Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Kenangan Masa Lalu Raka


__ADS_3

Langit di luar jendela kafe berwarna senja. Sebaris lampu jalan mulai menyala, memberikan nuansa hangat pada sore yang semakin gelap. Yusuf duduk di salah satu meja dekat jendela, menikmati secangkir kopi panas. Uap kopi membawa aroma yang menenangkan, mengusir kepenatan hari itu.


Saat sedang asyik meresapi kesunyian, seseorang mendekat dan menepuk pundaknya dengan lembut. Yusuf menoleh dan melihat seorang gadis berambut panjang berwarna coklat keemasan. Matanya yang indah menatap Yusuf dengan rasa kenal.


"Kamu Yusuf, kan?" tanyanya dengan senyuman manis.


Yusuf mengangguk ragu, "Ya, saya Yusuf. Maaf, sepertinya saya lupa mengenali Anda."


Gadis itu tertawa kecil, "Tidak apa-apa. Aku Lina, sepupu Raka."


Sebuah pencerahan muncul di mata Yusuf. "Oh, Lina! Raka pernah bercerita tentangmu. Silakan duduk."


Lina duduk di seberang Yusuf, meletakkan tasnya di sampingnya. Ia memesan teh dan kemudian keduanya mulai berbicara.


"Saya mendengar Anda ingin tahu lebih banyak tentang Raka," kata Lina, memulai percakapan.


Yusuf menunduk sejenak, merasa agak malu. "Ya, sebenarnya. Tapi lebih ke arah melindungi adik saya."


Lina mengangguk penuh pengertian, "Saya mengerti. Raka... dia selalu terlihat kuat dan mandiri. Tapi di balik itu, dia memiliki banyak beban."


Yusuf merasa penasaran, "Beban apa maksudmu?"


Lina mengambil napas dalam-dalam, "Dulu, keluarga kami mengalami kesulitan finansial yang cukup parah. Orang tua Raka berjuang keras, dan Raka selalu berusaha menjaga adiknya, Rani, agar tidak merasakan kesulitan yang kami alami."


Mata Yusuf membulat, "Saya tidak tahu itu."


Lina melanjutkan, "Raka seringkali bekerja paruh waktu setelah sekolah untuk membantu keluarga. Dia selalu memastikan Rani mendapatkan yang terbaik, meskipun dia sendiri harus berkorban."


Yusuf merasa dada bergetar. Ia membayangkan bagaimana sulitnya beban yang ditaruh di pundak Raka.


"Jadi, bunga yang dia berikan kepada Ima mungkin hanya ungkapan terima kasih atau tanda persahabatan," kata Lina, tersenyum memahami.


Mimik wajah Yusuf berubah, dari rasa tidak percaya menjadi penuh empati. "Terima kasih, Lina. Ceritamu membantu saya melihat Raka dari sudut pandang yang berbeda."


Lina mengangguk, "Raka adalah pria baik. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri."


Sementara itu, di rumah Yusuf, Ana sedang mengajari Ima cara menjahit. Kain-kain berwarna-warni berserakan di lantai, dan sebuah mesin jahit tua berdiri dengan megah di tengah ruangan.


"Saat saya muda, Nenek mengajari saya menjahit," kata Ana sambil menunjukkan cara memasukkan benang ke jarum.


Ima mengikuti dengan penuh perhatian, "Ini lebih sulit dari yang kubayangkan."


Ana tertawa, "Kamu akan terbiasa. Saya dulu juga merasa begitu, tetapi lama-lama menjadi mahir."

__ADS_1


Ima tersenyum, "Mungkin suatu hari nanti aku bisa membuat baju sendiri."


Ana mengangguk, "Pasti bisa. Kau memiliki bakat."


Keduanya melanjutkan aktivitas menjahit mereka, menikmati waktu berkualitas bersama. Di luar, bintang-bintang mulai berkelip, menandakan malam yang damai dan penuh harapan.


Sore itu, taman kota bermandikan cahaya kuning keemasan. Daun-daun pohon bergetar lembut ditiup angin, menciptakan lagu alami yang menenangkan. Di salah satu bangku taman, Yusuf duduk dengan penuh ketegangan. Setiap beberapa menit, matanya melirik ke arah gerbang taman, menanti kedatangan seseorang.


Ketika Raka akhirnya muncul dari balik gerbang, Yusuf merasakan denyut jantungnya semakin cepat. Raka, dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotak, berjalan dengan tenang menuju Yusuf.


"Kau memanggilku?" Raka bertanya, sambil duduk di sebelah Yusuf.


Mereka berdua sejenak terdiam. Yusuf mengumpulkan keberanian, kemudian berkata, "Aku ingin berbicara tentang bunga yang kau berikan kepada Ima."


Raka menaikkan satu alisnya, tampak sedikit terkejut. "Oh, itu. Apa masalahnya?"


"Kenapa kau memberikannya padanya?" tanya Yusuf, wajahnya tampak serius, mata menatap tajam ke mata Raka.


Raka menghela nafas, kemudian menjawab, "Itu hanya sebagai tanda persahabatan dan terima kasih."


"Terima kasih? Untuk apa?" Yusuf bertanya dengan nada yang lebih tajam.


Raka menunduk sejenak, seolah sedang mengumpulkan pikirannya. "Ima telah membantuku beradaptasi di sekolah baru. Aku merasa terasing ketika pertama kali pindah, tetapi dia selalu ada di sana, membuatku merasa diterima."


