
Sore itu langit tampak mendung, awan gelap menggantung rendah, serasa hendak menyentuh atap-atap rumah di kota kecil tersebut. Hujan yang semula hanya gerimis kini mulai mengguyur dengan lebatnya. Bunyi titik-titik hujan yang jatuh menaburkan nada ritmis di atas genting, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Ima duduk di jendela kamarnya, menatap tetesan hujan yang membasahi kaca, membuat dunia luar tampak kabur. Rambut cokelat panjangnya yang biasanya dikuncir, kini tergerai bebas menutupi sebagian wajahnya yang putih bersih. Mata cokelat kecilnya tampak berbinar, namun ada semacam kebosanan yang terpancar darinya.
"Mengapa hujan harus turun saat aku ingin pergi bermain?" keluh Ima dengan ekspresi muka yang sedikit cemberut. Bibir mungilnya yang merah alami menegang kesal.
Yusuf, adik angkatnya, yang sedang asyik bermain balok di sudut ruangan, mendongak dan bertanya dengan wajah polosnya, "Kenapa Kakak tidak mencari mainan lama di loteng? Mungkin Kakak bisa menemukan sesuatu yang menarik."
Mendengar usul Yusuf, kedua alis Ima bertemu dalam ekspresi berpikir. "Mungkin itu ide yang baik," sahutnya sembari beranjak dari kursinya.
Dengan langkah semangat, Ima membuka pintu kecil yang mengarah ke loteng. Tangga kayu tua yang berderit setiap kali dia menginjaknya menambah atmosfer misterius di tengah hujan yang semakin deras. Lampu loteng yang redup menyoroti debu-debu yang berterbangan. Di sana, berbagai kotak tua dan barang-barang antik menumpuk rapi.
Duduk bersila di tengah loteng, Ima mulai membuka satu per satu kotak. Kotak pertama yang dibukanya berisi foto-foto lama. Di salah satu foto, tampak Ana, ibu angkat mereka, saat masih muda dengan rambut bergelombang dan mata yang penuh semangat.
Kotak berikutnya memuat surat-surat tua. Tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah buku dengan sampul kulit tua yang tampak usang. Dengan rasa penasaran, Ima mulai membuka halaman demi halaman buku tersebut.
Tanpa disadarinya, Yusuf yang penasaran telah mendekat dan duduk di sampingnya. "Apa itu, Kak?" tanya Yusuf, matanya terbelalak penuh rasa ingin tahu.
"Ini buku harian, mungkin milik Ibu," jawab Ima, matanya terpaku pada tulisan-tulisan yang rapi.
Yusuf dengan polos bertanya, "Kenapa Kakak begitu tertarik membacanya?"
Ima tersenyum, "Karena ini bisa memberi tahu kita banyak hal tentang masa lalu Ibu."
Ketika sedang asyik membaca, Ima menemukan sebuah kertas lipatan yang terselip di antara halaman buku. "Lihat ini," katanya sambil menunjukkan kertas itu pada Yusuf.
Ketika dibuka, kertas tersebut menampilkan tulisan tangan kecil yang agak berantakan, "Untuk Ibu, aku cinta Ibu. - Yusuf."
Mereka berdua tertawa ringan. "Ini tulisanku saat aku baru belajar menulis. Lucu ya, Kak?" Yusuf berkata dengan wajah memerah.
__ADS_1
Ima mengangguk sambil tersenyum, membelai kepala adiknya dengan lembut. "Ya, dan Ibu pasti menyimpannya karena sangat berarti baginya."
Dekapan hujan di luar semakin menambah kehangatan momen di loteng itu. Dua saudara yang tengah menelusuri masa lalu ibu angkat mereka, tersenyum dan tertawa bersama dalam balutan kenangan.
Dalam keteduhannya di loteng yang berdebu, Ima terus membaca buku harian Ana. Kali ini, halaman-halaman yang dibuka membawanya ke dalam jejak masa muda Ana, sebuah masa di mana Ana belum menjadi ibu mereka.
Ima tersenyum saat membaca tentang persahabatan Ana dengan teman-temannya di sekolah. Cerita tentang petualangan mereka, tawa, dan canda yang selalu mengisi hari-hari mereka. "Kak, dengar ini!" seru Ima sambil membacakan salah satu potongan cerita kepada Yusuf.
Yusuf, yang tengah asyik dengan permainannya, langsung mendongak dan menatap Ima dengan mata berbinar. "Apa itu, Kak?"
"Ana menulis tentang teman-temannya di sekolah. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bermain sepak bola, dan mengadakan piknik di hutan dekat sekolah. Sepertinya masa-masa itu sangat menyenangkan," jawab Ima sambil memutar halaman.
Yusuf tertarik, "Kak, apakah ada cerita tentang cinta-cintaan Ibu? Seperti pertemanan atau bahkan cinta pertamanya?"
Ima tersenyum dan melanjutkan membaca. "Oh, ada nih. Ana menulis tentang seorang teman sekolahnya yang dia suka. Namanya Rizky."
Wajah Yusuf berseri-seri saat mendengar namanya. "Rizky, ya? Bagaimana ceritanya?"
Yusuf menggelengkan kepala, "Kakak, apa Ana pernah bilang apa-apa kepada Rizky tentang perasaannya?"
