yang menggoda, sementara Yusuf mengangkat kantong kertas kosong yang disediakan.


Nenek itu tersenyum saat melihat mereka. "Selamat pagi, sayang. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suara lembut.


Ima dengan ramah menjawab, "Selamat pagi, Nenek. Kami ingin membeli rempah-rempah untuk memasak rendang. Ini daftar belanjaannya."


Nenek itu menerima daftar tersebut dengan senyum. "Tentu, tentu. Mari kita lihat apa yang kita butuhkan." Ia kemudian mulai mengambil rempah-rempah dari rak-rak yang penuh warna. Sambil mengambilnya, ia memberikan tips memasak kepada Ima dan Yusuf.


"Saat memasak rendang, yang paling penting adalah memasaknya dengan api kecil dan lambat agar dagingnya menjadi lembut dan rempahnya meresap dengan baik," kata nenek sambil memberikan Ima sebungkus daun salam segar. "Ini akan memberikan aroma yang harum pada rendangmu."


Nenek itu tersenyum penuh empati, "Anak-anak seperti kalian yang peduli dengan masakan tradisional adalah warisan berharga bagi budaya kita."


Saat mereka mengumpulkan semua bahan yang mereka butuhkan, Nenek itu mulai bercerita tentang masa mudanya. Ia bercerita tentang bagaimana ia sering membantu ibunya memasak di dapur kecil mereka, dan bagaimana aromanya selalu mengisi seluruh rumah mereka. Ceritanya membuat Ima dan Yusuf semakin bersemangat.


Setelah semuanya selesai, Ima membayar dengan uang tunai yang diberikan Ana. Mereka berterima kasih kepada nenek yang ramah dan berjalan keluar dari pasar dengan tas belanja yang penuh.


Mereka berdua terus berbicara tentang cerita nenek selama perjalanan pulang. Mereka merasa lebih dekat dengan tradisi keluarga mereka dan semakin yakin bahwa mereka akan membuat rendang yang lezat untuk lomba.


Kembali di rumah, Ana tersenyum bahagia melihat buah hatinya yang penuh semangat. Mereka akan menghadapi tantangan berikutnya dalam persiapan lomba dengan lebih banyak pengetahuan dan semangat yang mereka dapatkan dari pengalaman di pasar tradisional dan cerita nenek yang bijak.


Dapur rumah mereka tampak cerah dengan sinar matahari yang menembus jendela kecil. Beberapa tanaman hias di pinggir jendela menambah kesan alami dan segar. Aroma rempah-rempah bercampur dengan hawa pagi, menciptakan suasana yang sempurna untuk berlatih memasak.

__ADS_1


Yusuf, dengan cekatan, mulai mencuci beras. Ia merendam beras dalam mangkuk besar, airnya tampak keruh sebelum Yusuf mengaduknya dengan telapak tangan. "Ima, bisa tolong potong dagingnya tidak? Pastikan potongannya kecil-kecil ya," instruksinya dengan tegas.


Ima mengangguk, "Siap, Kapten!" katanya sambil memberi hormat lucu. Ia mengambil pisau dapur dan mulai memotong daging dengan hati-hati. Gerakan tangannya terampil, namun dalam salah satu potongannya, ia terlalu cepat dan menyebabkan susu di sampingnya tumpah.


"Aduh!" pekik Ima, matanya membulat, "Maaf, Yus! Aku tidak sengaja."


Yusuf menoleh, wajahnya tampak sedikit kaget namun kemudian tertawa, "Tidak apa-apa, Ima. Ini bagian dari proses belajar." Ia mengambil lap dan membersihkan tumpahan susu tersebut.


Dari ujung dapur, Ana yang sedang meminum tehnya, tersenyum melihat keduanya. "Hati-hati dengan garamnya, jangan terlalu banyak," sarannya sambil menunjuk ke toples garam di meja.


Ima menepuk dahinya, "Oh ya, hampir lupa! Terima kasih, Bu."


Saat Ima hendak menambahkan garam ke dalam masakan, ia tampak ragu. "Seberapa banyak ya, Yus?" tanyanya, matanya menatap garam di tangannya.


Sebelum Yusuf menjawab, tiba-tiba garam di tangan Ima tumpah ke dalam masakan. Keduanya tampak terkejut, mata mereka membelalak.


"Uh-oh," gumam Yusuf, wajahnya tampak pucat.


Ana yang melihat dari kejauhan, tertawa kecil. "Tidak apa-apa, kita bisa memperbaikinya. Tambahkan sedikit air dan beberapa rempah, itu akan menyeimbangkan rasa garamnya."


Keduanya mengangguk dan mulai memperbaiki masakan. Di tengah keramaian dapur, Yusuf mencari sebuah spatula di laci dapur. Namun, yang ia temukan bukanlah spatula, melainkan sebuah album foto lama yang tersembunyi di bagian bawah laci.


"Hey, apa ini?" tanyanya sambil mengambil album tersebut.


Ima mendekat, rasa penasaran terpancar di wajahnya. "Sepertinya album foto lama. Buka, buka!"


Mereka membuka halaman pertama dan menemukan foto Ana yang masih muda, tampak begitu ceria bersama seorang pria. Suasana foto itu tampak begitu hangat dan penuh kebahagiaan.


"Bu, ini foto siapa?" tanya Ima sambil menunjukkan foto tersebut.

__ADS_1


Ana mendekat, matanya memandang foto dengan tatapan penuh kenangan. "Oh, itu foto lama saya bersama kakekmu. Sudah lama sekali saya tidak melihat album ini."


Ketiganya duduk bersama di lantai dapur, menelusuri kenangan di setiap halaman album. Meskipun latihan memasak sempat kacau, hari itu menjadi salah satu hari paling berharga bagi mereka, penuh dengan tawa, cerita, dan kenangan indah.


__ADS_2