
Dekapan senja menggulung kota dengan langit yang berubah menjadi palet warna merah muda dan oranye. Cahaya matahari yang semakin pudar menciptakan bayangan panjang di halaman rumah Ana. Suara gemericik air dari kolam kecil di sudut taman menambah suasana tenang. Kicauan burung yang pulang ke sarangnya terdengar dari kejauhan, memberikan nuansa magis pada saat itu.
Lila duduk dengan kaki yang sedikit gemetar di kursi teras, tangan kanannya memegang cangkir teh yang hampir kosong. Dari gerakan tubuhnya, tampak jelas ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Rambut panjangnya yang biasanya rapi kini tampak sedikit berantakan, seolah menggambarkan kekacauan emosional yang ia rasakan.
Ana, yang selama ini memperhatikan gerak-gerik Lila, akhirnya berkata, "Lil, ada apa? Kamu tampak berbeda sejak tadi sore."
Lila menatap tehnya, membiarkan matanya menyerap kehangatan cairan keemasan itu. "Ana," suaranya bergetar, "aku datang ke sini bukan hanya untuk bernostalgia atau mengenang masa lalu kita."
Ana mencondongkan tubuhnya ke depan, "Ada apa, Lil? Kamu tahu kamu bisa berbicara apa saja denganku."
Dengan mata yang basah, Lila menarik napas panjang dan berkata, "Ada masalah dalam keluargaku. Anakku, Dian, telah membuat keputusan yang membuat semua orang di rumah kami kacau. Aku merasa begitu tertekan dan tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Karena itulah aku datang ke sini."
Ana mengambil tangan Lila, "Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantu."
Lila menghela napas, "Dian terlibat dengan kelompok yang salah. Dia mulai terjerumus ke dalam dunia yang aku takutkan sejak lama. Aku mencoba berbicara dengannya, tetapi semakin aku mendorongnya, semakin dia menjauh."
Dalam keheningan yang mendalam, hanya suara jangkrik dan gemericik air yang terdengar. Ana merasa berat di dadanya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur teman lamanya.
Pada saat yang sama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, Yusuf, yang sedang menuju dapur, tanpa sengaja mendengar percakapan antara ibunya dan Lila. Wajahnya tampak bingung, namun ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu. Dengan gerakan perlahan, ia memasuki dapur dan memutuskan untuk membuat secangkir teh hangat untuk Lila.
Sementara itu, di teras, Lila melanjutkan ceritanya, "Aku merasa gagal sebagai ibu, Ana. Bagaimana bisa anakku terjerumus ke dalam dunia gelap itu? Aku merasa seolah-olah aku telah kehilangan dia."
Ana menggenggam tangan Lila erat-erat, "Lil, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Terkadang, hal-hal terjadi di luar kendali kita. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kamu menghadapinya dan bagaimana kita bisa membantu Dian."
__ADS_1
Lila menatap Ana dengan mata berkaca-kaca, "Terima kasih, Ana. Aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk berbicara. Aku merasa begitu terbeban dengan semua ini."
Pada saat itu, pintu teras terbuka dan Yusuf keluar dengan nampan yang berisi secangkir teh hangat. Ia menatap Lila dengan tatapan penuh simpati, "Tante Lila, aku membuatkan teh untuk Anda. Semoga bisa sedikit menghangatkan hati Anda."
Lila tersenyum lemah, "Terima kasih, Yusuf. Kamu sangat baik." Ia menerima teh dari Yusuf dan menyeruputnya perlahan.
Ana tersenyum bangga melihat anaknya, "Terima kasih, Yus."
Yusuf mengangguk, "Tidak masalah, Bu. Aku hanya ingin membantu."
Malam itu, di bawah langit berbintang, tiga hati berbagi kisah, harapan, dan kehangatan. Meskipun berbagai masalah mendera, kebersamaan dan dukungan satu sama lain memberikan kekuatan untuk terus melangkah.
Angin malam mulai berbisik lembut, berpadu dengan desir dedaunan yang menghiasi taman rumah Ana. Di kejauhan, gemerlap lampu kota menciptakan kontras dengan kegelapan malam, seolah membingkai pemandangan dengan cahaya. Di teras, dua siluet wanita tampak tenggelam dalam percakapan mendalam.
Ana menepuk punggung Lila dengan lembut, mencari kata-kata yang tepat. "Lil, aku mengerti perasaanmu. Tapi kau harus tahu, setiap anak muda pasti memiliki fase di mana mereka ingin mengejar impian dan kebebasan mereka sendiri."
Lila menghela napas panjang, "Tapi, Ana, aku merasa bersalah. Mungkin aku terlalu keras padanya. Mungkin aku tidak cukup memahaminya."
Ana memegang tangan Lila, memandanginya dengan mata penuh empati. "Lil, kita semua membuat kesalahan sebagai orang tua. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaikinya. Ingat waktu dulu, saat kita berdua menghadapi masalah? Kita selalu mendukung satu sama lain, menguatkan satu sama lain."
Lila mengangguk perlahan, tersenyum lemah. "Ya, Ana. Kau selalu ada untukku. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu."
Sebuah ide muncul di pikiran Ana, "Lil, bagaimana kalau kita mencoba mencari Dian? Mungkin kita bisa membantu menyatukan kembali hubungan kalian."
__ADS_1
Lila tampak terkejut, "Kau serius? Apa kau yakin kita bisa melakukannya?"
Ana mengangguk tegas, "Kita setidaknya bisa mencoba. Kau tidak sendiri dalam ini, Lil."
Lila menarik Ana ke dalam pelukannya, menahan isak tangis. "Terima kasih, Ana. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu."
Dari balik jendela, Ima yang sedari tadi memperhatikan percakapan kedua wanita itu, merasa perlu menghibur suasana. Dengan semangat, ia mengambil kotak sulap kecilnya dan berjalan keluar menuju teras.
"Maaf mengganggu," ucap Ima dengan senyum lebar. "Tapi, bagaimana kalau Tante Lila melihat trik sulap sederhana yang baru saja saya pelajari?"
Lila mengelap air matanya dan mencoba tersenyum, "Tentu saja, Sayang."
Dengan penuh semangat, Ima mulai menunjukkan trik sulapnya, mengubah koin menjadi bunga mawar. Lila terkagum-kagum, dan tawanya yang tulus terdengar lagi. "Hebat sekali! Kamu pasti akan menjadi pesulap hebat suatu hari nanti!"
Ima memerah, "Terima kasih, Tante. Saya hanya ingin membuat Tante sedikit bahagia."
Lila memeluk Ima, "Kamu sudah berhasil, Sayang."
Ana, yang menyaksikan adegan itu, merasa bangga dengan putrinya. "Terima kasih, Ima. Kau selalu tahu bagaimana cara menghibur hati yang sedang sedih."
Ima tersenyum, "Saya belajar dari yang terbaik," katanya sambil menunjuk ibunya.
Malam itu, meski dikelilingi oleh berbagai masalah dan rintangan, ketiga wanita itu menemukan kebahagiaan dan harapan dalam tawa dan kenangan lama. Semangat persahabatan dan kekeluargaan menghangatkan malam yang dingin, menunjukkan bahwa ada cahaya di setiap kegelapan.
__ADS_1