Ima mengecek buku harian tersebut, "Tidak sepertinya. Ana hanya menuliskan betapa ia senang bisa memiliki teman sebaik Rizky."
Yusuf menghela nafas kecil, "Mungkin Ibu tidak ingin mengungkapkannya dalam buku harian."
Ima mengangguk setuju, "Mungkin ya, tapi ini semua adalah kenangan yang berharga bagi Ana."
Tiba-tiba, Ima menemukan halaman yang berisi tentang pesta dansa sekolah. Wajahnya berseri-seri saat membaca cerita tentang bagaimana Ana bersama teman-temannya berdandan cantik dan tampan untuk pesta itu. "Ini seru, Yusuf. Ana menulis tentang bagaimana dia memilih gaun cantik dan sepatu indah untuk pesta dansa sekolahnya."
Yusuf menunjukkan minat yang sama, "Ceritakan lebih banyak, Kak."
__ADS_1
Ima memperjelas cerita, "Ana berkata bahwa dia merasa seperti seorang putri pada malam itu. Rambutnya diikat cantik, dan dia bahkan mengenakan lipstik pertamanya. Dia merasa gugup dan berdebar-debar, tapi juga sangat senang."
Yusuf membayangkan momen tersebut, "Itu pasti momen yang sangat berkesan bagi Ibu, ya?"
Ima mengangguk tulus, "Iya, Yusuf. Pesta dansa sekolah adalah salah satu kenangan indah Ana dari masa muda. Kadang-kadang, kenangan seperti itu adalah yang membuat hidup kita lebih berwarna."
Hujan yang semakin reda di luar jendela memberikan latar belakang yang tenang bagi percakapan hangat Ima dan Yusuf. Mereka merasa lebih dekat dengan Ana setelah mengetahui sebagian dari masa muda dan kenangan-kenangan indah yang pernah ia alami.
Dengan setiap halaman yang dibalik, Ima semakin tenggelam dalam kisah perjalanan Ana. Dalam goresan tinta tua tersebut, tampak jelas pergulatan batin yang dialami oleh Ana. Di halaman yang berwarna kuning kecokelatan karena usia, Ana menulis tentang keraguan-keraguannya.
"Tanggal 23 Juli 1990," Ima membacanya pelan, "Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, siapakah aku sebenarnya? Setiap kali aku melihat diriku di cermin, ada dua sosok yang saling beradu: laki-laki dan perempuan. Tapi, mana yang benar-benar mencerminkan jiwaku?"
Di samping Ima, Yusuf mendengarkan dengan perhatian. Meskipun masih kecil, ia bisa merasakan kedalamannya. "Kak, mengapa Ibu merasa seperti itu?" tanyanya dengan mata membulat.
Ima menghela nafas, mencari kata-kata yang tepat. "Kadang-kadang, Yusuf, apa yang kita rasakan di dalam hati kita berbeda dengan apa yang tampak di luar. Seperti...," Ima berhenti sejenak, memandang ke luar jendela. Di luar, langit mulai gelap. Cahaya rembulan yang temaram bermain-main di antara awan malam yang bergulung, menciptakan suasana yang mistis. Suara jangkrik yang bersahutan menambah kedamaian malam. Ima melanjutkan, "Seperti ketika kita merasa sedih di dalam, tapi di luar kita tersenyum."
Yusuf memiringkan kepalanya, rambut hitamnya jatuh menutupi mata kanannya. "Jadi Ibu merasa sedih?"
Ima mengangguk pelan. "Mungkin. Tapi dia juga memiliki harapan. Lihat ini," katanya sambil menunjuk entri lain.
"Tanggal 7 September 1990, Ada seekor anjing kecil yang selalu menemani saat aku merasa sepi. Aku menyebutnya 'Luna'. Setiap kali aku merasa takut atau sedih, Luna selalu ada di sampingku, dengan matanya yang penuh pengertian dan ekornya yang selalu bergerak-gerak. Dia adalah sahabatku, memberiku kekuatan untuk melanjutkan hidup."
Yusuf tersenyum. "Aku ingin bertemu dengan Luna. Apakah dia masih hidup?"
Ima menggeleng. "Mungkin Luna sudah tua sekarang, atau mungkin sudah...," katanya sambil menarik napas dalam-dalam, "Tapi yang pasti, Luna telah memberikan banyak kebahagiaan pada Ibu."
Sejenak, keduanya terdiam, larut dalam suasana malam yang mendamaikan. Bunyi hembusan angin malam yang lembut dan gemercik air dari kolam kecil di taman belakang rumah mereka memenuhi keheningan.
Tiba-tiba, Ima mendongak, matanya berkaca-kaca. "Kau tahu, Yusuf, kita harus bersyukur memiliki Ibu seperti Ana. Dia telah melalui banyak hal, namun dia tetap kuat dan penuh cinta."
__ADS_1
Yusuf memeluk Ima erat. "Aku tahu, Kak. Dan aku bersyukur memiliki Kakak dan Ibu."
Mereka berdua berpelukan erat, merasakan kehangatan kasih sayang yang telah mengikat mereka bersama sebagai keluarga. Di tengah-tengah pergulatan identitas dan perjuangan hidup, kasih sayang adalah hal yang tetap abadi, menerangi kegelapan dan memberi harapan.