Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Persiapan Piknik


__ADS_3

Mentari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang lembut, menembus celah-celah jendela dapur rumah Ana. Cahaya kuning keemasan itu menyoroti meja dapur yang penuh dengan bahan-bahan makanan: sayuran segar, buah-buahan beraneka warna, dan potongan daging. Di satu sisi, panci besar siap digunakan, sementara di sisi lain, sekeranjang roti dan selai menunggu untuk disiapkan.


Ana, dengan apron biru favoritnya, tampak sibuk mengiris wortel. Rambut panjangnya terikat rapi, namun ada beberapa helai rambut yang menggantung di keningnya karena gerakan cepat tangannya. Alisnya sedikit berkerut, fokus pada setiap irisan yang ia buat.


"Bu, bagaimana kalau saya bantu memasak telur dadar?" tawar Yusuf dengan ragu, matanya bersinar penuh semangat. Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan di belakang punggung, tampak agak canggung.


Ana menoleh, matanya berbinar melihat anak angkatnya yang berinisiatif. Senyum manisnya memancar, "Tentu, Sayang. Tapi ingat, hati-hati dengan kompor ya."


Yusuf mengangguk semangat, "Baik, Bu." Ia mendekati kompor, mengambil wajan dan mulai memecahkan telur ke dalam mangkuk.


Sementara itu, Ima, dengan peta di tangannya, duduk di ruang tamu. Jendela besar di ruangan itu terbuka lebar, membiarkan udara segar pagi bersama aroma tanah basah masuk, menciptakan suasana yang menyegarkan. Bunyi burung berkicau riang, menambah kesan damai di pagi hari.


"Bunda," seru Ima, "Apa pendapatmu tentang piknik di Taman Sunyi? Katanya ada danau kecil di sana, dan kita bisa menyewa perahu."


Ana menarik napas panjang, menikmati aroma telur dadar yang mulai menguar dari wajan. "Taman Sunyi? Saya dengar tempat itu indah. Apa Yusuf setuju?"


Dengan gerakan canggung, Yusuf menggoreng telur, menghindari percikan minyak yang memantul. "Saya dengar ada banyak bebek di danau itu. Kita bisa memberi mereka makan," jawabnya sambil tersenyum.


"Oke, sepertinya kita punya rencana!" seru Ima dengan riang, melipat peta dan berlari ke kamar untuk mempersiapkan tas piknik.


Sebagai ibu, Ana selalu memperhatikan detail. Ia bisa melihat bagaimana Yusuf sedikit gugup saat memasak, tangan kanannya gemetaran sedikit saat mengaduk telur di wajan. Sementara Ima, meskipun selalu tampak bersemangat, matanya sesekali menunjukkan kekhawatiran - mungkin khawatir cuaca tidak mendukung atau barang-barang yang perlu dibawa terlupakan.


"Bunda, apakah telur dadar ini sudah matang?" tanya Yusuf, menunjukkan wajannya pada Ana.


Ana mendekat dan memeriksa telur dadar di wajan, "Hampir matang, Sayang. Tapi mungkin perlu digoreng sebentar lagi. Biar lebih enak." Ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung Yusuf dengan lembut.


Dalam diam, ketiganya bekerja sama mempersiapkan segala kebutuhan piknik. Ada getaran kebahagiaan yang mengisi ruangan, meskipun dihiasi dengan kesalahan kecil seperti telur yang agak gosong atau lupa memasukkan selai ke dalam tas.

__ADS_1


Namun, di balik semua kesibukan itu, ada kehangatan yang menyelimuti hati setiap anggota keluarga. Mereka bukan keluarga biologis, tetapi ikatan cinta dan kepercayaan yang mereka bina jauh lebih kuat dari sekadar darah.


Keluarga kecil ini tampak bahagia di dalam mobil mereka. Mobil berwarna biru langit tersebut melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang berkelok dengan pemandangan hutan dan pegunungan di kejauhan. Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di aspal.


"Bagaimana kalau kita menyanyikan lagu 'Di Atas Gunung'?" usul Ima dari kursi belakang, matanya berbinar. Gadis kecil itu mengambil gitar kecilnya dan mulai memetik nada-nada awal lagu.


Yusuf, duduk di sebelahnya, langsung mengenali lagu tersebut dan mulai menyanyikan liriknya dengan suara bassnya yang berat. Sedangkan Ana, dengan suara merdunya, mengikuti alunan lagu tersebut, melengkapi harmoni keluarga ini.


Sejenak, mobil tersebut dipenuhi oleh suara nyanyian dan tawa. Udara di dalam mobil terasa hangat dan penuh cinta.


Selesai menyanyikan lagu, Ana mulai bercerita. "Tahu tidak, saat saya kecil, kami biasa piknik di tepi sungai. Tempatnya sederhana, hanya ada tikar dan bekal dari rumah. Tapi, momen-momen itu selalu menjadi kenangan terindah saya."


Ima menatap Ana dengan mata yang bersinar penuh keingintahuan. "Bagaimana suasana sungainya, Bunda?"


