Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Kucing Kecil


__ADS_3

Matahari sore yang hangat menciptakan bayangan panjang di jalan raya saat Ima dan Yusuf berjalan pulang dari sekolah. Langit berwarna jingga dengan sedikit semburat merah muda, dan angin yang sepoi-sepoi mengibaskan daun-daun pohon yang berjajar rapi di pinggir jalan.


Ima, dengan rambut panjangnya yang diikat dua, menggenggam erat tas sekolahnya. "Kakak, kau tahu? Hari ini Bu Rini mengajari kami tentang kehidupan hewan. Sangat menarik!"


Yusuf, yang berjalan di sebelahnya, tertawa ringan. "Oh, ya? Apa yang kau pelajari?"


Ima meloncat-loncat kecil, penuh semangat, "Kami belajar bagaimana hewan hidup, bagaimana mereka mencari makanan, dan bagaimana kita harus menjaga dan melindungi mereka."


Saat keduanya mendekati rumah, sebuah suara lembut menarik perhatian mereka. Yusuf memperhatikan sebuah benda kecil berbulu di depan pagar rumah mereka. "Hei, apa itu?" katanya, sambil mendekati sumber suara.


Sebuah kucing kecil berwarna abu-abu dengan mata hijau besar tampak duduk lemah di sana. Ia mengeluarkan suara merintih kecil, matanya memandang Ima dan Yusuf dengan tatapan memelas.


"Oh, kasihan," desah Ima, matanya berkaca-kaca. "Dia tampak kelaparan."


Yusuf berjongkok dan membelai kepala kucing itu dengan lembut. "Sepertinya dia tersesat. Kita harus memberinya makan."


Mereka berdua bergegas masuk ke rumah dan kembali dengan mangkuk kecil berisi susu. Kucing kecil itu dengan cepat mendekat dan mulai minum, tampak sangat haus.


"Dia sangat lucu, kan, Kak?" ujar Ima sambil duduk di tangga, menonton kucing itu minum.


Yusuf tersenyum, "Ya. Kita bisa merawatnya sampai kita menemukan pemiliknya."


Mereka berdua menemani kucing itu hingga ia selesai minum, lalu kucing tersebut merunduk di sudut teras, tampak siap untuk tidur. Ima menyelimuti kucing dengan kain kecil, "Selamat tidur, kucing kecil."


Saat malam mulai menutupi langit, Ima dan Yusuf bersantai di ruang tamu, membicarakan hari mereka dan kucing kecil yang mereka temukan. Namun, saat jam menunjukkan pukul delapan malam, bayangan seseorang tampak di luar jendela. Bayangan itu tampak bergerak gelisah, mencari-cari sesuatu.


Ima, yang pertama kali melihat bayangan itu, berbisik pada Yusuf, "Kak, ada seseorang di luar."

__ADS_1


Yusuf mengintip dari balik gorden, "Sepertinya dia mencari sesuatu. Mungkinkah dia pemilik kucing kecil itu?"


Ima mengerutkan kening, "Mungkin. Tapi lebih baik kita tanyakan besok pagi saat terang."


Bayangan itu menghilang setelah beberapa menit, meninggalkan Ima dan Yusuf dalam ketegangan. Mereka berdua merasa penasaran namun juga waspada. Namun, untuk saat ini, mereka merasa senang telah menemukan dan merawat kucing kecil yang menggemaskan itu.


Dalam gelap malam, rumah itu kembali tenang, hanya terdengar suara dengkuran lembut dari kucing yang tidur nyenyak di teras.


Sinar matahari pagi menyinari taman depan rumah Ima dan Yusuf, menampilkan semburat keemasan di antara dedaunan hijau. Burung-burung berkicau riang, menciptakan simfoni alam yang merdu. Momo, kucing kecil yang mereka temui semalam, tampaknya sudah terjaga, melingkar di kursi teras dengan ekor bergerak-gerak penuh semangat.


Ima keluar dengan sepiring makanan kucing di tangannya. "Selamat pagi, Momo," katanya dengan suara lembut. Kucing itu mendengus kecil dan mengedipkan matanya, tampak mengerti.


Yusuf mengikuti dari belakang, memegang seutas benang panjang dengan bulu-bulu kecil di ujungnya. "Lihat apa yang aku buat untukmu, Momo," ujarnya sambil menggerakkan benang itu di depan kucing. Momo dengan cepat melompat, mencoba menangkap mainan tersebut, membuat Ima tertawa geli.


