
Di tengah ruangan yang dibanjiri cahaya matahari pagi, Ana menyiapkan kanvas putih besar di atas sebuah kaki lukisan. Cahaya tersebut memantul lembut dari dinding berwarna krem, memberikan kehangatan pada ruang tamu yang luas. Dari jendela terbuka, bunyi gemericik air dari taman belakang rumah memasuki ruangan, mengiringi kicauan burung yang menyambut pagi.
Ima, yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku, menoleh ke arah Ana. “Bu, kamu akan melukis apa hari ini?” tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Ana tersenyum, “Aku ingin melukis kita, keluargamu.” Kata-katanya lembut, penuh dengan kasih sayang. Ia mengambil napas panjang, menghembuskannya pelan, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ima menaruh bukunya dan mendekati Ana, "Aku belum pernah melihatmu melukis dirimu sendiri sebelumnya. Ini akan jadi menarik.”
Ana memandang palet warnanya, mengambil beberapa warna dan mencampurnya dengan hati-hati. Dengan lembut, ia mulai menyentuhkan kuasnya ke kanvas, menggambarkan garis-garis awal yang akan menjadi kerangka lukisan. Setiap sapuan kuasnya penuh dengan perasaan; gerakan tangan yang mantap namun lembut, memastikan setiap detailnya sempurna.
Dari seberang ruangan, Yusuf yang sedang bermain video game menoleh dan berkata, "Kamu pasti akan membuatnya terlihat menakjubkan, Bu."
Ana menoleh, matanya berbinar. "Terima kasih, Yus. Tapi yang paling penting bukan bagaimana tampakannya, tetapi perasaan yang kita tuangkan ke dalamnya."
Sejenak, Ana terdiam. Diam-diam, kenangan masa lalunya muncul kembali. Ia teringat akan masa kecilnya, saat ia sering duduk di halaman belakang rumah neneknya, melukis pemandangan sekitarnya. Udara pagi yang sejuk, aroma bunga-bunga yang baru mekar, dan rasa damai yang tak tergantikan. Dia teringat bagaimana seni menjadi pelarian untuknya dari realitas yang keras; bagaimana kuas dan cat menjadi sahabatnya saat merasa kesepian.
Ketika tangan Ana mulai gemetar, Ima dengan cepat mendekatinya, menempatkan tangannya di atas tangan ibunya. “Apa kamu baik-baik saja, Bu?” tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran.
Ana menatap Ima, matanya berkaca-kaca. "Ya, sayang. Aku hanya teringat akan masa lalu." Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Tapi sekarang, aku memiliki kalian. Kalian adalah alasan kenapa aku ingin melukis potret ini."
Dengan ditemani Ima di sisinya, Ana melanjutkan melukis dengan penuh perasaan dan dedikasi. Setiap detail, dari kerutan di dahi hingga sorot mata, dilukiskannya dengan teliti. Seolah-olah, melalui lukisan itu, dia ingin mengabadikan kenangan indah bersama keluarga kecilnya.
Saat matahari mulai tenggelam dan ruangan mulai gelap, Ana akhirnya menyelesaikan kerangka awal lukisan tersebut. Dengan rasa puas, ia melangkah mundur, mengagumi karyanya. Meski masih jauh dari selesai, Ana tahu bahwa lukisan itu akan menjadi salah satu karya terbaiknya.
Seiring cahaya pagi yang menembus jendela, Ana duduk di hadapan kanvasnya, matanya tertuju pada Yusuf dan Ima yang sedang bermain di halaman. Dia dapat melihat pepohonan rindang yang mengelilingi halaman, bayangannya bermain-main di atas rumput hijau. Cahaya matahari menyoroti wajah kedua anaknya, membuat silau matanya namun juga memberikan inspirasi untuk melukis.
"Yusuf, ingatkah kamu saat pertama kali kita bertemu?" tanya Ana dengan suara lembut, tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas.
Yusuf menatap Ana dengan ekspresi bingung, "Hmmm, aku ingat ada banyak mainan," jawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
Ana tersenyum, mengingat kembali saat itu. "Kamu begitu polos. Mata besarmu itu selalu penuh rasa ingin tahu. Kamu selalu bertanya-tanya tentang segala hal," ujarnya sambil melukis detail mata Yusuf.
Ima mendekati kanvas, rambut panjangnya tergerai, diterpa angin ringan pagi yang membuatnya terlihat seperti seorang bidadari kecil. "Bagaimana dengan saya, Bu? Bagaimana saat pertama kali kita bertemu?" tanya Ima dengan suara gemulai.
Ana menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi. "Oh, Ima. Kamu selalu tampak ceria di siang hari. Tapi di malam hari, kamu sering menangis. Aku selalu berusaha membuatmu merasa nyaman, menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu."
Ima mendekap Ana, "Aku tahu, Bu. Aku selalu merasa hangat dan aman di pelukanmu."
