
Matahari pagi menyinari kamar Ima dengan hangat, memberikan semburat emas pada dinding berwarna krem kamarnya. Di bawah sinar matahari tersebut, Ima terbaring di tempat tidurnya, memandangi undangan ulang tahun berwarna pastel yang ia pegang erat di tangannya.
"Yusuf!" teriak Ima, memanggil kakak angkatnya yang ada di ruangan sebelah, "Apa menurutmu tema 'Bintang-Bintang' cocok untuk pestaku?"
Dari seberang kamar, terdengar langkah kaki Yusuf yang mendekat. Ia muncul di pintu dengan tumpukan kain berwarna-warni di tangan kirinya. "Tema apa pun yang kamu pilih pasti akan indah, Ima," jawabnya sambil tersenyum, meski ekspresi wajahnya menunjukkan konsentrasi, "Tapi, bintang-bintang terdengar menarik."
Ima duduk di tepi tempat tidurnya, matanya berbinar. "Aku bisa bayangkan," katanya dengan penuh semangat, "Lampion berbentuk bintang menggantung di langit-langit, dan semua tamu memakai mahkota berbentuk bintang..."
Ana, ibu mereka, memasuki kamar dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. "Mendengar kalian berbicara tentang bintang-bintang membuatku teringat akan malam-malam di desa dulu, di mana kita bisa melihat ribuan bintang di langit tanpa gangguan cahaya kota."
Ima mengambil gelas dari tangan Ana dan minum sebagian. "Aku ingin semuanya sempurna, Bu," kata Ima dengan mata yang berbinar. "Semua teman-temanku akan datang, dan aku ingin mereka terkesan."
Ana mengelus lembut rambut Ima. "Aku tahu kamu akan membuatnya menjadi malam yang tak terlupakan," katanya dengan senyum lembut, "Kamu selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi spesial."
Sementara itu, Yusuf duduk di kursi dekat jendela, matahari pagi menyorot wajahnya yang sedikit berkerut. Di pangkuannya, sehelai kain biru muda dengan jarum rajut di tangan kanannya. Gerakan tangannya terlihat agak kaku. "Aku ingin memberi Ima sesuatu yang spesial," katanya dengan suara pelan, "Tapi, aku kurang mahir dalam merajut."
Ima mendekat dan duduk di sampingnya, "Aku yakin apa pun yang kamu buat, aku akan menyukainya, Kak," katanya sambil menatap mata Yusuf dengan tulus.
Mimik wajah Yusuf tampak lega, ia tersenyum kecil. "Terima kasih, Ima. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu."
Mereka bertiga kemudian duduk bersama di kamar Ima, mendiskusikan berbagai persiapan pesta dengan gelas jus jeruk di tangan mereka. Sementara di luar, angin sejuk berhembus lembut, menggoyangkan daun-daun pohon yang tertiup angin, memberikan suasana yang tenang dan damai di tengah kesibukan persiapan pesta ulang tahun Ima.
Senja di kota itu menyajikan pemandangan langit yang bergradasi warna oranye hingga ungu gelap. Suara anak-anak tertawa dan berbicara riang mulai terdengar dari kejauhan. Di halaman rumah Ana, balon-balon berbentuk bintang menghiasi pohon rindang sambil berayun-ayun diterpa angin sepoi-sepoi.
Ima, dengan gaun berwarna biru muda yang serasi dengan tema pesta, berdiri di depan pintu, menyambut tamu-tamunya dengan senyuman cerah. Wajahnya berbinar setiap kali seseorang datang dan memberikan hadiah atau ucapan selamat.
Sementara itu, di sampingnya, Yusuf tampak sedikit canggung. Ia mengenakan kemeja putih dan mencoba membantu dengan menyajikan minuman untuk tamu. Namun, tumpahan jus yang membasahi meja menjadi bukti kecanggungannya.
__ADS_1
"Yusuf, hati-hati sedikit!" tegur Ana dengan nada lembut sambil menyeka meja dengan lap. Wajah Yusuf tampak merah padam karena malu, namun ia mencoba tersenyum untuk menyembunyikannya.
Dari keramaian, muncul Lina, teman dekat Ima. Rambut panjangnya yang biasanya dikuncir rapi, kini tergerai bebas. Matanya tampak sembab, dan wajahnya pucat. "Selamat ulang tahun, Ima," ucapnya pelan sambil memberikan sebuah kado.
"Terima kasih, Lina," kata Ima sambil memeluk temannya itu, "Kenapa wajahmu tampak sedih sekali?"
Lina menghela nafas. "Milo, kucingku, hilang pagi ini. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak menemukannya."
Ima merasakan dada Lina bergetar sedikit. Ia menatap mata Lina dengan penuh kepedulian, "Aku sangat menyesal mendengarnya. Milo pasti baik-baik saja. Kita bisa mencarinya bersama setelah pesta, ya?"
Lina mencoba tersenyum, "Terima kasih, Ima. Kamu selalu ada untukku."