Raka tersenyum tipis, "Aku mengerti. Tetapi kau tidak perlu khawatir tentangku. Aku tidak berniat menyakitinya."


Yusuf mengangguk, "Terima kasih sudah menjelaskan."


Mereka berdua duduk sejenak dalam hening, menikmati keindahan sore. Kemudian, dengan perasaan yang lebih lega, keduanya berpisah dengan saling mengucapkan selamat malam.


Sementara itu, di rumah Yusuf, aroma popcorn menguar dari dapur. Ana sedang mempersiapkan semuanya untuk malam film keluarga. Ima duduk di sofa, memilih film yang ingin ditonton, sementara layar televisi menampilkan gambar-gambar cerah.


Ketika Yusuf masuk ke ruang tengah, Ana dan Ima menoleh. Mereka bisa melihat dari wajah Yusuf bahwa konfrontasinya dengan Raka berjalan dengan baik.


"Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya Ima dengan nada penuh kekhawatiran.


Yusuf mengangguk, tersenyum lembut, "Ya, semuanya baik-baik saja."


Ana menepuk-nepuk tempat di sampingnya, mengajak Yusuf duduk. "Ayo, kita mulai menonton. Film apa yang kau pilih, Ima?"


"Sebuah film keluarga klasik," jawab Ima sambil menekan tombol play.


Seiring film dimulai, ketegangan di antara mereka perlahan hilang, digantikan dengan tawa dan kebersamaan. Di tengah cahaya redup dari televisi, mereka bersama-sama menikmati malam yang penuh kehangatan, menyadari betapa berharganya setiap momen yang mereka miliki bersama.

__ADS_1


Matahari pagi menyinari kota dengan cahaya emasnya, membangunkan penduduknya dengan janji hari baru yang penuh harapan. Di salah satu gang kecil, Yusuf berjalan dengan langkah ringan, membawa ransel penuh bekal. Tak lama kemudian, Raka muncul dari sudut jalan dengan langkah cepat, menghampiri Yusuf dengan senyum lebar di wajahnya.


"Hei, Yusuf!" sapa Raka, kedua matanya berbinar.


"Selamat pagi, Raka," balas Yusuf sambil menepuk punggung Raka dengan ramah, "Kau sudah siap untuk petualangan hari ini?"


Raka mengangguk semangat, "Sudah. Aku membawa beberapa game dan camilan. Bagaimana denganmu?"


"Segalanya siap," jawab Yusuf sambil menunjukkan ranselnya, "Kita hanya menunggu Ima."


Tak lama, Ima muncul dengan gaun berwarna pastel dan sandal jepit. Ia tampak bersemangat, meskipun wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan. "Mengapa kalian berdua tampak begitu akrab? Apa yang terjadi?"


Raka dan Yusuf saling berpandang, lalu tertawa. "Kami sudah berbicara kemarin," kata Yusuf, "Dan kami memutuskan untuk memulai dengan lembaran baru."


Ima tersenyum lega, "Itu kabar baik. Jadi, kemana kita akan pergi?"


Raka membuka peta dari sakunya, "Ada taman bermain baru di sisi lain kota. Katanya, tempat itu luar biasa. Bagaimana kalau kita kesana?"


Yusuf mengangguk setuju, "Ayo!"


Ketiganya berjalan menyusuri jalanan kota yang semakin ramai. Sesekali mereka berhenti di kios camilan atau toko mainan, menambah kesenangan dalam perjalanan mereka. Suasana kota dipenuhi dengan suara tawa anak-anak, deru kendaraan, dan gemerisik daun-daun yang berayun ditiup angin sejuk.


Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya sampai di taman bermain tersebut. Tempat itu memang luar biasa. Berbagai permainan, dari roller coaster hingga bianglala, berdiri dengan megah, sementara lagu-lagu riang mengalun dari speaker-speaker tersembunyi.


Ima memandang dengan mata berbinar, "Ini luar biasa!"


Yusuf tertawa, "Ayo coba roller coaster!"


Raka mengangguk, "Aku ikut!"


Mereka berlari menuju roller coaster, antusiasme memenuhi setiap langkah mereka. Setelah menikmati sensasi terbang di udara, mereka mencoba berbagai permainan lain, dari bumper car hingga rumah hantu.


Di antara permainan, mereka duduk di salah satu bangku, menikmati camilan yang mereka bawa. Raka melihat ke arah Yusuf, "Terima kasih, Yusuf. Karena mau memberiku kesempatan kedua."


Yusuf tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih. Kita semua membuat kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita memperbaikinya."


Ima menambahkan, "Yang terpenting adalah kita semua bersama sekarang, menikmati hari yang indah ini."


Mereka bertiga tertawa, menikmati momen kebersamaan yang tulus. Hari itu, bukan hanya penuh dengan petualangan dan tawa, tetapi juga penuh dengan pelajaran tentang arti persahabatan, pengertian, dan empati.


Ketika matahari mulai tenggelam, Yusuf, Ima, dan Raka meninggalkan taman bermain dengan hati yang penuh kebahagiaan. Mereka berjalan pulang dengan tangan saling menggenggam, sebuah simbol persahabatan yang diperkuat oleh pengalaman dan kepercayaan.


Seiring langkah mereka menjauh, langit berwarna ungu dan oranye, memberikan akhir yang sempurna untuk hari yang tak terlupakan.

__ADS_1


__ADS_2