Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Masa Transisi


__ADS_3

Goresan tinta di buku harian tersebut semakin mengalir intens seiring dengan pergulatan Ana dalam menerima dirinya. Sebuah entri tertanggal 15 April 1992 menarik perhatian Ima.


"Hari ini aku memutuskan untuk mulai hidup sebagai Ana, sebagai wanita yang selalu aku rasakan ada di dalam diriku."


Bertumpu di loteng yang mulai sejuk seiring senja, Ima membaca dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Ditemani lampu loteng yang redup dan bunyi tikus yang sesekali terdengar, Ima merasa seolah-olah dia sedang menyaksikan langsung perjuangan Ana.


"Kak, apa yang Kakak baca?" Yusuf bertanya dengan suara pelan, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Matanya yang besar menatap Ima dengan harap.


Ima menatap Yusuf, matanya berbinar. "Ini tentang momen penting dalam hidup Ibu, saat dia memutuskan untuk menjadi dirinya yang sebenarnya."


Yusuf tampak bingung. "Apa maksud Kakak?"


"Aku merasa begitu cemas ketika memasuki toko pakaian. Aku ingin membeli gaun. Gaun pertamaku," Ima membacakan entri lain, suaranya bergetar. "Saat aku mencoba gaun berwarna lavender itu, aku merasa... bebas. Seperti inilah aku seharusnya."


Dengan tangan gemetar, Ima menunjukkan sketsa kecil di sudut halaman kepada Yusuf. Gambar seorang wanita berdiri dengan gaun lavender yang anggun, tampak bahagia dan puas.


"Dia pasti sangat berani, ya, Kak?" komentar Yusuf dengan mata bersinar.


Ima mengangguk. "Sangat. Bayangkan betapa sulitnya untuk menentang norma dan ekspektasi masyarakat."


Yusuf duduk bersila, tangannya menggenggam dagu. "Tapi kenapa Ibu harus melalui semua itu, Kak?"


Ima menghela napas. Dia memandang ke luar, ke langit senja yang kini mulai berubah menjadi oranye keemasan. Burung-burung terbang pulang ke sarang, dan daun-daun pohon bergerak-gerak pelan ditiup angin sepoi-sepoi. "Karena, Yusuf," jawab Ima dengan lembut, "kadang-kadang, untuk menjadi diri kita yang sebenarnya, kita harus melalui berbagai rintangan."


Mereka terdiam, meresapi setiap kata yang baru saja dibacakan. Di antara kesunyian, Yusuf berbicara, "Aku senang Ibu memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Dia adalah ibu terbaik."


Ima tersenyum, memeluk Yusuf erat. "Aku setuju." Kedua saudara itu kemudian beralih ke entri lain, di mana Ana menulis tentang komunitas waria yang dia temui. Bagaimana mereka saling mendukung satu sama lain dalam suka dan duka, bagaimana mereka menjadi keluarga bagi Ana.


Ima memandang Yusuf, mata mereka saling bertemu, keduanya memiliki rasa pengertian yang mendalam. Mereka tidak hanya membaca kisah hidup Ana, tetapi juga merasakan setiap emosi, rasa sakit, dan kebahagiaan yang dia alami.

__ADS_1


Di tengah kesunyian loteng yang hanya ditemani bunyi hujan di luar, dua anak berbagi momen emosional, memahami lebih dalam tentang perjuangan dan pengorbanan ibu angkat mereka, dan merayakan keberanian dan kekuatan hatinya.


Seiring berjalannya waktu malam, lampu loteng yang redup mengirimkan cahaya yang semakin lembut. Ima dan Yusuf tetap duduk bersama, terhanyut dalam kenangan masa lalu Ana yang tertuang di halaman buku harian tersebut.


"Tanggal 5 Februari 1995," Ima membacanya dengan suara pelan, "Cinta datang ketika kita paling tidak mengharapkannya. Aku bertemu dengan Amir di sebuah kafe kecil di sudut kota. Kafe itu dikelilingi bunga-bunga mawar berwarna merah dan putih, yang harumnya menyentuh hidung setiap pengunjung."


Ima bisa membayangkan Ana, duduk di kafe itu, matahari senja mengecup pipinya, aroma kopi dan bunga mawar mengelilingi udara. Amir, dengan rambut hitam berombak dan mata yang dalam, duduk di seberangnya, senyumnya membuat hati Ana berdebar.


Keduanya terlibat dalam percakapan ringan, mata Ana menangkap detil wajah Amir, mulai dari garis halus di sudut matanya saat ia tertawa hingga cara ia menyesap kopinya dengan penuh perhatian.


"Amir...," Yusuf menatap Ima dengan tatapan bingung, "Siapa dia, Kak?"


Ima menarik napas dalam-dalam, "Sepertinya, dia adalah seseorang yang sangat berarti bagi Ibu."


Mereka melanjutkan membaca, mengetahui bagaimana hubungan Ana dan Amir berkembang dari sekadar teman menjadi sepasang kekasih yang sangat mencintai satu sama lain. Mereka berbagi kenangan, dari menonton film bersama hingga berjalan-jalan di taman kota saat matahari terbenam, dengan langit berwarna oranye keemasan dan daun-daun pohon berdansa ditiup angin.