Ana mendekati mereka dengan dua gelas jus di tangan, "Ini untuk kalian berdua. Lina, jangan terlalu sedih. Kucing sering kali pergi dan kembali dengan sendirinya."
Lina mengangguk, "Terima kasih, Tante Ana." Wajahnya tampak sedikit lebih cerah. Ia kemudian bergabung dengan teman-temannya yang lain, mencoba menikmati pesta meski hatinya sedih.
Ima tertawa, "Ada lomba menebak jumlah permen dalam toples dan permainan kursi musik, Rizal. Kamu pasti suka!"
Rizal bersemangat, "Aku pasti menang!"
Pesta berlanjut dengan suara tawa dan musik yang menggema. Setiap sudut rumah tampak hidup dengan dekorasi yang cerah dan anak-anak yang berlarian. Di tengah kegembiraan, Ana, Ima, dan Yusuf tidak lupa untuk selalu memastikan setiap tamu merasa nyaman dan bahagia. Mereka saling bahu-membahu, menghadirkan kehangatan di hari yang spesial bagi Ima.
Pohon rindang di halaman rumah Ana tampak berbeda malam itu. Lampu-lampu hias berbentuk bintang dinyalakan, memberikan cahaya lembut yang menyinari sekitar. Di bawah pohon tersebut, sebuah meja panjang dipenuhi dengan tumpukan hadiah berbungkus kertas berwarna-warni.
"Selamat membuka hadiah, Ima!" seru salah seorang temannya dengan riang.
Ima duduk di kursi yang telah disediakan di depan meja tersebut. Ana berdiri di sebelahnya, dengan Yusuf di sisi lain. "Baiklah, mari kita mulai dari yang paling besar!" kata Ima sambil tertawa.
__ADS_1
Hadiah pertama dibungkus dengan kertas berwarna pink cerah. Ima membukanya dengan hati-hati, dan di dalamnya ada boneka beruang yang lucu. "Wah, terima kasih, Sari!" ucap Ima sambil mengangkat boneka itu.
Seiring berjalannya waktu, tumpukan hadiah berkurang. Ada buku, pakaian, mainan, dan berbagai kado lain yang Ima terima dengan senyuman dan ucapan terima kasih.
Namun, saat Ima hendak membuka hadiah terakhir, suasana berubah. Sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus dengan kertas hitam polos tanpa kartu ucapan atau tanda pengenal pengirim. Yusuf memandangi kotak itu dengan pandangan bingung, sementara Ana tampak gelisah. Cahaya lampu hias menciptakan bayangan yang menari di wajah mereka, menambah ketegangan suasana.
"Siapa yang memberikan ini?" tanya Ima dengan rasa penasaran.
Yusuf menggaruk kepalanya, "Aku tidak tahu, mungkin seseorang lupa menuliskan namanya."
Ana mencoba berbicara dengan suara yang tetap tenang, meskipun matanya menunjukkan kekhawatiran. "Mungkin kamu bisa membukanya nanti, Ima. Sekarang, bagaimana kalau kita lanjutkan dengan permainan?"
Namun, Ima sudah terlalu penasaran. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membuka kertas pembungkus tersebut. Saat kotak terbuka, di dalamnya ada sebuah album foto lama. Ima membukanya dan di halaman pertama, terdapat foto Ana saat masih muda, dengan beberapa teman yang tampak akrab dengannya.
Ana tampak terkejut. Wajahnya memucat, dan matanya memandang foto tersebut dengan campuran perasaan terkejut dan nostalgia. "Bu, apa ini?" tanya Ima dengan lembut, memperhatikan ekspresi wajah ibunya.
Ana menarik nafas panjang, "Itu adalah foto dari masa laluku, saat aku masih bersama teman-temanku dulu." Suaranya bergetar, mencoba menahan emosi.
Yusuf memegang bahu Ana dengan lembut, "Siapa yang mengirim ini, Bu?"
Ana menggeleng, "Aku tidak tahu, tapi ini pasti dari seseorang yang mengenalku dari masa lalu."
Sebuah angin malam berhembus lembut, membuat dedaunan berdesir. Cahaya lampu hias berkedip-kedip, menciptakan suasana yang semakin mendalam. Semua tamu tampak terdiam, menunggu Ana untuk menjelaskan lebih lanjut.
Ima, dengan mata berbinar air, berkata, "Siapa pun yang mengirim ini, pasti ingin Bu mengingat kenangan indah dari masa lalu."
Ana menghela nafas, "Kamu benar, Ima. Meskipun ada beberapa bagian dari masa lalu yang ingin aku lupakan, ada juga kenangan indah yang selalu kuingat."
__ADS_1
Malam itu, meskipun dimulai dengan kejutan yang tak terduga, berakhir dengan pelukan hangat antara Ana, Ima, dan Yusuf, menguatkan ikatan keluarga mereka di tengah kenangan masa lalu.