Ana tersenyum mengenang, "Airnya jernih, berkilauan saat disinari matahari. Ada batu-batu besar di pinggir sungai tempat kami duduk. Kadang, kami bermain air atau sekadar mendengar gemericik air yang tenang."


Yusuf, dengan rasa ingin tahu, bertanya, "Bunda pernah memancing di sana?"


Sejenak, mobil mereka melewati sebuah jembatan kecil di atas sungai yang mengingatkan Ana pada kenangannya. "Lihatlah! Sungai ini mirip dengan yang saya ceritakan," ujarnya sambil menunjuk keluar jendela.


Mereka melambat, menikmati pemandangan sungai tersebut. Air sungai tampak jernih dengan bebatuan yang tampak dari permukaan. Di sisi lain, burung-burung kecil tampak bermain di antara ranting pohon yang rimbun.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana hati yang cerah. Pada satu titik, Ana memandang Yusuf dan Ima melalui kaca spion, wajahnya tampak serius tapi penuh kasih. Diam-diam, ia berharap bahwa anak-anaknya ini akan memiliki kenangan indah seperti yang ia miliki di masa kecilnya.


Ima, menyadari pandangan Ana, mengedipkan satu matanya sambil tersenyum. Yusuf, sambil tertawa ringan, berkata, "Kami pasti akan punya banyak kenangan indah hari ini, Bunda."


Ana tersenyum lebar, "Saya yakin itu."

__ADS_1


Dengan penuh semangat, mereka melanjutkan perjalanan, menunggu petualangan yang akan mereka temui di lokasi piknik.


Begitu mobil berhenti, aroma alam langsung menyergap indra penciuman mereka. Udara segar, campuran aroma tanah, dedaunan, dan bunga-bunga liar menciptakan suasana yang menenangkan. Di kejauhan, sebuah padang rumput luas terbentang, dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Suara gemericik air dari sungai kecil terdengar lembut, menambah kesejukan suasana.


Yusuf segera mengambil bola dari bagasi. "Ayo, Bu! Main lempar bola!" serunya sambil melempar bola ke arah Ima yang dengan lincah menangkapnya.


Ima, dengan senyum khasnya, melemparkan bola itu kembali ke Yusuf. "Kamu tidak akan bisa menangkapnya!" tantangnya.


Ana tertawa melihat keceriaan kedua anaknya. Ia duduk di tikar yang sudah tersebar di atas rumput, menikmati sinar matahari yang hangat.


Tiba-tiba, sebuah kupu-kupu berwarna biru muda dengan corak unik di sayapnya melayang dekat Ima. Matanya membesar, "Wah! Kupu-kupu!" serunya dengan antusias.


Meninggalkan bola, Ima mulai mengejar kupu-kupu itu dengan riang. Kedua tangannya terentang, berusaha menangkap si kupu-kupu yang terbang lincah. Rambut panjangnya berkibar-kibar dihembus angin, wajahnya berseri penuh kebahagiaan.


Sementara itu, Yusuf mengambil buku sketsa dan pensil dari tasnya. Ia duduk di bawah pohon besar, mata memandang pemandangan di depannya. Dengan teliti, ia mulai menggambar padang rumput yang luas, pohon-pohon yang berdiri kokoh, dan siluet pegunungan di kejauhan. Setiap goresan pensilnya mencerminkan kekaguman atas keindahan alam.


"Dulu, saat Bunda kecil," Ana mulai bercerita, "saya sering menggambar pemandangan seperti ini. Sayang, saya tidak seberbakat Yusuf."


Yusuf menoleh, tersenyum malu. "Ah, Bunda pasti lebih hebat. Mungkin suatu hari kita bisa menggambar bersama."


Ana mengangguk, "Itu ide yang bagus."


Saat matahari semakin tinggi, bayangan-bayangan pohon memendek. Suara burung-burung riang gembira terdengar dari kejauhan. Di tengah keheningan, hanya ada suara tawa dan percakapan hangat keluarga ini.


Setelah puas mengejar kupu-kupu, Ima kembali dengan napas terengah-engah. Ia duduk di samping Ana, "Bu, tadi saya hampir menangkapnya, tapi dia terbang ke atas pohon dan saya tidak bisa mencapainya."


Ana mengelus rambut Ima, "Itu oke, Sayang. Yang penting kamu menikmati kejar-kejarannya."

__ADS_1


Dari tempat duduknya, Ana dapat melihat semua kegiatan anak-anaknya. Ia bisa melihat bagaimana Ima tertawa riang, wajahnya memerah karena terik matahari. Sementara Yusuf, dengan kening berkerut dan bibir sedikit terbuka, sepenuhnya fokus pada gambarannya.


Ada perasaan hangat yang menyelimuti hati Ana. Melihat Yusuf dan Ima begitu bahagia, ia merasa beruntung dan bersyukur memiliki mereka dalam hidupnya. Meski banyak rintangan yang mereka hadapi, momen-momen seperti ini selalu menjadi pengingat bagi Ana tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup: cinta, kebersamaan, dan kebahagiaan bersama keluarga.


__ADS_2