"Tanggal 18 Oktober 1995," suara Ima bergetar saat membaca, "Amir berkata bahwa dia tidak bisa lagi bersamaku. Hatiku hancur. Aku merasa dunia runtuh. Namun, aku tahu bahwa keputusannya itu bukan karena dia tidak mencintaiku."


Yusuf mengambil alih buku harian itu, matanya berkaca-kaca saat membaca bagian tentang kepergian Amir. "Tapi mengapa? Mengapa Amir meninggalkan Ibu jika dia mencintainya?"


Ima mengelus pipi Yusuf dengan lembut. "Kadang, cinta bukanlah alasan yang cukup untuk dua orang tetap bersama, Yus."


Saat hendak menutup buku harian tersebut, Ima menemukan sebuah resep yang tertulis dengan tinta biru muda. "Lihat ini," katanya dengan suara gembira, mencoba mengalihkan kesedihan mereka.


"Resep Kue Cokelat Kesukaanku," Ima membacanya dengan senyum lebar, "Diberikan oleh Amir saat ulang tahunku yang ke-25."


Mereka berdua tertawa ringan. Yusuf berkata, "Jadi, rahasia kue cokelat Ibu yang lezat itu berasal dari Amir?"


Ima mengangguk sambil tertawa, "Ternyata begitu."

__ADS_1


Meski dikelilingi oleh cerita sedih tentang cinta dan kehilangan, menemukan resep kue tersebut memberikan rasa manis dan harapan. Ima dan Yusuf memutuskan untuk turun dari loteng, membawa buku harian dan resep kue itu, berharap untuk menciptakan kenangan manis baru bersama Ana.


Lantai loteng kini terasa semakin dingin saat malam mulai merayap masuk. Cahaya lampu loteng menerangi wajah Ima dan Yusuf dengan lembut, memantulkan bayangan mereka pada dinding yang bersebelahan. Ima membalik halaman buku harian itu, tangan gemetarannya merasakan tekstur kertas yang kasar namun hangat.


"Tanggal 3 Maret 1997," Ima mulai membaca, suaranya sedikit bergetar, "Hari ini adalah salah satu hari terindah dalam hidupku. Aku bertemu dengan dua malaikat kecil yang kini menjadi bagian dari hidupku. Yusuf, dengan matanya yang cerah, dan Ima, dengan senyumnya yang manis."


Tears began to form in Yusuf's large, curious eyes. "Jadi, itu adalah saat pertama Ibu melihat kita?"


Ima mengangguk, merasakan kerongkongan yang terasa kering dan sesak. "Iya, itu adalah saat Ibu memutuskan untuk mengadopsi kita."


Pemandangan di luar jendela sekarang semakin gelap, hanya rembulan yang bersinar terang di tengah langit yang berwarna biru tua, dan bintang-bintang mulai menampakkan diri. Suara jangkrik semakin nyaring, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.


Ima melanjutkan, "Aku tahu bahwa mengadopsi mereka bukanlah pilihan yang mudah, terutama dengan latar belakangku. Namun, saat pertama kali melihat mata mereka, aku merasa ada ikatan yang tak bisa dijelaskan. Mereka adalah harapanku, kekuatanku, dan alasan untuk terus hidup."


Yusuf mencengkeram tangan Ima erat-erat. "Kak, mengapa kita berada di panti asuhan sebelumnya?"


Ima menghela napas dalam-dalam, mencari kata-kata yang tepat. "Kita... kita kehilangan orang tua kita saat masih bayi. Dan Ibu, dengan kebaikannya, memilih untuk menjadikan kita bagian dari keluarganya."


Di tengah kesedihan dan refleksi, Ima tersenyum saat menemukan entri berikutnya. "Tanggal 10 April 1997," katanya dengan suara yang lebih ceria, "Hari ini aku dan Yusuf mencoba membuat pancake untuk pertama kalinya. Siapa sangka dapur bisa berubah menjadi medan perang dengan tepung di mana-mana!"


Yusuf tertawa terbahak-bahak. "Aku ingat itu! Pancake-nya hangus, tapi kita semua tertawa sampai perut sakit."


Ima tergelak, matanya berkaca-kaca, mengingat kembali kenangan itu. "Iya! Ibu berusaha mengejar kita dengan sendok adonan pancake, dan kita berdua bersembunyi di bawah meja."


Yusuf, dengan mata yang bersinar, menambahkan, "Dan ketika kita keluar dari bawah meja, wajah kita penuh dengan tepung! Seperti hantu!"


Keduanya tertawa riang, merasakan kebahagiaan sederhana dari masa lalu yang penuh dengan cinta dan kebersamaan. Di tengah gelak tawa, ada rasa syukur yang mendalam untuk Ana yang telah memberikan mereka kesempatan untuk merasakan kehangatan keluarga.


Malam telah sepenuhnya melingkupi kota kecil itu, tapi di loteng rumah tua tersebut, cahaya kasih dan kenangan terus bersinar, menghangatkan hati dua saudara yang tengah mengenang perjuangan dan kasih sayang seorang ibu yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2