Mata Ana berkaca-kaca saat ia menambahkan detail pada wajah Ima. Gerakan tangannya begitu lembut dan penuh perasaan, mencerminkan kasih sayang yang mendalam.
Raka, tetangga mereka yang baru pindah, yang kebetulan lewat, berhenti sejenak. "Wow, lukisan yang luar biasa, Bu Ana. Wajah mereka tampak begitu hidup!"
Ana menoleh, "Terima kasih, Raka. Lukisan ini adalah persembahan hatiku untuk mereka."
Raka mengangguk mengerti, "Itu terlihat jelas dari setiap sapuan kuas Anda."
Ima duduk di samping Ana, memegang tangannya. "Bu, terima kasih sudah melukis kami. Aku tahu ini bukan hanya sekedar gambar, tapi cerita tentang kita."
Ana mengusap kepala Ima, "Ya, sayang. Setiap detail di sini adalah kenangan, tentang bagaimana kita menjadi keluarga."
Yusuf, yang sekarang duduk di sisi lain Ana, menambahkan, "Dan tentang bagaimana kita akan selalu bersama, tidak peduli apa yang terjadi."
Mereka bertiga saling mendekap, merasakan kehangatan cinta keluarga. Dan di tengah-tengah kebersamaan itu, Ana tahu bahwa lukisan tersebut akan menjadi karya terpenting dalam hidupnya, sebuah simbol dari cinta dan pengorbanan.
Sebuah piring palet dengan sisa-sisa cat basah terletak di samping Ana. Sinar matahari sore yang hangat menembus ruangan, menerangi wajahnya yang fokus. Dinding berwarna pastel memberi ketenangan, seolah mendukung Ana dalam penciptaannya. Di luar, daun-daun pohon bergoyang lembut, menari mengikuti irama angin, menemani Ana dalam kesendirian.
Ana mengambil napas dalam-dalam, menatap kanvas yang hampir selesai. Kini tiba saatnya untuk melukis dirinya sendiri. Dengan tangan gemetar, ia mulai menggambarkan siluetnya. Seolah setiap sapuan kuas menggambarkan sebuah perjalanan panjang, penuh liku.
Dalam keheningan, detak jantung Ana terdengar nyata. Dia teringat saat pertama kali menyadari perasaannya tentang identitas gender, ketakutan akan penolakan, dan keputusannya untuk menjalani hidup sebagai perempuan.
__ADS_1
Tiba-tiba, dering telepon memecah lamunannya. Ia berjalan menuju meja sambil mengusap tangan yang penuh cat ke apron. "Halo?"
"Ana? Ini aku, Lina," suara yang familiar terdengar di seberang sambungan.
"Lina? Sudah lama sekali," Ana merespons dengan nada terkejut namun gembira.
"Aku melihat postinganmu di media sosial. Aku melihat kau sedang melukis sebuah potret keluarga," Lina berkata dengan nada lembut.
Ana duduk, "Ya, aku sedang melukis wajah Yusuf, Ima, dan sekarang diriku."
Lina terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku ingat dulu kita berbicara tentang masa depan kita. Tentang bagaimana kita berdua berjuang dengan identitas kita. Kau selalu ingin menjadi ibu, sementara aku..."
"Kau memilih jalanmu sendiri," potong Ana, mengingat-ingat perjuangan mereka bersama di masa lalu.
Ada hening sejenak, kemudian Lina berkata, "Tapi kau, Ana. Aku melihat bagaimana kau tumbuh. Bagaimana kau menghadapi semua rintangan dan menjadi ibu bagi dua anak indah."
Ana menelan ludah, matanya berkaca-kaca, "Itu tidak mudah, Lina. Banyak kali aku merasa tidak layak, merasa tidak mampu. Tapi saat aku melihat wajah Yusuf dan Ima, aku tahu aku harus kuat untuk mereka."
Lina tersenyum lembut di seberang sambungan, "Itulah yang membuatmu spesial, Ana. Kau selalu menemukan kekuatan dalam dirimu, bahkan saat dunia menentangmu."
Ana menghela napas, "Terima kasih, Lina. Aku butuh mendengar itu, terutama sekarang."
Setelah percakapan mereka berakhir, Ana kembali ke kanvasnya, dengan semangat baru. Dengan hati-hati, dia mulai melukis detail wajahnya. Matanya yang selalu tampak penuh harapan, bibirnya yang sering tersenyum meskipun hatinya sedang berduka, dan garis-garis halus di wajahnya yang menceritakan kisah hidupnya.
Ima yang memperhatikan dari jauh mendekat, "Bu, kau tampak cantik di lukisan itu," katanya sambil tersenyum.
Ana memeluk Ima erat, "Terima kasih, sayang. Tapi yang paling penting bukan bagaimana aku terlihat di luar, tapi bagaimana kita merasa di dalam."
Ima mengangguk, memahami maksud ibunya. Mereka berdua kemudian menatap lukisan tersebut, mengagumi karya Ana yang penuh emosi dan cerita.
__ADS_1