"Kakak, dia sangat suka mainanmu!" kata Ima sambil memperhatikan Momo yang bermain dengan antusias.


Yusuf tersenyum, "Ya, aku membaca di internet bahwa kucing suka bermain dengan benda-benda bergerak. Benang dan bulu adalah kombinasi yang sempurna."


Ibu Rini menunjuk Momo, "Itu… itu kucing milikku!" katanya dengan nada tinggi, mengejutkan keduanya.


Ima dan Yusuf saling bertukar pandang, keduanya tampak bingung. "Benarkah, Bu Rini?" tanya Yusuf dengan sopan. "Kami menemukannya di depan rumah kami semalam, tampak lelah dan kelaparan."


Ibu Rini menghela napas panjang, "Oh, kasihan. Dia kabur dari rumah beberapa hari yang lalu. Aku mencarinya kemarin malam. Mungkin itulah bayangan yang kalian lihat."


Ima menatap Momo dengan mata berkaca-kaca, "Kami benar-benar tidak tahu, Bu. Kami hanya ingin membantu."


Ibu Rini menghampiri dan mengelus-elus Momo. "Terima kasih sudah merawatnya. Namanya Lulu, bukan Momo."

__ADS_1


Yusuf tersenyum, "Maaf, Bu. Kami memberinya nama Momo karena kami pikir dia tidak memiliki pemilik."


Ibu Rini tersenyum memahami, "Itu baik sekali. Terima kasih sudah menjaganya. Aku khawatir sekali ketika dia hilang."


Ima memegang erat tangannya, "Kami sangat senang bisa membantu, Bu. Lulu... Maksudku, Momo, sangat manis dan lucu. Kami sangat menyukainya."


Yusuf menambahkan, "Ya, Bu. Kami benar-benar berpikir dia adalah kucing jalanan yang tersesat."


Ibu Rini duduk di tangga rumah, memeluk Momo dengan lembut. "Dia memang sering penasaran dan suka keluar rumah. Aku harus lebih berhati-hati nanti."


Saat matahari semakin tinggi, mereka berempat duduk bersama di teras, berbicara tentang kucing, tetangga, dan kehidupan sehari-hari. Momo, atau Lulu, tampak nyaman berada di pangkuan Ibu Rini, namun sesekali ia melompat ke Yusuf atau Ima, menunjukkan rasa terima kasihnya dengan dengusan kecil dan gerakan ekor yang lincah.


Setelah beberapa saat, Ibu Rini berdiri, "Terima kasih lagi, anak-anak. Aku harus membawa Lulu pulang sekarang. Jika kalian ingin bermain dengannya, kalian selalu bisa datang ke rumahku."


Ima dan Yusuf mengangguk, "Tentu, Bu Rini. Kami senang bisa membantu."


Saat Ibu Rini dan Lulu berjalan kembali ke rumah mereka, Ima dan Yusuf masih duduk di teras, mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Yusuf memandang Ima dengan senyum lebar, "Kamu tahu, meskipun kita kehilangan Momo, aku senang dia memiliki rumah yang mencintainya."


Ima mengangguk, "Aku setuju, Kak. Mungkin kita bisa memelihara kucing sendiri suatu hari nanti."


Yusuf tertawa, "Mungkin. Tapi untuk sekarang, kita bisa selalu mengunjungi Lulu di rumah Ibu Rini."


Dengan matahari yang semakin tinggi dan hari yang cerah, dua saudara kandung itu merencanakan petualangan baru mereka, sambil menikmati kehangatan hari bersama.


Saat hari mulai sore, udara menjadi sejuk dengan secercah sinar matahari yang masih berusaha memancar di antara awan mendung. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga kamboja yang tumbuh di taman depan rumah Bu Siti.


Saat Ima dan Yusuf sedang bermain di halaman, Bu Siti, tetangga mereka yang berusia sekitar enam puluh tahunan, berjalan mendekat dengan langkah lambat. Dengan rambut putih yang disanggul rapi, Bu Siti memandang Momo yang sedang bermain dengan bola kecil. "Anak-anak," katanya dengan suara gemetar, "kucing itu... dia sangat mirip dengan Mila."

__ADS_1


Ima menatap Bu Siti dengan rasa penasaran. "Mila, Bu?"


Bu Siti duduk di ayunan halaman, matanya berkaca-kaca. "Mila adalah kucingku saat aku masih kecil. Dia hilang ketika aku berusia sekitar sepuluh tahun, dan aku sangat sedih saat itu."


__ADS_2